NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh!!

Menikah Dengan Musuh!!

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: NaNa/ji-eun

not allowed to copy , cerita ini 100% hasil dari pikiran ku sendiri, jadi jangan copy cerita ini,

cerita ini berjudul *menikah dengan musuh!! *
pemeran perempuan dalam cerita ini sangat membenci seorang lelaki yang sangat nakal dan sering bolos waktu sma, dan nama nya adalah ALRESCHA dan kerap di panggil al/reska

ayana/ pemeran utama dari cerita ini sangat membenci al,namun al menyukai nya dari zaman sma hingga kuliah, namun al sama sekali tidak pernah mengungkapkan cinta nya kepada ayana, dan sekarang dia di pertemukan lagi, dan di paksa oleh kedua orang tua mereka untuk menikah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaNa/ji-eun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15

Baru saja Rezky hendak membalas ucapan Al dengan nada yang lebih tinggi, sebuah taksi berhenti mendadak di depan pagar. Alya turun dengan tergesa-gesa, wajahnya tampak sembab dan penuh kecemasan. Ia langsung berlari masuk ke halaman, menengahi ketegangan antara suaminya dan Al.

"Cukup, Mas! Hentikan semua ini!" teriak Alya sambil menarik lengan Rezky menjauh dari Al.

Rezky tersentak. "Alya? Kenapa kamu ke sini? Aku lagi urus kepulangan anak kita!"

"Dengan cara begini? Membawa pengacara ke rumah adikku sendiri?" Alya menatap Rezky dengan tatapan kecewa yang mendalam. Ia kemudian menoleh ke arah pengacara itu. "Pak, tolong tinggalkan kami.

 Saya batalkan semuanya. Saya tidak mau urusan keluarga ini jadi urusan hukum."

Pengacara itu mengangguk kaku, merasa situasinya sudah tidak kondusif, dan segera bergegas pergi meninggalkan halaman rumah.

Alya beralih menatap Ayana yang masih mendekap Reva erat. Melihat Reva yang gemetar ketakutan di pelukan Ayana, tangis Alya kembali pecah. Ia jatuh terduduk di hadapan Ayana, tidak peduli dengan debu di teras.

"Na... maafin Mas Rezky. Maafin aku..." rintih Alya. "Aku nggak tahu kalau dia bakal senekat ini. Semalaman aku mikirin kata-kata kamu, Na. Aku sadar, aku bukan ibu yang baik. Aku egois kalau langsung bawa Reva pergi jauh."

Rezky mencoba memprotes, "Tapi Alya, kita sudah rencanakan ini!"

"Rencana apa, Mas? Rencana bikin anak kita sendiri trauma seumur hidup?" bentak Alya pada suaminya. "Lihat Reva! Dia bahkan nggak mau liat muka kita! Kamu mau bawa dia dalam keadaan dia benci sama kita?"

Melihat situasi yang semakin kacau dan perilaku Rezky yang tidak terkendali, Papa Al akhirnya mengambil keputusan tegas. Sebagai kepala keluarga, ia tidak ingin cucu dan anak-anaknya terus menerus diteror oleh ancaman yang tidak berdasar.

"Cukup! Tidak perlu ada drama di halaman rumah saya lagi!" suara Papa Al menggelegar, menghentikan isak tangis Alya dan kemarahan Rezky.

Papa Al menatap Rezky dan Alya dengan tatapan tajam yang sangat berwibawa. "Rezky, kamu bawa pengacara ke sini untuk mengancam? Bagus. Kalau begitu, kita selesaikan semuanya di Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri sekalian."

Rezky tertegun, "Maksud Papa?"

"Kita buat gugatan resmi terkait hak asuh anak," tegas Papa Al. "Saya akan pastikan pengacara keluarga kami membeberkan bukti penelantaran anak yang kalian lakukan selama lebih dari setahun. Kita lihat apakah hakim akan memberikan anak kepada orang tua yang membiarkan anaknya diasuh orang lain tanpa kabar, atau kepada Ayana dan Al yang sudah memberikan nyawa mereka untuk Reva."

Alya terbelalak, "Pa, tolong jangan sampai ke pengadilan..."

"Ini satu-satunya cara agar kalian tidak semena-mena!" sahut Papa Al. "Selama proses hukum berjalan, Reva akan tetap di sini di bawah perlindungan kami. Jika kalian berani menyentuh atau membawa Reva secara paksa sebelum ada putusan hakim, saya sendiri yang akan melaporkan kalian atas dugaan penculikan."

Al menggenggam tangan Ayana erat, merasa lega karena ayahnya turun tangan dengan jalur yang legal dan kuat. Ayana pun merasa jauh lebih aman; ia tahu posisi hukum mereka sangat kuat karena mereka memiliki bukti biaya hidup, kesehatan, dan saksi mata tentang siapa yang sebenarnya membesarkan Reva.

"Sekarang, silakan pergi," usir Papa Al dengan dingin. "Siapkan pembelaan kalian di persidangan nanti. Jangan datang ke sini lagi kecuali ada surat panggilan resmi."

Rezky yang tadinya sombong kini tampak pucat. Ia sadar bahwa melawan keluarga Al di meja hijau bukan perkara mudah, apalagi dengan catatan buruknya sebagai orang tua yang menghilang. Dengan langkah gontai, ia menarik Alya pergi meninggalkan rumah, sementara Reva akhirnya mulai tenang dalam dekapan Ayana.

