NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:90.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Cinta yang Ditinggalkan Diam-Diam

“Ayza…”

Suaranya nyaris tidak terdengar. Bukan untuk membangunkan. Hanya… karena ia tidak sanggup menahan.

Tatapannya turun, bertahan lebih dari yang seharusnya. Lalu ia duduk di kursi kecil di dekat meja. Mengambil kertas. Pulpen.

Beberapa detik berlalu tanpa satu kata pun tertulis.

Ujung pulpen hanya diam di atas kertas, seolah pikirannya terlalu penuh untuk disusun.

Tenggorokannya terasa kering. Ia menahan batuk yang hampir keluar.

Akhirnya… ia mulai menulis. Tanpa tergesa.

Aku tidak pernah menyesal menunggumu.

Pulpen itu berhenti sebentar. Napasnya tertahan. Lalu lanjut.

Aku tidak pernah menyesal memilihmu.

Tangannya sedikit gemetar. Tapi ia terus menulis.

Kalau waktu bisa diputar kembali… aku tetap akan melakukan hal yang sama.

Matanya sempat terangkat. Menatap Ayza lagi. Tidak segera berpaling.

Sepuluh tahun bersamamu… adalah bagian paling bahagia dalam hidupku.

Dadanya naik perlahan, seolah setiap tarikan terasa lebih dalam dari biasanya. Namun ia tidak berhenti.

Bahkan kalau pada akhirnya aku harus kehilangan… aku tetap tidak ingin menghapus satu pun dari itu.

Pulpen berhenti lagi. Jemarinya mengencang.

Aku hanya… berharap aku punya waktu lebih banyak.

Kalimat itu tertulis lebih pelan. Lebih berat.

Waktu untuk menua bersamamu.

Matanya mulai memanas. Namun ia tidak berhenti.

Waktu untuk melihatmu tetap tersenyum… tanpa harus memikirkan kehilangan.

Ia menelan sesuatu di tenggorokan.

Kalau dari awal aku tahu… aku tidak bisa sampai sejauh itu denganmu…

Tangannya berhenti. Ia membiarkan detik-detik itu berlalu tanpa bergerak. Baru kemudian… ia lanjutkan.

…mungkin aku akan memilih mencintaimu dari jauh.

Napasnya bergetar tipis.

Seperti dulu.

Melihatmu… tanpa berani mendekat.

Menjagamu… tanpa harus memiliki.

Matanya terpejam sesaat. Satu detik. Dua detik. Lalu terbuka lagi.

Karena ternyata… kehilanganmu setelah memilikimu… jauh lebih sulit.

Sunyi. Hanya suara napasnya sendiri.

Maaf… kalau pada akhirnya aku memilih jalan yang membuatmu membenciku.

Pulpen itu berhenti. Lalu menekan lagi.

Itu satu-satunya cara… supaya kamu bisa tetap berjalan.

Ia menatap tulisan itu terlalu lama untuk sekadar melihat. Seolah memastikan… ini benar yang ingin ia tinggalkan.

Terakhir—

Aku mencintaimu.

Sederhana. Namun justru itu… yang paling berat.

Maaf… untuk semua yang tidak bisa aku jelaskan.

Pulpen terlepas pelan dari jemarinya.

Ia tidak langsung bangkit. Masih duduk di sana.

Ia membiarkan pandangannya tertahan di sana, memastikan setiap kata benar-benar seperti yang ingin ia tinggalkan.

Lalu pandangannya beralih pada Ayza, lebih dalam, seolah ingin mengingat tanpa kehilangan satu pun detail.

Namun kali ini… tidak cukup.

Tangannya bergerak pelan. Membuka laci di samping meja. Sebuah kotak kecil ada di dalamnya.

Kotak yang sama… yang setiap tahun ia isi. Hadiah ulang tahun pernikahan mereka.

Sepuluh tahun.

Dan ini… yang terakhir.

Ia mengeluarkannya. Menatapnya sebentar. Jemarinya menahan di sana lebih lama dari yang seharusnya.

Lalu dengan ritme tenang… ia membuka.

Kosong.

Seperti menunggu sesuatu.

Kaisyaf terdiam sejenak. Tangannya masuk ke saku jas. Mengambil sesuatu. Kecil. Ia membuka telapak tangannya.

Sebuah jam tangan wanita. Sederhana. Tidak mencolok. Namun elegan… seperti sesuatu yang dipilih dengan sangat hati-hati.

Untuk beberapa detik… ia hanya menatapnya. Jarum jam itu masih bergerak. Teratur. Seolah tidak peduli… pada apa pun yang akan terjadi.

Tatapan Kaisyaf masih melekat di sana beberapa saat. Lalu tanpa kata… ia meletakkan jam itu ke dalam kotak.

Hati-hati.

Seolah sedang menaruh sesuatu yang lebih dari sekadar benda.

Tangannya sempat tertahan di atasnya.

