Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Serangan yang Menyasar Pribadi
Pagi itu, Aruna membuka laptopnya lebih lambat dari biasanya. Segala notifikasi berdentang, tapi jari-jarinya terasa berat saat menggerakkan mouse. Bukan karena lelah—tapi karena tahu, setiap klik bisa membawa konsekuensi yang tidak diinginkan.
Ia menatap layar. Ada email baru dari divisi audit. Subjeknya singkat: “Segera klarifikasi dokumen Eastbay”.
Aruna menarik napas. Ia tahu ini bukan permintaan biasa. Ini strategi. Dan Hendra, pasti, ada di balik semua ini.
Langkah kaki terdengar di koridor. Calvin muncul di ambang pintu, ekspresinya setenang biasanya, tapi Aruna bisa membaca ketegangan di matanya.
“Kamu siap?” tanyanya.
Aruna menutup laptop. “Seperti siap apa pun aku bisa. Tapi ini terasa… terlalu dekat sekarang.”
Calvin mengangguk. “Mereka tidak lagi menyerang pekerjaanmu. Sekarang pribadi. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi tanpa kita bereaksi.”
Aruna menatapnya. Ada rasa lega aneh, tapi juga beban baru. Chemistry mereka terasa tegang—bukan romantis, tapi rasa saling mengandalkan yang berat, nyata, dan… sedikit berbahaya.
...****************...
Di ruang rapat, suasananya sudah berbeda. Semua mata tertuju pada Aruna saat ia masuk. Kali ini bukan tatapan penasaran profesional, tapi ada bisik-bisik yang tidak bisa disembunyikan.
“Kamu dengar rumor terbaru?” salah satu staf bertanya dengan suara rendah.
Aruna mengangkat alis. “Rumor?”
“Katanya… kamu terlalu dekat sama CEO,” bisik lainnya, matanya menatap Aruna dengan campuran rasa ingin tahu dan iri.
Aruna menelan ludah, tapi tetap tegap. Ia sadar, ini bagian dari strategi mereka: menggeser fokus dari fakta ke persepsi, dari tindakan ke rumor.
Calvin berdiri di ujung ruangan. Tatapannya menenangkan tapi sekaligus menegaskan: diam bukan berarti lemah.
Aruna menarik napas panjang. Suara hatinya beradu dengan logika: jika ia bereaksi, mereka menang. Jika ia tetap tenang, permainan baru dimulai.
...****************...
Pertemuan dengan tim audit dimulai. Dokumen dibentangkan, pertanyaan datang deras. Semua diarahkan untuk membuat Aruna tampak salah.
Tapi Aruna sudah siap. Setiap fakta, setiap angka, sudah diperiksa, dicatat, dan disiapkan untuk counter. Ia menatap mereka satu per satu, suaranya stabil, tidak bergetar:
“Semua dokumen yang kalian tunjukkan valid. Tidak ada kesalahan prosedur. Setiap akses tercatat.”
Satu per satu, pertanyaan mereka dijawab tanpa tergesa. Dan setiap kali mereka mencoba menyerang dengan nada meremehkan, Aruna hanya menatap mereka—tenang, tapi penuh ketegasan.
Calvin menyadari setiap gerakan mereka, siap menutup celah. Mereka bekerja seperti satu tim. Tidak ada kata-kata manis, hanya koordinasi diam-diam.
Saat rapat selesai, bisik-bisik tidak berhenti. Bahkan ada yang mulai menuduh Aruna sengaja memanipulasi dokumen demi melindungi Hendra—hal yang sama sekali tidak benar.
Di koridor, Aruna berhenti sejenak, menatap ponselnya yang bergetar. Satu pesan masuk:
“Aku tahu siapa yang kamu lindungi.”
Aruna menelan ludah. Ini lebih dari sekadar ancaman profesional. Ini pribadi. Dan dia tahu—selama pesan itu masuk, kehidupan pribadinya tidak aman.
Calvin berdiri di sampingnya. Ia menatap Aruna, tidak berkata apa pun. Hanya tatapan yang membuat Aruna merasa tidak sendirian.
“Jangan balas,” katanya akhirnya. “Mereka ingin reaksi. Jangan beri mereka itu.”
Aruna mengangguk, meski dadanya terasa sesak. Setiap langkah kini terasa berat. Tidak hanya untuk reputasinya, tapi untuk keselamatan orang-orang yang ia sayangi.
...****************...
