NovelToon NovelToon
Puncak Kultivasi Tertinggi 2

Puncak Kultivasi Tertinggi 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Ruang Ajaib / Fantasi Timur
Popularitas:25.7k
Nilai: 5
Nama Author: APRILAH

Yan Jian— seorang generasi muda yang awalnya terlahir tanpa memiliki Roh Bela Diri bawaan, kini bangkit sebagai Generasi Muda terkuat di Provinsi Chang Yuan.

Setelah melakukan pertarungan panjang yang melelahkan waktu, menepati janji, menorehkan prestasi, hingga dirinya disebut Generasi Muda nomor satu di Provinsi Chang Yuan.

Yan Jian bersama sembilan Generasi Muda perwakilan Provinsi Chang Yuan lainnya berangkat menuju Kota Kekaisaran, tempat Kompetisi terbesar di salah satu Kekaisaran Wilayah Timur. Namun di wilayah timur besar, Provinsi Chang Yuan di anggap sebagai debu berjalan, karena setiap kompetisi, provinsi Chang Yuan selalu menjadi yang terlemah dan selalu berada di peringkat paling rendah.

Mampukah Yan Jian bersama rekan-rekannya mengangkat dan mengharumkan Provinsi Chang Yuan di Kompetisi terbesar Kekaisaran Api Agung itu? Yuk, ikuti kisahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PKT 2: Chapter 18

Saat itu, di halaman luas di depan Istana Kekaisaran Api Agung. Kaisar Huo Tianjun memutuskan untuk membubarkan semua orang yang ada di tempat itu, menyatakan bahwa Kompetisi tahap pertama telah selesai, dan satu minggu mendatang, kompetisi babak kedua akan segera di mulai.

Namun, Yan Jian yang dalam keadaan yang lemah dengan tubuhnya yang di gandeng oleh Peri Yun Xi, Yan Jian pun runtuh kehilangan kesadarannya.

"Jian, Jian, bertahanlah!" ucap Peri Yun Xi, panik.

"Kita harus segera mencari tempat yang tepat untuk mengobati luka adikku!" ujar Xiao Yu'er.

"Kalau begitu... ayo bergegas! Kita harus segera membantu Yan Jian memulihkan diri." ujar Chang Ge.

Xiao Yu'er, Peri Yun Xi, Nangong Yuxin, mereka pun mengangguk ringan, dan Peri Yun Xi pun menggendong tubuh Yan Jian di punggungnya, mereka pun melayang di udara dengan sekelebat cahaya di setiap pergerakan mereka.

Mereka mencari tempat penginapan, dan setibanya di sana, mereka memesan tiga kamar, satu kamar itu, untuk Chang Ge. Xiao Yu'er satu kamar dengan Nangong Yuxin, dan satu kamar untuk Pero Yun Xi dengan Yan Jian.

Selama tiga hari itu, Yan Jian masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Peri Yun Xi merawat kekasih kecilnya itu sepenuh hati. Mengganti pakaian, membasuh badannya, menyuapinya. Namun, Yan Jian tidak juga menunjukan tanda-tanda untuk sadarkan diri.

Malam itu, di kamar penginapan Bulan Purnama Teratai, hujan mulai turun pelan di luar jendela. Tetesannya mengetuk genteng kayu dengan irama yang seolah mengiringi detak jantung yang lemah. Cahaya lentera minyak di sudut ruangan hanya mampu menerangi separuh wajah Yan Jian yang pucat seperti salju musim dingin, bibirnya kering dan retak, napasnya terputus-putus seolah setiap hembusan adalah perjuangan yang sangat berat.

Peri Yun Xi duduk di tepi ranjang, tak bergerak sejak matahari terbenam. Rambut hitam panjangnya terurai tak beraturan, beberapa helai menempel di pipinya yang basah oleh air mata yang tak henti mengalir sejak tadi siang. Ia tak lagi menyeka wajahnya sendiri; biarlah. Tak ada yang melihat kecuali Yan Jian dan dia pun tak sadar.

