NovelToon NovelToon
The Future With My Grumpy Neighbor

The Future With My Grumpy Neighbor

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Time Travel / Menikah dengan Musuhku / Enemy to Lovers / Slice of Life
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Bayang-Bayang Malam Kelulusan

[POV: Vaya]

Keheningan menyelimuti ruang tengah setelah aku mematikan telepon dari Rian. Narev masih memelukku, namun aku bisa merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan di balik dadanya yang bidang. Genggamannya begitu erat, seolah-olah jika dia melonggarkannya sedikit saja, aku akan terbang menjauh.

"Narev," panggilku pelan.

"Hmm?"

"Apa yang Rian maksud dengan 'Malam Kelulusan'?" aku mendongak, menatap matanya yang langsung berkilat gelisah. "Dia bilang itu bukti kalau kamu memanipulasiku. Dia begitu yakin hal itu bisa membuatku membencimu."

Narev melepaskan pelukannya perlahan. Dia memalingkan wajah, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah kota. Punggungnya yang lebar tampak begitu tegang.

"Itu sudah lama sekali, Vaya. Sepuluh tahun yang lalu. Tidak ada gunanya dibahas sekarang," jawabnya dengan suara yang diusahakan tetap datar, namun aku tahu dia sedang berbohong.

"Narev, lihat aku!" aku menghampirinya, menarik tangannya agar dia berbalik. "Tadi malam aku berjanji untuk tidak merahasiakan apa pun darimu. Dan pagi ini, aku baru saja mengusir Rian demi kamu. Tapi bagaimana aku bisa percaya sepenuhnya kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku?"

Narev menatapku dengan tatapan yang sangat terluka. "Kadang, ketidaktahuan adalah sebuah berkah, Vaya. Aku melakukan apa yang harus kulakukan agar kamu tetap bersamaku."

"Maksudmu apa? Apa kamu menjebakku malam itu?" suaraku mulai meninggi.

Tiba-tiba, Mici yang sedang duduk di karpet sambil memegang bonekanya mendekat. Dia memegang ujung celana Narev dan ujung dasterku. Suasana hati Mici kembali merembes masuk ke dalam benakku.

“Papa... hatinya berdarah. Papa takut kalau Mama tahu Papa pernah jadi 'orang nakal' malam itu. Papa takut Mama bilang Papa itu jahat...”

Aku tertegun. Berdarah? Apakah rasa bersalah Narev sebegitu besarnya?

"Katakan, Narev. Apa yang terjadi malam itu? Rian bilang dia menungguku di taman belakang sekolah setelah upacara kelulusan. Tapi aku tidak pernah sampai ke sana. Aku bangun keesokan harinya di rumahmu, dan ayahku bilang kita sudah bertunangan," aku menuntut penjelasan, memori samar itu mulai muncul kembali.

Narev menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan beban bertahun-tahun. Dia duduk di sofa, menumpu kepalanya dengan kedua tangan.

"Malam itu... Rian memang menunggumu. Dia berencana mengajakmu kabur ke luar kota agar perjodohan yang direncanakan ayah kita batal," Narev memulai dengan suara parau.

"Terus?"

"Aku tahu rencana itu. Aku tidak bisa membiarkannya terjadi," Narev menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku menyuruh beberapa orang untuk mencegat Rian di tengah jalan. Mereka tidak hanya menghentikannya, Vaya. Mereka menghajarnya sampai dia masuk rumah sakit."

Aku menutup mulutku dengan tangan. "Ya Tuhan, Narev..."

"Dan kamu..." Narev menjeda kalimatnya, suaranya gemetar. "Malam itu kamu sangat marah padaku. Kamu mencoba mencarinya. Aku mengejarmu, dan kita bertengkar hebat di dalam mobil. Aku kehilangan kendali, Vaya. Aku membawamu ke vila keluargaku dan menguncimu di sana semalaman agar kamu tidak bisa pergi menemui Rian."

"Kamu... menyekapku?" bisikku ngeri.

"Hanya semalam!" Narev berdiri, mendekatiku dengan wajah memohon. "Hanya sampai ayahmu datang keesokan paginya dan menandatangani surat pertunangan kita. Aku menggunakan pengaruh bisnis ayahku untuk menekan ayahmu agar setuju. Aku tahu itu salah! Aku tahu itu menjijikkan! Tapi aku tidak punya pilihan lain karena aku tahu Rian hanya ingin memanfaatkan aset keluargamu!"

"Tapi kamu tidak memberiku pilihan, Narev!" air mataku mulai mengalir. "Kamu memanipulasi seluruh hidupku hanya karena obsesimu!"

Narev jatuh berlutut di depanku, memegang tanganku erat-erat. "Benci aku, Vaya! Maki aku! Tapi tolong... jangan pergi. Malam itu aku memang monster, tapi monster itu melakukannya karena dia tidak bisa membayangkan hidup tanpamu."

