"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."
Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.
Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.
Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.
Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Tak terasa satu bulan sudah Violet menyandang status sebagai nyonya Adriel voss, kini ia mulai enjoy menjalani hidup nya meski di luar sana masih banyak cibiran tentangnya, hinaan, bahkan makian Violet memilih untuk tidak peduli. Ibarat masuk kuping kanan, keluar kuping kiri.
Tidak ia biarkan kata- kata toxic orang-orang itu mempengaruhi dirinya, sebisa mungkin ia mengabaikan itu semua, karena baginya untuk apa mendengar bacotan orang-orang yang tak punya kontribusi apa- apa dalam hidup nya, lebih baik fokus dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.
Meski hubungan nya dengan Adriel tidak berubah banyak, setidaknya di rumah ini ia memiliki beberapa orang yang nyaman dengan kehadiran nya.
Selain bibi Matilda yang kini mulai jadi bestie nya, ada juga pak Rudy supir keluarga, kang djarot satpam dan bu Nelis penjaga kebun belakang kediaman voss yang sudah seperti keluarga nya. Kadang jika ada kesempatan, mereka akan berkumpul di teras belakang, sekedar melepas penat.
Awalnya semua segan kepada Violet, sama seperti mereka menghormati Adriel sebagai bos mereka, sampai perlahan Violet yang mulai mengakrabkan diri, mencari pendekatan, karena ia ingin lebih dekat dengan orang-orang di kediaman ini dan baginya juga ia tak berbeda jauh dengan mereka hanya statusnya saja sebagai istri Adriel yang membedakan dan itupun hanya sekedar formalitas belaka di depan umum.
Kini mengetahui nyonya mereka begitu humble dan baik, orang-orang di kediaman voss juga perlahan mulai enjoy dengan Violet, kadang di akhir pekan Violet akan memasak cookies, kue tradisional ataupun gorengan untuk teman ngopi mereka di siang hari dan ngobrol- ngobrol ringan seputar pekerjaan mereka disini, keluarga di kampung dan berbagai macam lainnya hingga semuanya perlahan menjadi terbiasa dan bagian tak terpisahkan dari rutinitas mereka setiap hari nya.
Adriel, meskipun jarang ada di kediaman sebenarnya juga memperhatikan dari jauh, dan ia mengetahui nya tapi meski begitu ia tak mencoba untuk melarang bahkan menyuruh bi Matilda untuk memerintahkan mereka semakin dekat dan tak usah canggung dengan Violet, baginya tidak apa- apa selama itu tidak menjadi ancaman dalam otoritas nya, dan Violet juga memang harus membutuhkan itu agar tak merasa stress di rumah ini, setidaknya sampai ia memutuskan kemana arah pernikahan mereka nanti akhirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi itu, Violet bahkan masih mengucek mata, namun ponselnya yang tak berhenti berdering memaksanya untuk terjaga.
Puluhan pesan datang dari nomor Teresa, meminta nya untuk mentransfer uang lagi, karena yang yang sebelumnya violet kirim dari hasil ia menjual beberapa barang berharga nya, di anggap tak cukup untuk Teresa.
Violet menghela napas, ia kemudian berusaha menjelaskan pada adiknya itu dengan baik- baik bahwa ia tak punya cadangan uang lagi. Namun yang di dapatnya justru bantahan dari Teresa, jika dirinya berbohong, Teresa beranggapan bahwa dirinya yang sekarang menjadi istri seorang jenderal muda pasti memiliki limpahan uang suaminya.
(Teresa
Kau kan istrinya Adriel voss, kenapa tidak berusaha meminta kepadanya? katakan saja kau juga ingin mempunyai hidup seperti istri jendral lainnya yang penuh glamor dan bom! dia akan memberikan uang yang bahkan lebih dari cukup untuk hidup ku selama tiga bulan disini! masalah selesai kan? )
(Violet
Tapi Teresa, tidak sesederhana itu. Aku disini bukan hidup sebagai seorang istri, tapi pengganti. Pengganti mu, harusnya kau yang ada diposisi ku, tapi kau tidak mau dan aku yang menggantikan nya. Apa kau pikir seorang pengganti berhak mendapatkan uang dari laki-laki yang sudah dia tipu? tidak Teresa.)
(Alah, kamu malah mengungkit pengorbanan mu yang tidak seberapa itu padaku. Ini sudah satu bulan berlalu dan kau masih betah saja tuh disitu. Katakanlah kau beruntung karena aku yang membiarkan mu ada diposisi itu, sebagai seorang istri Jenderal. Memang soal masalah ini, kau nya saja yang pelit! )
Dahi Violet mengernyit, membaca balasan terakhir adiknya itu, yang menurutnya sudah sangat keterlaluan. Dia merasa ini bukanlah Teresa yang dia kenal, adiknya itu sudah mulai kurang ajar dan pembangkang, entah pergaulan seperti apa yang mempengaruhi nya di sana.
