NovelToon NovelToon
Terjebak Satu Malam Dengan Mafia Kejam

Terjebak Satu Malam Dengan Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Mafia
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dini Andreina

Lyra Aldebaran hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan pertunangannya. Namun satu malam di klub hotel mewah mempertemukannya dengan pria yang tidak seharusnya ia kenal.

Darius Baskara, Pria dingin dan berbahaya yang menguasai dunia gelap kota. Sebuah kejadian membuat mereka terjebak bersama sepanjang malam. Lyra mengira semuanya akan berakhir saat pagi datang. Ia salah,Karena bagi seorang mafia seperti Darius Baskara, sekali ia menginginkan sesuatu, ia tidak akan pernah melepaskannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Andreina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Kehilangan

Udara di dalam gudang berubah menjadi sangat tegang. Darius berdiri di depan dinding rahasia itu. Kotak logam hitam masih berada di dalam ruang kecil yang baru terbuka.k, Namun pistol Viktor sekarang terarah tepat ke arahnya "Satu langkah lagi…" kata Viktor pelan. "...dan seseorang akan mati malam ini."

Pengawal Darius langsung mengangkat senjata mereka, Leon berkata tegas, "Turunkan senjatamu, Viktor."

Namun Viktor hanya tersenyumn"Tidak."

Matanya beralih pada Lyra "Kau tahu… semua ini sebenarnya tentangmu."

Lyra menatapnya tanpa mundur "Apa maksudmu?"

Viktor mengangkat alisnya "Ayahmu meninggalkan semuanya untukmu" Ia menunjuk kotak itun"Itu bukan sekadar kotak"Itu kunci."

Darius berkata dingin, "Kau tidak akan menyentuhnya."

Namun sebelum siapa pun bergerak Salah satu pengawal di belakang Darius tiba-tiba melangkah maju, Gerakannya cepat, Terlalu cepat, Ia mengangkat pistolnya. Namun bukan ke arah Viktor.

Ke arah Darius "Tuan...!"

Leon langsung bereaksi, Namun pria itu sudah menembak.

DORR!!

Semua terjadi dalam satu detik, Lyra melihatnya lebih dulu. Pria itu menembak Darius, Tanpa berpikir Lyra bergerak "DARIUS!"

Ia mendorong tubuh Darius ke samping, Peluru itu tidak mengenai Darius Namun...

DUKK!

Tubuh Lyra tersentak, Matanya melebar, Sebuah rasa panas menjalar di sisi tubuhnya. Ia terhuyung Darius langsung menangkapnya "Lyra!" Tangannya langsung menahan tubuh wanita itu, Darah mulai merembes dari sisi perut Lyra.

Leon sudah menembak balik.

DORR!

Pengawal pengkhianat itu jatuh ke lantai.

Sementara pengawal lain langsung menyerang kelompok Viktor, Gudang berubah menjadi kekacauan.

DOR! DOR! DOR!

Suara tembakan bergema di ruangan besar itu.

Namun bagi Darius Semua suara seperti menghilang.

Karena Lyra ada di pelukannya "Lyra…" Tangannya menekan luka di perutnya, Darah terus mengalir di antara jari-jarinya.

Lyra mencoba bernapas, Namun napasnya pendek "Darius…" Suara itu sangat pelan, Darius hampir tidak pernah terlihat panik. Namun sekarang Matanya benar-benar berubah.

"Leon!" teriaknya.

Leon berlari mendekat."Tuan!"

"Kita harus keluar sekarang!" Leon langsung memberi perintah pada pengawal lain. Namun di sisi lain gudang Viktor berdiri di balik peti kayu. Ia melihat semua itu dengan tenang, Kemudian ia tertawa kecil.

"Sangat menyentuh." Ia melangkah mundur menuju pintu belakang gudang.

Sebelum pergi ia berkata keras,"Kau lihat, Darius?"

Tatapannya dingin."Orang-orang di sekitarmu selalu membawa kematian." Kemudian ia menghilang dalam kegelapan pelabuhan. Namun Darius bahkan tidak menoleh, Ia mengangkat Lyra ke dalam pelukannya. Tubuh wanita itu terasa semakin lemah.