Suara hati Mici kembali bergema, kali ini sangat sedih hingga dadaku sesak.

“Papa sayang Mama sampai sakit... Papa takut Mama pergi ke Om Jahat yang mau ambil mainan Mama. Papa nggak mau sendirian di rumah besar ini lagi...”

Aku menatap Narev yang bersimpuh di kakiku. Pria yang selama ini terlihat begitu perkasa dan dingin, kini tampak begitu kecil dan rapuh. Aku membenci tindakannya sepuluh tahun lalu, tapi aku juga melihat pria yang selama sepuluh tahun ini mencoba menebus kesalahannya dengan menjagaku dengan caranya yang salah.

"Mici," panggilku pelan.

Mici mendekat, lalu memeluk leher Narev dari belakang. "Papa... jangan nangis. Mama ada di sini."

Narev memeluk Mici erat, menyembunyikan wajahnya di perut kecil anaknya. Bahunya berguncang karena tangis yang selama ini dia tahan.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menjernihkan pikiranku. "Narev, bangunlah."

Narev mendongak dengan mata merah.

"Aku butuh waktu untuk mencerna semua ini," kataku jujur. "Apa yang kamu lakukan itu sangat salah. Kamu tidak bisa membeli cinta dengan paksaan atau manipulasi. Tapi..." aku mengusap pipi Mici yang menatapku cemas. "Aku juga melihat apa yang sudah kamu bangun selama sepuluh tahun ini. Aku melihat Mici. Dan aku merasakan... aku merasakan betapa kamu takut kehilangan aku."

"Vaya, aku—"

"Jangan memotongku," kataku tegas. "Aku tidak akan lari ke Rian. Tapi mulai hari ini, tidak boleh ada lagi manipulasi. Tidak boleh ada lagi mengurungku di rumah. Kalau kamu mau aku tetap mencintaimu, kamu harus membiarkanku mencintaimu sebagai manusia yang bebas, bukan sebagai tawananmu."

Narev mengangguk cepat, seolah dia baru saja diberi pengampunan dari hukuman mati. "Aku janji, Vaya. Aku janji."

“Yay! Hati Mama nggak marah lagi, cuma warnanya biru muda... sedih tapi sayang. Mici suka Mama yang berani!” bisik suara hati Mici.

Aku memeluk mereka berdua. Badai malam kelulusan itu akhirnya terungkap. Meski rasanya pahit, setidaknya tidak ada lagi duri yang tersembunyi di antara kami. Namun, di sudut pikiranku, aku tahu Rian tidak akan menyerah begitu saja hanya karena telepon tadi pagi. Dia masih punya kartu lain yang harus aku waspadai.

...****************...

1
Lis Lis
labil ......
G konsisten sma omongannya si vaya
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭 mungkin vaya galau kak...
total 1 replies
Lis Lis
AQ jga G tau spa yg harus aku prcya vaya😭😭😭
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak sudah mampir 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sulas Lis
huaaaaa huaaa 😭😭😭
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa
Ariska Kamisa: terimakasih kak udah mampir... 🙏🙏🙏 terimakasih atas sarannya... 🙏🙏🙏
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍
awesome moment
bingung mo.kasih comment. tll sedikit dan...agak lama. smp hmp lupa. maapkeun
awesome moment
vaya sgt memuakkan. oon g abis2. wanita tu mending dicintai. aman. ogeb dipiara. ragu digedhein. vaya EGOIS!!!
Ariska Kamisa: sabar kak... kita doakan naren bisa meluluhkan Vaya yaa
total 1 replies
awesome moment
vaya n g slese2 ragunya. jd pengin getok palanya
Nadira ST
Kamu seharusnya bersyukur dicintai naren secara ugal2an diluaran Sana banyak istri tidak seberuntung dirimu vaya,ak aja sebagai perempuan sampai iri ,cinta naren kepadamu
Ariska Kamisa: semoga vaya segera dapat hidayah yaa 🤭
terimakasih sudah mampir kK🙏
total 1 replies
awesome moment
di cerita kakak tu, woman leadnya dicintai ugal2an sm man leadnya. 😉👍
Ariska Kamisa: karena itu adalah impian semua wanita ga sih...🤭
total 1 replies
awesome moment
malah terhura dgn cibat narev yg sedunia raya buat vaya. pegang kuat cinta narev, vaya..jgn smp lepas. tar nyesel smp pindah alam lho
Ariska Kamisa: terimakasih kakak🙏🙏
total 1 replies
awesome moment
vaya, syukuri dan terima..dicintai dijadikan pusat dunia tu aman lho.
awesome moment
smg vaya membalas cinta nares dgn sm besar
Ariska Kamisa: Terimakasih kak 🙏
total 1 replies
Nadira ST
lanjut thor💪💪💪💪💪💪
Ariska Kamisa: Terimakasih kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!