Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu yang Tidak Bisa Dikontrol
Hujan belum berhenti.
Seolah langit kota itu sedang menikmati bagaimana dua orang yang seharusnya tidak pernah bertemu… kini duduk berhadapan di tempat yang bahkan tidak layak masuk dalam dunia salah satu dari mereka.
Warung kecil itu sederhana.
Terlalu sederhana untuk Arsenia.
Tapi anehnya—
ia belum pergi.
—
Raka sudah menghabiskan tehnya.
Sementara Arsenia masih memegang gelas yang sama, meskipun isinya sudah berkurang sedikit.
Keheningan di antara mereka bukan canggung.
Tapi juga bukan nyaman.
Lebih seperti… sesuatu yang belum punya nama.
—
“Kamu selalu di sini?” tanya Arsenia tiba-tiba.
Raka mengangguk. “Sering.”
“Kenapa?”
“Murah,” jawabnya singkat.
Arsenia menatap sekeliling lagi.
Kursi plastik yang sedikit retak.
Meja yang sudah tergores di sana-sini.
Lampu kuning redup yang berkedip sesekali.
Hal-hal yang tidak pernah ia lihat sebagai “pilihan”.
Hanya sebagai… sesuatu yang dihindari.
“Terlalu sederhana,” gumamnya tanpa sadar.
Raka mendengarnya.
Tapi ia tidak tersinggung.
Ia hanya tersenyum kecil.
“Iya. Tapi cukup.”
Jawaban itu—
lagi.
Selalu itu.
Cukup.
Seolah hidup tidak perlu lebih.
Dan bagi Arsenia, itu konsep yang… asing.
—
“Aku tidak mengerti orang seperti kamu,” kata Arsenia.
Nada suaranya tidak merendahkan.
Lebih ke… jujur.
Raka menatapnya.
“Orang seperti saya gimana?”
“Tidak punya ambisi besar. Tidak mengejar apa-apa.”
Raka berpikir sebentar.
Lalu bertanya balik,
“Kalau semua orang kejar ‘besar’… siapa yang nikmatin yang ‘cukup’?”
Arsenia terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Tapi mengandung sesuatu yang… mengganggu pikirannya.
Dan ia tidak suka itu.
Ia tidak suka ketika sesuatu tidak bisa ia kendalikan.
—
“Ambisi itu penting,” katanya tegas.
“Biar hidup naik.”
Raka mengangguk pelan.
“Naik ke mana?”
“Ke atas.”
“Terus?”
Arsenia menyipitkan mata.
“Terus apa?”
Raka menatapnya lurus.
“Kalau udah di atas… Anda mau ke mana lagi?”
—
Pertanyaan itu—
mengenai sesuatu yang bahkan Arsenia tidak pernah pikirkan.
Karena baginya…
selalu ada “lebih tinggi”.
Selalu ada “berikutnya”.
Tidak pernah ada titik berhenti.
Dan untuk pertama kalinya—
ia tidak punya jawaban cepat.
—
“Kamu terlalu banyak tanya,” katanya akhirnya.
Nada suaranya kembali dingin.
Lebih defensif dari sebelumnya.
Raka tertawa kecil.
“Biar seimbang. Soalnya dari tadi Anda yang nanya.”
—
Hening lagi.
Tapi kali ini…
lebih dalam.
Lebih terasa.
—
Di luar, hujan mulai mereda.
Orang-orang mulai kembali ke aktivitas mereka.
Dan tanpa disadari—
waktu sudah berjalan cukup lama.
Lebih lama dari yang seharusnya.
Lebih lama dari yang masuk akal.
—
Arsenia berdiri.
Gerakannya cepat, seperti baru tersadar.
“Aku harus pergi.”
Kembali ke dunianya.
Ke tempat di mana semuanya masuk akal.
—
Raka mengangguk.
“Ya.”
Tidak menahan.
Tidak meminta.
Tidak berharap.
Dan itu—
entah kenapa—
sedikit… mengecewakan.
—
Arsenia mengeluarkan uang.
Meletakkannya di meja.
Lebih dari cukup.
Jauh lebih dari cukup.
Raka melihatnya.
Lalu—
mendorong uang itu kembali.
“Saya cuma minum satu.”
Arsenia menatapnya.
“Ambil saja.”
“Enggak perlu.”
“Anggap saja—”
“Saya enggak suka dikasih tanpa alasan.”
Kalimat itu tegas.
Tapi tidak kasar.
Lebih seperti… prinsip.
—
Arsenia perlahan menarik tangannya.
Untuk pertama kalinya—
uangnya tidak bisa menyelesaikan sesuatu.
Dan itu terasa… aneh.
—
Ia berbalik.
Berjalan keluar.
Hujan sudah hampir berhenti.
Udara dingin menyentuh wajahnya.
—
Tapi langkahnya terhenti.
Tanpa ia rencanakan.
Tanpa ia pahami.
—
“Raka.”
Ia memanggil.
Pelan.
—
Raka menoleh dari dalam warung.
“Ya?”
—
Beberapa detik berlalu.
Arsenia tidak langsung bicara.
Seolah ia sedang memilih kata—
sesuatu yang sangat jarang ia lakukan.
—
“Kamu…”
Ia berhenti lagi.
Lalu melanjutkan dengan nada yang lebih rendah.
“...aneh.”
—
Raka tersenyum.
Bukan tersinggung.
Bukan juga bangga.
“Sering dibilang gitu.”
—
Arsenia menatapnya beberapa detik lagi.
Lalu—
tanpa berkata apa-apa—
ia masuk ke mobilnya.
—
Mesin menyala.
Mobil bergerak.
Dan perlahan—
menjauh.
—
Raka berdiri di depan warung.
Melihat mobil itu pergi.
Sampai hilang di tikungan.
—
Ia menghela napas pelan.
Lalu bergumam,
“Orangnya… ribet juga.”
—
Tapi ia tersenyum.
Tipis.
Hampir tidak terlihat.
—
Sementara itu, di dalam mobil—
Arsenia memegang kemudi lebih erat dari biasanya.
Matanya lurus ke depan.
Tapi pikirannya…
kacau.
—
Kata-kata Raka terus terulang.
Cara dia bicara.
Cara dia tidak peduli.
Cara dia…
tidak terpengaruh.
—
Dan yang paling mengganggu—
adalah fakta bahwa…
Arsenia ingin kembali.
—
Ia mengerem sedikit lebih keras saat lampu merah.
Menghela napas.
Kesal.
Pada dirinya sendiri.
—
“Ini tidak masuk akal…”
bisiknya.
—
Tapi jauh di dalam—
ada sesuatu yang mulai berubah.
Perlahan.
Tanpa izin.
—
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Arsenia Valen
tidak sepenuhnya memegang kendali.