Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.
Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.
Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.
Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Hasil Penyelidikan
Saat ini Kara sedang mambaca data tentang kecelakaan orang tuanya. Sebelum kejadian, dia sempat adu mulut dengan mereka.
Karena saat berkunjung ke rumah Tama, kedua orang tuanya melihat mereka masih pisah ranjang, sehingga sang Ibu menasehatinya, agar Kara bisa menerima pernikahan itu.
Tapi Kara yang sedang mabuk cinta dengan Arka, dia mengabaikan semua ucapan orang tuanya. Dia malah balik membentak, karena seharusnya, mereka tidak menjodohkannya dengan Tama.
Niatnya datang untuk berkumpul, mereka malah disuguhkan dengan kondisi seperti itu. Karena sudah tidak mood, Kedua orang tua kara pulang dengan perasaan kecewa.
Tama berusaha menahan mereka, setidaknya mereka makan siang dulu baru balik. Tapi kedua orang tua Kara tetap ingin pulang saat itu juga, jika Kara yang menahannya, mungkin beda cerita. Tapi sayang sekali, Kara sama sekali tidak peduli.
Jarak rumah mereka sekitar satu jam, dan rumah orang tua Kara berada di perbukitan, karena hujan deras, mereka mampir makan di restoran.
Dan melanjutkan perjalanan saat hujan mulai redah. Tapi sebelum masuk jalan perbukitan, tiba-tiba mobil hilang kendali dan Ayah Kara banting stir ke arah pembatas jalan.
Keduanya masih sempat dilarikan ke Rumah Sakit, tapi sayang sekali keduanya meninggal ditengah jalan.
Kara tanpa sadar sudah terisak, jika ada yang mengatakan jika dirinyalah penyebab mereka kecelakaan, dia pasti tidak akan membantah.
"Nyonya! Masih ada beberapa data lagi, dan beberapa rekaman CCTV..Anda bisa melihatnya pulang nanti!" Kata sang Detektif.
Dia tidak ingin Kara pulang dengan kondisi seperti itu, jangan sampai dia melamun saat berkendara. Apalagi, di luar hujannya baru saja redah.
"Tuan Mirwan! Terima kasih, kalau begitu saya pamit dulu!" balas Kara setelah mentransfer sisa biayanya.
"Baik. Senang membantu Anda. Nyonya hati-hati di jalan!" Tuan Mirwan juga suka bekerja jika kliennya tidak banyak tingkah.
Terkadang dia bertemu dengan orang banyak yang maunya, tapi Dananya hanya seberapa. Mereka pikir, menyelidiki perkara yang sudah bertahun-tahun tidak membutuhkan uang banyak!
...----------------...
Tama sedang duduk di teras, sejak Kara keluar dari rumah dia langsung mengetahuinya, karena dia sudah menyambungkan semua CCTV langsung ke Ponselnya.
Setiap kali Kara keluar rumah, Tama pasti membayar orang untuk mengikutinya. Dan orang itu akan langsung meneleponnya untuk memberi tahu kemana dan apa yang dilakukan Kara.
Saat mengetahui Kara bertemu dengan kedua orang itu Tama merasa kecewa dan sedih di dalam lubuk hatinya. Padahal dia sudah menyiapkan diri, jika perubahan Kara pasti ada sesuatu yang mereka rencanakan.
Tapi dia malah terbawa suasana, dia suka dan nyaman jika Kara ingin dekat dengannya, memberinya perhatian.
Tama sudah duduk dengan gelisah, apalagi dia mendapat informasi jika Kara bertemu dengan orang lain selain mereka berdua, dan orang bayaran tidak bisa mengambil foto wajahnya.
Tama beranjak, saat mendengar suara deru mobil masuk halaman. Hatinya sedikit lega melihat Kara sudah pulang.
"Raf, kenapa kamu di luar? Tubuhmu tidak kuat dengan angin hujan." sentak Kara setelah turun dari mobil.
Perasaan Tama langsung menghangat, ternyata Kara masih ingat juga dengan hal itu. "Aku menunggumu pulang!"
Kara menarik tangan Tama dengan pelan untuk masuk ke dalam. Dia segera meminta Koki untuk membuat minuman hangat.
"Nyonya! Saya sudah meminta mereka membuatnya!" kata Pak Rudi. Dia sudah meminta Koki lebih awal, saat melihat Tama duduk berjam-jam di luar.
"Oh baguslah.." balas Kara "Kenapa harus menunggu di luar? Kan bisa duduk di ruang tamu!" ujar Kara.
