Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.
Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelajaran tentang cinta
Dokter Rayan memeriksa Vanya dan Raka bergantian. tadi nya hanya Vanya yang akan diperiksa tapi mamah nya bersikukuh untuk melakukan pemeriksaan juga untuk Raka. bahkan Nana pun di suruh mengecek tensi nya.
"Raka aman kok, tapi inget ya Raka kamu tetep harus jaga kesehatan" Kata dokter Rayan yang selalu mengingat kan Raka untuk menjaga kesehatan nya.
"iya dok"
"Vanya, kamu yakin gamau di periksa di rumah sakit aja?" kata dokter Rayan saat melihat wajah pucat Vanya.
"aku kecapean doang kayanya dok, kan aku lagi ujian mungkin aku stress juga"
diam sesaat, mungkin jika omongan itu tidak keluar dari mulut Vanya, dokter Rayan akan percaya, tapi ini adalah Vanya. pasien nya yang sudah ia tangani sejak dulu, sejak Vanya kecil. jelas dokter Rayan tau segala sesuatu yang terjadi pada tubuh Vanya tak bisa ia sepele kan.
"yaudah nanti kalo hasil nya kurang baik, janji ya kita langsung ke rumah sakit untuk pemeriksaan menyeluruh"
"iya dok"
Vanya melakukan pemeriksaan yang cukup lama, sampai akhir nya dokter Rayan langsung menyuruh Vanya ke rumah sakit karena kondisi nya yang kurang baik.
setelah perdebatan panjang akhirnya Vanya setuju untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit besok pagi.
"Yaudah besok pagi aku temenin kamu ya ke rumah sakit" bujuk Nana yang tak tahan melihat perdebatan Vanya dan Ratih.
"Yaudah iya tapi aku gamau di rawat ya"
"iya kan cuma di periksa"
"yang dulu juga ngomong nya begitu tapi abis itu aku di rawat seminggu"
"kondisi nya kan dulu kurang bagus, ini mumpung kamu masih baik baik aja kalo di diemin nanti malah makin parah gimana?" kini Danu mencoba memberikan penjelasan kepada Vanya.
"iya besok aku ke rumah sakit, tapi mamah, papah, Nana, abang ikut semua ya" pinta Vanya yang tak rela melihat orang lain bersantai di rumah sedangkan ia harus mengantri panjang di rumah sakit dengan bau rumah sakit yang khas dan ia tak pernah menyukai itu.
...☘️☘️☘️...
"Ayo Vanya bangun, yang lain udah rapih noh tinggal tunggu kamu doang" Ratih mencoba membangunkan Vanya untuk yang ke 5 kali nya.
Vanya akhirnya terbangun dan dengan malas berjalan menuju kamar mandi.
"cepat ya Vanya" teriak Mama dari depan kamar mandi.
"iya mah"
Butuh waktu hampir 30 menit untuk Vanya bersiap. sesampainya di bawah, benar saja semua orang di keluarga nya bahkan termasuk Nana dan Irgi sudah menunggu nya di meja makan.
"hehe maaf ya lama" Vanya hanya bisa tersenyum canggung melihat semua orang menatap nya dengan mata yang seperti kelelahan.
"Gi, lo ikut kerumah sakit juga?" tanya Vanya yang heran melihat Irgi pagi pagi sudah ada di rumah nya.
"Abang lo noh ribet banget" jawab Irgi sambil mengambil beberapa lauk yang sudah tersedia di meja makan.
"biar mabar nya enak Gi kalo deketan kan" kata Raka sambil tersenyum bahagia melihat wajah kesal Irgi.
"alesan aja lo bang"
"sudah sudah makan dulu" kata Ratih menengahi perdebatan Raka dan Irgi.
"iya mah"
Nana menoleh ke arah Vanya dan tersenyum.
"Cantik" bisik Nana di telinga Vanya. dan itu berhasil membuat Vanya terkejut bahkan Vanya sampai tersedak mendengar nya.
Vanya menoleh ke arah Nana dengan keheranan. dari mana datang nya nyali Nana yang sebesar itu. ia berani mengatakan hal hal romantis itu di depan keluarga Vanya.
"pelan pelan Vanya makan nya" kata Ratih sambil menyodorkan segelas air hangat.
Iya mah" Vanya berharap orang tua nya tidak mendengar perkataan Nana barusan.
di sisi lain Raka dan Irgi kompak menatap Nana.
