NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sini Yuk

Sore hari.

Aku rebahan di kasur, menatap langit-langit kamar yang terasa… kosong. Tidak ada yang benar-benar ingin kulakukan. HP di tanganku sudah beberapa kali kubuka, tapi tidak ada yang menarik.

Aku membuka chat.

Nama itu ada di sana.

Cila.

Jariku sempat berhenti di layar. Entah mau mengetik apa. Beberapa detik berlalu, lalu aku mengunci HP lagi tanpa jadi mengirim apa-apa.

Aku menghela napas pelan, lalu membalikkan badan menghadap dinding.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Beberapa saat kemudian, aku bangkit duduk. Tanganku meraih HP lagi. Kali ini, aku tidak berhenti lama.

Aku mengetik cepat.

“Cil, sibuk gak.”

Begitu terkirim—

jantungku langsung berdegup lebih cepat.

Refleks, aku langsung mengunci HP dan menjatuhkannya ke samping. Aku menarik bantal, lalu menutup wajahku dengan itu.

“Ngapain sih gue…” gumamku teredam.

Beberapa detik terasa lama.

Terlalu lama.

*Getar.*

Aku langsung bangkit.

Tanganku meraih HP cepat, tapi anehnya… aku tidak langsung berani melihat. Aku menutup sebagian wajahku dengan tangan, menyisakan sedikit celah di antara jari-jari.

Pelan-pelan…

aku membuka mata.

Sedikit.

Lalu sedikit lagi.

Dan di layar itu—

“Engga, sini yuk.”

Aku terdiam satu detik.

Dua detik.

Lalu—

“YESSS!”

Aku langsung meloncat di atas kasur, menahan suara sekuat mungkin sambil memukul bantal berkali-kali.

Tanpa sadar, senyumku lebar banget sampai pipi terasa pegal.

Aku buru-buru turun dari kasur, nyaris terpeleset karena terlalu cepat. Tanganku langsung meraih sandal, lalu membuka pintu kamar dengan tergesa.

Tanpa pikir panjang—

aku keluar.

Begitu keluar dari kamar, langkahku langsung terhenti.

Di ruang tengah, Kak Marisa sudah duduk santai di sofa. TV menyala, tapi perhatiannya jelas bukan ke sana. Dia sibuk main HP sambil memeluk bantal.

“Yaelah… ada Kak Marisa lagi,” batinku.

Aku menarik napas pelan, berusaha terlihat biasa saja. Lalu aku mulai menuruni tangga dengan langkah pelan, berharap bisa lewat tanpa menarik perhatian.

Tapi tentu saja… harapanku terlalu tinggi.

“Tumben keluar,” suaranya terdengar santai. “Mau ke mana kamu?”

Aku berhenti sebentar, lalu menjawab sekenanya, “Ke belakang… ngadem.”

Hening sepersekian detik.

Lalu—

“CIEE MAU KETEMU CI—”

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, aku langsung bergerak cepat. Tanganku refleks menutup mulutnya dari belakang.

“Berisik! Malu!” bisikku cepat sambil menoleh ke kanan-kiri, meskipun jelas tidak ada siapa-siapa.

Kak Marisa malah tertawa di balik tanganku, berusaha melepaskan diri. “Pphaha—”

“Ih, nyebelin,” gumamku sambil melepasnya.

Aku langsung menjauh, pura-pura santai berjalan ke arah dapur.

Baru beberapa langkah—

“CIEEE—!”

Aku berhenti.

Menghela napas.

Pelan-pelan aku menoleh.

Tanganku meraih karet gelang yang ada di meja, lalu kutarik dan kubidikkan ke arahnya.

“Diam nggak,” ucapku datar, tapi serius.

Kak Marisa langsung mengangkat tangan, masih sambil tertawa. “Iya ampun, iya… ampun!”

Aku menurunkan tangan, lalu berbalik lagi.

Kali ini benar-benar jalan.

Tanpa menoleh.

Langsung ke belakang rumah.

Pintu besi belakang kubuka pelan.

