Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15 nasi goreng emas terlarang dan kehancuran harga diri
Jalan Utama Distrik Kuliner Ibukota Kekaisaran Naga Biru adalah tempat di mana uang dibakar secepat dupa. Di sini, aroma rempah-rempah dari empat penjuru benua bertarung di udara, menciptakan medan perang yang tak terlihat bagi indra penciuman.
Di sisi timur jalan, berdiri sebuah bangunan megah berlantai lima. Atapnya melengkung dengan genteng berlapis emas, pilar-pilarnya terbuat dari kayu cendana merah yang harum, dan di atas pintu masuknya tergantung papan nama besar dengan kaligrafi yang ditulis oleh seorang master: Paviliun Naga Terbang.
Ini adalah benteng uang Keluarga Wang. Restoran nomor satu di ibukota. Tempat di mana satu piring sayur tumis bisa seharga pendapatan sebulan rakyat jelata.
Di seberang jalan, tepat di hadapan pintu masuk Paviliun Naga Terbang, terdapat sebuah lahan kosong sempit yang terjepit di antara toko pandai besi dan selokan.
Di sanalah Han Shuo berdiri.
Ia tidak membangun gedung. Ia hanya mendirikan sebuah tenda terpal bekas berwarna biru pudar, sebuah meja kayu panjang yang kakinya diganjal batu bata, dan sebuah gerobak masak beroda yang ia rakit sendiri dari sisa-sisa kayu bakar istana.
"Ini gila," suara dingin terdengar dari belakangnya.
Ying, sang pembunuh bayaran yang kini menyamar sebagai pelayan (dengan celemek yang terlihat aneh di atas pakaian ketat hitamnya), menatap 'restoran' baru mereka dengan tatapan tak percaya.
"Tuan Han... maksudku, Bos. Kau ingin menghancurkan bisnis jutaan koin emas Keluarga Wang dengan... gerobak sampah ini?" tanya Ying sambil menunjuk gerobak itu dengan belatinya.
Han Shuo sedang sibuk mengelap wajan besi hitamnya. "Ying, kau pembunuh, jadi kau menilai kekuatan dari senjata. Tapi di dunia kuliner, senjata terkuat bukanlah bangunan emas, melainkan Aroma."
Han Shuo menatap Paviliun Naga Terbang. Ia bisa melihat antrean panjang bangsawan dan kultivator muda yang menunggu giliran masuk.
"Mereka menjual status," kata Han Shuo. "Aku menjual jiwa. Dan hari ini, kita akan melihat mana yang lebih lapar."
Persiapan: Emas di Dalam Butiran
Han Shuo mengeluarkan bahan-bahannya. Tidak ada Daging Naga atau Sirip Hiu Langit.
Hanya sekarung Nasi Putih Sisa Semalam dan keranjang berisi Telur Ayam Roh.
Nasi sisa adalah rahasia nasi goreng terbaik. Kadar airnya sudah berkurang, membuatnya lebih mudah terpisah saat digoreng. Tapi nasi yang dibawa Han Shuo bukan nasi biasa. Itu adalah Beras Kristal Embun yang ia ambil dari gudang istana—beras yang ditanam di ladang yang hanya disinari cahaya bulan.
"Nyalakan apinya," perintah Han Shuo.
Ying mendengus, tapi ia menjentikkan jarinya. Sebuah bola api kecil dari Qi murni menyambar kayu bakar di bawah tungku gerobak.
WOOSH!
Api menyala besar. Han Shuo meletakkan wajan besinya.
"Menu hari ini hanya satu," gumam Han Shuo. "Nasi Goreng Emas Terlarang."
Ia menuangkan Minyak Lemak Babi Api ke dalam wajan. Lemak ini berasal dari Babi Hutan Api (tingkat rendah) yang memiliki aroma smoky alami. Begitu minyak itu panas, asap putih tipis mulai naik.
Han Shuo tidak langsung memasukkan nasi. Ia memecahkan sepuluh butir Telur Ayam Roh ke dalam mangkuk, tapi ia hanya mengambil kuning telurnya saja. Ia mengocok kuning telur itu dengan kecepatan tangan yang tidak terlihat, mencampurnya dengan sedikit garam laut dan merica tumbuk.
Lalu, ia memasukkan nasi dingin ke dalam mangkuk telur itu sebelum digoreng.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ying heran. "Biasanya telur digoreng dulu, baru nasi."