Raka yang duduk tepat di sebelah Nana langsung berbisik di telinga Nana.
"mantap nyali lo Na" kata Raka sambil tersenyum bangga ke arah Nana.
"Kan didik kan bang Raka" jawab Nana dengan sedikit menepuk pundak Raka.
Vanya dan Irgi yang mendengar percakapan Nana dan Raka langsung kompak menatap ke arah Raka dan Nana.
sejak kapan Nana berguru dengan Raka soal gombalan. bukan rahasia lagi kalau Raka adalah seorang buaya, ia terkenal sering menggoda adik adik kelas nya dan sudah banyak korban nya Raka yang akhirnya mengirim pesan ke Vanya, tak sedikit pula yang memohon kepada Vanya untuk membantu mendekat kan diri nya kepada Raka.
Setelah selesai makan, Irgi mendekat ke arah Nana dan bertepuk tangan di hadapan Nana. "ga nyangka gue manusia kaya lo belajar tentang gombalin cewek, mana belajarnya langsung sama suhu nya lagi"
Nana hanya bisa tersenyum malu. sebenarnya ia tidak berniat belajar soal itu, tapi Raka terus memberikan saran dan menyuruh Nana melakukan nya.
di sisi lain Vanya menatap abang nya dengan mata yang sangat menyeramkan. "abang jangan ngajarin Nana macem macem deh"
"apa sih Van orang abang ga pernah ngajarin Nana macem macem"
"bohong lagi, aku denger ya tadi abang ngomong apa ke Nana"
"adik sayang, itu namanya romantis. harus nya kamu bangga dong punya abang yang care sama hubungan adik nya"
"ga gitu juga bang"
"udah deh jangan marah marah mulu mending cepetan sana masuk mobil biar ga kesiangan"
"iya bawel"
Vanya masuk kedalam mobil dan langsung duduk di bangku paling belakang bersama dengan Nana. ia memang suka duduk di bangku belakang akhir akhir ini. mungkin ia sudah lelah selalu berdebat dengan Raka soal bangku makanya ia memilih untuk mengalah.
"kita jalan ya" kata Danu yang kali ini menyetir mobil. hari ini Pak Agus tidak bisa Mengantarkan mereka kerumah sakit karna Istri nya juga sedang sakit di rumah. padahal Danu sudah menyuruh pak Agus memeriksakan istri nya berbarengan dengan Vanya. tapi pak Agus menolaknya.
selama perjalanan Raka, Nana, dan Irgi sibuk dengan game nya. suara mereka bertiga saja sudah cukup membuat tekanan darah Vanya naik.
"kecilin dikit kek suaranya berisik banget" Vanya yang sudah sangat pusing akhirnya memarahi mereka.
"iya sayang" jawab Nana tanpa sadar ia menjawab perkataan Vanya dengan suara yang cukup kencang.
Vanya yang mendengar nya langsung tersipu malu. bahkan Ratih dan Danu langsung tertawa mendengar perkataan Nana barusan.
"mantap Na" Irgi dan Raka langsung menoleh kebelakang dan mengangkat dua jempol di depan wajah Nana.
Nana sempat terdiam, sampai ia menyadari kalau ia berbicara terlalu keras tadi. Nana merasa tidak enak apalagi ada Danu dan Ratih sekarang.
"maaf sayang keceplosan" bisik Nana kepada Vanya.
Vanya mencubit pelan paha Nana karna ia sekarang sangat malu. Irgi dan Raka tertawa melihat wajah Vanya yang memerah.
"keren kan dek didik kan gue" kata Raka bangga.
"pantes Nana jadi begitu, ternyata yang ngajarin buaya" kata Danu yang mencoba mencairkan suasana. ia tahu Vanya dan Nana sangat malu dan mungkin sedikit tidak nyaman.
"yee papah nih, aku tuh bukan buaya pah"
"trus apa dong kalo bukan buaya"
"aku tuh friendly pah, cewek cewek nya aja tuh yang pada ke ge'eran"
"alasan" Nana, Irgi dan Vanya langsung kompak menjawab perkataan Raka.
mereka semua langsung tertawa setelah menjawab itu, bahkan Danu dan Ratih pun ikut tertawa. sedangkan Raka hanya cemberut mendengar nya.