...****************...

Persiapan menghadapi persidangan pun dimulai dengan sangat serius. Al dan Ayana tidak ingin kecolongan sedikit pun, karena ini menyangkut masa depan Reva yang sudah mereka anggap sebagai belahan jiwa.

Malam itu, ruang kerja Papa Al dipenuhi dengan tumpukan berkas. Al dan Ayana duduk berhadapan dengan pengacara senior keluarga mereka.

"Kita harus mengumpulkan semua bukti pengasuhan nyata," ujar sang pengacara sambil mencatat. "Ayana, tolong kumpulkan semua nota pembelian susu, popok, hingga kuitansi pembayaran rumah sakit atas nama kamu atau Al selama setahun lebih ini."

Ayana mengangguk mantap. Ia segera membongkar laci dan binder khusus yang selama ini ia gunakan untuk mencatat pertumbuhan Reva. "Ini semua ada, Pak. Mulai dari jadwal imunisasi, catatan kenaikan berat badan Reva setiap bulan, sampai foto-foto momen penting Reva yang semuanya hanya ada kami berdua di sana."

Al pun menyerahkan sebuah flashdisk. "Di sini ada rekaman CCTV rumah selama setahun terakhir. Bisa dibuktikan bahwa Alya dan Rezky tidak pernah menginjakkan kaki di sini atau mengirimkan bantuan apa pun untuk Reva."

Papa Al menepuk bahu Al. "Bagus. Kita akan ajukan gugatan Hak Asuh Anak berdasarkan pasal Penelantaran Anak. Secara hukum, orang tua yang menelantarkan anaknya selama itu bisa kehilangan hak asuhnya, apalagi jika anak tersebut mengalami trauma saat bertemu mereka kembali."

Mendengar penjelasan hukum yang kuat, Ayana merasa bebannya sedikit terangkat. Ia melirik Reva yang sedang tertidur lelap di sofa ruang kerja, tampak sangat damai tanpa tahu bahwa "Papa" dan "Mama"-nya sedang berjuang mati-matian di meja hijau demi dirinya.

"Aku nggak akan biarin mereka ambil Reva cuma buat dijadiin pelengkap hidup mereka di sana," bisik Ayana pada Al.

Al menggenggam tangan Ayana erat. "Kita akan menang, Na. Pengadilan akan melihat siapa yang benar-benar memberikan cinta buat Reva."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hari persidangan pertama pun tiba. Suasana di Pengadilan Agama terasa sangat formal dan dingin. Ayana terus menggenggam tangan Al dengan erat, sementara Papa Al duduk tegak di samping mereka, memberikan kesan wibawa yang tak tergoyahkan.

Di seberang ruangan, Rezky tampak duduk dengan gelisah, sesekali membisikkan sesuatu kepada pengacaranya. Alya duduk di samping Rezky dengan kepala tertunduk, matanya sembab, seolah menanggung beban penyesalan yang luar biasa.

"Sidang perkara hak asuh anak dengan nomor register 123/Pdt.G/2026 dibuka," ucap Hakim Ketua sambil mengetuk palu tiga kali.

Pengacara keluarga Al langsung memaparkan bukti-bukti yang sangat telak. "Yang Mulia, klien kami, Al dan Ayana, telah mengasuh anak ini selama lebih dari satu tahun tanpa bantuan materiil maupun moril dari orang tua kandungnya. Kami memiliki bukti catatan medis, biaya pendidikan, hingga rekaman CCTV yang menunjukkan penelantaran nyata yang dilakukan oleh pihak tergugat."

Hakim kemudian menoleh ke arah Rezky dan Alya. "Saudara tergugat, apakah benar saudara tidak memberikan kabar atau nafkah selama periode tersebut?"

Rezky menjawab dengan nada tinggi yang terkesan membela diri, "Kami bekerja keras di luar kota untuk masa depan Reva, Yang Mulia! Kami hanya menitipkannya sebentar kepada keluarga."

"Menitipkan tanpa kabar selama setahun bukan lagi menitip, itu menelantarkan," potong Hakim dengan tegas, membuat Rezky terbungkam.

Ketegangan memuncak saat Hakim meminta kesaksian dari Alya. Ayana menahan napas, ia takut kakaknya akan berbohong demi membela suaminya. Namun, saat Alya berdiri, ia justru menatap Ayana dengan air mata yang mengalir.

"Yang Mulia..." suara Alya bergetar. "Apa yang dikatakan Ayana benar. Kami... kami memang bersalah. Saya sangat berterima kasih pada Ayana yang sudah menjadi ibu yang jauh lebih baik untuk Reva daripada saya sendiri. Saya tidak ingin Reva menderita karena ego kami."

Jawaban Alya membuat Rezky melotot tak percaya. "Alya! Apa-apaan kamu!" bentak Rezky di ruang sidang, yang langsung ditegur keras oleh Hakim.

Ayana merasa hatinya sedikit luluh melihat kejujuran kakaknya, namun ia tetap fokus pada tujuan utamanya: melindungi Reva. Persidangan pertama ini memberikan sinyal kuat bahwa kebenaran mulai berpihak pada mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!