NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Serangan yang Menyasar Pribadi

Pagi itu, Aruna membuka laptopnya lebih lambat dari biasanya. Segala notifikasi berdentang, tapi jari-jarinya terasa berat saat menggerakkan mouse. Bukan karena lelah—tapi karena tahu, setiap klik bisa membawa konsekuensi yang tidak diinginkan.

Ia menatap layar. Ada email baru dari divisi audit. Subjeknya singkat: “Segera klarifikasi dokumen Eastbay”.

Aruna menarik napas. Ia tahu ini bukan permintaan biasa. Ini strategi. Dan Hendra, pasti, ada di balik semua ini.

Langkah kaki terdengar di koridor. Calvin muncul di ambang pintu, ekspresinya setenang biasanya, tapi Aruna bisa membaca ketegangan di matanya.

“Kamu siap?” tanyanya.

Aruna menutup laptop. “Seperti siap apa pun aku bisa. Tapi ini terasa… terlalu dekat sekarang.”

Calvin mengangguk. “Mereka tidak lagi menyerang pekerjaanmu. Sekarang pribadi. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi tanpa kita bereaksi.”

Aruna menatapnya. Ada rasa lega aneh, tapi juga beban baru. Chemistry mereka terasa tegang—bukan romantis, tapi rasa saling mengandalkan yang berat, nyata, dan… sedikit berbahaya.

...****************...

Di ruang rapat, suasananya sudah berbeda. Semua mata tertuju pada Aruna saat ia masuk. Kali ini bukan tatapan penasaran profesional, tapi ada bisik-bisik yang tidak bisa disembunyikan.

“Kamu dengar rumor terbaru?” salah satu staf bertanya dengan suara rendah.

Aruna mengangkat alis. “Rumor?”

“Katanya… kamu terlalu dekat sama CEO,” bisik lainnya, matanya menatap Aruna dengan campuran rasa ingin tahu dan iri.

Aruna menelan ludah, tapi tetap tegap. Ia sadar, ini bagian dari strategi mereka: menggeser fokus dari fakta ke persepsi, dari tindakan ke rumor.

Calvin berdiri di ujung ruangan. Tatapannya menenangkan tapi sekaligus menegaskan: diam bukan berarti lemah.

Aruna menarik napas panjang. Suara hatinya beradu dengan logika: jika ia bereaksi, mereka menang. Jika ia tetap tenang, permainan baru dimulai.

...****************...

Pertemuan dengan tim audit dimulai. Dokumen dibentangkan, pertanyaan datang deras. Semua diarahkan untuk membuat Aruna tampak salah.

Tapi Aruna sudah siap. Setiap fakta, setiap angka, sudah diperiksa, dicatat, dan disiapkan untuk counter. Ia menatap mereka satu per satu, suaranya stabil, tidak bergetar:

“Semua dokumen yang kalian tunjukkan valid. Tidak ada kesalahan prosedur. Setiap akses tercatat.”

Satu per satu, pertanyaan mereka dijawab tanpa tergesa. Dan setiap kali mereka mencoba menyerang dengan nada meremehkan, Aruna hanya menatap mereka—tenang, tapi penuh ketegasan.

Calvin menyadari setiap gerakan mereka, siap menutup celah. Mereka bekerja seperti satu tim. Tidak ada kata-kata manis, hanya koordinasi diam-diam.

Saat rapat selesai, bisik-bisik tidak berhenti. Bahkan ada yang mulai menuduh Aruna sengaja memanipulasi dokumen demi melindungi Hendra—hal yang sama sekali tidak benar.

Di koridor, Aruna berhenti sejenak, menatap ponselnya yang bergetar. Satu pesan masuk:

“Aku tahu siapa yang kamu lindungi.”

Aruna menelan ludah. Ini lebih dari sekadar ancaman profesional. Ini pribadi. Dan dia tahu—selama pesan itu masuk, kehidupan pribadinya tidak aman.

Calvin berdiri di sampingnya. Ia menatap Aruna, tidak berkata apa pun. Hanya tatapan yang membuat Aruna merasa tidak sendirian.

“Jangan balas,” katanya akhirnya. “Mereka ingin reaksi. Jangan beri mereka itu.”

Aruna mengangguk, meski dadanya terasa sesak. Setiap langkah kini terasa berat. Tidak hanya untuk reputasinya, tapi untuk keselamatan orang-orang yang ia sayangi.

...****************...

