Lilyana Cooper, ialah seorang dokter bedah jenius dengan tingkat keberhasilannya dalam mengobati pasien 99% membuatnya diagung-agungkan sebagai dewi penyembuh oleh orang-orang.
Akan tetapi dalam 1% itu ialah hasil dari kegagalannya, entah kutukan atau apa tetapi ia selalu gagal mengobati orang yang ia sayang, termasuk suaminya sendiri.
Ditengah keterpurukan dan kehilangan orang yang ia mata cintaku, setelah ia gagal menyelamatkannya, tiba-tiba dia terbunuh saat sudah menyelamatkan seseorang ditangan seorang anak kecil, membuatnya langsung mati di tempat berdampingan dengan jasad suaminya.
Bukannya menyusul suaminya dan mati tetapi ia malah terlempar ke zaman kuno dimana semua penduduknya yaitu ras beasthuman, dan ia terlahir kembali sebagai salah satu penduduk disana, sebagai manusia setengah binatang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorong Smartphone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan pahit
......................
"Apa maksudnya ini....
"Investasi?
Yuna mencoba berpikir bertanya-tanya apa maksud dari ucapan mereka sebenarnya, akan tetapi lagi-lagi saat ia mencoba berpikir positif semuanya hanya menghasilkan kenihilan menghantarkannya pada jawaban negatif, bahwa ia sedang dijual.
"Namamu Yuna kan? Coba kemari." Ucap Saron memerintahkan sembari menepuk-nepuk sofa di sampingnya, tempat duduk dimana di sebelahnya, menatapnya tajam seolah ia tidak menerima penolakan apapun darinya.
Akhirnya Yuna terpaksa maju menurut merasakan tatapan intens terus-menerus membuat pikirannya linglung bingung berbuat apapun, saat ia baru duduk, langsung merasakan badannya terhimpit di antara kedua pria, karena di sampingnya terdapat Jacob, sang pemilik Adfaka tersebut juga sedang duduk.
"Umurmu baru 17 tahun kan? Apakah kau pernah berpacaran?"
Yuna hanya bisa menunduk sembari meremas ujung gaunnya berusaha terlihat baik-baik saja walaupun tidak berhasil karena tubuhnya terus bergetar ketakutan, ia berusaha terlihat baik-baik saja dengan memaksakan senyuman. "Tidak,..aku...aku tidak pernah bersama siapapun."
"Oh tuntutan kerja ya? Kasihan sekali." Saron, pria berusia 61 tahun itu kembali menyaut, dengan ringan tangannya menepuk-nepuk pipinya seolah mengejeknya.
Tiba-tiba tangan sang Sakarov tersebut mendarat ke bawah, merambat menelusuri pahanya, naik perlahan sebelum sampai di persimpangan kakinya, ia mengelusnya dengan cukup sensual.
Membuat Yuna semakin bergetar ketakutan merasakan setiap sentuhannya semakin parah dan aktif, membuat seketika seluruh tubuhnya semakin menggigil ketakutan.
Tias yang dari tadi memerhatikan, pria berusia 67 tahun itu tidak tahan lagi, mulai membuka sabuk celananya tergesa-gesa dan berkata tidak sabaran. "Ayo mulai saja, aku yang pertama ya?"
"Tidak adil!"
"Benar, aku kan yang membawanya."
"Berisik, siapa yang memenangkan tender kali ini?" Tanya tegas memastikan pemilik perusahaan tembaga itu membuat seketika ruangan hening dan para pemilik perusahaan tersebut mendengus pasrah mempersilahkan mengingat perjanjiannya.
Tiba-tiba Yuna tersadar merasakan tubuhnya ditarik paksa dibaringkan ke meja, membuatnya seketika ia terbaring rentan seolah menjadi hidangan orang-orang tua ini yang sedang mengelilinginya dari berbagai sisi.
"Jangan melawan ya? Ini untuk kebaikanmu, sedetik setelah besok kau keluar dari ruangan ini sudah dipastikan jika kau memuaskan kami maka karirmu akan melejit."
"Mengapa berhati-hati sangat kali ini? Lagipula dia dijual juga hahaha, kupikir si tua Bangka itu akan mengirimkan anak asuh tertuanya tapi ternyata kali ini tapi kita dapat hal lain."
"Tapi tidak apa-apa juga sih, ini seperti keberuntungan juga, kapan lagi mencicipi buah yang baru matang? malam ini pasti akan sangat menyenangkan."
Yuna tersentak merasakan tangannya ditarik memaksa belahan payudara nampak ke tatapan mereka, seketika ia hanya bisa memejamkan mata, karena ketakutan, tersadar apa terjadi, walaupun berusaha melepaskan diri akan tetapi malah merasakan tubuhnya semakin ditahan banyak orang.
"Jangan! Apa yang kalian lakukan, mengapa---
Sebelum ucapannya selesai tiba-tiba sebuah suara keras menampar pipinya membuat ia tertegun.
Plak!
