Kisah seorang ilmuan gila yang melawan pemerintah dunia yang dzalim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Michael Jack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemunculan Rey
Jack pun berlatih untuk menggunakan energi qi. Namun, Jihan merasa ada yang aneh dari Jack. Hal ini karena energi qi yang diserap Jack bukan bentuk dasar dari energi qi, melainkan sudah berbentuk elemen berupa api.
"Tunggu Jack, kau serius baru pertama kali berkuktivasi?" Tanya Jihan dengan nada serius.
"Tentu saja" jawab Jack.
"Tapi mengapa energi qi yang kau serap sudah berbentuk elemen?" Tanya Jihan lagi.
Phoenix ungu yang mendengarkan pembicaraan mereka dari dalam tubuh Jack memintanya untuk jujur.
Akhirnya Jack jujur pada Jihan kalau dirinya merupakan wadah Phoenix ungu.
Terkejut tidak percaya, Jihan pun ingin membuktikannya sendiri. Dia mengajak duel Jack.
Jack dan Jihan pun saling berhadapan satu sama lain.
"Nona, apakah anda serius?" Tanya Jack dengan perasaan takut namun masih mempertahankan ekspresi tenangnya.
"Ya, tentu saja, aku ingin membuktikannya sendiri" jawab Jihan dengan suara yang tegas dan penuh wibawa.
"Keluarlah tombak Naga emas!!!" ucap Jihan memanggil tombaknya.
Dia pun melesat dan mengarahkan tombaknya langsung ke arah Jack. Jack pun menangkisnya dengan pedangnya yang baru dia dapatkan semalam.
"Jack, gunakan sayap Phoenix" bisik Phoenix ungu.
"Bagaimana caranya?" Tanya Jack.
"Cukup katakan muncullah sayap Phoenix!!!" jawab Phoenix ungu.
Jack pun mengikuti instruksi Phoenix ungu. Dan secara ajaibnya di punggung Jack muncul sayap api merah.
Jihan yang melihat itu terkejut tidak percaya, dia pun ingin memastikannya lagi.
"Jack, jangan sombong, aku juga punya" teriak Jihan pada Jack.
"Keluarlah, sayap Naga emas" ucap Jihan mengeluarkan sayap Naga emas dari punggungnya.
Jihan kemudian terbang ke langit dan menukik cepat ke arah Jack. Jack pun terbang dan kabur.
"Jangan lari Jack!!!" Teriak Jihan.
"Kekuatan tombak Naga emas, jurus ketiga, tombak penghancur!!!" Ucap Jihan mengarahkan jurusnya pada Jack.
Tombak raksasa muncul dari langit dan akan menghantam Jack. Phoenix ungu pun dengan cepat mengambil alih tubuh Jack. Kemudian dia menebaskan pedang ke arah serangan Jihan. Seketika, muncul tebasan api berbentuk bulan sabit yang bertabrakan dan menghancurkan tombak raksasa itu.
"Apa yang baru saja terjadi?" Gumam Jack bertanya-tanya setelah dirinya sadar.
Jihan pun mematung sesaat karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Belum sempat bereaksi, dari arah pedesaan muncul seorang prajurit kekaisaran yang mengarah ke mereka. Dia ditugaskan oleh sang kaisar untuk menemui Jihan supaya Jihan segera menemui sang kaisar.
Jihan pun meminta Jack untuk menemaninya. Akhirnya mereka berdua pun pergi ke istana lewat jalur udara.
Sembari menempuh perjalanan ke istana, mereka pun bermain kejar-kejaran. Mereka terlihat bahagia seolah tidak ada yang menghalangi mereka. Terutama Jack, karena dia menyukai Jihan, dia sangat bahagia bisa bermain dan tertawa bersama dengan pujaan hatinya.
Setelah sampai di istana yang bertempat di negara Mongolia, mereka pun segera menemui sang kaisar.
"Hormat pada sang kaisar" ucap Jihan sembari bertekuk lutut dan diikuti oleh Jack.
"Bangunlah" balas sang kaisar.
"Ada apa gerangan yang mulai memanggil hamba?" Tanya Jihan.
"Sebelumnya, siapa pria di sampingmu itu?" Ucap sang kaisar balik bertanya.
"Ah, perkenalkan mulia, dia adalah Jack, temanku saat masih kecil" jawab Jihan.
"Begitu ya, apakah dia kuat?" Tanya sang kaisar.
