NovelToon NovelToon
Target

Target

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maëlle, Oh Maëlle

Perjalanan itu terasa seperti dua jam yang diperas sampai tinggal satu garis napas.

Pickup putih melaju di jalan darat menuju London dengan kecepatan yang membuat perut Fred naik turun. Mercer mengemudi seperti orang yang tidak sedang mengejar waktu—melainkan sedang melawan jam pasir yang bocor. Setiap tikungan diambil terlalu tajam, setiap lampu merah diperlakukan seperti saran, bukan aturan.

Fred duduk kaku di kursi penumpang, tangan menempel di dashboard, berusaha tidak memikirkan apa pun selain satu kalimat yang terus berulang di kepalanya: tolong jangan terlambat.

Mercer tidak banyak bicara. Rahangnya mengeras sejak telepon itu. Matanya tidak pernah benar-benar lepas dari jalan. Sesekali ia melirik kaca spion, memindai, seperti menghitung bayangan yang mungkin mengikuti.

Dua jam. Atau lebih. Fred kehilangan ukuran waktu. Semua terdengar seperti mesin, ban, dan detak di dalam dada.

Akhirnya Mercer berkata, pelan tapi berat: “Aku harap belum terlambat.”

Fred menelan ludah. “Dia separah apa?”

Mercer tidak menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya, ia melakukan sesuatu yang membuat darah Fred turun dingin.

Tanpa mengalihkan pandangan dari jalan, Mercer mencondongkan tubuh sedikit dan membuka panel kecil di bawah kaki Fred—bagian lantai yang Fred kira hanya tempat menyimpan barang.

Panel itu terbuka.

Di dalamnya ada ruang sempit berisi benda-benda yang tidak seharusnya ada di mobil biasa: beberapa pistol, magazen, dan beberapa benda bulat dengan pin—granat.

Fred menatapnya, napasnya berhenti.

Mercer berkata dengan nada yang tidak memberi ruang untuk bercanda, “Ambil satu. Untuk berjaga-jaga.”

Fred membuka mulut. “Aku… aku bukan—”

“Bukan waktunya ragu,” potong Mercer.

Kata-kata itu menekan seperti tangan di dada. Fred merasakan jari-jarinya gemetar. Tapi di belakang gemetar itu ada memori lain: Léa, pisau, rumah, dua tubuh tergantung, dan fakta bahwa dunia ini tidak peduli Fred siapa.

Ia menelan ludah, lalu meraih satu pistol.

Logamnya dingin, berat, nyata.

Tangannya terasa salah memegangnya—seperti memegang benda yang tidak pantas masuk dalam hidupnya. Tapi ia menggenggam lebih kuat.

Mercer melirik sekilas. “Buka kokangnya.”

Fred berkedip. “Apa?”

Mercer memberi contoh tanpa menoleh lama—satu tangan memegang setir, tangan lain melakukan gerakan cepat, ringkas: menarik slide dan melepasnya kembali.

“Begitu,” kata Mercer. “Kalau kamu harus pakai, kamu tidak punya waktu berpikir.”

Fred meniru. Tangan kirinya kaku, tapi ia memaksa. Slide tertarik, bunyi klik kecil terdengar. Itu bunyi yang membuat kepalanya panas.

Fred menatap pistol di tangannya.

Ini pertama kalinya Fred memegang pistol sungguhan. Terasa seperti takut terpencet keras dan Meletus. Mercer menyarankan agar jari telunjuk jangan di triger.

Kalau ini buruk… mungkin ini hari terakhirnya.

Pickup menembus jalan-jalan London yang mulai padat. Mercer memotong jalur, belok mendadak, masuk ke area yang semakin kumuh—deretan bangunan tua, pagar logam, dan lorong-lorong sempit yang membuat kota terasa seperti labirin.

Lalu Mercer mengerem keras di dekat area tempat sampah besar, seperti belakang gudang atau kompleks industri kecil.

Ada lima gerobak sampah besar berderet.

Tidak ada orang. Tidak ada kamera yang terlihat jelas.

Mercer turun cepat.

“Jangan keluar kecuali aku bilang,” kata Mercer.

Fred mengangguk kaku. Pistol masih di tangannya, disembunyikan di bawah jaket, tapi ia merasa seluruh dunia bisa melihatnya.

Mercer membuka salah satu gerobak sampah.

Dan saat tutupnya terangkat, bau busuk menerkam udara—campuran sisa makanan dan plastik basah. Fred hampir muntah hanya dari jarak itu.

Satu Pelajaran tertanam di otak Fred, siapa menyangka ada orang bersembunyi di dalam bak sampah. Yang terlihat tidak di sukai manusia justru di situ tempat berbahaya.

Bagaimana Maelle mengambil tempat bersembunyi disitu, bukan tempat sembunyi yang lain.

Fred melihat Mercer tidak bereaksi sampah, tidak menutup hidung. Ia meraih sesuatu di dalam, seperti menarik tubuh dari lubang gelap.

Fred menahan napas ketika sosok itu muncul.

Maëlle. Dengan aroma yang berbeda.

Tubuhnya lemas. Rambutnya basah. Wajahnya pucat, lebih pucat daripada saat Fred pertama kali melihatnya di gang. Jaketnya robek di beberapa tempat. Ada noda gelap di mana-mana—darah yang mengering dan darah yang masih baru.

Fred merasakan dada seperti runtuh.

Mercer mengangkat Maëlle dengan cara yang membuatnya terlihat bukan sekadar kuat, tapi terbiasa membawa beban manusia. Ia memasukkannya ke kursi belakang dengan cepat, hati-hati, seperti mengangkat pasien trauma.

“Maëlle,” Fred berbisik, tanpa sadar.

Tidak ada respon.