Langkahku masuk beberapa langkah, lalu berhenti.

Di teras, Cila sedang duduk berhadapan dengan ayahnya. Sepertinya mereka sedang ngobrol santai.

Aku mendekat.

“Sore, Om,” sapaku.

Ayah Cila langsung menoleh, lalu tersenyum lebar. “Rendraa… ke mana saja kamu, baru kelihatan?”

“Di rumah saja, Om,” jawabku santai.

“Gak bosen di rumah terus?” tanyanya lagi.

Aku tersenyum kecil. “Bosen sih, Om.”

“Kenapa gak main ke sini saja? Bisa nemenin Om main catur,” katanya sambil tertawa ringan.

Aku langsung mengangguk. “Wah, boleh tuh, Om.”

“Ekhem.”

Suara itu memotong.

Aku melirik ke samping.

Cila.

Dia menatap ke arah lain, ekspresinya datar, tapi jelas… tidak suka arah pembicaraan ini.

Ayahnya seolah tidak peduli.

“Sekarang nih,” lanjutnya santai.

Aku sedikit terkekeh. “Boleh saja, Om.”

Jujur saja, aku memang dulu sering main catur. Jadi bukan ide yang buruk.

“Ya sudah, aku ke kamar saja,” ucap Cila tiba-tiba.

Dia berdiri.

Langkahnya pelan, tapi nadanya… dingin.

Ayahnya langsung menoleh. “Eh, bentar…”

Cila berhenti, tapi tidak menoleh.

“Om baru ingat, ada yang belum dikerjain,” katanya sambil bangkit. “Kalian saja dulu ya.”

Aku sedikit bingung.

Cila diam beberapa detik.

Lalu… dia menghela napas pelan.

Dan kembali duduk.

Aku melirik ke arahnya.

Cila duduk di sampingku, tapi perhatiannya seperti sengaja dipusatkan ke layar HP. Jarinya bergerak pelan, seolah benar-benar sibuk.

“Lama banget,” ucapnya tiba-tiba. Matanya tetap ke HP. “Abis ngapain aja?”

Wah… ini jelas bukan sekadar nanya.

“Ooh, tadi ada hambatan sedikit,” jawabku sambil nyengir tipis.

Tidak ada respon.

Aku menoleh ke arahnya lagi.

“Kamu ngambek?” tanyaku hati-hati.

“Ngga,” jawabnya singkat. Dia sempat melirikku sepersekian detik, lalu kembali lagi ke HP.

Aku terdiam sebentar.

Mataku bergerak ke sekitar, mencari sesuatu. Apa saja. Yang bisa… mengubah suasana ini sedikit.

“Tunggu bentar ya… aku ke belakang dulu,” kataku sambil berdiri.

Dia tidak menjawab.

Aku berbalik, berjalan beberapa langkah menjauh. Tapi bukannya benar-benar ke belakang, aku malah berhenti di dekat taman kecil. Tanganku langsung memetik satu bunga kecil yang terlihat cukup segar.

“Semoga berhasil…” gumamku pelan.

Aku kembali.

Cila masih di posisi yang sama. Masih dengan HP di tangannya. Tapi entah kenapa… terlihat lebih diam dari tadi.

“Cil…” panggilku pelan.

“Hm,” jawabnya tanpa menoleh.

“Lihat sini dong.”

Dia akhirnya menoleh, sedikit mengangkat dagu.

Tanpa banyak kata, aku mendekatkan tangan, lalu menyelipkan bunga kecil itu di dekat telinganya.

Hening sepersekian detik.

“Senyum dong,” kataku santai.

Cila terdiam.

Lalu…

sudut bibirnya pelan-pelan naik.

“Ih… apa sih,” gumamnya, menunduk sedikit. Wajahnya berubah, tidak seperti tadi.

Aku ikut tersenyum kecil.

“Nah gitu,” kataku ringan. “Kamu tuh lebih cantik kalau senyum.”

“Iii…” dia langsung memalingkan wajah, jelas menahan malu.

Beberapa detik hening.