"Lyra… tetap sadar."

Lyra memegang kerah bajunya.

"Darius…"

Matanya setengah tertutup.

"Aku dingin…"

Kalimat itu membuat dada Darius terasa seperti dihantam sesuatu "Kau tidak akan mati."

Suaranya tegas, Hampir seperti perintah, Leon membuka jalan "Mobil sudah siap!"

Darius berjalan cepat keluar gudang, Langkahnya besar dan penuh amarah yang ditahan, Darah Lyra menetes di lantai dermaga. Ia memasukkannya ke kursi belakang mobil.

"Rumah sakit sekarang!" teriak Leon pada sopir.

Mobil langsung melaju, Di dalam mobil—

Darius masih menekan luka Lyra, Tangannya berlumuran darah. Lyra menatapnya samar.

Ia tersenyum sedikit "Kau… terlihat sangat marah…"

Darius menatapnya tajam "Jangan bicara."

Namun Lyra tetap berkata pelan,"Kau pernah bilang…"

Napasnya terputus."...kau tidak akan kehilangan aku lagi." Matanya hampir tertutup "Jangan… bohong…"

Darius menggenggam tangannya kuat. Matanya penuh sesuatu yang jarang terlihat. Ketakutan. "Kau tidak akan pergi." Ia menatapnya dalam "Itu perintahku."

Mobil melaju kencang menuju rumah sakit, Namun di gudang pelabuhan Kotak logam hitam itu masih tertinggal di ruang rahasia. Dan di dalamnya, Terdapat sesuatu yang akan mengubah semuanya.

*****

Lampu ruang operasi menyala terang. Pintu besar dengan tulisan OPERATING ROOM tertutup rapat.

Di lorong rumah sakit itu suasana terasa sangat tegang. Leon berdiri beberapa langkah dari pintu operasi. Beberapa pengawal lain berjaga di sepanjang koridor.

Namun yang paling diam di sana adalah Darius.

Ia berdiri tepat di depan pintu operasi, Kemejanya masih penuh darah, Darah Lyra. Tangannya mengepal keras hingga buku-buku jarinya memutih. Seorang dokter sempat berkata sebelum membawa Lyra masuk.

"Pelurunya cukup dalam. Kami akan berusaha semaksimal mungkin."

Kalimat itu terus terngiang di kepala Darius.

Leon mendekat sedikit.

"Tuan…"

Namun Darius tidak menjawab, Tatapannya kosong ke arah pintu operasi. Beberapa menit terasa seperti jam, Kemudian....

BRAKK!

Suara keras mengejutkan semua orang. Darius memukul dinding dengan tinjunya, Leon langsung menegang "Tuan!"

Namun Darius bahkan tidak melihat tangannya yang sekarang berdarah, Suaranya rendah "Panggil semua orang."

Leon tahu maksudnya, Semua jaringan Darius, Semua anak buahnya "Temukan Viktor."

Nada suara Darius berubah sangat dingin "Dimengerti."

Leon langsung berjalan pergi sambil menghubungi beberapa orang. Sementara Darius masih berdiri di sana, Beberapa saat kemudian seseorang datang.

Seorang wanita paruh baya, Ibu Lyra Matanya langsung panik ketika melihat Darius.

"Di mana Lyra?"

Darius menoleh, Suaranya lebih pelan sekarang.

"Dia sedang di operasi."

Wajah wanita itu langsung pucat.

"Apa yang terjadi?"

Darius tidak langsung menjawab, Ia hanya berkata pelan "Dia melindungiku."

Wanita itu menutup mulutnya, Matanya berkaca-kaca, Namun sebelum ia bisa berkata apa-apa Pintu operasi terbuka. Seorang dokter keluar Semua orang langsung berdiri, Darius berjalan cepat mendekat.

"Bagaimana keadaannya?"

Dokter melepas maskernya, Ekspresinya serius.

"Operasinya berhasil."

Semua orang menghela napas lega, Namun dokter melanjutkan.

"Namun dia kehilangan banyak darah."

"Dia masih dalam kondisi kritis."

Jantung Darius seperti berhenti sebentar.

