NovelToon NovelToon
JANJI PERNIKAHAN TUAN AROGAN

JANJI PERNIKAHAN TUAN AROGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.

"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.

Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.

Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.

Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 15

Deduksi Kalila menghantam Zenna seperti palu gada.

Bagaimana dia bisa tahu...? Batin Zenna panik. Dan dia bilang, Rendy akan punya anak? Bagaimana dia bisa bilang begitu...?

"Nggak, itu nggak benar!"

Zenna masih berjuang mati-matian menutupi kebenaran. Berdusta sampai akhir zaman pun rela dia lakukan, asal tak ada yang tahu benar mengenai aib tergelapnya itu.

Netra Kalila membola. Ekspresinya campuran antara sedih dan tidak percaya.

"Zenna, bagaimana kamu bisa bilang begitu? Padahal jelas-jelas kalau--"

"Cukup, Kalila!"

Seumur hidup, baru kali ini Zenna membentak Kalila. Sahabatnya itu sampai tersentak dan air mukanya berubah pucat.

"Maaf, tapi aku ke sini untuk menjenguk Suri dan bayinya. Aku tak mau membahas apa-apa lagi. Tolong antar aku menemui mereka," pinta Zenna datar, matanya enggan menatap Kalila, dan diam-diam dia mengepalkan tangan untuk menyembunyikan jemari yang gemetaran.

Kalila tampak sedih dan terluka. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi dan bergegas memimpin jalan menuju paviliun kakaknya.

Sosok Suri tak jauh berubah dari yang terakhir diingat Zenna, kecuali lebih tinggi dan rambut lurus tebal yang kini dipangkas sangat pendek. Ia masih berperawakan ramping dan berwajah tirus dengan kulit langsat, mata lebar, dan alis tegas yang seakan selaras dengan sifatnya yang tangguh dan cerdas.

"Lama tak jumpa, Zenna," Suri memeluk Zenna dan tersenyum hangat. "Apa kabar? Terima kasih sudah mampir berkunjung, ya..."

Sisa percakapan sore itu berlangsung ramah dan sekadar kulit luar. Kebanyakan mereka membicarakan dan menimang Isa, bayi laki-laki Suri dan Ridwan, yang luar biasa lucu dan menggemaskan.

Tak ada lagi bahasan yang menyinggung ranah pribadi dan perasaan. Meski begitu, Zenna terus menyiratkan ingin segera pulang, dan Kalila berdiri agak menjauh serta memutuskan tak lagi bicara dengan Zenna.

"Kenapa buru-buru sih, Na? Serius nggak mau di sini sampai malam? Habis maghrib Abah dan Ridwan pulang, dan kita bisa makan bersama--Umi udah masak kare daging sapi pedas kesukaanmu lho," bujuk Umi Sarah.

"Terima kasih, tapi maaf Umi, Zenna mau balik ke rumah sakit, mau temenin Mama... kasihan Mama sendirian dari siang," ujar Zenna pelan.

"Oooh, ya sudah kalau gitu. Maaf ya sampai bikin kamu nggak bisa nemenin Mama kamu siang ini... tapi terima kasih sudah datang ke sini. Besok Inshaa Allah Umi dan Abah jenguk Mama. Kamu juga mampirlah lagi kapan-kapan. Menginap atau tinggal di sini juga boleh. Pintu rumah Umi selalu terbuka untuk Zenna," tukas Umi Sarah dengan senyum hangat.

"Iya... terima kasih ya, Umi. Suri. Kalila. Salam buat Abah dan Mas Ridwan. Zenna pamit dulu. Assalamu'alaikum," kata Zenna seraya undur diri.

"Wa'alaikumsalam," sahut para penghuni rumah itu serentak.

Saat Zenna sudah melangkah ke garasi dan hendak memasuki mobilnya, Kalila berlari menyusulnya dan memanggil cepat, "Zenna!"

Zenna menoleh dengan enggan. "Ya?"

"Maaf ya kalau aku udah nyinggung kamu tadi... aku sama sekali nggak bermaksud gitu," tutur Kalila, nada suaranya lirih dan sedih. "Tapi kamu harus tahu, Na, aku tetap sahabatmu yang peduli sama kamu... kalau kamu butuh sesuatu, bilanglah, Na, aku pasti akan bantu kamu..."

