"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.
Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Tuntutan Sebagai Seorang Wimana
Kharisma menggigit bibir, menahan suara saat merasakan ujung jari Prabujangga menyentuh area sensitifnya.
Rasanya sakit dan panas, bahkan setelah diberikan salep pagi tadi. Setiap pergerakan benar-benar membuat Kharisma tersiksa. Apalagi ia baru saja selesai mengitari Mall yang sebegitu luasnya.
"Kekanak-kanakan."
Gumaman dingin Prabujangga seketika menambah ketegangan.
Kharisma menggigit bibirnya, merasakan tangan Prabujangga berpindah dari pinggangnya kini menyentuh belakang kepalanya, menariknya untuk bertatapan langsung dengan laki-laki itu.
"Sudah saya bilang untuk belajar merawat diri sendiri, apa telingamu kurang jelas mendengar? Atau mungkin otakmu yang terlalu kecil untuk mencerna?"
Bisikkan Prabujangga terdengar seperti bentakan keras di telinga Kharisma.
"M-mas Prabu melakukan apa?" Nada Kharisma langsung berubah panik saat merasakan dalaman tipisnya ditarik hingga melewati kaki.
Benda itu terlepas, lalu dimasukkan ke dalam saku jas Prabujangga. Laki-laki itu bahkan melakukannya dengan raut datarnya yang biasa, sementara istrinya sudah was-was sendiri.
"Tidak usah menggunakan dalaman sampai sakitnya hilang," titah Prabujangga, menarik kembali gaun Kharisma hingga menutupi kaki perempuan itu.
"Dan lain kali berpakaian dengan benar, saya tidak suka dengan wanita berpenampilan kekanak-kanakan," imbuh Prabujangga, perlahan bangkit dari jok belakang dan membuka pintu mobil.
Prabujangga pasti sudah memperhatikan dengan perhitungan gaun bermotif bunga yang Kharisma kenakan dan juga rambutnya yang dijalin sejak tadi.
Seakan-akan beruntung, Nada terlihat mendekat dengan senyum teduh di wajahnya tepat saat pintu mobil di dorong tertutup oleh Prabujangga. Wanita dengan setelan biru tua itu berhenti tepat di hadapan Putranya.
Kharisma bisa melihat interaksi antara anak dan ibu itu melalui kaca gelap mobil yang tertutup.
"Maaf ya, Bunda lama." Nada menepuk pundak putranya pelan. "Kharisma di mana?"
Tak menjawab, Prabujangga hanya mengendikkan dagu ke arah kursi belakang.
"Loh? Kenapa istri kamu duduk di belakang? Kenapa nggak suruh di depan, Mas?" Nada menarik gagang pintu mobil, dan saat itu juga Kharisma buru-buru menegakkan tubuhnya dan merapikan gaunnya.
Kharisma langsung disambut oleh senyum lembut mertuanya begitu pintu mobil terbuka. Tangannya yang dihiasi oleh cincin permata menyentuh rambut Kharisma dan memberikan elusan kasih sayang.
"Kamu kenapa duduk di sini? Kamu duduk di depan, ya, sama Prabu."
Belum sempat menjawab, lengan Kharisma sudah ditarik lembut dari tempatnya. Dia dengan sedikit terhuyung berusaha menyetabilkan diri saat kembali berpijak di trotoar.
Nada melirik ke arah kursi di samping kemudi, melihat semua tas belanjaan yang berserakan di dalam sana. Nada kembali menoleh ke arah Prabujangga, menyerahkan tas-tas belanjaan yang ada di tangannya, lalu menunjuk ke arah kursi samping kemudi.
"Semua tas-tas belanjaan dipindahkan ke bagasi saja ya, Mas, kan sekarang kursi itu punya istri kamu," pinta Nada, menunjukkan senyum simpul. Dia menepuk pundak Kharisma sekali lantas masuk ke dalam jok belakang dan menutup pintu.
Lagi-lagi Kharisma harus berhadapan dengan Prabujangga.
Kharisma melirik takut-takut ke arah Prabujangga, lebih memilih menatap tas belanjaan yang berada di tangan laki-laki itu.
"Aku bantu ya, Mas Prabu?" tawarnya ragu-ragu.
Kharisma hendak mengambil alih tas belanjaan di tangan Prabujangga, tapi laki-laki itu dengan tajam menggeleng, menjauhkan tas-tas itu dari jangkauan Kharisma.