"Berisik jalang, kau jual mahal? Kita tidak punya kesabaran meladeni tingkah manjamu." Sentak Tias, pria berusia 54 tahun itu, membuat para rekan-rekan disekelilingnya berdecak pasrah karena sudah tau watak aslinya jika tidak sabar dan emosi.
"Akan repot besok jika kau kasar."
"Berisik! Sejak kapan kita harus hati-hati pada jalang sepertinya, aku sudah tidak tahan." balas pemilik perusahaan tembaga itu membentak tidak peduli, ia dengan paksa mulai melebarkan paha Yuna, memperlihatkan celana dalam berwarna merah muda berenda miliknya, membuat seketika ia berlutut mengendus-endus, menempelkan hidupnya ke sana.
"Emm, bau yang sangat manis....... Tapi tenang saja nak, jika kau diam menikmatinya, aku yakin nanti kau akan menikmatinya cukup banyak, bahkan malah meminta lebih." lanjutnya dengan jari-jarinya cukup sibuk berusaha memasukkannya, menelusup ke dalam celana dalam itu.
Air mata yuna semakin mengalir bertanya-tanya apa yang terjadi, tubuhnya terus menggigil bukan karena rasa nikmat seperti yang diucapkannya, tapi perasaan jijik juga mual membuatnya pusing ingin muntah, saat ia ingin merapatkan pahanya kembali tapi ketiga pria itu tidak membiarkan, Jacob dan Saron menahan kakinya sementara sang pemilik pesta tersebut, Uchia hanya mengamati, menonton puas dengan mata gelapnya.
Seketika Yuna teringat ucapan manajernya sebelum ia masuk ke dalam kediaman ini.
"Ambil ini, gunakan jika terjadi sesuatu padamu, ini akan membuat orang dengan berat badan setengah ton pun akan pingsan, jangan panik dan gunakan jika terdesak." membuat ia melirik botol wine yang ada di atas kepalanya, langsung cepat memukul kepala Tias yang sedang lengah sekuat tenaga.
Kepala perusahaan Neonal itu seketika mengerang kaget sesaat botol wine pecah mengenai dahinya, membuat kepalanya seketika tertancap beling menimbulkan kulit terbuka mengeluarkan darah, ia terus menjerit kesakitan. "AHHH SAKIT! Jalang bangsat!"
Membuat kedua pria yang sibuk menahan Yuna celingukan karena lengah, keduanya mulai melepaskan tubuhnya untuk mendekati teman mereka untuk memastikan kondisinya.
Yuna tidak ambil diam untuk melewatkan kesempatan bagus seperti ini, ia tiba-tiba berlari mengambil Stun Gun, akat kejut listrik tersebut yang sudah tersedia di tasnya itu, tiba-tiba menyalakannya sembari menempelkan ke arah area rentan yaitu leher pria bernama Uchia yang dari tadi diam akibat cemas, membuat seketika ia lengah langsung pingsan tanpa sempat mengeluarkan suara.
"Ap---
Dan dengan beruntun Yuna mulai menempelkan Stun Gun pada kedua leher para pemilik perusahaan yang tersisa, membuat seketika keduanya meringis kesakitan dan mengalami pingsan beruntun.
Tanpa basa-basi Yuna mulai berdiri mengambil tas miliknya, membuka pintu dan langsung berlari keluar tergesa-gesa mengabaikan tatapan bodyguard yang menatap kepergiannya dengan tatapan bingung.
Bodyguard yang sedang berjaga tersebut akhirnya menyadari kejanggalan karena sadar tuannya tidak mungkin melepaskan mangsanya sangat cepat, seketika ia berjalan masuk ke dalam ruangan, ia langsung terbelalak panik saat mendapati empat orang pendiri perusahaan besar di asia tersebut, pingsan tiga-tiganya ditambah satu terluka parah.
"Tuan Tias, anda tidak apa-apa?" ragu-ragu ia mendekat berusaha agar menolongnya.
Tapi pria tua itu malah menepis tangannya, menatapnya tajam sembari terus memegangi dahinya yang terus berdarah dengan kain untuk menghentikan pendarahannya.
"Cari jalang kecil itu! Cari dimanapun sampai dapat! Akan kupastikan dia tidak akan berani bernafas lega setelah ini." jawabnya memerintah dengan penuh amarah.
Membuat pria bername tag Giant Sirles tersebut terdiam bingung dan ngeri bertanya-tanya mengapa ada yang berani menyinggung orang mengerikan dan besar sepertinya apalagi langsung empat orang sekaligus, tanpa basa-basi ia mulai menekan earphone yang selalu ia gunakan dan mulai menghubungkannya pada perangkat anggota-anggota penjaga lainnya.
"Ini darurat, cari wanita yang bernama Yuna Adison, tingginya 165 cm, dengan rambut hitam dan gaun satin hijau selutut, dia baru saja berlari di ruangan ini, pokoknya cari sampai dapat dan yang lainnya menunggu di depan gerbang, pokoknya laksanakan cepat, ini perintah!"
