Suatu hari Kael ikut misi menutup Rift kecil.
Namun Rift itu berubah menjadi Rift Hitam — portal langka yang belum pernah tercatat.
Di dalamnya mereka menemukan kuil kuno dari dimensi lain.
Di tengah kuil ada artefak hidup yang disebut:
Core of Eclipse
Ketika semua orang mati diserang Abyssal, Kael menyentuh inti tersebut.
Dan dunia tiba-tiba berhenti.
Sebuah suara muncul:
“Host ditemukan. Sistem Evolusi Dimulai.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rehanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eclipse Breaker — chapter 20: Kenangan yang Terkubur
Langit Asterra mulai memudar menuju fajar.
Namun bagi Kael—
malam itu belum benar-benar berakhir.
Ia berdiri di atap gedung tinggi, menatap kota yang perlahan kembali hidup.
Sirine masih terdengar di kejauhan.
Lampu-lampu mulai menyala.
Orang-orang mulai berkumpul.
Dunia kembali berjalan.
Tapi pikirannya—
tidak.
“…Eclipse.”
Nama itu terasa semakin berat.
Bukan sekadar kekuatan.
Tapi sesuatu yang lebih dalam.
Lebih lama.
Lebih berbahaya.
Kael memejamkan mata.
“Masa lalu…”
“Kalau memang ada… tunjukkan.”
Sunyi.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada reaksi.
Namun—
tiba-tiba—
kepalanya terasa berdenyut.
DUUM
Sakit.
Seperti sesuatu dipaksa terbuka.
Kael terhuyung sedikit.
“Apa—?!”
Sistem muncul dengan cepat.
[SISTEM ECLIPSE]
Akses paksa terdeteksi
Fragmen memori tidak stabil
Detik berikutnya—
dunia di sekitarnya berubah.
Gelap.
Namun bukan kegelapan biasa.
Ini… lebih dalam.
Lebih sunyi.
Kael berdiri di tempat yang tidak dikenal.
Langit hitam tanpa bintang.
Tanah retak seperti dunia yang sudah mati.
Dan di kejauhan—
sesuatu berdiri.
Sosok.
Tinggi.
Dikelilingi bayangan yang jauh lebih besar dari milik Kael.
Kael menegang.
“…Ini apa?”
Langkahnya bergerak perlahan mendekat.
Semakin dekat—
semakin jelas.
Sosok itu mengenakan armor hitam.
Retak dengan cahaya merah.
Aura yang keluar darinya—
menghancurkan.
Bahkan hanya dengan melihatnya—
napas Kael terasa berat.
“…Mustahil.”
Namun hal paling mengejutkan—
wajah sosok itu.
Sama.
Persis seperti dirinya.
Kael membeku.
“…Itu aku?”
Sosok itu perlahan membuka mata.
Mata merah gelap.
Penuh kehampaan.
Namun juga—
kekuatan yang tak terbayangkan.
Ia menatap Kael.
Langsung.
Seolah sadar akan kehadirannya.
“…Kau akhirnya melihat.”
Suara itu menggema.
Dalam.
Berat.
Kael mundur satu langkah.
“Siapa kau?”
Sosok itu tersenyum tipis.
“Aku adalah… dirimu.”
Sunyi.
Angin hitam berhembus pelan.
Bayangan di sekitarnya bergerak seperti makhluk hidup.
“Diriku… di masa lalu?”
Sosok itu tidak menjawab langsung.
Ia mengangkat tangannya.
Dan—
di belakangnya—
muncul ribuan bayangan.
Pasukan.
Tak terhitung.
Monster.
Makhluk.
Dan sesuatu yang bahkan tidak bisa dijelaskan.
“Ini…”
Kael terdiam.
“…semua milikku?”
Sosok itu menatap ke langit kosong.
“Pernah.”
Satu kata.
Namun beratnya terasa menghancurkan.
“Kau pernah menjadi…”
Ia berhenti sejenak.
