Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesleo
Teriakan Amira memecah suasana syahdu di dalam mobil. Dirga refleks menginjak rem sedikit lebih dalam.
“Ada apa?” tanyanya kaget, menoleh cepat. Amira setengah berdiri dari kursinya, tasnya terjatuh ke pangkuan.
“Ke—kecoa!” suaranya panik.
Dirga mengernyit. “Apa?”
“Di dalam tas!”
Amira hampir menangis. “Saya mau ambil ponsel, terus—ada yang gerak!”
Dirga langsung menepi sebisanya, menyalakan lampu hazard. Hujan masih turun tipis.
“Kamu yakin?” tanyanya, mencoba tetap tenang.
Amira membuka tasnya sedikit, lalu menjerit lagi pelan.
“Itu! Itu!” tunjuknya gemetar.
Dirga menghela napas panjang, antara ingin tertawa dan tetap serius.
“Oke, oke. Sini.”
Dia mematikan mesin sebentar, lalu memiringkan tubuh mendekat. Amira langsung menjauh, hampir menempel ke pintu mobil.
Dirga mengambil tas itu dengan hati-hati..Benar saja, seekor kecoa kecil merayap keluar dari sela lipatan dalam tas. Dengan cepat dia membuka pintu mobil, menggoyangkan tas ke luar.
Kecoa itu jatuh ke aspal basah dan langsung menghilang. Dirga menutup pintu kembali.
Begitu duduk, jarak mereka terasa, terlalu dekat. Karena tadi Amira setengah berdiri dan bergeser ke tengah kursi saat panik, kini bahunya hampir bersentuhan dengan dada Dirga.
Mobil masih diam. Lampu hazard berkedip pelan. Di luar, gerimis belum reda. Dirga menyadari posisi itu lebih dulu.
“Kamu udah aman,” katanya pelan.
Suaranya lebih rendah dari biasanya. Amira menoleh. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti.
Dia bisa melihat tetesan air hujan di ujung rambut Dirga. Bisa melihat detail matanya dengan jelas. Napasnya tercekat.
“I ... iya,” jawabnya pelan.
Dirga menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Tangannya tanpa sadar bergerak, mengambil sesuatu kecil di dekat bahu Amira.
“Kamu kena ini,” katanya pelan. Ujung jarinya menyentuh bahu Amira. Hanya untuk menyingkirkan titik air hujan yang mungkin terciprat saat pintu tadi terbuka.
Namun, sentuhan itu membuat Amira membeku. Dirga menyadari detik itu juga. Tangannya berhenti sepersekian detik lebih lama.
Tatapan mereka terkunci. Hujan di luar seperti meredam dunia. Tidak ada suara lain. Hanya napas mereka yang saling bertemu di ruang sempit tersebut.
Amira adalah yang pertama tersadar. Dia bergegas mundur sedikit.
“Maaf,” bisiknya. Dirga menarik tangannya perlahan.
Ekspresinya berubah, lebih terkendali.
“Kita jalan lagi ya,” katanya akhirnya, suaranya kembali stabil. Dia mematikan lampu hazard, lalu menyalakan mesin.
Mobil kembali bergerak perlahan di tengah kemacetan. Namun suasana di dalam mobil sudah berubah. Bukan lagi tenang. Melainkan, canggung.
Amira menunduk, pura-pura sibuk membuka ponselnya. Jantungnya masih belum stabil. Dia mengetik cepat pada Celine.
"Bu, Pak Dirga mengantar saya ke kantor Ibu, gimana Bu? Saya kan bukan asisten Ibu?"
Tak lama, ponsel Dirga bergetar. Bukan balasan pesan, tapi panggilan masuk. Dirga melirik layar, lalu mengangkatnya menggunakan speaker mobil.
“Iya, Sayang?”
Suara Celine terdengar jelas.
“Dirga, kamu lagi sama Amira kan?”
“Iya. Mau ke kantor kamu.”
“Jangan ke kantor dulu.”
Dirga mengernyit. “Kenapa?”
“Aku ada urusan mendadak. Kamu bawa Amira ke kantormu dulu aja. Biar dia bantu kamu di sana sampai aku selesai.”
Amira yang mendengar itu langsung menegang.
"Ke kantor Dirga?" batinnya dalam hati.
Dirga tampak heran. “Ngapain dia di kantor aku?”
“Sekalian belajar. Lagian dia kan asistenku. Biar kenal juga lingkungan kerja kita.”
Nada suara Celine terdengar santai. Dirga terdiam sesaat, lalu menjawab, “Kamu aneh banget sih. Dia asisten kamu kenapa jadi suruh ke kantor aku?"
“Sayang Please.”
"Oke."
"Makasih."
Panggilan terputus. Mobil kembali hening beberapa detik. Lalu Dirga menoleh sekilas ke arah Amira.
“Sepertinya kamu pindah tugas sementara.”
Amira memaksakan senyum kecil. “Iya.”
Dirga mengangguk pelan, lalu mengubah arah setir di persimpangan berikutnya. Amira menggenggam ponselnya erat, rasanya begitu berat canggung membayangkan seharian ini mungkin dia akan bersama Dirga.
Beberapa menit mobil melaju dalam diam. Tiba-tiba Dirga memecah keheningan.