"Trims, Kalila," balas Zenna pelan. "Aku pergi dulu..."

"Na!"

Kalila mengetuk kaca jendela mobil setelah Zenna duduk dan memasang sabuk pengaman di kursi kemudi.

"Apa lagi, Kal?" tanya Zenna seraya membuka jendela mobilnya.

"Mungkin kamu gak suka dengar ini, tapi aku harus jujur," kata Kalila cepat dan mantap. "Kamu harus tahu, Tante Lia sendiri yang minta tolong ke aku buat bantu kamu... aku bisa bantu kamu mengakhiri hubunganmu dengan Rendy, asal kamu mau--"

"Bye, Kalila!"

Zenna menutup jendela mobilnya dan tancap gas dengan lekas. Ia sungguh tak peduli jika sikapnya menyinggung Kalila. Justru bagus. Itu akan jadi alasan yang tepat bagi mereka untuk berjarak sekarang, hingga Kalila tak lagi bisa mencampuri urusannya.

Kalian sama sekali tak mengerti..., pikir Zenna pedih.

Tetapi sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, kata-kata dan sikap Kalila sedikit banyak mulai mengganggu benak Zenna.

Kalila sejak dulu cerdas dan punya rasa ingin tahu tinggi. Entah bagaimana ia selalu jeli melihat sesuatu. Barangkali Kalila menggunakan nalar tajamnya dan mencari tahu sendiri setelah mendengar dari Amalia bahwa Rendy Wangsa turut memberi sumbangsih dalam perawatan kankernya.

Tak sulit memang mengambil kesimpulan bahwa ada sesuatu di antara Zenna dan Rendy jika perlakuan Rendy seistimewa itu. Apalagi Zenna tiba-tiba berubah dari sosok yang dulunya tak punya apa-apa kini bisa pergi ke mana-mana dengan mobil mewah... dan semua fasilitas itu tetap melekat pada dirinya, bahkan setelah Rendy resmi menikahi Aurel Sanjaya.

Tetapi bagaimana Kalila bisa berkata Rendy akan punya anak? Bagaimana dia bisa meyakini sesuatu yang bahkan aku tak tahu...?

Setibanya Zenna di rumah sakit, Semesta seakan menjawab pertanyaan yang mengganjalnya.

Ketika berbelok di salah satu lorong, Zenna tanpa sengaja melihat Rendy dan Aurel berjalan keluar dari ruangan dokter, keduanya tampak sumringah dan bahagia.

"...beneran sehat ya, Dok? Sudah pasti program bayi tabung kembar ini berhasil, kan? Pagi ini Mamaku bahkan sudah mengabari pers, Mama senang sekali akan segera punya cucu!" celoteh Aurel dengan ekspresi cerah.

"Bisa dipastikan begitu, Nyonya Aurel. Selama Anda menjaga kondisi, dan Tuhan memberkati, Anda dan Tuan Rendy akan segera memiliki momongan," jawab dokter tenang.

"Puji Tuhan!" seru Aurel bahagia. "Kamu dengar itu, Ren? Aku akan menjadi ibu, dan kamu akan menjadi ayah! Keinginan orangtua kita memiliki cucu secepatnya akan segera terwujud! Kembar pula! Pasti anak-anak kita akan sangat menawan dan mirip kamu..."

"Bisa juga mirip kamu, Sayang," timpal Rendy seraya membelai rambut panjang kemerahan Aurel penuh kasih.

Saat itulah, netra hitam Rendy menangkap sosok Zenna yang berdiri membeku tak jauh darinya. Senyumnya perlahan memudar.

"Kenapa, Sayang?" tanya Aurel, yang dengan cepat menangkap perubahan ekspresi suaminya, lantas menoleh ke titik yang dilihat Rendy.

Itulah pertama kalinya, Aurel dan Zenna berhadapan dan bertukar pandang langsung. Dua wanita sangat jelita yang sama-sama menjadi pengisi hidup dan hati Rendy--meski satunya dengan kerelaan cinta, dan satunya dengan keterpaksaan tanpa asa.

"Kenapa kamu melihatnya? Kamu kenal dia?" Aurel memandang tajam Rendy penuh selidik.