Malamnya, Aruna pulang ke apartemen. Tangannya masih gemetar saat membuka kunci pintu. Ia masuk perlahan. Tidak ada yang aneh, tapi instingnya mengatakan—sesuatu akan terjadi.
Dan benar. Di meja makan, ada amplop cokelat dengan tulisan tangan yang rapi: “Ini peringatan terakhir. Jangan campuri urusan yang lebih besar darimu.”
Aruna menatap amplop itu. Rasanya seperti udara di sekelilingnya tiba-tiba menekan dada. Ia tahu—ini bukan sekadar pesan. Ini peringatan nyata. Dan siapa pun yang mengirimnya, cukup berani untuk mendekat.
Ia mengangkat ponsel, menekan nomor Calvin.
“Dia sudah tahu di mana aku tinggal,” katanya. Suaranya pelan, tapi tenang.
“Dan itu risiko yang harus kita hadapi,” jawab Calvin. “Jangan panik. Tapi bersiaplah. Kita akan balikkan permainan.”
Aruna menatap layar. Ada rasa aneh di dadanya: takut? Ya. Tapi juga bangga. Karena untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar berdaya, meski berada di tengah badai.
“Kalau besok mereka menyerang lagi,” lanjut Calvin, “kita tidak akan menunggu. Kita yang menentukan langkah selanjutnya.”
Aruna tersenyum tipis. Tidak lega. Tidak puas. Hanya… siap.
Karena ia tahu satu hal:
Permainan ini sudah tidak lagi tentang pekerjaan.
Tidak lagi tentang audit.
Ini tentang bertahan hidup, bertahan dengan harga diri, dan melindungi orang yang ia sayangi.
Dan besok, serangan berikutnya akan lebih dekat, lebih personal, dan lebih berbahaya.
Tetapi untuk pertama kalinya, Aruna merasa—bersama Calvin—ia tidak perlu takut.
Ia menatap layar, menarik napas panjang.
Ini baru permulaan dari pertarungan yang benar-benar nyata.
Aruna menatap dinding apartemennya, mencoba menenangkan pikiran. Tapi bayangan ancaman tetap terasa dekat, seperti udara dingin yang menyusup lewat celah jendela. Ia tahu—ini bukan hanya soal dokumen, audit, atau Hendra. Ini soal siapa yang memiliki kendali atas informasi, siapa yang bisa memutar keadaan, dan siapa yang bisa menahan napas lebih lama saat tekanan meningkat.
Ia menutup mata sejenak dan membayangkan ibunya, yang kini sedang menyiapkan sarapan di rumah. Rasa bersalah menyelinap: “Kalau ada yang terjadi, aku yang menanggungnya…” gumamnya dalam hati. Tapi segera ia mengingat nasihat Calvin: diam bukan berarti menyerah, dan menunggu bukan berarti lemah.
Tangan Aruna mengepal perlahan. Ia merasakan adrenalin naik, bukan karena takut, tapi karena rasa ingin melawan—menjadi lebih dari sekadar korban keadaan. Setiap strategi, setiap langkah yang telah disiapkannya bersama Calvin, kini terasa seperti senjata yang bisa digunakannya untuk menahan badai yang datang.
Di sudut mata, layar laptop masih menyala, log akses terus bergerak. Aruna menatapnya lagi, kali ini dengan fokus lebih tajam. Ia tahu siapa pun yang mencoba menjebaknya pasti akan membuat kesalahan—dan saat itu terjadi, mereka tidak akan melihatnya datang.
Calvin berdiri di dekat jendela, menatap ke luar kota yang berkilau dengan cahaya lampu malam. Tatapannya kembali ke Aruna, dan sejenak, ada kedekatan yang sulit dijelaskan—bukan romantis, tapi pengertian dan kepercayaan yang lahir dari perang bersama.
“Besok… kita tidak hanya menunggu,” kata Calvin akhirnya, suaranya rendah tapi tegas. “Kita yang menentukan permainan. Mereka akan bergerak, tapi kita lebih cepat.”
Aruna mengangguk pelan. Ia tahu benar—permainan ini tidak akan berhenti sampai salah satu pihak menyerah. Dan ia memilih berdiri tegap, siap menghadapi apa pun, karena untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar memiliki kendali atas nasibnya sendiri.
Dan Aruna tersenyum, tipis tapi tegas, sambil menutup laptopnya.
Siap menghadapi apa pun.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/