Araya Lin dipaksa menjadi pengantin
pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.
Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.
Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29: Kunci Terakhir dan Pengkhianatan Tak Terlihat
Hujan salju di luar jendela penthouse mewah itu turun semakin lebat, seolah berusaha mengubur semua kekacauan yang baru saja terjadi di Kastil Dolder Grand. Di dalam ruangan yang hangat oleh nyala perapian, Araya duduk bersimpuh di atas karpet bulu, dengan telaten mengganti perban di kaki kiri Arkanza yang sempat kembali berdarah akibat pertarungan melawan Volkov.
Arkanza bersandar di sofa beludru, kemeja putihnya sudah diganti dengan jubah mandi kasmir yang longgar. Matanya yang tajam dan biasanya sedingin es, kini hanya memancarkan kelembutan saat menatap puncak kepala Araya.
"Kau terlalu banyak bergerak tadi, Arkanza," omel Araya pelan tanpa mendongak, tangannya dengan hati-hati mengikat perban baru. "Aku sudah bilang biar Leon dan pasukannya yang membereskan sisa penjaga Volkov."
Arkanza terkekeh pelan, tangannya terulur untuk mengusap pipi Araya yang masih menyisakan sedikit noda debu. "Dan membiarkanmu berada satu ruangan dengan Volkov sedetik lebih lama? Aku lebih baik kehilangan kakiku daripada membiarkan bajingan itu menatapmu."
Araya menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam mata kelam suaminya. "Kenapa, Arkanza? Seharusnya pernikahan kita hanya sebatas kontrak bisnis. Seharusnya kau tidak perlu bertaruh nyawa sejauh ini hanya untuk seorang hacker buronan."
Senyum di wajah Arkanza memudar, digantikan oleh keseriusan yang mendalam. Ia meraih tangan Araya, menarik wanita itu perlahan hingga Araya duduk di sebelahnya di atas sofa.
"Kontrak itu hanya caraku agar kau tidak bisa kabur dariku, Araya," bisik Arkanza, suaranya berat dan penuh emosi.
Arkanza kemudian mengambil sebuah kotak beludru hitam dari saku mantelnya yang tergeletak di meja. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah kalung dengan liontin Safir Biru yang potongannya sangat rumit. Di dalam batu safir itu, terlihat ada kilauan logam mikroskopis.
"Ini bukan sekadar perhiasan," ucap Arkanza sambil memakaikan kalung itu ke leher Araya. Kulit Araya merinding saat jari Arkanza menyentuh tengkuknya. "Safir ini berisi hardware enkripsi fisik. Ayahmu dan kakekku tidak hanya menciptakan Project Phoenix, Araya. Mereka tahu sistem itu terlalu berbahaya, jadi mereka menciptakan 'Kill Switch'—kunci darurat untuk mematikan seluruh satelit yang terhubung dengan Phoenix secara permanen."
Mata Araya membelalak sempurna. Ia menyentuh liontin dingin di dadanya dengan tangan gemetar. "Jadi... benda yang paling dicari oleh Paman dan seluruh sindikat dunia ada di dalam batu ini?"
"Ya. Dan sebelum kakekku meninggal, dia memberikan ini padaku dengan satu wasiat mutlak," Arkanza menangkup wajah Araya. "Dia menyuruhku mencari putri Radit Lin, dan menyerahkan kalung ini hanya saat aku sudah siap memberikan nyawaku untuk melindunginya."
Pertahanan Araya runtuh. Air matanya jatuh. Tanpa ragu, ia menghambur ke pelukan Arkanza, membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Araya merasa benar-benar aman.
Namun, di luar kehangatan ruangan itu, sebuah pengkhianatan sedang merayap dalam diam.
[Balkon Penthouse - Di Balik Bayangan]
Leon berdiri di tengah udara dingin yang membekukan tulang. Wajahnya yang biasanya tenang tanpa ekspresi kini terlihat sangat tegang. Ia memastikan pintu kaca tertutup rapat, lalu mengeluarkan sebuah ponsel satelit hitam yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
Ia menekan tombol panggilan cepat. Satu dering... dua dering... dan panggilan itu dijawab.
"Lapor, Tuan Besar," ucap Leon dengan suara tertahan.
"Bagaimana situasinya di Zurich? Apakah anak itu sudah memberikan liontinnya pada Araya?" suara di seberang telepon terdengar berat, tua, namun penuh dengan otoritas mutlak. Suara yang seharusnya sudah mati lima tahun lalu.
"Sudah, Tuan Bramantyo. Tuan Arkanza baru saja memakaikan 'Kill Switch' itu di leher Nyonya Araya. Semuanya berjalan persis seperti rencana yang Anda susun," lapor Leon sambil menatap lekat ke dalam ruangan, melihat majikannya yang sedang memeluk Araya.
"Kerja bagus, Leon. Biarkan cucuku berpikir dia yang memegang kendali untuk saat ini. Begitu Keluarga Lin di Asia bergerak untuk merebut kalung itu, kita akan menghancurkan mereka semua dalam satu serangan. Terus awasi mereka, dan pastikan Arkanza tidak tahu kalau aku masih hidup."
Klik. Panggilan terputus.
Leon menghela napas panjang, kabut putih keluar dari mulutnya. Ia menyimpan kembali ponsel itu ke balik jasnya. Tangan kanan Arkanza yang paling setia, ternyata adalah pion dari sang Raja yang bermain dari balik kematian.