“…lanjutkan waktumu.”

Bisiknya nyaris tak terdengar.

Ia mengambil surat yang baru saja ia tulis. Melipatnya rapi. Lalu memasukkannya ke dalam kotak yang sama.

Menutupnya.

Klik kecil terdengar. Namun di dalam sunyi itu… terasa lebih berat dari suara apa pun.

Kotak itu diletakkan kembali ke dalam laci. Di tempat yang sama. Seolah tidak ada yang berubah.

Padahal… semuanya sudah berbeda.

Lalu akhirnya… ia berdiri. Melangkah mendekat sekali lagi. Tangannya kembali terangkat.

Kali ini… hanya berhenti beberapa senti dari wajah Ayza. Masih tidak menyentuh.

“Aku… pamit.”

Hampir tak bersuara. Lalu ia berbalik. Tanpa menoleh lagi.

Dan seseorang di atas ranjang itu… masih terlelap. Tidak tahu, bahwa seseorang yang selalu pulang… kali ini benar-benar pergi.

Kaisyaf akhirnya berdiri di depan kamar kecil itu. Pintu tidak tertutup rapat. Cahaya redup dari lampu tidur menyelinap keluar. Ia mendorongnya perlahan.

Alvian tertidur pulas.

Tubuh kecil itu meringkuk di bawah selimut. Wajahnya tenang… polos… seolah dunia tidak pernah menjadi tempat yang sulit.

Langkah Kaisyaf melambat. Ia mendekat. Duduk di tepi ranjang. Beberapa detik… hanya menatap.

Matanya turun ke wajah itu. Ada sesuatu yang mengencang di dadanya.

“Al…”

Suaranya nyaris tidak terdengar. Hampir seperti napas.

Bocah itu tidak bangun.

Kaisyaf tersenyum tipis. Pahit.

Jemarinya akhirnya menyentuh rambut Alvian, mengusapnya pelan dengan hati-hati. Seolah takut membangunkannya.

“Jadi anak yang kuat, ya…”

Ia berhenti. Menelan sesuatu yang berat.

“Jaga Umi.”

Kalimat itu keluar lebih lirih. Lebih dalam. Tangannya masih di kepala anaknya. Tidak bergerak.

“Ada atau gak ada Abi…” suaranya sempat tertahan, “…kamu harus tetap jadi laki-laki yang jaga Umi.”

Matanya memejam sesaat. Hanya sesaat. Lalu terbuka lagi. Ia menatap wajah itu sekali lagi. Lebih lama. Seolah menghafal.

Tanpa sadar, ia sedikit membungkuk… mengecup pelan kening Alvian tanpa segera menjauh. Terlalu dalam untuk sekadar ciuman selamat malam.

Lalu ia bangkit. Tidak berani tinggal lebih lama. Tidak berani menunggu lebih jauh. Ia keluar dari kamar itu… tanpa menoleh lagi.

Beberapa saat kemudian, mesin mobil menyala. Lampu depan menembus gelap halaman.

Mobil itu mulai bergerak. Meninggalkan rumah yang selama ini… selalu ia pulangi.

Angin malam bertiup lebih kencang. Langit gelap. Berat. Seolah menahan sesuatu yang sebentar lagi jatuh.

Saat gerbang perlahan terbuka.

DUAARR!

Petir menyambar. Cahaya putih membelah langit.

Di dalam kamar, Ayza terbangun. Bukan hanya karena suara petir. Tapi karena—

BRAAK!

Pintu balkon terbuka keras. Terhantam angin. Membentur dinding.

Tirai beterbangan liar. Angin masuk tanpa izin. Kencang. Dingin.

Ayza langsung bangkit dari ranjang. Dadanya masih terasa berdenyut cepat. Rambutnya sedikit berantakan.

“Abi…?”

Refleks. Namun tidak ada jawaban.

Ia melangkah cepat ke arah balkon. Menahan pintu yang terus berayun. Namun saat ia hendak menutup pintu, matanya langsung tertarik ke luar. Ke arah gerbang.

Sebuah mobil… baru saja keluar. Lampunya menjauh. Semakin kecil. Dan entah kenapa, dada Ayza terasa seperti ditarik.

“Abi…?”

Gumamnya tanpa suara jelas. Lebih ragu.

Ayza menatap arah mobil itu pergi. Dengan perasaan yang… belum bisa ia mengerti.

Lampunya semakin jauh. Semakin kecil. Lalu… hilang.

Namun entah kenapa… dadanya justru terasa semakin penuh. Penuh dengan perasaan yang belum bisa ia mengerti.

Namun cukup untuk membuatnya tahu. Malam ini… sesuatu benar-benar pergi.

Di kamar sebelah—

Alvian berdiri di dekat jendela. Entah sejak kapan ia terbangun. Matanya tertuju ke arah gerbang. Ke jalan yang baru saja dilalui mobil itu.