"Itu cara amatir," jawab Han Shuo. "Teknik ini disebut Jubah Emas Kaisar. Aku membungkus setiap butir nasi dengan lapisan kuning telur mentah. Saat digoreng nanti, telur itu akan memadat dan mengunci kelembapan nasi di dalamnya, sekaligus memberikan warna emas yang merata."
Han Shuo menuangkan campuran nasi berlumur telur itu ke dalam minyak panas.
CSSSSSHHH!
Suara itu terdengar seperti hujan deras yang menghantam atap seng. Asap membubung tinggi, membawa aroma gurih yang begitu kuat hingga seolah-olah memiliki bentuk fisik.
Han Shuo mulai melakukan Tarian Wajan Besi.
Tangan kirinya (yang memakai sarung tangan Tangan Bayangan) memegang gagang wajan, menyentakkannya ke depan dan belakang dengan ritme konstan. Nasi-nasi itu melompat ke udara, berputar, lalu jatuh kembali ke permukaan logam panas.
Setiap butir nasi terpisah. Tidak ada yang menggumpal. Warna kuning telur matang berubah menjadi keemasan yang berkilau di bawah sinar matahari pagi.
"Ying, potong daun bawangnya!"
Ying melempar seikat daun bawang ke udara. Sring! Sring! Sring! Tiga kilatan cahaya perak, dan daun bawang itu jatuh ke dalam wajan dalam bentuk irisan tipis milimeter yang sempurna.
Han Shuo menangkapnya dengan wajan, menumisnya sebentar hanya untuk mengeluarkan aroma segarnya, lalu mematikan api.
Seluruh proses hanya memakan waktu tiga menit.
Tapi hasilnya...
Di seberang jalan, antrean di depan Paviliun Naga Terbang mulai gelisah.
"Bau apa ini?" Seorang pedagang sutra gemuk mengendus-endus udara. "Baunya... gurih sekali. Lebih enak dari Bebek Panggang yang kupesan minggu lalu."
"Asalnya dari seberang!" tunjuk seorang anak kecil.
Aroma Nasi Goreng Emas itu tidak sopan. Ia tidak meminta izin. Ia menerobos masuk ke hidung, merangsang kelenjar air liur, dan membangkitkan rasa lapar purba yang tidak bisa ditahan oleh etika bangsawan.
Konfrontasi: Manajer Zhao
Pintu Paviliun Naga Terbang terbuka kasar. Seorang pria kurus dengan kumis tikus dan jubah sutra biru keluar. Ini adalah Manajer Zhao, orang kepercayaan Keluarga Wang yang mengelola restoran ini. Kultivasinya berada di tahap Pondasi Dasar (Foundation Establishment) Awal.
Zhao melihat gerobak Han Shuo dan kerumunan yang mulai menoleh. Wajahnya merah padam.
"Siapa yang mengizinkan pedagang kaki lima berjualan di sini?!" bentak Zhao sambil berjalan menyeberang jalan, diikuti dua penjaga bertubuh besar (Tingkat Murid Qi - Level 9).
Han Shuo sedang menyendok nasi ke dalam mangkuk daun pisang. Ia tidak menoleh. "Jalanan ini milik kekaisaran, bukan milik Keluarga Wang. Minggir, kau menghalangi pelangganku."
Zhao ternganga. "Kau... kau bocah Han Shuo yang membuat masalah di sekte itu, kan? Tuan Muda Wang sudah memberitahuku tentangmu. Berani sekali kau muncul di sini! Hancurkan gerobaknya!"
Dua penjaga itu maju, siap menendang gerobak Han Shuo.
Han Shuo tetap tenang menyendok nasi. "Ying, ada lalat."
Sret.
Ying tidak bergerak dari posisinya bersandar di tiang tenda. Ia hanya menjentikkan jarinya.
Dua jarum Qi yang sangat halus melesat dan menghantam lutut kedua penjaga itu.
"ARGGH!"
Kedua penjaga itu jatuh berlutut serentak, wajah mereka mencium debu tepat di depan gerobak Han Shuo.
"Selamat datang, pelanggan pertama," kata Han Shuo sambil tersenyum ramah. "Tapi kami tidak menerima pembayaran dengan lutut. Satu porsi nasi goreng harganya 5 Keping Perak."
Manajer Zhao mundur selangkah, kaget melihat penjaganya lumpuh seketika. Ia menatap Ying dengan ketakutan. Wanita itu... auranya tidak terbaca. Minimal Inti Emas (Golden Core)!
