NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34.Teknik Embun Tanah Yang Berisiko

Suasana di aula Balai Sidang semakin berat. Uap air dari puluhan panci yang mendidih mulai mengaburkan pandangan, menciptakan atmosfer yang pengap meski sistem pendingin udara bekerja maksimal. Di tengah keriuhan suara pisau dan denting logam, Ren berdiri mematung di depan kompornya. Di depannya, jahe merah hutan yang ia beli semalam sudah terkupas, memperlihatkan dagingnya yang berwarna jingga tua, seolah menyimpan bara api di dalamnya.

"Ren, apa yang kamu lakukan? Waktu terus berjalan!" Hana berseru, suaranya sedikit meninggi karena panik melihat Ren hanya menatap jahe itu selama hampir dua menit. Di stasiun lawan, Kenjiro sudah mulai menyusun pir saljunya ke dalam piring porselen dengan presisi robotik.

Ren tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah alat pembakar kecil (blowtorch) dan sebuah mangkuk kaca besar. "Hana, ambilkan serutan kayu bakau yang tersisa di tas bahan. Yuki, tutup semua celah udara di sekitar kompor kita dengan kain lembap. Aku butuh ruang ini kedap udara selama tiga puluh detik."

Yuki segera bergerak tanpa bertanya lagi, instingnya mengatakan bahwa Ren sedang merencanakan sesuatu yang gila. "Ren, teknik pengasapan langsung pada pir? Struktur sel pir salju itu sangat lemah. Kalau kamu salah hitung detiknya, pir itu akan terasa seperti arang, bukan buah."

"Itulah sebabnya aku tidak akan mengasapi pirnya," balas Ren, matanya berkilat tajam. "Aku akan membakar jahenya."

Ren menyalakan api pembakar. Lidah api biru yang panas langsung menghantam rimpang jahe merah itu. Seketika, aroma pedas yang sangat pekat dan bau tanah yang terbakar meledak dari stasiun nomor 13. Peserta di stasiun sebelah sampai terbatuk-batuk karena tajamnya aroma tersebut.

Ren menangkap asap jahe yang membara itu ke dalam mangkuk kaca yang dibalik, lalu dengan cepat ia menyuntikkan uap panas itu ke dalam sebuah wadah berisi air es yang merendam potongan pir salju.

"Teknik Reverse Infusion?" gumam Yuki, matanya membelalak. "Kamu mendinginkan uap jahe di dalam air rendaman pir agar aromanya terkunci di kulit luar buah tanpa merusak dagingnya yang manis?"

"Benar. Aku menyebutnya 'Embun Tanah'," ucap Ren, napasnya mulai memburu. Ia memegang mangkuk kaca itu dengan kedua tangannya, memastikan suhunya turun tepat pada waktunya.

Hana memperhatikan Ren dengan perasaan campur aduk. Ia melihat peluh yang mengalir dari pelipis Ren, melihat betapa kerasnya pemuda itu berjuang untuk tetap presisi di tengah tekanan yang luar biasa. Hana melangkah mendekat, mengambil sehelai tisu, dan dengan sangat lembut menyeka keringat di wajah Ren.

"Fokus, Ren. Aku akan menjaga suhunya agar tetap stabil di angka 4 derajat," bisik Hana. Tangannya menyentuh tangan Ren yang sedang memegang termometer manual. Kemistri di antara mereka di tengah kepulan asap jahe itu terasa sangat intim, seolah dunia di luar stasiun mereka menghilang sesaat.

Ren menatap Hana sekilas, dan sebuah anggukan kecil dari gadis itu memberikan kepercayaan diri yang ia butuhkan. "Terima kasih, Hana."

Di stasiun nomor 1, Kenjiro berhenti sejenak. Sensor di kacamata pintarnya mendeteksi fluktuasi aroma yang tidak wajar dari arah Ren. Ia melirik ke arah stasiun nomor 13, namun wajahnya tetap kaku.

"Analisis anomali: Aroma Jahe Merah; Tingkat konsentrasi 45ppm. Prediksi hasil: Kegagalan keseimbangan rasa," suara Kenjiro terdengar datar. Ryuji yang berdiri di belakangnya tertawa sinis. "Biarkan saja dia bermain dengan asapnya, Kenjiro. Dia hanya sedang menunjukkan aksi sirkus sebelum jatuh."

Namun, Chef Adrian—sang juri utama—mulai bangkit dari kursinya. Ia berjalan perlahan menuruni panggung penjurian, melintasi stasiun-stasiun peserta. Saat ia melewati stasiun nomor 13, ia berhenti. Ia menghirup udara di sekitar Ren sedalam mungkin, memejamkan matanya seolah sedang mencoba mengenang sesuatu.

"Berisiko sekali, anak muda," ucap Chef Adrian tanpa melihat ke arah Ren. "Jahe merah itu pedasnya bisa merusak lidah juri. Jika kamu gagal mengikatnya dengan rasa manis pir, piringmu akan langsung masuk ke tempat sampah."

Ren tidak gentar. Ia mengangkat potongan pir salju yang kini terlihat transparan namun memiliki gurat-gurat jingga halus di tepiannya—hasil dari suntikan asap jahe tadi. "Pir ini tidak akan hancur, Chef. Dia hanya sedang 'belajar' cara bertahan hidup di tanah Karasu."

Chef Adrian tersenyum misterius lalu melanjutkan perjalanannya.

Waktu tersisa lima belas menit. Ren mulai melakukan plating. Ia tidak menyusun pir itu dengan gaya modern yang dingin seperti Kenjiro. Ia meletakkan pir tersebut di atas saus putih kental yang terbuat dari santan kelapa muda dan sedikit garam laut. Di atasnya, ia menaburkan remah-remah gula merah yang sudah dikristalkan.

"Ini terlihat seperti... pagi hari di tepi pantai," gumam Yuki dengan kagum. "Warna kuning pir, saus putih yang mirip buih ombak, dan gula merah yang seperti pasir."

Hana membantu Ren menata elemen terakhir dengan jemari yang sangat teliti. Ia memastikan setiap potongan pir berdiri tegak, seolah-olah mereka adalah batu karang yang kokoh. Saat mereka bekerja bersama, gerakan tangan mereka sangat sinkron, menunjukkan betapa dalamnya ikatan yang telah terbentuk selama latihan di Jenggala.

"Selesai," ucap Ren, meletakkan piring terakhir.

Tepat saat itu, sirine tanda berakhirnya waktu berbunyi. Seluruh aula seketika sunyi. Para koki melepaskan alat masak mereka. Kenjiro berdiri tegak dengan piringnya yang terlihat seperti kristal bening yang sempurna, sementara Ren berdiri dengan piring yang memancarkan aroma tanah dan laut yang hangat.

Dua filosofi yang bertolak belakang kini siap diuji. Apakah kesempurnaan angka Kenjiro yang akan menang, ataukah keberanian Ren yang mempertaruhkan segalanya pada 'embun tanah' yang ia ciptakan dengan penuh emosi?

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!