NovelToon NovelToon
Di Jual Kepada Mafia Rusia

Di Jual Kepada Mafia Rusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.

"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. LABIRIN MAWAR PERAK

Pagi di Saint Petersburg datang dengan warna abu-abu yang menindas. Salju turun lebih tipis, namun angin yang berhembus dari arah teluk terasa seperti sayatan pisau di kulit. Di dalam mansion, suasana terasa sunyi setelah hiruk-pikuk berdarah di dermaga Volga semalam. Alexei telah pergi sejak fajar menyingsing, Ivan menginformasikan bahwa sang Tsar *(penguasa/ atasan)* sedang melakukan pertemuan darurat dengan dewan Bratva untuk membahas "insiden" gudang Sergei.

Ini adalah kesempatan yang Alana tunggu.

​Ia berdiri di depan pintu besar sayap timur, bagian mansion yang selama ini dianggap tabu bagi para pelayan. Jantungnya berdegup kencang, suaranya bergema di telinganya sendiri seirama dengan kunci perak yang ia genggam erat. Dinginnya logam kunci itu seolah merambat ke nadinya, memberikan keberanian yang lahir dari keputusasaan.

​Klik.

​Pintu itu terbuka dengan suara decitan halus. Alana melangkah masuk ke dalam koridor yang berdebu. Cahaya matahari yang pucat menembus jendela-jendela tinggi, menyoroti partikel debu yang menari di udara. Ruangan ini adalah sebuah makam waktu. Foto-foto tua di dinding menunjukkan sosok Elena Volskaya, ibunya dalam balutan gaun-gaun Rusia yang megah, tersenyum dengan binar mata yang tidak pernah Alana lihat selama mereka tinggal di Jakarta.

​Alana menelusuri lorong hingga tiba di sebuah ruang kerja pribadi yang tersembunyi di balik perpustakaan kecil. Di sana, di balik lukisan pemandangan pegunungan Ural yang kusam, ia menemukan sebuah brankas baja tertanam di dinding. Ada sebuah lubang kunci kecil dengan ukiran mawar yang presisi di tengahnya.

​Dengan tangan gemetar, Alana memasukkan kunci perak itu.

​Cklek.

​Pintu brankas terbuka perlahan. Alana menahan napas. Ia membayangkan tumpukan emas atau dokumen saham, namun yang ia temukan justru jauh lebih personal. Di dalamnya terdapat sebuah kotak kayu cendana yang harum, beberapa lembar sertifikat aset offshore, dan sebuah buku harian bersampul kulit hitam yang sudah mengelupas.

​Alana mengambil buku harian itu. Saat ia membukanya, sebuah foto jatuh dari selipan halaman tengah.

​Dunia seakan runtuh di bawah kaki Alana saat ia melihat foto tersebut. Itu adalah foto lama, diambil di sebuah taman bersalju. Di sana berdiri ibunya, Elena, yang tampak sangat muda. Dan di sampingnya, seorang pria dewasa dengan seragam militer Rusia yang gagah. Namun yang membuat Alana lemas adalah anak laki-laki kecil yang berdiri di depan mereka, memegang tangan Elena dengan sangat posesif.

​Anak laki-laki itu memiliki mata biru yang tajam. Mata yang sama dengan mata pria yang kini menjadi suaminya.

​"Alexei?" bisik Alana tak percaya. "Bagaimana mungkin..."

​Ia segera membuka lembaran buku harian itu, matanya memindai tulisan tangan ibunya yang rapi namun tampak terburu-buru.

​...Dmitri mencintaiku, tapi Wira adalah obsesi yang tidak bisa kuhindari. Namun di Rusia, rahasia ini akan membunuhku. Alexei kecil adalah satu-satunya yang tahu. Dia melihat segalanya. Dia melihat bagaimana Dmitri dijebak. Jika suatu hari aku tidak bisa kembali, aku telah menitipkan kunci itu padanya. Dia berjanji akan menjagaku, atau menjaga apa yang tersisa dariku.

​Alana terengah-engah. Jadi, Alexei tidak berbohong soal mengenal ibunya? Tapi kenapa dia tidak pernah mengatakannya? Dan jika Alexei tahu segalanya sejak kecil, apakah itu berarti seluruh hidup Alana di Jakarta hanyalah masa tunggu bagi Alexei untuk datang menjemput "aset"-nya?

​Tiba-tiba, suara langkah sepatu yang berat bergema di koridor luar. Alana tersentak. Ia tidak punya waktu untuk membereskan semuanya. Dengan panik, ia memasukkan buku harian dan foto itu ke dalam balik jubahnya, lalu menutup brankas tepat saat pintu ruang kerja terbuka.

​Bukan Alexei yang muncul, melainkan Ivan Petrov.

​Tangan kanan Alexei itu berdiri di ambang pintu, wajahnya datar tanpa ekspresi, namun matanya menatap tajam ke arah tangan Alana yang masih berada di balik lukisan.

​"Nyonya Dragunov," suara Ivan dingin dan formal. "Tuan Alexei sudah kembali. Beliau menunggu Anda di ruang makan untuk makan siang."

​"Aku... aku hanya sedang melihat-lihat foto ibuku, Ivan," jawab Alana, berusaha menormalkan detak jantungnya yang menggila. "Aku ingin tahu lebih banyak tentangnya."

​Ivan tidak bergerak. Ia menatap lubang kunci mawar di dinding selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. "Tuan Alexei tidak suka jika rahasia keluarga digali tanpa izinnya. Beliau percaya bahwa beberapa hal lebih baik tetap terkubur demi keselamatan Anda sendiri."