"Kau... kau mencari mati!" Zhao mencoba menggertak. "Kami Paviliun Naga Terbang memiliki dukungan Jenderal Kota! Kau pikir makanan sampahmu bisa bersaing dengan Koki Bintang Lima kami?"
"Sampah?" Han Shuo mengangkat satu mangkuk nasi goreng. Uap panasnya mengepul, membentuk ilusi naga kecil yang menari (efek dari Qi Han Shuo).
"Kalau begitu, biarkan lidah yang bicara," Han Shuo menoleh ke kerumunan yang menonton. "Siapapun yang ingin mencoba, porsi pertama gratis!"
Seorang pengemis tua yang duduk di pojok memberanikan diri maju. "Bolehkah saya, Tuan?"
Han Shuo memberikan mangkuk itu. "Silakan, Paman."
Pengemis itu menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya yang ompong.
Seketika, mata pengemis itu melotot. Tubuhnya yang bungkuk tiba-tiba tegak.
"Ini... ini..." Pengemis itu menangis. "Energi hangat mengalir ke punggungku! Rasa sakit rematikku hilang! Dan rasanya... oh Dewa, rasanya seperti memakan awan yang digoreng!"
Pengemis itu makan dengan lahap, menjilati daun pisangnya sampai bersih. Saat ia selesai, aura tipis berwarna putih muncul di sekeliling tubuhnya.
BOOM!
Pengemis itu, yang ternyata mantan kultivator gagal, tiba-tiba menerobos hambatan kultivasinya. Dari manusia biasa, ia naik menjadi Murid Qi Tingkat 1.
"Aku... aku bisa merasakan Qi lagi!" teriak pengemis itu histeris. "Nasi goreng ini ajaib!"
Kerumunan meledak.
"Makanan yang bisa menaikkan kultivasi?!"
"Dan harganya cuma 5 perak? Di seberang sana sup peningkat Qi harganya 50 emas!"
"Aku mau! Aku beli sepuluh!"
Dalam sekejap, antrean di depan Paviliun Naga Terbang bubar. Para bangsawan, pedagang, dan kultivator muda berlarian menyeberang jalan, menyerbu gerobak Han Shuo.
"Antre! Jangan dorong!" teriak Ying, kali ini dengan nada gembira sambil memunguti koin perak yang dilempar pelanggan.
Manajer Zhao berdiri sendirian di depan restorannya yang megah tapi kosong. Angin berhembus, menerbangkan daun kering di kakinya.
"Tidak mungkin..." desis Zhao. "Ini sihir hitam..."
Malam Hari: Penghitungan
Han Shuo menutup gerobaknya saat bulan sudah tinggi. Bahan-bahannya ludes. Bahkan minyak jelantahnya pun ada yang mau membeli.
Di dalam tenda, Ying menghitung tumpukan koin perak dan beberapa koin emas.
"Total pendapatan hari ini: 800 Koin Emas," lapor Ying, matanya berbinar. "Itu setara dengan gaji sebulan Jenderal."
Han Shuo sedang duduk bersila, bermeditasi. Memasak dengan Api Batin dan Niat Pisau sepanjang hari menguras tenaganya, tapi juga melatih kontrol Qi-nya menjadi lebih presisi.
"Ini baru permulaan," kata Han Shuo. "Besok, Keluarga Wang akan membalas. Mereka tidak akan mengirim preman lagi. Mereka akan mengirim Koki."
Han Shuo membuka matanya. Ada kilatan cahaya ungu di sana.
"Dan saat mereka melakukannya, aku akan siap. Ying, besok kita ganti menu."
"Ganti lagi? Apa selanjutnya?"
"Mie Tarik Pemutus Jiwa," jawab Han Shuo. "Kita akan membuat pelanggan menangis rindu pada masakan ibu mereka, sampai mereka lupa jalan pulang ke restoran Wang."
Tiba-tiba, Han Shuo merasakan getaran di dadanya. Kitab Rasa Semesta di dalam jiwanya membuka halaman baru.
[Prestasi Terbuka: Penguasa Jalanan]
[Hadiah: Resep Sambal Neraka Tingkat 1 (Dapat membakar lemak jahat dan memurnikan meridian api)]
Han Shuo tersenyum jahat. "Sempurna."
