Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Mewah yang Terasa Seperti Pasar Malam
Setelah drama melompat dari kapal pesiar yang meledak dan terombang-ambing di sekoci karet dengan hanya berbekal sepotong pizza dingin, Leon Vancort dan Ailen akhirnya berhasil diselamatkan oleh tim evakuasi udara pribadi milik keluarga Vancort. Namun, trauma bagi Leon bukanlah soal ledakan itu, melainkan kenyataan bahwa selama perjalanan di helikopter, Ailen tidak berhenti mencoba mengajak pilot melakukan gerakan looping karena menurutnya "pemandangan laut akan lebih bagus kalau dilihat sambil jungkir balik."
Kini, mereka telah kembali ke markas besar. Sebuah mansion megah dengan arsitektur klasik minimalis yang biasanya memiliki atmosfir sedingin kamar mayat dan sepaku museum. Namun, begitu kaki Ailen menginjak lantai marmer aula utama tanpa alas kaki—karena sepatunya sudah jadi penghuni dasar laut—seluruh aura mansion itu berubah total.
"Mas Leon! Akhirnya pulang! Rumah Mas kalau dari jauh kelihatan kayak nisan raksasa, tapi kalau udah masuk rasanya kayak... kurang lampu warna-warni!" seru Ailen sambil berlari kecil menuju sofa beludru seharga ratusan juta rupiah dan langsung mendaratkan bokongnya di sana dengan suara pluk.
Leon, yang masih mengenakan kemeja putih basah yang menempel ketat di tubuhnya, hanya bisa berdiri diam. Ia kelelahan secara fisik, tapi mentalnya jauh lebih terkuras. "Ailen, masuk ke kamarmu. Mandi air hangat. Marco akan mengirimkan dokter untuk memeriksa luka-lukamu."
"Luka luar nggak ada, Mas. Luka dalam ada nih, di lambung. Keroncongan!" sahut Ailen sambil menepuk perutnya. "Mas, daripada panggil dokter, mending panggil tukang sate depan komplek tadi. Saya liat asapnya ngepul banget, baunya sampai masuk ke jendela helikopter!"
"Ini kawasan elit, Ailen. Tidak ada tukang sate yang boleh mangkal di depan gerbangku," tegas Leon.
"Yah, pantesan Mas kesepian. Nggak ada aroma lemak dibakar sih di sini," gerutu Ailen sambil berjalan menuju kamarnya di lantai dua, meninggalkan jejak air laut di sepanjang tangga.
Dua jam kemudian, Leon baru saja selesai membersihkan diri. Ia mengenakan jubah mandi sutra hitam, duduk di ruang kerjanya sambil menyesap wiski. Ia mencoba fokus pada rekaman suara dari alat penyadap yang berhasil diselamatkan Ailen sebelum kapal meledak. Namun, konsentrasinya pecah saat telinganya menangkap suara-suara yang sangat asing bagi rumahnya.
Telolet! Telolet!
Dung-tak-dung-tak!
Leon mengerutkan kening. Apakah ia sedang berhalusinasi karena efek hipotermia? Ia meletakkan gelas wiskinya dan berjalan keluar menuju balkon yang menghadap ke taman dalam.
Matanya membelalak. Pemandangan di bawah sana benar-benar menghancurkan sisa-sisa kewibawaan keluarga Vancort.
Di tengah taman yang biasanya hanya berisi patung-patung Yunani yang murung, kini telah berdiri tiga buah tenda plastik darurat. Ada lampu kelap-kelip berwarna-warni yang digantung di pohon-pohon bonsai langka milik Leon. Dan yang paling parah, ada kepulan asap membumbung tinggi di samping kolam renang.
Ailen sedang berdiri di sana, mengipasi panggangan sate rakitan yang terbuat dari susunan batu bata taman. Di sampingnya, Marco—sang kepala keamanan yang ditakuti—sedang jongkok sambil memegang tumpukan piring plastik, sementara dua penjaga lainnya sibuk menusukkan potongan daging.