Lalu dia bicara lagi, kali ini pelan, tapi nadanya masih menyisakan sesuatu.

“Lagian… udah lama. Terus ke sini malah mau main catur sama papa.”

Aku terdiam.

Oh.

Jadi itu.

Aku masih menatapnya beberapa detik.

“Gimana… sakit perut kamu? Sudah mendingan?” tanyaku pelan.

Cila mengangguk kecil. “Mendingan.”

Nada suaranya lebih ringan dari tadi.

Aku mengangguk ikut, lalu melirik ke sekitar.

“Ayah kamu ke mana?” tanyaku.

Cila langsung menoleh. “Kenapa? Mau ngobrol sama papa aku aja?”

Aku langsung terkekeh kecil, menggaruk belakang kepala. “Hehe… engga, bukan gitu.”

Dia menatapku sebentar. Lalu pandangannya kembali ke depan.

Hening sejenak.

Angin sore lewat pelan.

“Bosen ya...” ucapnya tiba-tiba.

Aku menoleh.

Cila sudah berdiri.

“Gimana kalau kita jalan sore saja,” lanjutnya santai. “Pakai mobil aku.”

Aku sedikit terkejut. “Kamu yang bawa?”

Dia mengangkat alis tipis. “Iyalah.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil.

“Boleh.”

“Ya udah, yuk,” ajak Cila singkat.

Kami masuk ke dalam rumah.

“Kamu tunggu di depan ya, aku ambil kunci dulu,” katanya sambil berjalan ke arah dalam.

Aku mengangguk kecil. “Iya.”

Aku berdiri di depan, tangan masuk ke saku, menunggu. Entah kenapa… rasanya agak beda. Bukan canggung, tapi lebih ke arah… deg-degan yang nggak jelas.

Tak lama, Cila keluar sambil memutar kunci mobil di jarinya.

“Ayo,” ucapnya santai.

Kami berjalan ke arah garasi.

Mobilnya sudah terparkir rapi di sana.

Cila membuka pintu sisi pengemudi, lalu menoleh ke arahku.

“Mau kamu yang bawa?” tawarnya.

Aku langsung menggeleng cepat. “Jangan. Aku belum pernah nyetir.”

Cila tersenyum tipis, seperti menahan sesuatu. “Ya udah.”

Kami masuk ke dalam mobil.

Pintu tertutup.

Mesin menyala.

Perlahan, mobil mulai bergerak keluar dari garasi.

Awalnya, aku agak tegang. Tanganku bahkan sempat mencengkeram bagian kursi tanpa sadar. Mataku fokus ke depan, memperhatikan setiap gerakan mobil.

Tapi setelah beberapa menit…

aku mulai santai.

Cara nyetir Cila halus. Nggak buru-buru, nggak kaku. Bahkan… terasa familiar.

Aku melirik ke arahnya sekilas.

Nggak beda jauh sama Kak Marisa kalau lagi nyetir.

“Udah berapa lama kamu bisa nyetir?” tanyaku.

Cila tetap fokus ke jalan. “Lumayan lama. Tapi sekarang jarang sih… ngapain juga kalau nggak perlu.”

Aku mengangguk pelan.

Hening sebentar.

Suara mesin mobil, angin dari jendela sedikit terbuka, dan jalanan sore yang mulai ramai jadi satu.

Aku menoleh ke luar, memperhatikan sekitar.

Lalu entah kenapa…

ingatanku kembali ke satu hal.

Waktu di danau.

Aku kembali menoleh ke arah Cila.

“Oh iya… waktu di danau kamu bilang mobil ini bukan keinginan kamu,” ucapku pelan. “Emangnya kamu pengen apa?”

Cila tidak langsung menjawab.

Tangannya tetap di setir. Matanya lurus ke depan.

Beberapa detik berlalu.

“Aku pengen punya adik.”

Jawabannya singkat.

Tapi…

aku langsung terdiam.

Tidak ada yang langsung bisa kubalas.

Mobil tetap melaju.

Dan untuk beberapa saat…

tidak ada yang berbicara lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!