Lantas Violet memutuskan untuk menelpon nya. Awalnya tidak di angkat, dua tiga kali masih ditolak hingga yang keempat, Teresa mengangkat nya dan terdengar nafasnya yang terputus- putus di telepon.
"Aahh, k- kenapa kau menelpon sih, kak. A- aku sedang sibuk tau. "
Violet mengernyit, ini bukan suara Teresa yang seperti biasanya.
"Katakan dimana lokasi mu sekarang, kakak akan menjemput mu. Kau sudah mulai keterlaluan, sepertinya kau masuk ke dalam pergaulan yang liar di sana. "
"A-apa sih kak, orang aku baik- baik saja disini. "
"Teresa." Suara Violet mulai penuh penekan. "Katakan di mana lokasi mu, atau kakak akan mulai membongkar semua ini di hadapan ayah dan ibu. " ia tidak main- main dengan ancamannya, berharap Teresa mengerti.
Tapi hening.
Sedetik, dua detik. Lalu suara aneh mulai muncul di telepon.
Plap!
Plap!
Plap!
Mata Violet seketika membelalak, napasnya memburu. Suara itu mulai semakin cepat dan keras disusul dengan suara erang*an dari Teresa yang ditahan.
Violet bukan anak kecil lagi untuk tidak situasi apa yang sedang terjadi di sana.
"Teresa Hartawan! " suaranya menggelegar, di penuhi amarah dan rasa sedih yang luar biasa.
Sedih, karena ia merasa gagal menjadi seorang kakak.
"Apa yang kau lakukan hah? pria mana yang meniduri mu itu?! " Emosi Violet semakin tidak bisa dikontrol, suara- suara menjijikkan itu seolah berdengung di kepala nya dan tak ada jawaban dari Teresa, hanya desahannya saja yang semakin tidak terkendali lagi.
"Teresa Hartawan, cepat jawab kakakmu! " Violet hampir ingin terisak, gemuruh di dadanya semakin naik, geram ingin rasanya ia menghampiri adiknya sekarang.
Namun yang ia tunggu bukan suara adiknya yang menjawab melainkan seorang pria.
Yang suaranya Violet hafal.
Diego!
Amarah Violet semakin memuncak.
"Ternyata kau! "
Suara tengil di sana menyapa. "Halo kakak ipar, maaf adikmu sedang sibuk sekarang. Dia sedang terlena dengan otong ku yang besar. "
Suara tawa menggema, disusul dengan suara cegukan khas orang mabuk.
Violet mengepalkan tangannya. Menjijikkan, laki-laki itu bahkan tak malu menjadikan hal seperti itu menjadi sebuah candaan.
"Lepaskan adikku sekarang, Diego! Jangan kau racuni otaknya! "
"Hei! siapa yang meracuni otaknya? adikmu sendiri yang tergila- gila dengan ku, aku hanya diam dan dia yang menawarkan diri, Hahaha! "
"Diego, jangan sampai kau membuat ku kehilangan kesabaran ku! " Violet semakin geram.
Sementara pria di sebrang sana semakin tertawa seperti orang gila.
"Oh benarkah? dengar ini suara adikmu ketika dia sedang kenik*matan."
Lantas sepertinya telepon berpindah,lalu suara yang violet dengar benar-benar membuatnya ingin muntah saat itu juga.
"Ooh, yes faster Diego, faster!"
"Katakan kau suka otong ku yang besar. "
"Ya sayang, aku suka, aku suka otong mu yang besar! "
Violet sampai bergidik ngeri, seluruh bulu kulitnya meremang seketika.
"Bagaimana kakak ipar? " suara Diego kembali terdengar. "Adikmu sendiri yang menyukai ini, dan selanjutnya adalah kau yang akan merasakan nya, kalau kau mau, hahaha! Kau akan menjadi target ku selanjutnya, Violet, hahaha! "
Mata Violet mendelik, ia mendengus. "Kau! dasar kurang ajar--"
Tep! tiba-tiba ponsel di tangannya ditarik oleh seseorang.
Violet terkejut, hingga menyadari wajah dingin yang menatapnya tajam di samping.
"Sudah, jangan diladeni lagi. "
Violet tersentak. Matanya dan mata Adriel bertemu.
"Tuan? "
*****
BERSAMBUNG