.
.
.
.
.
.
.
Yuna berusaha berlari dengan linglung rasanya tiba-tiba memorinya berputar dengan cepat mengingat ucapan teman-teman yang selalu ia anggap sebagai sahabat juga orang terdekatnya selama ini.
"Benar, kami akan menyerahkan situasi penting itu padamu."
"Benar-benar! Kami semua rela tidak memilih datang karena ingin kau yang satu-satunya yang beruntung menyerahkan posisi ini."
"Kau beruntung Yuna-Chan, kau pasti akan semakin terkenal dan karirmu melejit."
"Ya, ya kau datang saja, tapi jangan membuat kita malu, ini adalah kehormatan apalagi kita semua disini merelakan kesempatan ini hanya untukmu."
"Baiklah, aku saja yang datang, kalian tidak perlu khawatir! Aku akan berusaha membuat nama tim Aka-45 semakin bersinar dan terkenal."
Rasanya semuanya berputar di kepalanya, seketika sadar ia ternyata dimanfaatkan agar perusahannya untuk, juga dijadikan tumbal agar yang lainnya tidak terpilih, dan hanya ia satu-satunya tidak tahu, ternyata selama ini dirinya naif menganggap kebaikan orang-orang di sekelilingnya tulus, namun ternyata hanya bom yang bisa meledak kapan saja, dan hasilnya ternyata ia di jual yang lebih parahnya pada pria-pria tua bangka untuk disetubuhi.
Ia bertanya-tanya lagi berpikir apakah manajernya sendiri sama, akan tetapi mengingat ekspresi dan tingkahnya selama ini selalu mendukungnya, ia tau cukup naif jika percaya setelah apa yang terjadi, tapi entah kenapa karena bantuan dan ucapannya menyuruhnya berhati-hati membuat ia sekarang selamat, membuat Yuna cukup bimbang antara harus percaya padanya sekarang atau bersyukur.
"Kau naif sekali Yuna...
Tapi saat sibuk berjalan sembari melamun memikirkan apa yang terjadi, tiba-tiba sebuah seruan ditambah teriakan di belakang terdengar, gerombolan pria berbadan besar mengunakan seragam yang sama yaitu tuxedo hitam, mulai dengan serentak berteriak memanggil-manggilnya.
"Itu dia! Ciri-cirinya benar, tangkap dia!"
Seketika Yuna berlari cepat tanpa memperdulikan kaki telanjang berusaha sekuat tenaga berlari hingga berhasil menghindari pandangan mereka, namun nihil karena lari mereka juga kencang sehingga berhasil disusul kembali.
"Tangkap dia, pasti tuan besar akan membayar kita mahal untuknya!"
langkahnya terhenti saat terpojok menyadari ini jalan buntu karena di depannya hanya terdapat ujung balkon yang tinggi dan dibawahnya kolam renang, melihat belakang ia sadar ia tidak punya cukup waktu, hampir lima langkah saja dia pasti akan tertangkap.
"Tertangkap kau!"
Membuat Yuna tidak memikirkan apapun langsung tergesa-gesa melompat ke bawah ketinggian langsung terjun ke dalam kolam renang.
"Byurrr..."
"Ah! Ada yang bunuh diri!"
"Seorang wanita di tempat ini?!"
"Hey apa yang terjadi!"
"Siapa? Tolong selamatkan dia siapapun."
Seketika sekeliling ribut, orang-orang yang hadir di pesta melihat kolam renang tersebut mendapati seseorang terjun dari atas entah karena apa, membuat seketika mereka panik berteriak ngeri berpikir ada bunuh diri.
Seketika para bodyguard yang mengejarnya tiba-tiba panik dan bingung karena tidak berhasil menuruti perintah tuan mereka dan yang lebih parahnya mungkin nama mayat seorang aktris muda ditemukan di pesta ini besok, pasti akan membuat geger dan nama para pemimpin perusahaan yang hadir tercemar, dan lebih buruknya pemilik Mitsubui itu diselidiki.
"Sial."
Saat Yuna terjun ke dalam kolam seketika pandangannya kabur saat ia berusaha menyusup ke dalam air, ia mencoba kembali berenang untuk naik ke permukaan tapi nihil ia tidak punya bertenaga sama sekali, semua emosi dan rasa sakit membuatnya menyerah membiarkan tubuhnya turun ke dasar air.
"Ayah, ibu, kalian benar,...aku seharusnya belajar giat, untuk menjadi guru bukan idol, maaf ayah, ibu aku lagi-lagi mengecewakanmu dan gagal jadi anakmu."
"Sekali lagi maafkan aku."
Saat ia menutup mata pasrah akan kematian yang akan menjemputnya, tapi saat membuka mata ia tiba-tiba bingung, air di sekelilingnya berbeda, permukaan keramik kolam biru berubah menjadi sebuah pemandangan air yang begitu dalam dikelilingi tumbuhan di dasarnya.
"Apa?"
...----------------...