Malamnya, Aruna pulang ke apartemen. Tangannya masih gemetar saat membuka kunci pintu. Ia masuk perlahan. Tidak ada yang aneh, tapi instingnya mengatakan—sesuatu akan terjadi.

Dan benar. Di meja makan, ada amplop cokelat dengan tulisan tangan yang rapi: “Ini peringatan terakhir. Jangan campuri urusan yang lebih besar darimu.”

Aruna menatap amplop itu. Rasanya seperti udara di sekelilingnya tiba-tiba menekan dada. Ia tahu—ini bukan sekadar pesan. Ini peringatan nyata. Dan siapa pun yang mengirimnya, cukup berani untuk mendekat.

Ia mengangkat ponsel, menekan nomor Calvin.

“Dia sudah tahu di mana aku tinggal,” katanya. Suaranya pelan, tapi tenang.

“Dan itu risiko yang harus kita hadapi,” jawab Calvin. “Jangan panik. Tapi bersiaplah. Kita akan balikkan permainan.”

Aruna menatap layar. Ada rasa aneh di dadanya: takut? Ya. Tapi juga bangga. Karena untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar berdaya, meski berada di tengah badai.

“Kalau besok mereka menyerang lagi,” lanjut Calvin, “kita tidak akan menunggu. Kita yang menentukan langkah selanjutnya.”

Aruna tersenyum tipis. Tidak lega. Tidak puas. Hanya… siap.

Karena ia tahu satu hal:

Permainan ini sudah tidak lagi tentang pekerjaan.

Tidak lagi tentang audit.

Ini tentang bertahan hidup, bertahan dengan harga diri, dan melindungi orang yang ia sayangi.

Dan besok, serangan berikutnya akan lebih dekat, lebih personal, dan lebih berbahaya.

Tetapi untuk pertama kalinya, Aruna merasa—bersama Calvin—ia tidak perlu takut.

Ia menatap layar, menarik napas panjang.

Ini baru permulaan dari pertarungan yang benar-benar nyata.

Aruna menatap dinding apartemennya, mencoba menenangkan pikiran. Tapi bayangan ancaman tetap terasa dekat, seperti udara dingin yang menyusup lewat celah jendela. Ia tahu—ini bukan hanya soal dokumen, audit, atau Hendra. Ini soal siapa yang memiliki kendali atas informasi, siapa yang bisa memutar keadaan, dan siapa yang bisa menahan napas lebih lama saat tekanan meningkat.

Ia menutup mata sejenak dan membayangkan ibunya, yang kini sedang menyiapkan sarapan di rumah. Rasa bersalah menyelinap: “Kalau ada yang terjadi, aku yang menanggungnya…” gumamnya dalam hati. Tapi segera ia mengingat nasihat Calvin: diam bukan berarti menyerah, dan menunggu bukan berarti lemah.

Tangan Aruna mengepal perlahan. Ia merasakan adrenalin naik, bukan karena takut, tapi karena rasa ingin melawan—menjadi lebih dari sekadar korban keadaan. Setiap strategi, setiap langkah yang telah disiapkannya bersama Calvin, kini terasa seperti senjata yang bisa digunakannya untuk menahan badai yang datang.

Di sudut mata, layar laptop masih menyala, log akses terus bergerak. Aruna menatapnya lagi, kali ini dengan fokus lebih tajam. Ia tahu siapa pun yang mencoba menjebaknya pasti akan membuat kesalahan—dan saat itu terjadi, mereka tidak akan melihatnya datang.

Calvin berdiri di dekat jendela, menatap ke luar kota yang berkilau dengan cahaya lampu malam. Tatapannya kembali ke Aruna, dan sejenak, ada kedekatan yang sulit dijelaskan—bukan romantis, tapi pengertian dan kepercayaan yang lahir dari perang bersama.

“Besok… kita tidak hanya menunggu,” kata Calvin akhirnya, suaranya rendah tapi tegas. “Kita yang menentukan permainan. Mereka akan bergerak, tapi kita lebih cepat.”

Aruna mengangguk pelan. Ia tahu benar—permainan ini tidak akan berhenti sampai salah satu pihak menyerah. Dan ia memilih berdiri tegap, siap menghadapi apa pun, karena untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar memiliki kendali atas nasibnya sendiri.

Dan Aruna tersenyum, tipis tapi tegas, sambil menutup laptopnya.

Siap menghadapi apa pun.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!