"Tidak perlu," tolaknya dengan nada yang tak menerima bantahan. "Diam di sini, saya akan pindahkan semuanya."
Kharisma langsung bergeser saat Prabujangga melewatinya ke bagian belakang mobil. Suaminya itu dengan mudah mengangkat pintu bagasi ke atas, memindahkan tas dengan merek berbeda-beda ke dalam sana.
Mata Kharisma mengamati bagaimana jas Prabujangga sedikit tersingkap, menampakkan kemeja putih bersih yang bahkan masih licin meskipun sudah setengah hari laki-laki itu menghabiskan waktu di kantor. Jam analog berwarna hitam melingkari pergelangan tangannya yang menampakkan beberapa tonjolan urat nadi, menambah kesan maskulin yang entah mengapa membuat Kharisma terdiam sesaat.
Rasanya Kharisma seperti orang bodoh jika diam saja, jadi dia berinisiatif untuk membantu meskipun Prabujangga sendiri telah menolak.
Dia menarik pintu depan mobil hingga terbuka, mengambil tas belanjaan yang tersisa. Saat pandangannya bertemu dengan Nada, Kharisma langsung memasang senyum tipis dan mengangguk.
Kharisma meraih tali-tali tas belanjaan dan menutup kembali pintu mobil, tak menyangka bahwa saat ia berbalik langsung mendapati Prabujangga di hadapannya.
Kharisma terkejut sesaat, punggungnya membentur kaca mobil kala sedikit kehilangan keseimbangan.
Apakah Prabujangga memang memiliki hobi untuk mengagetkan orang lain?
"Sudah saya bilang—"
"Hanya mau membantu saja, Mas," Kharisma menyela cemberut, seakan-akan tau bahwa suaminya itu akan mengomel lagi. Lantas ia mengangkat tas-tas belanjaan itu dan menyodorkannya pada Prabujangga. "Salah ya? Kalau mau membantu?"
Prabujangga tak menjawab, tapi Kharisma bisa mendengar helaan napasnya yang samar.
Bibir Kharisma semakin mengerut saat Prabujangga mengambil tas-tas itu dari genggamannya tanpa mengucapkan sepatah kata.
Kharisma jadi tidak mengerti dengan suaminya itu. Terlalu dingin dan sulit di tebak.
...***...
"Kembali ke kamar dan minta Meara untuk membantu mengobati luka itu. Saya harus segera kembali ke kantor, tidak memiliki banyak waktu untuk mengurusi hal tidak penting seperti ini."
Nada acuh tak acuh Prabujangga menggema di ruang tamu. Dia melangkah di depan Kharisma, dengan dua tangan dipenuhi oleh tas-tas belanja dari dua wanita yang yang memiliki status yang tak bisa diacuhkan dalam hidupnya.
Yang satu ibunya, yang satu lagi istri kecilnya yang sepertinya sebentar lagi akan memiliki tingkat menyebalkan yang sama dengan sang ibu.
"Setelah ini kamu akan mengingat kata-kata saya bahwa apapun yang akan kamu lakukan haruslah melewati persetujuan saya lebih dulu," peringat Prabujangga tegas, meletakkan secara asal tas-tas itu di atas meja rendah di tengah-tengah sofa.
Jika saja bukan karena Kharisma yang masih terluka akibat malam pertama menyakitkan yang juga merupakan ulahnya, Prabujangga tak ingin repot-repot menjadi supir dadakan seperti ini.
"Iya, Mas." Kharisma menunduk patuh, menghela napas meskipun kesal. "Tapi bagaimana caranya memberitahu Mas Prabu kalau ponsel saja disita?"
"Ada telpon rumah," Prabujangga membalas cepat. "Bisa meminta bantuan Meara, tidak memerlukan ponsel pribadi karena kamu akan tetap berada di rumah sepanjang hari."
Sungguh cepat Prabujangga membungkam Kharisma.
"Jangan jadikan hal seperti ini sebagai alasan. Saya tidak akan mengembalikan ponselmu karena itu tidak akan digunakan lagi," imbuh Prabujangga. "Tidak ada kontak dengan Ayah dan Ibumu tanpa sepengetahuan dan izin saya, mengerti?"