“Abi…”

Gumamnya hampir hilang oleh suara angin. Tangannya terangkat. Menyentuh kaca jendela yang dingin. Seolah… jarak itu bisa ia jangkau.

Wajah kecil itu menempel sebentar di sana.

Ia tidak menangis. Namun ketenangan di wajahnya sudah hilang, digantikan sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.

“Abi pergi…”

Bisiknya lirih. Hampir tak terdengar. Bukan bertanya. Seperti… sudah tahu.

Dan entah kenapa, rumah itu terasa… terlalu sepi.

...🔸🔸🔸...

..."Tidak semua perpisahan butuh kata. Ada yang cukup dengan tidak kembali."...

..."Ada cinta yang tidak meminta untuk dimiliki, hanya ingin ditinggalkan dengan baik."...

..."Nana 17 Oktober""...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Fahri kangen sama Alvian. Dengan duduk di atas motor yang berhenti, dia berada di seberang jalan di depan sekolah Alvian.

Mesin tidak dimatikan.

Fahri matanya terus menatap gerbang sekolah.

Fahri hanya bisa melihat Alfian dari jarah jauh. Alfian yang terlihat tidak ceria.

Alfian tidak capai Umi. Tapi kangen sama Om Fahri. Andai Alvian boleh jujur.

Benar-benar jarak yang dipilih Ayza - membuat dua pria saling merindu.

Husain dan Fatima berkunjung ke rumah Ayza.

Tak ada sambutan dari Alvian.
Anonim
Pada menjalankan perjodohan yang dipilihkan orang tua masing-masing.

Bertemu calon yang dijodohkan.

Di awal pertemuan - reza maupun Fahri cuma sekedar menjalankan. Bertemu, tak ada niat untuk melangkah serius.

Kasihan sekali Naila. Reza sudah merasa cukup mengenal Naila dari data yang dikirim ke orang tua Reza.

Reza tidak menolak perjodohan - tapi sikap dan kalimat yang terucap sudah jelas tak bisa diharapkan.

Naila - mundur saja.
abimasta
pertahankan sikapmu ayza,lama2 juga al terbiasa
Puji Hastuti
kasian Al
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
GK ada masalah klo Fahri tetap dekat dg Alvian..tapi bukan berarti kawin semangat ayza dong..kan Fahri diamanatin suruh ngurusin perusahaan sampe Alvian cukup umur 🤭
menjaga bukan berarti MEMPERISTRI 👻🤣
abimasta: setuju,lebih baik fahri menikah dengan wanita lain
total 1 replies
Sugiharti Rusli
padahal Kaisyaf melakukan itu karena dia tahu kalo Alvian butuh seseorang yang bisa membuatnya nyaman,,,
Sugiharti Rusli
dan orang yang sangat dipercayai olehnya adalah Fahri, tapi Ayza kekeh menolaknya
Sugiharti Rusli
mendiang Kaisyaf bukan hanya sekedar menitipkan, tapi dia juga mengiklaskan sang istri dan putranya mendapatkan perlindungan utuh,,,
Sugiharti Rusli
padahal kedua mertuanya sudah memahami apa yang dulu disampaikan mendiang putranya tuh sangat mendalam yah,,,
Sugiharti Rusli
karena Ayza hanya berpikir tentang perasaannya sendiri yang tidak mau memberi kesempatan orang lain masuk
Sugiharti Rusli
sepertinya apa yang diutarakan oleh ibu mertua Ayza tentang ada hal kecil yang dipaksa menjauh dan menimbulkan luka itu sangat benar,,,
Wardi's
fahri tetaplah jd om nya elfayen tanpa metubah posisi.., silahkan pilih jodoh yang lain.,
Oma Gavin
ternyata ayza egois demi ego nya alvian yg jadi korbannya jgn sampai kamu nyesel ayza teruskan ego mu tinggal tunggu waktu alvian akan jadi anak introvert
Marsiyah Minardi
Ayolah Ayza ,kesampingkan dulu egomu dan sederet alasan lainnya
Kasihanilah Alvian yang kehilangan figur ayah
Dek Sri
ayolah ayza biarkan Fahri jemput Alvian, daripada Alvian kenapa-napa
Anitha Ramto
😭😭😭😭😭nyeseeeekkkk
aku setuju Ayza nikah dengan Fahri demi Al..yang sudah kehilangan seorang Ayah...
Anitha Ramto
benar² nyesek kak
jangan seperti itu dong
Plis Om Fahri biar jemput Al lagi....
ga tega liat Al merasa kehilangan sosok Laki² yang udah ia anggap seperti Ayahnya😭😭😭
Eka Burjo
lama lama si Alvian sakit, karena mikirin om Fahrinya, Ayza Ayza sampai kapan???🙄
ngatun Lestari
kasian Al.... nyesek dadaku membayangkan jadi Al... sabar ya Al... smoga om Fahri JD ayah kamu...
Hanima
Om Fahriiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!