NovelToon NovelToon
PAK USTADZ JANGAN GODAIN SAYA

PAK USTADZ JANGAN GODAIN SAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Zahra dijodohin sama Rayan karena wasiat almarhum Ayah Zahra yang sahabatan sama Abah Rayan. Zahra _ngamuk_ karena ngerasa nggak pantes jadi istri ustadz. Rayan juga _shock_ karena harus nikah sama cewek bertato yang nggak bisa baca Al-Fatihah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: KEMENAG DATANG - TATAP -TATAPANBPERTAMA

Hari ke-42 di Ndalem. Status Zahra Almira: Bu Nyai Dadakan Yang Hari Ini Presentasi Kayak Sidang Skripsi Jilid 2.

Jam 08.00, Ndalem udah wangi. Bukan wangi kembang. Tapi wangi kopi jahe. Resep "Kopi Ndalem" buat nyambut tamu Kemenag.

Aku ngaca. Ketiga kalinya. Kerudung udah bener. Gamis udah licin. Tapi muka masih kayak orang begadang 3 malem.

"Tadz," teriakku dari kamar. "Beneran mukaku nggak kayak zombie?"

Dari ruang tamu, suara Rayan nyahut. Tenang. "Beneran, Zahra. Kamu... cantik."

Plak. Aku langsung diem. Kuping panas lagi. Itu pujian apa doa sih?

"Tadz! Jangan ngagetin!" balasku. Panik. "Fokus ke proposal! Nanti kalau ditanya Kemenag, Tadz yang jawab bagian fiqih. Aku bagian... bagian branding."

"Iya, Bu Nyai," jawabnya. Kedengeran senyum.

Jam 09.00, mobil hitam parkir depan Ndalem. Keluar dua orang. Bapak-bapak pake batik, sama ibu-ibu bawa map. Namanya Pak Mahmud sama Bu Sinta. Dari Kemenag Kabupaten.

Bunda Aisyah udah siap di depan. Senyum paling lebar. "Monggo, Pak, Bu. Sugeng rawuh."

Aku sama Rayan berdiri jejer. Jaraknya? 50 cm. Nggak dempet. Nggak jauh-jauh amat. Aman. Sesuai standar Ndalem versi baru: Dekat tapi nggak nempel.

"Perkenalkan," kata Rayan. "Saya Rayan. Ini istri saya, Zahra. Bu Nyai di sini."

Aku ngangguk. "Assalamualaikum, Pak, Bu. Monggo pinarak."

Pak Mahmud salaman sama Rayan. Bu Sinta salaman sama aku. Terus liat sekeliling.

"Ndalemnya adem ya," kata Bu Sinta. "Padahal kemarin rame di berita. Katanya ada... fitnah."

Nah. Mulai.

Aku tarik napas. "Betul, Bu. Tapi alhamdulillah udah selesai. Dewan pengurus udah tabayyun. Sekarang kami fokus pemulihan. Buktinya..." Aku nunjuk meja. "Ini 'Kopi Ndalem'. Gratis. Biar silaturahmi anget."

Pak Mahmud nyeruput. Matanya melek. "Loh, enak. Ini racikan siapa?"

"Racikan Bu Nyai," jawab Kang Jono nyelonong. "Bu Nyai Zahra mantan barista, Pak. Jadi ngaji dapet, ngopi dapet."

Aku mau nabok Kang Jono. Tapi Bu Sinta malah ketawa. "Wah, kreatif. Justru ini yang kami cari. Program Pesantren Ramah Anak itu nggak harus kaku. Harus bisa adaptif sama zaman."

Rayan ngelirik aku. Sedikit. Ada bangga-bangganya. Aku pura-pura benerin kerudung biar nggak keliatan salting.

---

Jam 10.00, presentasi di ruang tamu. Pake proyektor minjem Humairah. Humairah jadi operator.

Slide 1: Profil Ndalem. Foto Ndalem, foto Rayan, foto aku. Foto aku kegedean.

"Eh, Tadz," bisikku. "Kok fotoku gede banget?"

"Soalnya kamu Bu Nyai-nya," bisik Rayan balik. "Harus keliatan."

Jarak kami di kursi 30 cm sekarang. Soalnya harus liat laptop bareng. Aman. Masih belum melanggar kontrak.

Aku lanjut presentasi. "Jadi, Pak, Bu. Program kami ada tiga. Pertama, 'Kajian Rasa'. Ngaji plus praktek bikin Kopi Ndalem. Biar emak-emak semangat ngaji. Kedua, 'Ndalem TikTok'. Humairah jadi talent. Biar santri baru ngerasa mondok itu nggak kudet. Ketiga..."

