Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 – Pertemuan Berbahaya
Arka berjalan beberapa langkah di belakang Livia ketika mereka meninggalkan lounge hotel. Suasana koridor menuju ruang pertemuan terasa jauh lebih sunyi dibandingkan lobi utama. Lampu-lampu dinding memancarkan cahaya lembut di sepanjang lorong, sementara lantai marmer memantulkan bayangan langkah mereka. Beberapa pria berjas hitam yang sebelumnya datang menjemput Livia berjalan di depan, seolah memastikan tidak ada orang lain yang mengganggu.
Arka merasa sedikit aneh berada di tengah situasi seperti ini. Beberapa jam yang lalu ia hanyalah pria biasa yang berjalan tanpa tujuan di bawah hujan setelah kehilangan pekerjaan dan hubungan. Sekarang ia berada di hotel mewah, berjalan menuju pertemuan bisnis yang bahkan tidak ia pahami. Semua ini terasa seperti mimpi yang terlalu aneh untuk disebut kebetulan.
Livia berhenti di depan sebuah pintu besar di ujung koridor. Ia menoleh sedikit ke arah Arka. “Jika kau merasa tidak nyaman, kau bisa menunggu di luar,” katanya dengan nada datar.
Arka mengangkat bahu. “Aku sudah sejauh ini. Akan terasa aneh kalau berhenti sekarang.”
Livia menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. Ia tidak mengatakan apa pun lagi ketika salah satu pria berjas membuka pintu ruang pertemuan.
Ruangan itu jauh lebih luas daripada yang Arka bayangkan. Sebuah meja panjang berada di tengah ruangan dengan kursi-kursi kulit mahal di sekelilingnya. Di ujung meja duduk seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih di sisi pelipisnya. Jas yang ia kenakan terlihat mahal, dan ekspresinya menunjukkan kepercayaan diri yang berlebihan.
Pria itu tersenyum ketika melihat Livia masuk.
“Akhirnya kita bertemu,” katanya.
Livia berjalan dengan tenang menuju kursi di seberang pria itu. Arka berdiri sedikit di belakangnya, mencoba terlihat setenang mungkin meskipun sebenarnya ia merasa seperti orang yang tidak seharusnya berada di ruangan ini.
“Langsung saja,” kata Livia dingin. “Apa yang ingin kau bicarakan?”
Pria itu menyilangkan jari-jarinya di atas meja. “Aku suka wanita yang langsung ke inti masalah,” katanya sambil tersenyum tipis. “Baiklah. Aku akan bicara langsung.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
“Perusahaanmu sedang berada di posisi yang cukup rapuh.”
Livia tidak bereaksi sedikit pun.
Pria itu melanjutkan, “Beberapa proyek besar kalian tertunda, dan beberapa investor mulai kehilangan kepercayaan.”
Arka bisa merasakan bahwa suasana di ruangan itu berubah menjadi tegang.
Namun Livia tetap terlihat tenang.
“Jika kau datang hanya untuk menyampaikan rumor, kita bisa mengakhiri pertemuan ini sekarang,” katanya.
Pria itu tertawa pelan.
“Tidak, tentu saja tidak. Aku datang untuk menawarkan solusi.”
Ia mengambil sebuah dokumen dari tasnya dan meletakkannya di atas meja.
“Bergabunglah dengan perusahaan kami.”
Arka mengangkat alisnya sedikit.
Livia hanya menatap dokumen itu tanpa menyentuhnya.
“Kau ingin aku menjual perusahaan keluargaku?” tanyanya dengan nada dingin.
“Bukan menjual,” jawab pria itu santai. “Menggabungkan.”
Ia tersenyum lebar.
“Bayangkan saja. Dua perusahaan besar menjadi satu. Kekuasaan yang lebih besar, keuntungan yang lebih besar, dan tentu saja… lebih sedikit risiko.”
Livia akhirnya mengambil dokumen itu dan membacanya sekilas.
Beberapa detik kemudian ia menutupnya kembali.
“Tidak.”
Jawabannya singkat dan tegas.