“Aku nggak langsung ke kantor hari ini.”
Amira menoleh sedikit. “Maksudnya?”
“Aku mau cek proyek dulu. Lokasinya nggak terlalu jauh dari sini.”
Dia meliriknya sekilas. “Gimana? Nggak keberatan?”
Amira menggenggam tasnya yang tadi sempat jadi sumber kekacauan kecil.
“Nggak apa-apa. Saya ikut saja.”
Dirga tersenyum tipis.
“Oke.”
Mobil kemudian berbelok menuju kawasan pembangunan di pinggir kota. Hujan mulai mereda, menyisakan jalanan basah dan aroma tanah yang khas.
Tak lama, mereka sampai di sebuah area proyek bangunan besar, kerangka beton menjulang, pekerja hilir mudik memakai helm proyek.
Dirga memarkir mobil.
“Nanti kamu tunggu di mobil atau ikut?” tanyanya.
Amira ragu sesaat.
“Boleh ikut?”
Dirga mengangguk. “Tapi pakai ini.”
Dia membuka laci belakang, mengambil satu helm proyek cadangan dan menyerahkannya. Saat Amira hendak mengambil, jari mereka kembali bersentuhan.
Kali ini lebih singkat. Namun tetap membuat keduanya terdiam sepersekian detik. Dirga berdeham kecil, lalu keluar lebih dulu.
Amira mengikuti dari belakang. Beberapa pekerja langsung menyapa hormat.
“Pagi, Pak Dirga.”
Dirga mengangguk tegas, auranya berubah drastis. Amira memperhatikannya diam-diam. Ternyata laki-laki yang kemarin membelikan jus, yang tadi menyingkirkan kecoa dengan santai, di sini adalah sosok pemimpin yang berbeda.
Dirga berjalan sambil menjelaskan sesuatu kepada mandor proyek, menunjuk beberapa bagian bangunan yang masih belum rapi.
Amira berdiri tak jauh, mencoba terlihat profesional. Namun sesekali, Dirga menoleh ke arahnya. Seolah memastikan dia baik-baik saja.
Hingga di satu titik, tanah yang sedikit becek membuat kaki Amira terpeleset.
“Ah!”
Tubuhnya oleng. Namun sebelum benar-benar jatuh, sebuah tangan kuat menahan pinggangnya, Dirga.
Refleks, tubuh Amira kini tertahan di pelukannya. Jarak mereka kembali terlalu dekat.
“Pelan-pelan,” ujar Dirga rendah. Suara para pekerja di sekitar mereka mendadak seperti menghilang.
Amira bisa merasakan tangan Dirga masih melingkar di pinggangnya. Beberapa detik kemudian, Dirga tersadar dan segera melepasnya.
“Kamu nggak apa-apa?”
Amira mencoba berdiri tegak. Namun begitu kakinya menapak sempurna, rasa nyeri tajam menjalar. Wajahnya langsung meringis.
Dirga yang melihat perubahan ekspresinya langsung mendekat lagi.
“Sakit?”
Amira berusaha tersenyum. “Sedikit, kayaknya cuma keseleo ringan.”
Dirga berjongkok, memeriksa pergelangan kakinya yang mulai memerah.
“Ini nggak ringan.”
Tanpa banyak bicara, dia berdiri lalu menopang tubuh Amira.
“Tunggu Pak, nggak usah ....”
“Diam. Nanti makin parah.”
Dirga memapahnya perlahan kembali ke mobil. Karena kursi depan agak sempit, dia membuka pintu belakang dan membantu Amira duduk di sana.
Hujan kembali turun lebih deras. Suara rintiknya memukul atap mobil. Dirga mengambil kotak P3K kecil dari bagasi, lalu masuk ke kursi belakang, duduk berhadapan agak menyamping dengan Amira.
“Kaki kamu sini.”
Amira ragu, tapi menurut. Dirga mengangkat pergelangan kakinya dengan hati-hati, meletakkannya di atas pahanya.
Sentuhan itu membuat napas Amira tercekat. Dirga membuka salep, lalu mengoleskannya perlahan. Gerakannya hati-hati, dan lembut.
“Kalau sakit bilang."
Amira hanya bisa mengangguk pelan. Di dalam mobil, jarak mereka sangat dekat. Aroma samar parfum Dirga bercampur dengan wangi hujan. Tatapan Dirga tertuju pada kakinya, alisnya sedikit berkerut serius, dan justru itu yang membuat dada Amira semakin berdebar.
Tiba-tiba, petir menggelegar sangat keras tepat di atas mereka. Amira yang memang sejak kecil takut petir refleks menjerit pelan dan tanpa sadar langsung meraih tubuh di depannya.
Dia mendekap Dirga erat. Wajahnya menempel di dada Dirga. Beberapa detik hening, Dirga membeku. Tangannya masih berada di pergelangan kaki Amira.
Jantungnya berdetak keras, dia bahkan yakin Amira bisa mendengarnya. Amira baru sadar beberapa detik kemudian. Lalu, buru-buru hendak menjauh, dengan wajah yang memerah.
“Maaf, saya ....”
Namun sebelum dia sepenuhnya lepas, Dirga tanpa sadar sudah lebih dulu mengangkat satu tangannya, menahan punggung Amira.
"Pak ...."
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..