“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Cinta yang Ditinggalkan Diam-Diam
“Ayza…”
Suaranya nyaris tidak terdengar. Bukan untuk membangunkan. Hanya… karena ia tidak sanggup menahan.
Tatapannya turun. Lama. Lalu ia duduk di kursi kecil di dekat meja. Mengambil kertas. Pulpen.
Beberapa detik… tidak ada yang ia tulis. Tangannya diam di atas kertas.
Seolah semua yang ada di kepalanya… terlalu penuh untuk dituangkan.
Napasnya sempat tertahan. Batuk kecil nyaris keluar… namun ia tahan.
Akhirnya… ia mulai menulis. Pelan.
Aku tidak pernah menyesal menunggumu.
Pulpen itu berhenti sebentar. Napasnya tertahan. Lalu lanjut.
Aku tidak pernah menyesal memilihmu.
Tangannya sedikit gemetar. Tapi ia terus menulis.
Kalau waktu bisa diputar kembali… aku tetap akan melakukan hal yang sama.
Matanya sempat terangkat. Menatap Ayza lagi. Lebih lama. Lebih dalam.
Sepuluh tahun bersamamu… adalah bagian paling bahagia dalam hidupku.
Napasnya berat. Namun kali ini ia tidak berhenti.
Bahkan kalau pada akhirnya aku harus kehilangan… aku tetap tidak ingin menghapus satu pun dari itu.
Pulpen berhenti lagi. Jemarinya mengencang.
Aku hanya… berharap aku punya waktu lebih banyak.
Kalimat itu tertulis lebih pelan. Lebih berat.
Waktu untuk menua bersamamu.
Matanya mulai memanas. Namun ia tidak berhenti.
Waktu untuk melihatmu tetap tersenyum… tanpa harus memikirkan kehilangan.
Ia menelan sesuatu di tenggorokan.
Kalau dari awal aku tahu… aku tidak bisa sampai sejauh itu denganmu…
Tangannya berhenti. Lama. Sangat lama. Baru kemudian… ia lanjutkan.
…mungkin aku akan memilih mencintaimu dari jauh.
Napasnya bergetar tipis.
Seperti dulu.
Melihatmu… tanpa berani mendekat.
Menjagamu… tanpa harus memiliki.
Matanya terpejam sesaat. Satu detik. Dua detik. Lalu terbuka lagi.
Karena ternyata… kehilanganmu setelah memilikimu… jauh lebih sulit.
Sunyi. Hanya suara napasnya sendiri.
Maaf… kalau pada akhirnya aku memilih jalan yang membuatmu membenciku.
Pulpen itu berhenti. Lalu menekan lagi.
Itu satu-satunya cara… supaya kamu bisa tetap berjalan.
Ia menatap tulisan itu lama. Seolah memastikan… ini benar yang ingin ia tinggalkan.
Terakhir—
Aku mencintaimu.
Sederhana. Namun justru itu… yang paling berat.
Maaf… untuk semua yang tidak bisa aku jelaskan.
Pulpen terlepas pelan dari jemarinya.
Ia tidak langsung bangkit. Masih duduk di sana. Menatap Ayza. Lama. Sangat lama. Seolah ingin membawa semua itu… masuk ke dalam ingatannya.
Namun kali ini… tidak cukup.
Tangannya bergerak pelan. Membuka laci di samping meja. Sebuah kotak kecil ada di dalamnya.
Kotak yang sama… yang setiap tahun ia isi. Hadiah ulang tahun pernikahan mereka.
Sepuluh tahun.
Dan ini… yang terakhir.
Ia mengeluarkannya. Menatapnya sebentar. Jemarinya menahan di sana lebih lama dari yang seharusnya.
Lalu perlahan… ia membuka.
Kosong.
Seperti menunggu sesuatu.
Kaisyaf terdiam sejenak. Tangannya masuk ke saku jas. Mengambil sesuatu. Kecil. Ia membuka telapak tangannya.
Sebuah jam tangan wanita. Sederhana. Tidak mencolok. Namun elegan… seperti sesuatu yang dipilih dengan sangat hati-hati.
Untuk beberapa detik… ia hanya menatapnya. Jarum jam itu masih bergerak. Pelan. Teratur. Seolah tidak peduli… pada apa pun yang akan terjadi.
Tatapan Kaisyaf melekat di sana sedikit lebih lama. Lalu tanpa kata… ia meletakkan jam itu ke dalam kotak.
Pelan.
Seolah sedang menaruh sesuatu yang lebih dari sekadar benda.
Tangannya sempat tertahan di atasnya.
“…lanjutkan waktumu.”
Bisiknya nyaris tak terdengar.
Ia mengambil surat yang baru saja ia tulis. Melipatnya rapi. Lalu memasukkannya ke dalam kotak yang sama.
Menutupnya.
Klik kecil terdengar pelan. Namun di dalam sunyi itu… terasa lebih berat dari suara apa pun.
Kotak itu diletakkan kembali ke dalam laci. Di tempat yang sama. Seolah tidak ada yang berubah.
Padahal… semuanya sudah berbeda.
Lalu akhirnya… ia berdiri. Melangkah mendekat sekali lagi. Tangannya kembali terangkat.
Kali ini… hanya berhenti beberapa senti dari wajah Ayza. Masih tidak menyentuh.
“Aku… pamit.”
Hampir tak bersuara. Lalu ia berbalik. Tanpa menoleh lagi.
Dan seseorang di atas ranjang itu… masih terlelap. Tidak tahu, bahwa seseorang yang selalu pulang… kali ini benar-benar pergi.