"Ayo Mas Marco! Kipasnya yang semangat! Kalau nggak semangat, nanti matengnya sebelah, kayak cintanya Mas Leon ke saya, setengah-setengah!" teriak Ailen dengan ceria.
"AILEN GAVRIL!" suara Leon menggelegar dari balkon.
Ailen mendongak, melambaikan kipas bambunya ke arah Leon. "Eh, Mas Van Houten! Turun, Mas! Satenya udah mau mateng nih! Saya tadi berhasil nyogok penjaga gerbang buat bolehin tukang satenya masuk sebentar, tapi ternyata tukang satenya takut liat muka penjaga Mas yang kayak robot. Jadi saya beli aja semua gerobaknya, terus kita masak sendiri!"
Leon turun ke bawah dengan langkah cepat, jubah mandinya berkibar tertiup angin malam. Para pengawal langsung berdiri tegak, mencoba menyembunyikan piring sate di belakang punggung mereka dengan wajah pucat.
"Apa-apaan ini? Taman ini bukan pasar malam!" bentak Leon.
"Galak amat sih, Mas. Ini namanya team building," bela Ailen sambil menyodorkan satu tusuk sate yang masih mengepul ke arah bibir Leon. "Coba dulu. Dagingnya empuk banget, bumbu kacangnya gurih, sedap, mantap! Kalau Mas makan ini, dijamin semua rencana jahat Moretti langsung terasa kayak remah rengginang."
Leon menatap sate itu, lalu menatap Ailen yang wajahnya coreng-moreng terkena arang tapi matanya berbinar bahagia. Aroma sate yang kuat itu memang sangat menggoda, terutama bagi perut yang hanya diisi pizza sisa selama enam jam terakhir.
Dengan enggan, Leon mengambil tusuk sate itu dan menggigitnya.
"Gimana?" tanya Ailen penuh harap.
Leon mengunyah pelan. Kehangatan bumbu kacang dan kelembutan daging sapi pilihan (yang sepertinya diambil Ailen dari stok daging wagyu di dapur utama untuk dijadikan sate) meledak di mulutnya. "Ini... ini daging wagyu dari kulkas pribadiku?"
"Hehe... habisnya di kulkas Mas cuma ada daging itu. Kan sayang kalau nggak dimanfaatin," Ailen nyengir lebar.
Leon hanya bisa mendesah pasrah. Ia melihat para pengawalnya yang biasanya sangar kini tampak jauh lebih manusiawi dengan noda kecap di sudut bibir mereka. Rumahnya yang biasanya terasa seperti penjara mewah, kini terasa... hidup. Ada suara tawa, ada aroma makanan yang nyata, dan ada kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan miliaran dolar.
"Duduk, Mas. Jangan berdiri terus kayak satpam bank," Ailen menarik tangan Leon agar duduk di atas tikar yang dibentangkan di atas rumput.
Raja Mafia itu, yang biasanya makan di meja kayu jati dengan peralatan perak, kini duduk lesehan di atas tikar plastik bermotif bunga, dikelilingi oleh asap sate dan lampu kelap-kelip pasar malam.
"Mas tahu nggak," ucap Ailen sambil mengunyah sate kelimanya. "Waktu kita di sekoci tadi, saya sempet mikir kalau kita bakal mati. Terus saya nyesel banget."
Leon menoleh ke arah Ailen. "Nyesel kenapa? Karena belum jadi tunanganku yang asli?"
"Bukan!" Ailen tertawa. "Nyesel karena saya belum sempet masakin Mas sate. Mas itu hidupnya terlalu kaku, kayak kanebo kering. Mas butuh sesuatu yang bikin Mas ngerasa kalau dunia ini nggak cuma soal siapa yang nembak siapa, tapi soal siapa yang makan bareng siapa."
Leon terdiam. Kata-kata Ailen yang sederhana itu menghujam tepat ke titik paling lembut di hatinya. Selama ini, ia hidup untuk bertahan, untuk berkuasa, dan untuk membalas dendam. Ia lupa bagaimana caranya untuk sekadar "hidup".