Tama terdiam, dia hanya takut dan gelisah Kara kenapa-kenapa, jadi tidak peduli dengan semua itu.
"Aku khawatir! Kamu keluar dari siang, dan tidak ada kabar!" jelas Tama.
Kara juga menyesalinya, dia tidak punya nomor Hp mereka semua, bahkan no telpon rumah juga tidak tersimpan di ponselnya. Yang ada cuman nomor Tama.
"Raf, aku sudah menelponmu, tapi tidak ada jawaban. Jadi aku kirim pesan!" Kara menghubunginya sebelum bertemu dengan Detektif.
"Benarkah?" dia meraba sakunya tapi tidak ada. "Haah, ada di kamar sedang isi daya!" dia baru mengingatnya.
"Maaf ya, sudah membuat kalian semua khawatir!" kata Kara dengan haru. Ternyata seperti itu rasanya dikhawatirkan dan ditungguin pulang oleh suami.
"Hmm, asal kamu baik-baik saja!" Sebenarnya dia bukan lupa dengan Hp nya. Dia hanya tidak menyangka, Kara akan menghubunginya.
Mengetahui Tama belum makan malam, akhirnya Kara menemaninya, dan dia juga makan lagi.
Setelah makan malam, Kara mengantar Tama ke sampai ke dalam kamar. Tidak lupa membawa minuman hangat yang dibuat untuknya.
"Semoga kamu tidak sakit seperti dulu! Ucap Kara sambil tertawa kecil mengenang masa lalu.
Tama juga tersenyum, mana mungkin dia melupakannya. Keduanya berjanji untuk bermain bersama di rumah Tama, tapi Kara Tak kunjung datang.
Ternyata Kara ketiduran, apalagi sedang hujan membuat tidurnya makin nyenyak. Karena itu, di malam hari, Tama jatuh sakit.
Setelah mengucapkan selamat malam, Kara keluar dari kamar Tama. Dan Tama hanya memandangi kepergiannya dengan perasaan campur aduk.
***
Setelah bersih-bersih, Kara segera membaca hasil penyelidikan dari Detektif.
"BRENGSEK..!" Kara begitu marah, ternyata mobil yang dikendarai Ayahnya bukan hilang kendali karena jalan yang licin. Tapi remnya blong setelah mampir di Restoran.
Kara dengan cepat memasang flashdisk di laptopnya. Dia begitu terkejut ternyata di Restoran itu ada Sarah dengan Arka.
Keduanya sudah datang lebih dulu dari orang tua Kara. Dan Tiba-tiba mereka keluar dari Restoran dengan terburu-buru, lalu Arka terlihat sedang menelepon seseorang.
"Jika kalian berdua dibalik kecelakaan orang tuaku..Aku pastikan kalian membusuk di penjara."
Kemudian Kara beralih ke file yang lain, dimana mobil Ayahnya parkir. Dan apa yang dilihatnya membuat Kara makin emosi.
Terlihat seseorang dengan pakaian tertutup, menyelinap ke bawah mobil Ayah Kara. Apalagi yang dia lakukan jika mengobrak Abriknya.
"Jahat.. Kalian benar-benar tega..!" Ucap Sarah dengan air mata yang sudah mengalir.
Kara membaca semua informasinya, ternyata Restoran itu milik sepupu Arka. "Pantas waktu penyelidikan, mereka tidak menemukan buktinya, karena kalian semua bekerja sama!"
"Demi mendapatkan harta keluargaku, kalian tega menghilangkan nyawa orang yang tidak tau apa-apa. Apa yang kalian dapatkan? Tidak ada kan?" gumamnya dengan tersedu-sedu.
Karena orang tua Kara sudah membuat surat wasiat, jika mereka sudah tiada, semua aset dialihkan ke Rafa Gautama, mungkin orang tuanya sudah punya firasat, dan anak satu-satunya tidak bisa diandalkan.
"Ayah, Ibu. Maaf, maafkan aku! Jika aku menahan kalian waktu itu, mungkin kalian akan baik-baik saja."
"Hiks hiks.. Aku akan membalas mereka, aku akan menuntut keadilan untuk kalian. Ayah, Ibu. Aku juga akan menjadi Istri yang baik, seperti yang kalian inginkan."
"Maaf! Maafkan Anakmu yang durhaka ini."
.
.
.
Sebelum UP sdah dibaca berulang-ulang kok. Tapi masih ada juga yang lolos dari pandangan..😭
sering2 yaa kalau ada typo😍😍