​"Apakah itu nasihat, atau ancaman, Ivan?" Alana memberanikan diri menatap mata pria itu.

​"Itu adalah fakta, Nyonya," jawab Ivan datar. "Mari, Tuan Alexei tidak suka menunggu."

​Di ruang makan, suasana terasa jauh lebih menekan daripada malam sebelumnya. Alexei duduk di kepala meja, memotong daging steaknya dengan presisi yang mengerikan. Ia tampak tenang, namun ada aura kekuasaan yang begitu pekat terpancar darinya. Saat Alana masuk, Alexei berdiri dan menarikkan kursi untuknya, sebuah sikap ksatria yang kini terasa seperti sandiwara yang sangat rapi di mata Alana.

​"Kau tampak pucat, Alana," ucap Alexei lembut saat mereka mulai makan. "Apakah udara di sayap timur terlalu dingin untukmu?"

​Alana nyaris menjatuhkan garpunya. Dia tahu. Tentu saja dia tahu.

​"Aku hanya mencari jawaban, Alexei. Seperti yang kau katakan kemarin," jawab Alana, mencoba menantang tatapan biru pria itu.

​Alexei meletakkan pisaunya, denting logamnya bergema di ruangan yang sunyi. Ia menyandarkan tubuhnya, menatap Alana dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dan apakah kau menemukannya? Apakah kau menemukan apa yang kau cari di balik mawar perak itu?"

​Alana merasakan buku harian di balik jubahnya terasa sangat berat, seolah benda itu terbuat dari timah. "Aku menemukan foto. Foto kau... dengan ibuku."

​Alexei terdiam sejenak. Senyum tipis yang penuh rahasia muncul di bibirnya. "Elena adalah wanita yang luar biasa. Dia menyelamatkan nyawaku saat ayahku dibantai oleh faksi Volsky. Aku berjanji padanya di malam dia pergi ke Indonesia bahwa aku akan menjaga hartanya yang paling berharga."

​"Hartanya? Kau maksud aset offshore itu? Atau aku?" tuntut Alana, suaranya naik satu oktaf.

​Alexei berdiri, berjalan mengitari meja dan berdiri di belakang Alana. Ia meletakkan tangannya di bahu Alana, cengkeramannya terasa posesif dan kuat. "Kau adalah kunci untuk segalanya, Alana. Kekuasaan, kekayaan, dan... balas dendam yang kita berdua inginkan."

​Ia membungkuk, membisikkan sesuatu di telinga Alana yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. "Tapi ada satu hal yang belum kau baca di buku harian itu, bukan? Tentang siapa yang sebenarnya memberikan perintah untuk membunuh Dmitri Volkov di malam bersalju itu."

​Alana membeku. "Siapa?"

​Alexei menarik diri sedikit, menatap pintu ruang makan yang tertutup rapat. "Tanyakan pada dirimu sendiri, Alana... kenapa Wira Naratama, seorang pengusaha dari Jakarta, bisa tahu persis di mana Dmitri bersembunyi di tengah hutan Rusia yang luas jika tidak ada orang dalam yang memberitahunya?"

​Alana menatap Alexei dengan kengerian yang baru. "Maksudmu... ibuku?"

​Alexei hanya tersenyum dingin. "Kebenaran memiliki banyak wajah, Alana. Dan terkadang, wajah yang paling kita cintai adalah wajah yang paling banyak berbohong."

​Tiba-tiba, seorang pelayan masuk dengan terburu-buru, membisikkan sesuatu pada Ivan yang kemudian mendekati Alexei. Wajah Alexei berubah menjadi sangat serius.

​"Ada apa?" tanya Alana waspada.

​"Ayahmu," jawab Alexei singkat. "Wira Naratama tidak kembali ke Jakarta. Dia baru saja mendarat di pangkalan udara pribadi Sergei Volsky. Dia tidak datang untuk menjemputmu, Alana. Dia datang dengan pasukan untuk mengambil kembali 'asetnya' yang hilang."

​Alexei mengulurkan tangannya pada Alana, matanya berkilat dengan gairah perang yang mematikan.

​"Waktunya telah tiba. Sekarang kau harus memilih, Alana. Apakah kau akan tetap menjadi putri dari seorang pria yang siap membantaimu demi kekuasaan, atau kau akan menjadi ratuku dan menghancurkannya bersamaku?"

​Alana menatap tangan Alexei, lalu merasakan buku harian ibunya di balik jubahnya. Ia tahu bahwa pilihan apa pun yang ia ambil, ia tidak akan pernah menjadi Alana yang dulu lagi. Namun, di antara semua kengerian itu, satu pertanyaan baru muncul, Jika ibunya mengkhianati Dmitri, apakah Alexei menjemputnya untuk melindunginya... atau untuk membalas dendam pada darah yang mengalir di nadinya?

1
Mia Camelia
haduh kok jadi rumit sih😔
My: Kalau terasa rumit, berarti kamu mulia melihat potongan puzzle- nya.. 👀
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor🥰👍
Mia Camelia
cerita nya menarik
Mia Camelia
lanjut thor, cerita nya seru banget👍👍👍
putri
Alexei.. neraka yang indah itu macam mana?? 😄
My: wahh, terimakasih kehadirannya kak-
🥰
total 1 replies
putri
aku suka ceritanya.. tetap semangat kak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!