"Ailen," panggil Leon pelan.
"Ya, Mas?"
"Terima kasih. Untuk satenya... dan untuk tetap hidup."
Ailen berhenti mengunyah. Ia menatap Leon, melihat ada ketulusan yang murni di mata biru pria itu. Untuk sesaat, suasana komedi itu menghilang, digantikan oleh emosi yang dalam dan intim. Ailen bisa merasakan jantungnya berdegup kencang—bukan karena takut, tapi karena rasa hangat yang menjalar dari tatapan Leon.
"Sama-sama, Mas Van Houten," bisik Ailen. "Tapi jangan baper ya, nanti kalau Mas baper terus mau nikahin saya, maharnya tetep harus satu kontainer sandal jepit lho."
Leon tertawa. Kali ini tawanya lepas, bukan sekadar senyum tipis. Suara tawa Leon membuat para pengawal di kejauhan tertegun. Mereka belum pernah melihat bos mereka tertawa seperti itu selama bertahun-tahun.
"Sepuluh kontainer pun akan kuberikan, Ailen," sahut Leon.
Kekacauan di taman itu berlanjut hingga larut malam. Ailen bahkan mulai mengeluarkan speaker bluetooth kecil dan menyetel lagu dangdut, memaksa Marco untuk berjoget sambil memegang tusuk sate kosong. Leon hanya menonton dari tikarnya, sesekali menggelengkan kepala, namun tangannya tetap menggenggam tangan Ailen di bawah meja plastik.
Namun, di tengah suasana pasar malam itu, ponsel Leon bergetar. Sebuah pesan masuk dari intelijennya.
Target bergerak. Moretti dan Black Cobra mengadakan pertemuan darurat di Pelabuhan Barat. Mereka tahu penyadapnya aktif.
Raut wajah Leon kembali berubah menjadi dingin dan tajam. Ia berdiri, melepaskan tangan Ailen dengan lembut. "Ailen, hiburannya sudah selesai. Masuk ke dalam. Bersiaplah."
Ailen yang melihat perubahan ekspresi Leon langsung mengerti. Ia berdiri, mematikan speakernya, dan menatap Leon dengan keseriusan yang jarang diperlihatkan. "Mereka mulai bergerak ya, Mas?"
"Ya. Dan kali ini, mereka tidak akan main-main," jawab Leon. "Marco! Bubarkan acara ini! Siapkan tim Alpha. Kita berangkat dalam sepuluh menit!"
"Siap, Tuan!" teriak Marco, langsung kembali ke mode prajurit setianya.
Ailen mendekati Leon, merapikan kerah jubah mandinya yang sedikit berantakan. "Mas... janji ya, jangan ada yang mati malam ini. Kecuali kalau mereka beneran jahat banget, kasih tendangan 'maut' saya aja."
Leon memegang pipi Ailen, mengusap noda arang di sana dengan ibu jarinya. "Aku janji. Tetaplah di belakangku, Alexandra."
"Siap, Mas Tunangan," sahut Ailen dengan senyum tipis yang penuh tekad.
Rumah mewah itu dalam sekejap kembali menjadi markas militer yang efisien. Lampu kelap-kelip dimatikan, tenda dibongkar, dan aroma sate tertutup oleh aroma pelumas senjata. Namun, bagi Leon, rumah itu tidak akan pernah kembali menjadi dingin seperti dulu. Karena di sudut aula, masih tertinggal satu buah sandal jepit hijau milik Ailen yang terjepit di antara pilar marmer—sebuah pengingat bahwa kebahagiaan dan kekonyolan telah menetap di sana.
Malam itu, pasar malam di mansion Vancort berakhir, namun perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dengan perut kenyang sate wagyu dan hati yang penuh dengan rasa baru, Leon Vancort memimpin pasukannya menuju kegelapan, dengan Ailen di sampingnya sebagai cahaya—atau lebih tepatnya, sebagai kembang api yang siap meledak kapan saja.
kya martabak komplit👍👍👍
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