Tangan rampingnya memegang tangan Yan Jian erat-erat, jari-jarinya yang dingin mencoba mencari kehangatan yang semakin pudar dari telapak tangan kekasihnya. Setiap kali jari Yan Jian bergetar kecil karena dingin atau sakit, hati Peri Yun Xi seperti ditusuk jarum beracun.

"Jian...?!" suaranya pecah bergetar, hampir tak terdengar di antara deru hujan. "Kenapa kau harus begini... kenapa kau tak mau berjanji padaku untuk tidak membahayakan dirimu sendiri?" Peri Yun Xi menunduk, dahi menyentuh punggung tangan Yan Jian. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi kulit yang sudah dingin itu.

"Aku yang seharusnya melindungi mu. Aku yang seharusnya lebih kuat. Tapi lihat sekarang... aku hanya bisa duduk di sini, menunggu, tak berdaya. Apa gunanya menjadi Peri jika aku tak bisa menyelamatkan orang yang paling kucintai?"

Ingatan malam-malam sebelumnya kembali menghantamnya seperti gelombang. Bagaimana ia mengunyah makanan hingga lembut, lalu dengan pipi memerah dan hati bergetar, menempelkan bibirnya ke bibir Yan Jian yang tak sadar, mendorong makanan itu perlahan, seolah sedang menciumnya untuk terakhir kali. Bagaimana ia membersihkan tubuhnya dengan kain hangat, menyentuh setiap luka bakar dan retak meridian dengan jari gemetar, berbisik maaf berkali-kali meski Yan Jian tak mendengar.

Dan setiap malam, ketika dunia sudah tidur, ia akan meringkuk di samping tubuh Yan Jian, memeluknya dari belakang seolah ingin melindunginya dari maut itu sendiri. Ia tak peduli jika rambutnya kusut, jika matanya sembab, jika auranya mulai goyah karena energi spiritualnya terkuras untuk terus menyalurkan energi penyembuh ke meridian Yan Jian.

"Kalau kamu pergi..." gumamnya, suaranya bergetar hebat, "a— aku juga ikut. Aku tak bohong. Dunia ini terlalu luas, terlalu dingin tanpamu. Aku lebih baik mati daripada hidup dengan lubang di dada ini." sambungnya, dengan nada yang rendah, hampir tak terdengar.

Tiba-tiba, jemari Yan Jian bergerak, sangat pelan, hampir tak terasa. Hanya sedikit menekan balik tangan Peri Yun Xi. Membuat kedua sudut mata Peri Yun Xi melebar. Air matanya berhenti sejenak, lalu mengalir lebih deras.

"Jian ...?!" Peri Yun Xi mengangkat kepala dengan cepat, menatap wajah pucat itu penuh harap dan ketakutan. Kamu... mendengar ku?" sambungnya, dengan perasaan yang sangat begitu senang bahagia.

Namun Yan Jian tetap terdiam, tak ada jawaban. Hanya hembusan napas yang sedikit lebih teratur.

Peri Yun Xi tersenyum getir di antara isak tangisnya. Senyum yang penuh cinta, penuh kepedihan, penuh pengorbanan yang tak pernah ia ucapkan dengan kata-kata. Ia mendekatkan wajahnya, bibirnya menyentuh kening Yan Jian dengan lembut, seperti doa, seperti janji, seperti ikrar abadi.

"Aku akan menunggumu. Berapa lama pun. Seribu tahun, sepuluh ribu tahun... bahkan jika dunia ini hancur sekalipun, aku tetap akan menunggu kau membuka mata dan memanggil namaku lagi. Jadi... tolong bertahanlah untukku."

Hujan di luar semakin deras, tapi di dalam kamar itu, hanya ada keheningan yang dipenuhi kasih sayang yang begitu dalam hingga terasa menyakitkan. Peri Yun Xi kembali memeluk tubuh Yan Jian erat-erat, menempelkan telinga ke dada Yan Jian yang naik-turun pelan, mendengarkan detak jantung yang rapuh itu seolah itu adalah satu-satunya melodi yang masih membuat dunianya berputar. Dan di malam yang pilu itu, di antara air mata dan hujan yang tak henti, cinta Peri Yun Xi kepada Yan Jian terasa lebih nyata daripada api abadi mana pun di dunia ini, hangat, rapuh, dan abadi.