Diamnya Kharisma Prabujangga segera artikan sebagai kepatuhan. Perempuan itu hanya menunduk, tubuhnya yang kecil sedikit berayun-ayun sementara tangannya terjalin gugup di depan pangkuan.
Inilah yang Prabujangga maksud bahwa Kharisma akan sangat mudah diatur.
"Selamat siang, Pak, maaf mengganggu."
Atensi Prabujangga teralihkan begitu suara salah satu pelayan menarik perhatiannya.
Dia menoleh, dan langsung membuat pelayan itu kembali bicara.
"Pak Batra ingin bertemu dengan Bapak, beliau mengatakan ada hal penting yang ingin disampaikan."
Prabujangga terdiam sejenak, tak ada jawaban yang ia lontarkan selama beberapa saat.
Dia sekali lagi melirik ke arah istrinya yang masih cemberut gugup, sebelum akhirnya mengangguk sekilas.
"Saya akan segera ke sana."
...***...
"Tidak perlu dijelaskan, saya sudah menyadari apa sebenarnya yang Papa inginkan."
Diiringi dengungan AC, atau sesekali desiran kertas, ruangan pribadi Batra Wimana tak pernah menyentuh kata ramai dan ricuh. Ruangan ini dianggap sakral, nyaris tak boleh ada keributan.
Tapi sebenarnya tak sebegitu menyeramkan mengingat pemilik ruangan ini tak dikenal karena otoritasnya yang menyeramkan. Karena Batra sendiri dianggap sebagai sosok yang hangat.
Dan di sinilah sekarang Prabujangga berada.
"Papa memang selalu mendesak saya untuk menikah, tapi kali ini... sedikit berlebihan," ujar Prabujangga, kini duduk berhadapan dengan sang ayah yang tampak lebih serius dari biasanya.
"Ada sesuatu," terka Prabujangga, tak pernah meleset. "Hanya saja Papa belum ingin memberitahu."
Batra menghela napas panjang, tangannya menyugar helaian rambut yang seluruhnya hampir memutih. "Papa berniat memberitahu setelah kamu menikah, Prabu," akunya.
Batra memandangi putranya yang memasang fasad ketenangan yang sudah biasa ia lihat. Mungkin Prabujangga sudah tau bahwa pembahasan 'ini' akan tiba.
Selama ini Batra memang mendesak Prabujangga untuk segera menikah, tapi tak segencar beberapa bulan yang lalu. Ada sesuatu yang membuatnya harus menekan agar putranya itu cepat-cepat melakukannya.
"Ivana mengandung."
Dua kata yang terlontar dari bibir Batra membentangkan keheningan yang mencekik.
Mengandung.
Dalam keluarga Wimana, satu kata itu bisa mengartikan dua kemungkinan. Kebahagiaan, atau juga kesengsaraan. Ditentukan oleh jenis kelamin bayi yang dikandung.
Dan yang tengah dibahas ini tentu saja ancaman bagi Prabujangga. Ivana adalah istri dari sepupunya dari pihak ayah.
"Sudah berapa bulan?" tanya Prabujangga tenang, menyempatkan diri untuk menyesap kopinya.
"Terakhir kali berita ini diberikan, usia kandungannya sudah memasuki Minggu ke delapan," jawab Batra. "Itulah mengapa Papa mendesak kamu untuk segera menikah. Kamu tau apa yang terjadi jika kamu didahului oleh sepupu-sepupumu yang lain, kan, Prabu?"
Prabujangga terdiam.
"Hal yang perlu kamu lakukan untuk mempertahankan posisi adalah memberikan pewaris laki-laki pertama untuk keluarga ini. Kamu tau kakekmu seperti apa," Batra mengimbuhi. "Papa hanya tidak mau kamu dipandang sebelah mata oleh kakekmu sebagaimana dia memandang Papa."
"Saya mengerti." Prabujangga mengangguk sekilas, meletakkan cangkirnya di meja dengan hati-hati. "Anak itu masih cukup lama untuk diketahui jenis kelaminnya, dan gen dari Paman Viraj dominan perempuan."
Kata-kata Prabujangga terucap penuh dengan perhitungan logis.
"Saya akan berusaha untuk menghamili Kharisma secepatnya, dan harus bisa saya pastikan bahwa anak pertama saya adalah laki-laki," timpal Prabujangga, mengerutkan kening seakan-akan sedikit ragu dengan kata-katanya. "Saya akan memastikannya."
Bersambung...