"Kapan aku bisa menemuinya?"

"Dia akan dipindahkan ke ICU."Dokter menatapnya.

"Hanya satu orang yang boleh masuk sebentar."

Ibu Lyra langsung berkata,

"Aku...."Namun ia berhenti ketika melihat Darius.

Tatapan pria itu.Sangat berbeda, Akhirnya ia berkata pelan "Kau masuklah dulu." Darius tidak berkata apa-apa, Ia hanya mengangguk sedikit.

Beberapa menit kemudian Darius berdiri di dalam ruang ICU, Ruangan itu sunyi, Hanya suara mesin monitor yang terdengar.

Bip… bip… bip…

Lyra terbaring di tempat tidur, Wajahnya pucat, Selang infus terpasang di tangannya. Darius berdiri di samping tempat tidur, Ia menatapnya lama. Kemudian perlahan duduk di kursi di sampingnya.

Tangannya menggenggam tangan Lyra.

Hangat, Namun sangat lemah. "Aku benci rumah sakit," katanya pelan.

Lyra tidak bergerak, Darius menghela napas panjang.

"Aku pernah kehilangan seseorang di tempat seperti ini." Ia menatap wajah Lyra "Dan aku tidak akan mengalaminya lagi." Tangannya menggenggam tangan Lyra sedikit lebih erat.

Namun tiba-tiba Jari Lyra bergerak sedikit, Sangat kecil, Darius langsung menyadarinya, Matanya membesar "Lyra?"

Kelopak mata Lyra bergerak pelan, Kemudian perlahan terbuka, Matanya masih lemah. Namun ketika ia melihat Darius Ia tersenyum sangat tipis.

"Kau… terlihat lebih buruk dari aku…"

Darius hampir tertawa, Namun suaranya serak.

"Kau menakutiku."

Lyra mencoba berbicara lagi.

"Apa… kau masih marah?"

Darius menggeleng pelan "Tidak."

Ia menyentuh rambut Lyra dengan sangat lembut.

"Aku hanya ingin membunuh seseorang."

Lyra menatapnya samar."Lagi…?"

Darius sedikit tersenyum, Namun matanya berubah dingin "Seseorang akan membayar untuk ini."

Lyra memejamkan matanya lagi karena lelah, Namun sebelum tertidur ia berbisik pelan.

"Darius…"

"Hm?"

"Jangan… jadi monster…"

Kalimat itu membuat Darius terdiam, Beberapa detik ia tidak berkata apa-apa. Kemudian ia membungkuk sedikit, Mencium kening Lyra dengan sangat lembut.

"Aku hanya monster untuk musuhku." Ia berdiri perlahan, Dan ketika ia keluar dari ruang ICU Leon sudah menunggu.

"Tuan."

Darius menatapnya

"Satu berita baik." Leon berkata pelan "Kotak dari gudang pelabuhan…"

"Kami berhasil mengambilnya."

Beberapa detik sunyi, Darius berkata dingin.

"Buka."

Leon mengangguk, Kotak logam hitam itu dibuka di ruang tunggu rumah sakit. Di dalamnya hanya ada tiga benda, Sebuah flashdisk hitam, Sebuah dokumen lama Dan sebuah surat yang ditujukan untuk Lyra. Darius mengambil surat itu perlahan, Tulisan tangan di depan amplop sangat jelas.

Untuk Putriku Lyrabelle.

Darius membuka surat itu perlahan, Matanya membaca beberapa baris pertama. Namun ekspresinya langsung berubah, Leon langsung bertanya,

"Tuan…?"

Darius menutup surat itu perlahan, Suaranya sangat rendah.

"Ayah Lyra…" Ia menatap Leon "...tidak pernah mati."

Leon langsung terdiam.

Sementara di suatu tempat di kota Viktor sedang duduk di sebuah ruangan gelap, Ia menatap layar komputer. Di layar itu ada satu nama, Lyra Aldebaran.

Ia tersenyum pelan "Permainan ini…" Matanya menyipit "...baru saja menjadi menarik."

1
Dini Andreina
sabar ya ka hari ini langsung banyak
Tanece Alu Bunga
update lama.kali thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!