Panduan Sistem Kultivasi & Tingkatan Kekuatan
Untuk memahami skala kekuatan dalam cerita ini, berikut adalah hierarki kultivasi yang berlaku di Benua Naga Biru, serta perbandingannya dengan tingkatan Koki yang dianut Han Shuo.
Tingkatan Kultivasi Bela Diri (Martial Cultivation)
Ini adalah jalur umum yang ditempuh para petarung, bangsawan, dan sekte.
* Murid Qi (Qi Condensation / Lian Qi)
* Tingkatan: Level 1 - 9.
* Ciri: Baru bisa merasakan Qi, memperkuat fisik melebihi manusia biasa. Bisa memecahkan batu dengan tangan kosong.
* Contoh: Penjaga pintu, preman pasar, murid luar sekte.
* Pondasi Dasar (Foundation Establishment / Zhu Ji)
* Tingkatan: Awal, Menengah, Akhir, Puncak.
* Ciri: Qi memadat menjadi cairan di dalam Dantian. Bisa menggunakan teknik terbang jarak pendek (melompat tinggi), memanipulasi elemen dasar, dan menggunakan "Api Batin" tingkat rendah. Umur bisa mencapai 150 tahun.
* Posisi: Murid Inti, Manajer Toko, Kapten Penjaga.
* Posisi Han Shuo Saat Ini: Pondasi Dasar Tahap Menengah (Mid-Stage).
* Inti Emas (Golden Core / Jin Dan)
* Tingkatan: Awal, Menengah, Akhir, Puncak.
* Ciri: Qi memadat menjadi bola emas padat. Kekuatan meningkat drastis. Bisa terbang leluasa tanpa alat bantu. Aura bisa menekan tingkatan di bawahnya. Umur mencapai 300-500 tahun.
* Posisi: Penatua Sekte, Jenderal Kota, Kepala Keluarga Bangsawan (skala kecil).
* Posisi Ying (Si Pembunuh): Inti Emas Tahap Awal.
* Jiwa Baru (Nascent Soul / Yuan Ying)
* Tingkatan: Awal, Menengah, Akhir, Puncak.
* Ciri: Inti Emas pecah dan melahirkan "bayi jiwa" (Jiwa Nascent). Jika tubuh hancur, jiwa bisa kabur dan mencari tubuh baru. Kekuatan bisa meratakan satu kota kecil dengan satu serangan. Umur mencapai 800-1000 tahun.
* Posisi: Pemimpin Sekte Besar, Penatua Agung, Monster Tua.
* Posisi Mu Chen & Penatua Agung Sekte Awan Merah: Jiwa Baru Tahap Akhir.
* Transformasi Dewa (Spirit Transformation / Hua Shen)
* Ciri: Jiwa menyatu dengan alam semesta. Bisa memanipulasi hukum alam (ruang dan waktu skala kecil). Hampir abadi di mata manusia fana.
* Posisi: Kaisar Kekaisaran Naga Biru (Diduga), Leluhur Pendiri Sekte.
Tingkatan Kultivasi Kuliner (Jalur Han Shuo)
Jalur unik yang diajarkan oleh Kitab Rasa Semesta. Kekuatan tempurnya setara dengan bela diri, tapi fokus pada manipulasi bahan dan penyembuhan/peningkatan.
* Koki Magang (Apprentice Chef)
* Setara: Murid Qi.
* Kemampuan: Memasak makanan enak, teknik pisau dasar, sedikit penguatan fisik.
* Koki Roh (Spirit Chef)
* Setara: Pondasi Dasar.
* Kemampuan: Memasak bahan tingkat spiritual (Binatang Buas/Tanaman Obat). Bisa melihat aliran Qi dalam makanan. Menggunakan "Api Dapur" untuk menyerang.
* Status Han Shuo: Koki Roh Bintang 3.
* Master Rasa (Taste Master)
* Setara: Inti Emas.
* Kemampuan: Niat Pisau (Knife Intent) yang nyata. Makanan bisa memberikan efek buff permanen atau menyembuhkan luka fatal. Bisa membuat "Domain Dapur" (area di mana dia mengendalikan segalanya).
* Raja Dapur (Kitchen King)
* Setara: Jiwa Baru.
* Kemampuan: Memasak konsep abstrak (emosi, kenangan). Bahan makanannya bisa berupa petir, api neraka, atau cahaya bulan murni.
* Dewa Dapur (God of Cooking)
* Setara: Transformasi Dewa & Di atasnya.
* Kemampuan: Menciptakan kehidupan dari makanan. Memasak nasib.