Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.
Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.
Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Takut?
Naura benar-benar naik darah. Rara yang ia kira gadis desa polos dan penakut, ternyata punya mental baja dan otak yang encer. Setiap kali ia mencoba menjegal, Rara selalu punya cara cerdas buat membalikkan keadaan.
"Oke, kalau gitu aku harus cari cara lain!" Geram Naura.
—
Siang itu...
Naura datang membawa tumpukan berkas setinggi gunung. Ia meletakkannya di meja Rara dengan kasar.
"Dengerin Rara! Ini semua harus difotokopi, disortir, dan dijilid rapi sebelum jam tiga sore! Kalau telat atau salah satu halaman kurang, siap-siap saja aku laporin ke Aksara kalau kamu tidak becus bekerja!" Ancam Naura dengan wajah menang.
Ia yakin, mustahil pekerjaan seberat ini bisa selesai sendiri dalam waktu singkat. Kali ini Rara pasti panik!
Rara mengangkat wajah, menatap Naura dengan senyum miring yang santai banget.
"Siap, Nau. Tenang saja, pasti aku selesaikan, kok." Jawab Rara enteng tanpa kerutan kening sedikitpun.
"Hmph! Jangan banyak omong! Kerjain!" Naura pergi dengan perasaan puas.
Tapi...
Belum sampai tiga puluh menit, Rara sudah kembali dengan wajah segar bugar.
"Beres semua, Nau. Cek saja," ucap Rara sambil menunjuk tumpukan berkas yang sudah rapi dijilid warna-warni.
Naura melongo. "Bagaimana caranya?! Ini kan banyak sekali?!"
"Oh, tadi waktu kamu pergi, ada banyak staf kantor yang lewat. Aku cuma bilang, 'Ini tugas dari Nona Naura buat latihan tim, ayo kita kerjakan sama-sama biar cepat selesai.' Eh pada mau semua. Kerja sama tim itu emang enak, ya." Jawab Rara polos tapi menusuk.
Naura sampai terdiam. 'Dasar licik! Dia malah manfaatin orang lain dan bikin aku kelihatan baik!'
—
Hari berikutnya...
Naura ganti strategi. Ia sengaja membuat jadwal rapat dadakan dan meminta Rara menyiapkan presentasi yang rumit-rumit.
"Rara! Buat slide presentasi tentang data keuangan satu minggu belakangan! Cepetan, klien mau datang lima belas menit lagi!" Perintah Naura dengan nada panik palsu.
"Data keuangan? Itu kan rahasia perusahaan. Berani sekali minta aku yang membuatnya?" Tanya Rara dengan alis terangkat.
"Ah elah! Cuma data umum, kok! Cepetan atau aku marah!"
"Oke, deh."
Rara mengetik dengan jari yang lincah dan cepat. Sepuluh menit kemudian, slide sudah jadi.
Saat rapat dimulai, Naura dengan bangga mempresentasikannya di depan Aksara dan klien. Tapi begitu slide terbuka...
"SELAMAT DATANG DI PERTUNJUKAN SULAP NAURA!"
Dan gambarnya malah foto lucu Naura yang lagi makan banyak atau foto malu-maluin yang Rara dapatkan dari internet.
Semua orang di ruangan tertawa terbahak-bahak. Wajah Naura memerah padam!
"INI APA-APAAN?!" Bisik Naura gemetar.
"Aku mungkin salah pencet, Nau. Soalnya aku kan masih belajar teknologi. Lagian kan kamu yang suruh cepat-cepat, jadi ya begitu hasilnya. Tapi, ini membuat suasana jadi cair dan lucu, kan?" Jawab Rara santai menatap ke Aksara.
Aksara sampai menahan tawa keras. "Hahaha! Iya ya, inovasi yang unik. Lanjutkan saja presentasinya, Nau." Pria yang terbiasa bersikap dingin itu sekarang jadi sering tertawa lepas sejak kehadiran Rara di kantor.
Naura mau marah tapi malu, mau nangis tapi di depan orang banyak. Ia benci sekali! Rara itu bukan lemah, Rara itu licik dan pintar sekali memanfaatkan situasi!
—
Aksara menahan tawa sepanjang jalan. Saat sampai di rumah, ia langsung mencubit gemas pipi Rara. Akhir-akhir ini ia sangat sering melakukan hal itu.
"Kamu ini... tadi slide yang buat Naura itu kamu juga sengaja, kan?" Tanya Aksara sambil menyeringai.
Rara mendongak dengan wajah polos tapi mata berkilat jenaka.
"Tidak! Aku tidak sengaja! Aku kan cuma gadis desa, kan memang belum paham teknologi canggih. Lagian kan dia yang menyuruh aku buru-buru. Salah sendiri!"
Aksara tertawa lepas, lalu memeluk pinggang Rara erat. Lagi-lagi Rara hanya bisa menolak, wajahnya selalu memerah saat tangan Aksara menyentuhnya.
"Tapi hati-hati ya, Naura itu orangnya dendam. Dia pasti mikir cara lain buat ganggu kamu."
Rara tersenyum menantang. "Silahkan saja. Aku tungguin!"
'Semakin dia ganggu, semakin seru permainan ini. Aku gak bakal kalah sama orang yang pikirannya sempit kayak dia!'