Rendy menggeleng, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Tidak, aku tidak kenal. Kaget saja tiba-tiba ada dia di sini. Kukira wartawan. Tapi sepertinya bukan."

Aurel memandang Zenna dari ujung kepala hingga kaki. Sorot matanya berkilat seakan menelanjangi, ekspresinya penuh penilaian. "Hmm, sepertinya cuma pengunjung rumah sakit..."

Zenna bungkam sepenuhnya, napasnya seolah lenyap entah ke mana.

"Sudahlah. Ayo kita pergi. Papa dan Mama kita sudah menunggu di restoran untuk makan malam bersama."

Rendy merangkul Aurel mesra, dan keduanya berjalan melewati Zenna begitu saja, seakan ia adalah setitik debu tak penting yang melekat di permukaan dinding.

Bahkan setelah keduanya menghilang, Zenna masih berdiri di sana. Kembali meniru patung batu tanpa jiwa. Anehnya, tak ada lagi air mata yang jatuh membasahi pipinya.

Sepenuhnya, ia beku dan hampa.

***

1
sryharty
duuuh bener2
Shamira Zee
Aduh mau apa lagi si aki-aki ini? Bram lekaslah sembuh... apa Rendy yang berusaha mencelakainya lagi? Jahat banget sih!
sryharty
kapan ini orang jahatnya pada mati,,
sryharty: jika tidak Minggu ini mungkin bulan depan
total 2 replies
sryharty
mending menepi dulu biar zenna tenang dan tetap waras
bram pantai aja dari jauh
La Rumi: Mantau sambil ngopi biar gak ngamok /Coffee/
total 1 replies
Nyonya Billy
Sifat arogannya Bram keluar...
La Rumi: Emosian anaknya ya kak
total 1 replies
Nyonya Billy
Tegang seperti di film...
Nyonya Billy
Wah tegang...
Shamira Zee
Kasihan Zenna jadi trauma. Tapi ya jangan minta pisah juga dong... sama aja musuh dan Rendy yang menang kalau gitu.

Semangat nulisnya thor... makin ke sini makin seru ceritanya, narasinya juga bagus, layak dimarathon dan ditunggu updatenya /Good/
La Rumi: thank you kak ❤️
total 1 replies
Shamira Zee
Rendy kayaknya masih bakal jadi ancaman berikutnya ya... semoga Bram dan Zenna lekas pulih. Dokter Kenan ini kayaknya disuruh jahat sama Paman Darwin... tapi dia nyelametin Zenna... apa itu artinya, aslinya dia baik?
Shamira Zee
Tegang banget kayak film action. Bram bener-bener jadi pahlawan. /Sob/ Dan akhirnyaa Rendy dan Aurel ditangkap. /Grin/
Shamira Zee
Ayo Bram cepat selamatkan Zenna /Sob/
Shamira Zee
Wah Zenna dalam bahaya ini... apa Bram bisa menolong tepat waktu? /Scare/
sryharty
orang jahatnya banyak banget
La Rumi: biar polisi ada kerjaan dan penjaranya penuh sampai meleduk kak
total 1 replies
Lord Aaron
Orang kaya ditangkap ngaruh gak sih? Gak kayaknya. Paling ntar juga bebas.
La Rumi: tergantung duit ya kak
total 1 replies
Nyonya Billy
Waduh...
Nyonya Billy
Racun lagi...?
Nyonya Billy
Gimana ini konsepnya... tukar ranjang apa gimana? 😅
La Rumi: tukar duit kak /Facepalm/
total 2 replies
Shamira Zee
Jadi pewaris dan orang kaya ternyata gak enak ya... duh konfliknya makin pelik ini. Dan Paman Pandu kenapa... apa diracun? Makin ke sini makin dar der dor ceritamu, thor 👍
Shamira Zee
Wee dar der dor sekali ini... mamanya Zenna baik dan manis, tapi sayang hidupnya tragis. Pandu juga. Dan apa-apaan itu Rudra nyuruh anaknya main tebar benih aja... Rendy ini sintingnya nurun mbahnya ya? /Shame/
Shamira Zee
Lhoo ada apa antara om-nya rendy dan ibunya zenna?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!