Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
"Ini semua gara-gara kamu! Kamu yang sudah buat kami penyakitan seperti ini! Cepat beri kami uang biaya perawatan, lalu kami akan pergi cari rumah sakit besar yang lebih baik!" teriak Pak Adi.
Abram mengangkat dagunya dengan tegas, matanya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
"Aku tidak punya uang! Penyakit yang kalian derita adalah azab karena kalian yang membakar rumahku dan mengusirku dari kampung! Saat kalian membutuhkan bantuan, baik itu untuk membangun rumah, mencari pekerjaan, atau bahkan mengantar anak-anak kalian ke rumah sakit, kalian selalu datang padaku dengan senyum manis. Tapi ketika aku sakit, kalian malah memakiku dan menghinaku di depan seluruh kampung! Sekarang kalian harus sadar, kenapa justru penyakit ini yang datang padamu!" kata Abram. Suaranya yang rendah namun jelas terdengar oleh semua orang di sekitar.
"Beraninya kau melawan orang yang lebih tua dari mu! Dasar tidak sopan!" Pak Adi mengangkat suaranya hingga menggelegar di lobi rumah sakit yang semakin ramai.
Tangan kirinya yang terbengkalai karena luka yang mengeluarkan nanah sedikit berdarah akibat digenggam terlalu erat.
Dokter Rahmat menghela napas dalam-dalam. Wajahnya yang biasanya ramah kini penuh dengan ketegasan.
"Cukup Pak, saya tidak ingin ada keributan di rumah sakit ini. Tempat ini untuk merawat pasien, bukan untuk berkelahi. Jika Anda dan keluarga tidak mau menerima perawatan sesuai prosedur kami, silakan pergi. Mungkin rumah sakit ini memang tidak cocok dengan selera Anda." Kesabaran yang sudah terbatas akhirnya habis setelah berjam-jam menghadapi sikap keras Pak Adi.
Ia kemudian menoleh ke arah Abram yang berdiri tenang di sebelahnya. "Ayo Abram, kita pergi. Ada pasien lain yang lebih membutuhkan perhatian kita di ruang pemeriksaan." Tangan Dokter Rahmat sedikit menyentuh bahu Abram sebagai tanda untuk mengikuti langkahnya.
Pak Adi tidak mau kalah suara. "Dasar dokter nggak tanggung jawab! Rumah sakit ini adalah rumah sakit terburuk yang pernah ada di kota ini! Lihat saja nanti, rumah sakit ini akan bangkrut dan kamu akan tidak punya pekerjaan!" Makiannya terdengar kasar.
Mereka bertujuh berjalan keluar dari rumah sakit dengan langkah goyah. Beberapa pengunjung yang masih berada di lobi tidak bisa menahan rasa kesal.
"Huuuuuuu banyak gaya! Udah sakit tapi banyak tingkah!" teriak seorang ibu yang sedang menunggu giliran anaknya diperiksa.
"Mending nggak usah ditolong aja, biarkan mereka mati di tengah jalan kalau terus seperti itu!" ejek pria lain yang baru saja ma pergi.
Setelah mereka pergi, kepala perawat langsung memerintahkan dua orang petugas kebersihan untuk membersihkan lantai.
"Bersihkan sampai bersih sekali! Gunakan cairan disinfektan khusus, nanahnya bisa menular jika terkena kulit yang terbuka!" perintahnya dengan tegas. Dalam waktu singkat, lantai yang tadi kotor karena cairan dan nanah Bu Sri kembali bersih dan aman untuk dilalui.
Abram mengikuti Dokter Rahmat menuju ruang pemeriksaan di lantai dua. Di koridor yang sunyi, ia akhirnya membuka suara.
"Maaf ya Dokter Rahmat, Anda harus melihat hal yang tidak seharusnya dilihat. Saya dan mereka punya konflik yang sangat berat dari dulu." Wajahnya menunjukkan rasa bersalah karena membuat dokter kesusahan.
Dokter Rahmat berhenti dan menoleh ke arahnya, kemudian menepuk pundak Abram dengan senyum hangat.
"Kamu ngomong apa sih? Sebenarnya saya yang harus minta maaf. Saya tidak sengaja memanggilmu dan malah membuat kamu bertemu dengan mereka. Tapi ya sudahlah, semua sudah berakhir sekarang." kata dokter Rahmat merasa bersalah.
Baru saja mereka memasuki ruang pemeriksaan, suara seorang perawat berlari mendekat dari arah lobi.
"Dokter! Dokter Rahmat! Ada seorang pasien dari kelompok yang baru saja pergi datang kembali! Dia bilang mau diobati dan siap diisolasi!" kata suster itu dengan cepat.
Abram dan Dokter Rahmat segera berbalik badan. Mereka melihat Pak Aris datang dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca. Langkahnya goyah, dan bagian lengannya yang terkena penyakit sudah mulai membengkak lebih parah.
Saat sampai di depan mereka, Pak Aris langsung terlutut di lantai keras koridor rumah sakit.
"Abram... Abram... Aku benar-benar minta maaf ya... Tak seharusnya aku ikut-ikutan dengan Pak Adi dan mereka membakar rumahmu. Setelah kamu pergi dan penyakit ini menyerang kita, aku mulai merenungkan semua yang terjadi." Tangannya yang penuh luka mengangkat sedikit, seolah ingin menyentuh kaki Abram namun tak berani.
"Kamu pernah membantu aku ketika istriku melahirkan dengan sulit, bahkan memberikan uang untuk biaya rumah sakit. Tapi aku malah mengkhianati kamu karena takut dikucilkan Pak Adi. Ini memang azab yang harus aku terima karena mengusirmu dari kampung... Aku benar-benar minta maaf..." katanya sesenggukan
di tunggu kelanjutannya