Mercer kembali ke kursi pengemudi. “Kita pergi.”

Mobil bergerak lagi, lebih cepat daripada sebelumnya. Namun hanya sebentar. Mobil Kembali berhenti di dawah bayangan gelap.

Fred menoleh ke belakang. Maëlle terbaring miring, napasnya… ada, tapi tipis. Dadanya naik turun pelan seperti orang yang terlalu lelah untuk hidup.

Mercer membuka laci di bawah jok sopir. Di sana ada peralatan medis—lebih banyak daripada yang seharusnya dimiliki orang biasa: perban, jarum suntik, cairan antiseptik, alat kecil seperti stapler kulit, dan beberapa ampul.

Mercer bekerja tanpa drama. Tangannya bergerak cepat, fokus, seperti dokter di ruang gawat darurat. Ia memeriksa nadi Maëlle, menekan titik pendarahan, memasang balut baru, menyuntikkan sesuatu dengan gerakan yang terlalu yakin untuk sekadar “dokter desa.”

Fred duduk diam, memaksa dirinya tidak mengganggu. Tapi pikirannya berputar:

Mercer bukan dokter biasa.

Dan ini bukan pickup biasa.

Mercer mengangkat mata ke kaca spion beberapa kali, memindai jalan di belakang.

“Hati-hati,” gumam Mercer—bukan kepada Fred, mungkin kepada dirinya sendiri. “Tidak ada yang mengikuti.”

Fred menelan ludah. “Kamu yakin?”

Mercer tidak menjawab, tapi cara ia berkendara berubah: tidak lagi sekadar cepat, melainkan licin. Ia mengambil jalur yang meminimalkan kemungkinan dibuntuti, memotong rute, masuk jalan kecil, keluar lagi, seperti menggoyang ekor yang tidak terlihat.

Setelah beberapa puluh menit yang terasa seperti jam, mereka akhirnya meninggalkan area kota yang padat dan kembali menuju rumah.

Ketika pickup berhenti di halaman Mercer, Fred baru sadar bahunya sakit karena ia menahan tubuh tegang terlalu lama.

Mercer turun duluan, membuka pintu belakang, mengangkat Maëlle lagi. Fred refleks keluar membantu, tapi Mercer menatapnya cepat.

“Pegang pintu. Jangan sentuh luka kalau kamu tidak tahu,” kata Mercer.

Fred menahan diri, mengikuti perintah, memegang pintu ruang praktik agar Mercer bisa masuk.

Mereka membawa Maëlle ke ruang praktik—ruangan yang terlihat normal dari luar. Tapi begitu Mercer menutup pintu dan menggeser satu panel di dinding, Fred melihat lagi: ada ruang rahasia lain.

Panel terbuka, mengungkap ruangan kecil yang… membuat Fred terpaku.

Di dalamnya ada peralatan medis yang biasanya hanya ia lihat di rumah sakit: monitor jantung yang menampilkan grafik, alat bantu napas, defibrillator, pacu jantung eksternal, tabung oksigen, bahkan rak dengan cairan infus dan alat steril.

Ini bukan “dokter umum”.

Ini seperti ruang resusitasi kecil.

Mercer meletakkan Maëlle di atas ranjang pemeriksaan yang lebih lengkap, lalu langsung bekerja. Ia memasang sensor, memeriksa grafik, mengatur alat.

Maëlle tidak sadar. Tubuhnya penuh luka—potongan, memar, dan noda darah. Bajunya menempel di kulit.

Mercer mengambil gunting medis.

Fred menoleh cepat, merasa panas di wajah. Bagian dirinya yang masih normal menolak “melihat” momen itu. Ia tahu Mercer harus menggunting pakaian Maëlle untuk memeriksa luka, tapi Fred tidak mau menjadi penonton yang tidak pantas.

“Aku… aku di luar,” kata Fred pelan.

Mercer tidak menoleh. “Bagus. Jangan buat ruangan ini ramai.”

Fred keluar, menutup pintu dengan tangan gemetar.

Di koridor, rumah kembali sunyi, tapi kini sunyinya berbeda: sunyi yang dipenuhi bunyi samar peralatan medis dari balik pintu—bunyi bip… bip… yang menjadi musik paling mengerikan sekaligus paling menenangkan bagi calon dokter.

Fred berdiri di depan pintu itu beberapa detik, ingin masuk, ingin membantu, ingin jadi berguna. Tapi Mercer benar: ramai hanya akan mengganggu.

Fred berjalan ke ruang tamu, duduk di sofa, pistol yang tadi ia pegang kini terasa seperti benda asing yang membakar di saku. Ia mengeluarkannya, meletakkannya di meja, lalu menatapnya dengan mata kosong.

Kepalanya dipenuhi pertanyaan.

Siapa Mercer?

Dokter, jelas. Tapi dokter macam apa punya defibrillator di rumah? Punya ruang rahasia dan sistem monitor CCTV? Punya senjata dan granat di bawah lantai pickup?

Bukan hanya “dokter.”

Bukan hanya “pemilik kafe.”

Mercer… seperti orang yang dibentuk oleh dunia yang sama dengan Maëlle—hanya dengan wajah berbeda.

Fred memejamkan mata. Ia mendengar lagi bunyi monitor dari balik pintu.

Bip… bip… bip…

Setiap bunyi itu seperti hitungan mundur.

Dan untuk pertama kalinya, Fred menyadari bahwa hidupnya sekarang bergantung pada dua orang asing:

Satu pembunuh yang memilih melindunginya.

Satu “dokter” yang mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang ia akui.

Fred membuka mata, menatap pintu ruang praktik yang tertutup rapat.

Di balik pintu itu, Mercer berjuang melawan luka dan waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!