Aku macet. Slide-nya error. Gambarnya malah foto Humairah jadi "BU NYAI AVENGERS".

Satu ruangan hening. Pak Mahmud ngernyit. Bu Sinta nahan ketawa.

Humairah nyengir. "Eh, maaf. Kepencet."

Aku panik. Tapi terus malah ketawa. "Nah, Pak, Bu. Ini contoh ketiga. 'Kreativitas Santri'. Di Ndalem kami, santri bebas berekspresi. Asal syar’i. Jadi nggak stress."

Bu Sinta ngakak. "Saya suka, Bu Nyai. Jujur. Nggak jaim. Biasanya presentasi pesantren itu tegang. Ini... cair."

Pak Mahmud manggut-manggut. "Terus terang, kami awalnya ragu. Karena berita kemarin. Tapi lihat langsung... Ndalem ini hidup. Bu Nyai-nya... beda."

Aku dilirik. Sama Pak Mahmud. Sama Bu Sinta. Sama Rayan. Tiga pasang mata.

Deg. Kok jadi pusat perhatian?

Rayan nyambung. Cepet. "Betul, Pak. Istri saya memang... punya cara sendiri memakmurkan Ndalem. Saya sebagai Ustadz, tugasnya ngaji. Dia yang urus... kemasannya."

Kemasannya. Halus banget, Tadz. Aku lirik Rayan. Dia lagi liat slide. Tapi ujung bibirnya naik dikit.

---

Jam 11.30, sesi tanya jawab. Pak Mahmud nanya ke Rayan soal kurikulum. Rayan jawab lancar.

Giliran Bu Sinta nanya ke aku. "Bu Nyai, kalau ada wali santri nanya: 'Ngapain anak saya mondok di sini? Wong Bu Nyai-nya aja mantan barista?' Bu Nyai jawab apa?"

Pertanyaan jebakan. Satu ruangan diem.

Aku tarik napas. Terus senyum. "Saya bakal jawab, Bu. 'Betul, saya mantan barista. Jadi saya tau rasanya nyeduh kopi buat orang yang capek. Santri itu juga capek, Bu. Ngaji, sorogan, hafalan. Kalau di Ndalem ini ada Bu Nyai yang ngerti cara bikin mereka semangat lagi lewat secangkir kopi, apa itu salah?'"

Hening.

Terus Bu Sinta tepuk tangan. "Jawaban bagus, Bu Nyai. Dapat nilai 100."

Rayan natap aku. Lama. 3 detik. Lebih lama dari biasanya. Matanya... nggak ngeledek. Nggak guru ke murid. Tapi... kagum.

Aku salah tingkah. Minum kopi. Eh, gelasnya udah kosong.

---

Jam 12.00, Kemenag pamit.

"Kami suka semangatnya, Ustadz, Bu Nyai," kata Pak Mahmud. "InsyaAllah minggu depan SK program turun. Dana bantuan juga. Syaratnya satu: Pertahankan kejujuran dan kreativitas ini."

Aku sama Rayan ngantar sampe mobil. Pas mobil jalan, baru kerasa lemes.

"Alhamdulillah..." kataku. Sujud syukur di teras. Nggak peduli kerudung kotor.

Rayan ketawa. "Zahra, bangun. Nanti masuk angin."

Dia ngulurin tangan. Mau narik aku berdiri. Refleks aku ulurin tangan juga.

Sedetik sebelum sentuhan, kita sama-sama inget: Kontrak.

Tangan sama-sama berhenti di udara. Jarak 5 cm.

Canggung. Terus ketawa bareng.

"Maaf, Tadz. Refleks," kataku. Malu.

"Harusnya aku yang maaf," jawab Rayan. "Aku lupa."

Tapi... matanya bilang nggak nyesel mau nolong.

Bunda Aisyah ngintip dari pintu. Geleng-geleng. "Wis to, Le, Nduk. Kapan bojone, tapi kok koyo pacaran SMP. Ndang cepet siap, Ben Bunda cepet nduwe putu."

"Nggiiih, Bunda!" Aku sama Rayan kompak teriak. Muka merah dua-duanya.

Dari dalem, Humairah teriak: "BU NYAI AVENGERS MENANG LAGI!"

1
hasatsk
setelah di baca terus menerus ternyata ceritanya seru.....💪💪
wanudya dahayu: makasi kak 🙏. lagi nyari ide lagi, biar bisa menuhi syarat kontrak. doain ya kak. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Di Dia
tokoh aryanya cpt"di singkirin ...
Titik Sofiah
awal yang menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
wanudya dahayu: iya kak, semoga suka, mohon dukungannya 😍🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!