Pria itu tidak terlihat terkejut.
“Pikirkan lagi. Situasi perusahaanmu tidak sekuat yang kau kira.”
Livia berdiri dari kursinya.
“Aku tidak tertarik.”
Arka memperhatikan percakapan itu dengan tenang. Meskipun ia tidak mengerti semua detail bisnis yang mereka bicarakan, ia bisa merasakan satu hal dengan jelas: pria ini tidak datang dengan niat baik.
Saat itulah layar sistem tiba-tiba muncul di depan matanya.
[Situasi dianalisis.]
Arka mengerutkan kening sedikit.
Tulisan berikutnya muncul.
[Kemungkinan tekanan bisnis: 87%]
Ia mengedipkan mata.
“Tekanan?” gumamnya pelan.
Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, pria di ujung meja tiba-tiba berdiri juga.
“Jangan terburu-buru pergi,” katanya.
Nada suaranya sekarang terdengar lebih dingin.
“Aku belum selesai.”
Livia menatapnya tanpa emosi.
“Aku sudah selesai.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Kau yakin?”
Ia menjentikkan jarinya.
Beberapa pria bertubuh besar yang sebelumnya berdiri di dekat pintu langsung bergerak menutup jalan keluar.
Arka langsung mengerti situasinya.
Ini bukan sekadar pertemuan bisnis.
Ini tekanan.
Mungkin bahkan ancaman.
Livia juga tampaknya menyadarinya. Namun ekspresinya tetap tenang.
“Apa maksudmu melakukan ini?” tanyanya.
Pria itu berjalan perlahan mengelilingi meja.
“Aku hanya ingin memastikan bahwa kau benar-benar mempertimbangkan tawaranku.”
Arka menyilangkan tangan.
“Ini cara yang aneh untuk melakukan negosiasi.”
Semua orang di ruangan itu langsung menoleh ke arahnya.
Pria itu mengamati Arka dari atas sampai bawah sebelum tertawa kecil.
“Aku hampir lupa ada orang lain di ruangan ini.”
Ia mendekat beberapa langkah.
“Siapa kau sebenarnya?”
Arka tersenyum santai.
“Hanya seseorang yang tidak suka melihat negosiasi dilakukan dengan cara seperti ini.”
Pria itu menatapnya dengan mata menyipit.
“Kau terlihat terlalu santai untuk seseorang yang seharusnya takut.”
Arka mengangkat bahu.
“Mungkin karena aku tidak suka ditakut-takuti.”
Beberapa pria bertubuh besar di dekat pintu mulai bergerak maju sedikit.
Namun sebelum situasi berubah menjadi lebih buruk, layar sistem kembali muncul di depan mata Arka.
[Event aktif.]
[Lindungi target: Livia.]
Arka menarik napas pelan.
Ia tidak pernah terlibat dalam situasi seperti ini sebelumnya.
Namun entah kenapa, sejak sistem itu muncul dalam hidupnya, ia merasa seperti memiliki keberanian yang sebelumnya tidak pernah ia miliki.
Ia melangkah sedikit ke depan.
“Bagaimana kalau kita mengakhiri pertemuan ini dengan cara yang lebih damai?” katanya.
Pria itu tertawa keras.
“Damai?”
Ia menatap Arka dengan ekspresi meremehkan.
“Bocah, kau bahkan tidak tahu dengan siapa kau sedang berbicara.”
Arka tersenyum tipis.
“Mungkin benar.”
Ia melirik Livia sebentar.
“Tapi aku tahu satu hal.”
Arka kembali menatap pria itu dengan tatapan tenang.
“Wanita itu jelas tidak tertarik pada tawaranmu.”
Ruangan itu menjadi sunyi beberapa detik.
Kemudian pria itu tersenyum perlahan.
“Sangat menarik.”
Ia menatap Arka dengan mata tajam.
“Sepertinya malam ini akan menjadi lebih menyenangkan dari yang aku kira.”
Dan tanpa Arka sadari, situasi yang awalnya hanya pertemuan bisnis kini perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.