"Tentu saja yang mulia, dia merupakan wadah dari Phoenix ungu" jawab Jihan.
"Apa?!" Tanya sang kaisar dengan suara keras disertai ekspresi terkejut tidak percaya.
"Benar yang mulia, saya sendiri telah mengujinya dan hasilnya memang dia adalah wadah Phoenix ungu" jawab Jihan.
"Hmph, pantas saja ada gelombang dahsyat dari arah hutan yang menyebabkan gelombang dahsyat yang mengguncang dunia" ucapnya.
Setelah pembahasan tentang Jack, kaisar pun memerintahkan Jihan untuk menjaga makam kuno yang berada di daerah terpencil di wilayah Korea Utara. Karena belakangan ini, makam itu sering memancarkan aura mematikan, dan takutnya dari makam itu muncul seseorang yang dapat menghancurkan kekaisaran.
Setelah itu, mereka pun segera berangkat ke makam yang telah diperintahkan. Sepanjang perjalanan Phoenix ungu sangat gelisah. Dia merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya.
Setelah sampai, Jihan pun segera menyelidiki makam itu, sedangkan Jack duduk tenang sembari mempelajari jurus-jurus yang diajarkan Phoenix ungu.
Setelah beberapa saat penyelidikan, Jihan tidak menemukan keanehan selain aura menakutkan itu, sehingga mereka memutuskan untuk beristirahat di pos penjagaan.
Namun, saat mereka baru berjalan beberapa langkah, makam itu bergetar hebat mengeluarkan aura pembunuh yang menakutkan. Dari dalamnya, muncul sesosok pria misterius.
Sedikit informasi.
Pria itu adalah Rey Alvino. Tinggi 169cm. Dia memiliki rambut yang sedikit panjang. Dan dia juga selalu menggunakan masker.
Dia dikenal sebagai seorang yang pendiam. Auranya sangat mengintimidasi. Dia adalah seorang yang menggunakan energi qi dan sihir untuk kepentingannya.
Rey pun tiba-tiba menghilang dan muncul di belakang Jack. Dia memukul Jack hingga terpental jauh.
Jihan pun dengan cepat menyerang Rey, namun dia ditendang hingga terpental.
Jack pun menghunuskan pedangnya dan menyerang Rey. Rey pun mengeluarkan lubang hitam yang di dalamnya muncul pedang yang melesat ke arah Jack.
Jack pun berhasil menghindar dan kembali menyerang dengan bola api. Rey membalasnya dengan mengeluarkan bola hitam yang melesat dan menabrak bola api Jack. Dan terjadilah sebuah ledakan yang menimbulkan banyak asap.
"Jack, kita harus memikirkan cara mengalahkannya" teriak Jihan pada Jack.
Jihan kemudian melesat dengan cepat ke arah Rey mengayunkan tombaknya. Rey pun menangkis setiap serangan yang diberikan Jihan.
Sementara itu, Jack terbang dan menyiapkan bola api raksasa untuk menyerang.
"Jihan menjauh darinya!!!" Teriak Jack.
"Kekuatan Phoenix, jurus ketiga, meteor api abadi" ucap Jack sembari melempar bola apinya yang tepat mengenai Rey.
"Sekarang giliranku. Kekuatan Naga emas, jurus kedua, hujan tombak" ucap Jihan sembari menghujani Rey dengan tombak yang muncul dari langit.
Saat mereka berpikir bisa mengalahkannya, tiba-tiba Rey mengeluarkan aura kegelapan yang menghancurkan serangan mereka dan membuat mereka terpental.
Rey tertawa terbahak-bahak dengan tawanya menakutkan. Dia mengeluarkan sebuah trisula yang kemudian melemparkannya ke langit yang membuat langit mendung dengan petir yang bergemuruh.
Rey kemudian mengeluarkan aura kegelapan yang membuat sekitarnya menjadi hampa seolah tak memiliki kehidupan. Tumbuhan sekitar layu seketika, hewan-hewan di sekitar pun mati mengering seolah energi kehidupan mereka telah diambil tidak terkecuali Jihan dan Jack yang juga mulai melemah.
"Jack, sepertinya aku tau siapa dia" ucap Phoenix ungu pada Jack dengan nada yang sedikit takut.
"Siapakah dia?" Tanya Jack.
"Aku tidak yakin, tapi dari auranya aku sepertinya sangat mengenalinya" jawab Phoenix ungu.
Mendengar nada bicara Phoenix ungu, Jack pun tidak ikut merasa ketakutan.