Di hari keempat, angin musim semi yang sejuk menyusup melalui celah jendela kayu penginapan Bulan Purnama Teratai, membawa aroma bunga persik dari kebun di belakang. Kamar yang ditempati Peri Yun Xi dan Yan Jian terasa hening, hanya terdengar hembusan napas pelan Yan Jian yang masih terbaring tak berdaya di atas ranjang berukir naga.

Peri Yun Xi duduk di sisi ranjang, rambut hitam panjangnya terurai hingga menutupi bahu. Matanya yang biasanya dingin dan angkuh kini lembut, penuh kekhawatiran yang tak pernah ia tunjukkan di depan orang lain. Tangan rampingnya memegang kain basah, menyeka keringat di dahi Yan Jian dengan gerakan hati-hati, seolah takut menyakiti kulitnya yang pucat.

"Hm! Sampai kapan kamu akan tertidur seperti ini, sayangku?" gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Bertarung sampai titik darah penghabisan demi membuktikan sesuatu yang sebenarnya tak perlu dibuktikan lagi. Bodoh." sambungnya, segaris senyuman tergambar di sudut bibirnya, tetapi air matanya menetes di sebelah pipinya.

Tiba-tiba pintu kamar diketuk pelan. Peri Yun Xi menoleh, ekspresinya kembali dingin dalam sekejap.

"Masuk." ucapnya, dengan nada yang dingin.

Pintu terbuka, dan dua sosok masuk dengan langkah hati-hati. Yao Qingyu, wanita berpakaian hijau dengan aura anggun seperti peri hutan, berjalan di depan. Di belakangnya, Yao Zhetian, saudara kembarnya yang berpakaian merah darah, wajahnya dingin tapi matanya menyimpan kekhawatiran yang dalam, mengikuti dengan tangan terlipat di dada.

"Peri Yun Xi," sapa Yao Qingyu lembut sambil memberi hormat kecil. "Kami datang menjenguk Yan Jian. Bagaimana keadaannya?"

Peri Yun Xi menghela napas pelan, meletakkan kain basah di mangkuk air hangat. Dia tahu bahwa Yao Qingyu merupakan kenalan baik Yan Jian ketika di lembah api gerbang pertama.

Peri Yun Xi pun berbicara, "Masih sama. Aliran energi spiritualnya kacau, meridian nya retak di beberapa tempat. Dokter penginapan bilang dia butuh setidaknya satu bulan penuh untuk pulih sepenuhnya... tapi aku tak percaya dia akan diam saja selama itu."

Yao Zhetian melangkah mendekat, tatapannya tertuju pada Yan Jian yang terbaring. "Dia terlalu memaksakan diri di babak pertama. Walaupun elemen api milik Wu Hao bukanlah Api Abdi, tetapi api itu memang ganas, tapi Yan Jian seharusnya tahu batasnya. Atau... dia sengaja ingin menunjukkan sesuatu kepada seseorang?"

Nada bicaranya datar, tapi ada sindiran halus di dalamnya. Peri Yun Xi langsung menatap tajam ke arahnya.

"Apa maksudmu?" tanya Peri Yun Xi dengan nada yang meninggi.

Yao Qingyu buru-buru menengahi, tersenyum tipis. "Kak Zhetian hanya khawatir. Aku melihat pertarungan itu. Yan Jian... dia seperti ingin membakar dirinya sendiri demi seorang gadis yang sempat diperlihatkan oleh Wu Hao dalam satu gambar, tapi aku tidak tahu siapa gadis itu? Tapi aku ingat dia memanggilnya Ling'er." ujar Yao Qingyu, mencoba menenangkan suasana.

Peri Yun Xi menunduk, jari-jarinya meremas ujung selimut. "Aku tahu. Dia adalah istri pertama yang Jian, sedangkan aku... aku adalah orang yang sangat berdosa kepadanya, berulang kali menempatkannya dalam keadaan hidup dan mati."

Suasana menjadi hening sesaat. Yao Qingyu kemudian mengeluarkan sebuah kotak giok kecil dari lengan bajunya. Cahaya hijau lembut memancar darinya.

