NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Tinju dan Petir

Pukulan Radit melesat seperti kilat.

Aditya tidak mencoba menangkis—ia melompat ke samping, merasakan angin dari tinju berlistrik itu melewati telinganya. Rak buku di belakangnya meledak, kertas-kertas beterbangan seperti hujan confetti.

Kecepatan lawan: 140. Kecepatan Host: 33. Rasio: 4,2 banding 1.

Jangan lawan kecepatannya. Lawan antisipasinya.

Basic Combat Mastery bekerja keras. Pola-pola serangan Radit mulai terbaca di kepala Aditya: pukulan listrik selalu didahului oleh kedutan di bahu kanan, tendangan rendah selalu dimulai dari pergeseran pinggul kiri. Bukan membaca pikiran—hanya membaca tubuh.

"Kau cepat untuk level 9," Radit berkomentar, suaranya dingin seperti matanya. "Tapi cepat saja tidak cukup."

Ia mengulurkan kedua tangan. Listrik di jemarinya menyebar, membentuk jaring-jaring biru di udara. Medan Tekanan—Aditya mengenali skill itu dari deskripsi sistem.

Medan Tekanan Radit: Radius 5 meter. Efek: Memperlambat gerakan lawan sebesar 30%.

Udara di sekitar Aditya tiba-tiba terasa seperti air. Setiap langkah jadi dua kali lebih berat. Silent Step yang tadi efektif kini tidak berguna—Radit tidak perlu mendengar, ia hanya perlu merasakan di mana tubuh Aditya melawan tekanan.

"Kakek Seno mengajarimu Jurus Surya," Radit berjalan mendekat, langkahnya tidak terpengaruh. "Tapi aku sudah mengembangkannya ke arah yang tidak pernah berani dia sentuh."

"Kultivasi gelap," desis Aditya.

"Kultivasi efisien. Kenapa menunggu sinar matahari kalau kau bisa menyerap energi dari rasa takut dan kematian?" Radit berhenti dua meter di depan Aditya. "Aku bisa merasakan energimu sekarang. Hangat. Bersih. Tapi sangat... kecil."

Tinjunya melesat lagi.

Kali ini Aditya tidak bisa menghindar sepenuhnya. Ia memutar tubuh, membuat pukulan mengenai bahu, bukan dada. Tetap saja—rasanya seperti disambar petir sungguhan. Otot-ototnya kejang. Lengan kirinya mati rasa seketika.

Stamina: 72%. Luka sedang di bahu kiri.

"Rasakan itu?" Radit tersenyum. "Aku bahkan belum serius."

Aditya terhuyung ke samping, satu tangan masih mencengkeram pedang kayunya. Ia perlu berpikir. Medan Tekanan memperlambat gerakannya. Kecepatan Radit terlalu tinggi untuk ditandingi. Kekuatannya terlalu besar untuk ditangkis.

Tapi setiap skill punya kelemahan.

All-Seeing Eye: Medan Tekanan menggunakan 15% energi Radit per menit. Jika dipancing bertahan 3 menit, energinya akan turun signifikan.

Tiga menit. Bertahan hidup tiga menit.

"Mau sampai kapan kau diam?" Radit melangkah lagi. "Aku bisa membunuhmu sekarang. Tapi aku lebih suka melihatmu berjuang dulu."

Aditya mengaktifkan Jurus Surya Level 3. Bukan untuk menyerang—untuk bertahan. Energi dari liontin mengalir ke seluruh tubuhnya, memperkuat otot dan tulang yang diperlambat oleh Medan Tekanan.

Lalu ia melakukan hal yang tidak diduga Radit.

Ia duduk.

"Apa ini? Menyerah?"

Aditya tidak menjawab. Ia memejamkan mata, kedua tangan di lutut, napasnya teratur seperti meditasi. Jurus Surya bekerja maksimal saat ia diam, menyerap energi dari setiap partikel di sekitarnya—bahkan dari listrik yang terlepas milik Radit.

"Jangan main-main denganku!" Radit menyerang lagi.

Tapi kali ini Aditya sudah membaca kedutan di bahunya. Ia berguling ke kiri, merasakan lantai kayu bergetar oleh pukulan yang meleset. Tangannya menyambar sebilah papan dari rak yang hancur—bukan untuk menyerang, tapi untuk melempar ke arah lampu gantung di atas mereka.

Brak!

Lampu jatuh. Percikan kaca dan api kecil dari korsleting listrik memenuhi ruangan. Radit terpaksa menutup mata sekejap.

Satu menit berlalu.

"Kau pikir trik murahan seperti—"

Aditya sudah bergerak. Silent Step diaktifkan, Pedang Kayu Matahari diayunkan ke arah rusuk Radit—serangan pertama yang ia lakukan.