Lalu berkata pelan—
“…penguasa kegelapan.”
Detak jantung Kael berhenti sesaat.
Penguasa?
Kegelapan?
“Tidak masuk akal…”
Sosok itu kembali menatapnya.
“Kau jatuh.”
“Dan dunia ikut jatuh bersamamu.”
Gambaran tiba-tiba muncul di sekitar mereka.
Seperti pecahan memori.
Kota hancur.
Langit retak.
Monster keluar dari celah dimensi.
Dan—
sosok itu.
Versi Kael di masa lalu—
berdiri di tengah kehancuran.
Mengangkat tangannya.
Mengendalikan semuanya.
Kael terengah.
“Itu…”
“Aku?”
Sosok itu mendekat satu langkah.
Tekanan meningkat.
“Kau kehilangan kendali.”
“Eclipse… bukan kekuatan biasa.”
Ia menunjuk dada Kael.
“Itu adalah kehendak.”
“Dan kau… gagal mengendalikannya.”
Sunyi.
Kata-kata itu menghantam lebih keras dari serangan apapun.
Kael mengepalkan tangan.
“Kalau itu benar…”
Suaranya rendah.
“…kenapa aku masih hidup?”
Sosok itu terdiam sesaat.
Lalu tersenyum tipis.
“Kau mati.”
Jawaban itu datang tanpa ragu.
“…dan dilahirkan kembali.”
Dunia di sekitar mereka mulai retak.
Memori itu tidak stabil.
Sistem muncul lagi.
[SISTEM ECLIPSE]
Fragmen memori runtuh
Koneksi terputus dalam 5…4…3…
Kael menatap sosok itu terakhir kali.
“Kalau aku gagal sebelumnya…”
Ia menarik napas.
“…aku tidak akan gagal lagi.”
Sosok itu menatapnya.
Diam.
Beberapa detik.
Lalu—
ia tersenyum.
Untuk pertama kalinya—
senyum yang… puas.
“Kalau begitu…”
“Buktikan.”
CRACK
Dunia hancur.
Segalanya gelap.
Kael membuka mata.
Kembali ke atap gedung.
Napasnya berat.
Keringat dingin mengalir.
“…Aku…”
Ia menatap tangannya.
Masih bergetar.
Namun—
sesuatu berubah.
Bukan hanya kekuatan.
Tapi…
pemahaman.
Sistem muncul perlahan.
[SISTEM ECLIPSE]
Fragmen memori tersinkronisasi
Sinkronisasi meningkat: 12%
Kael menyipitkan mata.
“12%...”
Berarti masih jauh.
Namun—
sekarang jelas.
Ini bukan sekadar kekuatan baru.
Ini adalah sesuatu yang sudah ada.
Sesuatu yang pernah menghancurkan dunia.
Dan sekarang—
kembali.
Kael berdiri perlahan.
Matanya dingin.
Fokus.
“Kalau aku memang pernah jadi monster…”
Ia mengepalkan tangan.
“…aku akan jadi yang lebih kuat dari itu.”
Angin pagi berhembus.
Matahari mulai terbit.
Namun di balik cahaya itu—
bayangan Kael bergerak pelan.
Lebih dalam.
Lebih hidup.
Di tempat gelap yang sama sebelumnya—
mata merah itu kembali terbuka.
Namun kali ini—
ada sedikit perubahan.
“…Dia mulai mengingat.”
Suara itu terdengar.
Tenang.
Namun mengandung ancaman.
Sosok lain menjawab.
“Kalau begitu… waktunya hampir habis.”
Sunyi sejenak.
Lalu perintah itu keluar—
“Siapkan pemburu tingkat tinggi.”
“Kali ini…”
“Jangan beri dia kesempatan untuk tumbuh.”
Dan di dunia yang belum menyadari—
sebuah kebenaran mulai bangkit.
Bahwa ancaman terbesar—
bukan monster.
Bukan dungeon.
Tapi—
sesuatu yang pernah menjadi manusia.