"Ini adalah Pil Penyatu Jiwa Teratai Es dari klan kami. Bukan obat ajaib yang langsung menyembuhkan, tapi bisa menstabilkan jiwa dan meridiannya selama pemulihan. Setidaknya dia tak akan semakin memburuk."

Peri Yun Xi menerima kotak itu dengan kedua tangan, matanya sedikit bergetar. "Te_ terima kasih... Senior Qingyu."

Yao Zhetian mendengus pelan. "Jangan terlalu berterima kasih dulu. Ada kabar buruk juga."

Kedua wanita itu menoleh padanya.

"Babak kedua kompetisi satu minggu lagi, tapi desas-desus menyebar di Istana Kekaisaran. Katanya, Tuan Putri Huo Xu menjalin satu kerja sama dengan Luo Xiang'er dan juga Wu Hao, untuk menjatuhkan Yan Jian dan Wang Yuxiu, yang tidak lain adalah jenius tertinggi dari Provinsi kami, Provinsi Teratai Api." ujar Yao Zhetian.

Peri Yun Xi langsung berdiri, auranya meledak seketika. Hawa dingin samar muncul di sekitar tubuhnya. "Keterlaluan! Atas dasar apa Putri Huo Xu melakukan itu? Apakah Yan Jian pernah menyinggung nya?"

Yao Qingyu menghela napas. "Bukan soal pernah menyinggung atau tidak! Namun, Putri kekaisaran itu memang terkenal sangat sombong dan kejam."

Tiba-tiba, dari ranjang, terdengar suara pelan. Jemari Yan Jian bergerak sedikit.

Semua mata langsung tertuju padanya.

"Yun... Xi..." suara Yan Jian serak, hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat hati Peri Yun Xi bergetar hebat.

Peri Yun Xi langsung berlutut di sisi ranjang, memegang tangannya erat. "Jian! kamu akhirnya... sudah sadar!"

Mata Yan Jian terbuka tipis, pandangannya kabur. "Aku... mendengar suaramu... tadi malam... kau menangis..."

Wajah Peri Yun Xi memerah seketika. "Bodoh! Siapa yang menangis? Aku tidak menangis!" tapi tangannya justru semakin erat menggenggam, dan air matanya mengalir deras, air mata yang bahagia.

Yao Qingyu tersenyum kecil, menarik saudaranya mundur. "Sepertinya dia sudah mulai pulih. Kami pamit dulu. Jaga dia baik-baik, Yun Xi."

Begitu keduanya keluar, Peri Yun Xi menatap Yan Jian lama sekali. Lalu, dengan gerakan pelan, ia membuka kotak giok tadi, mengambil pil bercahaya itu, dan mendekatkan ke bibir Yan Jian.

"Minum ini... perlahan."

Yan Jian tersenyum lemah. "Kau... mau menyuapiku lagi seperti kemarin?"

Peri Yun Xi tersedak, wajahnya semakin merah. "Diam dan telan!"

Tapi di dalam hati, ia tahu, satu minggu ke depan akan sangat berat. Bukan hanya untuk pemulihan Yan Jian, tapi juga untuk menghadapi badai yang mulai mengintai dari Istana Kekaisaran.

1
Ruan Yuan
lanjut up thor semangat
APRILAH: asyiappp kak
total 1 replies
Ruan Yuan
mantap Thor, seru.
Ruan Yuan
/Plusone//Rose//Rose/
Ruan Yuan
/Plusone//Plusone//Plusone/
Ruan Yuan
tetap semangat thor, selamat sampai tujuan 👍
Ruan Yuan
yg villain emang selalu tampil beda 😍
Ruan Yuan
mantap thor
Ruan Yuan
tingkatkan semua kemampuan kalian dan buat Kekaisaran Api Agung terkejut
Fajar Fathur rizky
thor lumpuhkan kultivasi fengxian thor
APRILAH: mwehehe, siyappp
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Klannya fengxian thor
Mamat Stone
/Chuckle/
Mamat Stone
/Tongue/
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
🤣
Mamat Stone
Yoi Puput
Mamat Stone
Oke Doski
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Joyful/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!