Radit menangkis dengan lengannya. Pedang kayu itu tidak melukai kulitnya yang diperkuat energi gelap, tapi nyala jingga dari pedang membuatnya terkejut.

"Pedangmu—"

"Bukan pedang biasa," Aditya menyelesaikan, lalu melompat mundur sebelum pukulan balasan datang.

Dua menit berlalu.

Pertarungan berubah menjadi permainan kucing-dan-tikus. Aditya terus bergerak, tidak pernah diam lebih dari dua detik. Radit mulai frustrasi—serangannya semakin agresif, semakin boros. Energinya turun: 68%, lalu 61%, lalu 55%.

Tapi Aditya juga terpukul dua kali lagi. Satu di paha, satu di punggung. Stamina-nya tersisa 45%.

"Kau hanya menunda kematian!" Radit meraung.

Tiga menit.

Medan Tekanan tiba-tiba menghilang. Radit terhuyung—skill itu memakan terlalu banyak energi. Aditya merasakan tubuhnya ringan kembali.

Sekarang atau tidak sama sekali.

Ia mengaktifkan seluruh sisa energinya.

Jurus Matahari Terbit diaktifkan.

Semua atribut +50%. Durasi: 60 detik. Cooldown setelahnya: 24 jam.

Kekuatan: 35 → 52. Kecepatan: 33 → 49.

Masih jauh di bawah Radit. Tapi cukup untuk mengejutkannya.

Aditya melesat—bukan mundur, tapi maju. Pedang kayunya menyala terang seperti obor. Radit yang kelelahan tidak menyangka serangan balik secepat ini.

"Siapa bilang aku menunda kematian?" Aditya mengayunkan pedangnya. "Aku menunggu kau lelah!"

Duk!

Pedang kayu menghantam bahu Radit. Tidak menembus—ototnya terlalu keras. Tapi nyala jingga dari pedang membakar energi gelap yang menyelimutinya.

"AAAAARGH!"

Radit mundur tiga langkah. Matanya membelalak—bukan karena sakit, tapi karena sesuatu yang belum pernah ia lihat. "Itu... Jurus Matahari Terbit?!"

"Kakek Seno kirim salam."

Untuk pertama kalinya, Radit terlihat ragu.

Tapi sebelum Aditya bisa menyerang lagi, suara langkah kaki bergema dari tangga. Banyak langkah—mungkin lima, mungkin sepuluh. Tamu-tamu yang mendengar keributan? Atau anak buah Radit?

"Kita lanjutkan lain kali," Radit mendesis. Ia melompat ke jendela, memecahkan kaca dengan bahunya, dan menghilang ke dalam malam. "Simpan Liontin dan Cincin itu baik-baik, bocah. Aku akan mengambilnya sendiri!"

Aditya tidak mengejar. Kaki-kakinya gemetar, napasnya tersengal, dan efek Jurus Matahari Terbit mulai memudar.

Ia meraih USB di sakunya. Masih aman. Lalu menyentuh saku lainnya—Cincin Api masih ada.

SEMANGAT! teriaknya dalam hati. Hampir mati, tapi pulang bawa oleh-oleh.

Ia tertawa kecil, lalu terbatuk. Luka-lukanya mulai terasa kembali.

"ADITYA!"

Suara Alesha dari tangga. Ia muncul bersama Maya dan tiga anggota keamanan. Wajahnya pucat, matanya menyapu ruangan yang hancur.

"Ada apa?! Aku dengar ledakan—"

"Paman Edwin punya tamu," Aditya memaksakan senyum. "Aku dikenalkan secara tidak sopan."

Maya melihat jendela pecah, lalu rak buku yang hancur. "Siapa lawanmu?"

"Radit. Mantan murid Kakek Seno. Level 11." Aditya menyerahkan USB pada Alesha. "Tapi aku dapat ini. Dan..." ia mengeluarkan Cincin Api dari sakunya, "...ini."

Batu merah di cincin itu berkilau diterpa cahaya lampu darurat.

Alesha menatapnya. Matanya bergantian antara USB, Cincin Api, dan luka-luka Aditya.

"Kau gila," bisiknya.

"Mungkin."

"Gila total."

"Itu juga mungkin."

Alesha menyimpan USB itu, lalu—tanpa peringatan—memeluk Aditya. Cepat, canggung, dan langsung melepas.

"Jangan lakukan itu lagi sendirian."

Aditya mengerjap, masih terkejut. "Aku... tidak sendirian. Maya dan tim di luar."

"Itu bukan yang kumaksud."

Di belakang Alesha, Maya menyeringai lebar. "Wah. CEO memeluk karyawan. Ini melanggar HR, Bu."

"Diam, Maya."

"Siap."

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!