Kaisyaf akhirnya berdiri di depan kamar kecil itu. Pintu tidak tertutup rapat. Cahaya redup dari lampu tidur menyelinap keluar. Ia mendorongnya perlahan.
Alvian tertidur pulas.
Tubuh kecil itu meringkuk di bawah selimut. Wajahnya tenang… polos… seolah dunia tidak pernah menjadi tempat yang sulit.
Langkah Kaisyaf melambat. Ia mendekat. Duduk di tepi ranjang. Lama… hanya menatap.
Matanya turun ke wajah itu. Ada sesuatu yang mengencang di dadanya.
“Al…”
Suaranya sangat pelan. Hampir seperti napas.
Bocah itu tidak bangun.
Kaisyaf tersenyum tipis. Pahit.
Tangannya terangkat… lalu perlahan mengusap rambut Alvian. Lembut. Hati-hati. Seolah takut membangunkannya.
“Jadi anak yang kuat, ya…”
Ia berhenti. Menelan sesuatu yang berat.
“Jaga Umi.”
Kalimat itu keluar lebih lirih. Lebih dalam. Tangannya masih di kepala anaknya. Tidak bergerak.
“Ada atau gak ada Abi…” suaranya sempat tertahan, “…kamu harus tetap jadi laki-laki yang jaga Umi.”
Matanya memejam sesaat. Hanya sesaat. Lalu terbuka lagi. Ia menatap wajah itu sekali lagi. Lebih lama. Seolah menghafal.
Tanpa sadar, ia sedikit membungkuk… mengecup pelan kening Alvian. Lama. Terlalu lama untuk sekadar ciuman selamat malam.
Lalu ia bangkit. Tidak berani tinggal lebih lama. Tidak berani menunggu lebih jauh. Ia keluar dari kamar itu… tanpa menoleh lagi.
Beberapa saat kemudian, mesin mobil menyala. Lampu depan menembus gelap halaman.
Mobil itu mulai bergerak. Meninggalkan rumah yang selama ini… selalu ia pulangi.
Angin malam bertiup lebih kencang. Langit gelap. Berat. Seolah menahan sesuatu yang sebentar lagi jatuh.
Saat gerbang perlahan terbuka.
DUAARR!
Petir menyambar. Cahaya putih membelah langit.
Di dalam kamar, Ayza terbangun. Bukan hanya karena suara petir. Tapi karena—
BRAAK!
Pintu balkon terbuka keras. Terhantam angin. Membentur dinding.
Tirai beterbangan liar. Angin masuk tanpa izin. Kencang. Dingin.
Ayza langsung bangkit dari ranjang. Napasnya belum stabil. Rambutnya sedikit berantakan.
“Abi…?”
Refleks. Namun tidak ada jawaban.
Ia melangkah cepat ke arah balkon. Menahan pintu yang terus berayun. Namun saat ia hendak menutup pintu, matanya langsung tertarik ke luar. Ke arah gerbang.
Sebuah mobil… baru saja keluar. Lampunya menjauh. Semakin kecil. Dan entah kenapa, dada Ayza terasa seperti ditarik.
“Abi…?”
Gumamnya lebih pelan. Lebih ragu.
Ayza menatap arah mobil itu pergi. Dengan perasaan yang… belum bisa ia mengerti.
Lampunya semakin jauh. Semakin kecil. Lalu… hilang.
Namun entah kenapa… dadanya justru terasa semakin penuh. Penuh dengan perasaan yang belum bisa ia mengerti.
Namun cukup untuk membuatnya tahu. Malam ini… sesuatu benar-benar pergi.
Di kamar sebelah—
Alvian berdiri di dekat jendela. Entah sejak kapan ia terbangun. Matanya tertuju ke arah gerbang. Ke jalan yang baru saja dilalui mobil itu.
“Abi…”
Gumamnya pelan. Tangannya terangkat. Menyentuh kaca jendela yang dingin. Seolah… jarak itu bisa ia jangkau.
Wajah kecil itu menempel sebentar di sana.
Diam. Tidak menangis. Namun matanya tidak lagi setenang saat ia tidur tadi.
“Abi pergi…”
Bisiknya lirih. Hampir tak terdengar. Bukan bertanya. Seperti… sudah tahu.
Dan entah kenapa, rumah itu terasa… terlalu sepi.
...🔸🔸🔸...
..."Tidak semua perpisahan butuh kata. Ada yang cukup dengan tidak kembali."...
..."Ada cinta yang tidak meminta untuk dimiliki, hanya ingin ditinggalkan dengan baik."...
..."Nana 17 Oktober""...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Ridho berharap kamu jujur sama Ayza tentang penyakit Kaisyaf,kasihan Ayza dan Al....
Nara jadi mengerti pilihan Kaisyaf.
Reza ini mencari kesempatan lagi. Sekarang yang didekati Alvian. Benar-benar muka tembok ini orang 😄. Urat malunya sudah putus.
Pinternya Alvian - menolak ajakan Reza.
Dikasih mainan saja bilang "Gak usah" - Alvian ingat larangan dari Umi-nya, gak boleh terima apa-apa dari orang.
Jelas orang lain. Sudah menjadi orang lain.
Alvian perasaannya peka - Om di depannya orang yang kurang baik - Alvian sampai mundur walaupun cuma setengah langkah. Itu tanda penolakan.
Nara menangis. Sebagai sahabat yang pernah ditolong Kaisyaf - ia tidak ingin Kaisyaf menyerah, ngga bakal diam melihat Kaisyaf nyerah.
Nara penyemangat Kaisyaf. Nara tidak ingin Kaisyaf menyerah.
Bagi Kaisyaf ini bukan menyerah, tapi menyelesaikan.