NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Fan Yang Jenius

Reinkarnasi Fan Yang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Anak Genius
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”

Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sayap untuk Sang Penjaga Jamban

Bonus gambar karakter:

...----------------...

Mencari keberadaan Lei Bao di Pos Kedua saat ini ternyata semudah mencari lalat di tempat pembuangan sampah. Li Fan hanya perlu berjalan menyusuri jalan setapak menuju arah tenggara, tempat di mana aroma "eksotis" mulai menusuk hidung tanpa ampun. Area penampungan kotoran asrama murid gagal adalah tempat terkutuk yang paling dihindari oleh siapapun yang masih memiliki fungsi penciuman yang normal.

Saat Li Fan sampai di sana, ia melihat pemandangan yang sungguh kontras dengan keindahan hutan bambu ungu yang baru saja ia tinggalkan. Di sana, di antara parit-parit semen yang berkerak kotoran dan jamban-jamban kayu yang sudah reyot dimakan usia, berdiri seorang pria raksasa. Pria itu sedang memegang sebuah ember kayu besar yang bocor dan sapu lidi yang sudah hampir gundul tanpa sisa.

Itu adalah Lei Bao. Pria yang baru beberapa hari lalu berdiri dengan sombong menantang dewi es dan menindas murid lain, kini sedang sibuk menyiram air keruh ke lantai jamban. Wajahnya yang dulu tegap dan garang kini terlihat kusam bagaikan mayat hidup. Matanya merah dan bengkak karena kurang tidur serta paparan uap amonia yang menyengat paru-paru.

Beberapa murid gagal yang kebetulan lewat sengaja meludah ke arah sepatunya. Ada juga yang melontarkan hinaan kasar dan tertawa mengejek, merayakan jatuhnya sang mantan tiran. Namun Lei Bao hanya diam membisu, telinganya seolah-olah sudah tuli dan jiwanya telah terbang meninggalkan raganya.

Li Fan berhenti sekitar sepuluh langkah dari area yang paling bau, menolak untuk membiarkan sepatu bot kulit naganya menyentuh tanah najis tersebut. Ia dengan anggun menutup hidungnya menggunakan saputangan sutra bersulam emas yang sudah disemprot sebotol penuh parfum melati surgawi paling mahal di ibu kota.

“Wah, wah... sepertinya aku datang di saat yang paling tepat untuk menyaksikan adegan teatrikal kejatuhan seorang raja kecil,” suara Li Fan terdengar renyah dan santai. Suaranya memecah keheningan di tempat kotor itu, membuat beberapa murid yang sedang mengejek Lei Bao langsung menoleh.

“Hei, anak baru! Sedang apa kau di sini? Ingin ikut membersihkan jamban dengan baju mewahmu itu?” ejek salah seorang murid berwajah bopeng sambil berkacak pinggang.

Li Fan bahkan tidak repot-repot melirik murid bopeng itu. Ia hanya mengibaskan tangannya dengan malas. “Menyingkirlah, lalat limbah. Aku sedang tidak ingin berbicara dengan serangga yang bahkan tidak memiliki masa depan untuk menjadi pupuk yang berguna. Pergi sebelum aku memutuskan untuk membuat kalian memakan kotoran di parit itu.”

Aura intimidasi alami yang memancar dari Li Fan membuat murid-murid gagal itu merinding ketakutan. Tanpa perlu diancam dua kali, mereka langsung lari terbirit-birit meninggalkan area tersebut.

Mendengar keributan kecil itu, Lei Bao menghentikan gerakannya yang monoton. Ia perlahan menoleh dan melihat sosok anak kecil berjubah putih bersih yang berdiri dengan gaya angkuh tak jauh darinya. Matanya yang layu seketika memancarkan sedikit kilatan emosi yang rumit saat mengenali Ma Liang, si tuan muda aneh yang selalu bersikap semaunya.

“Tuan Muda Ma... apakah Anda datang ke tempat menjijikkan ini hanya untuk menghina saya seperti yang lainnya?” ucap Lei Bao dengan suara serak yang penuh dengan keputusasaan yang mendalam. “Jika iya, silakan saja. Lakukan sesuka Anda. Saya sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dibanggakan di dunia ini.”

Li Fan menurunkan saputangannya sejenak, menahan napasnya secara internal. Ia menatap Lei Bao dengan pandangan yang tidak mengejek, namun juga sama sekali tidak memancarkan belas kasihan.

“Menghinamu? Tolong jangan terlalu meninggikan nilai dirimu sendiri, Lei Bao. Itu terlalu membuang-buang tenagaku yang berharga,” jawab Li Fan dengan senyum tipis yang meremehkan. “Menghina seseorang yang sudah rela mengubur dirinya sendiri di dalam lubang kotoran tidak memberikan kepuasan estetika apa-apa bagiku.”

Lei Bao menundukkan kepalanya dalam-dalam, tangannya mencengkeram gagang sapu lidi hingga buku-buku jarinya memutih.

“Lalu untuk apa Anda datang ke sini? Hanya untuk menikmati pemandangan penderitaan saya?” tanya Lei Bao getir.

“Aku ke sini karena aku benci melihat pemborosan,” jawab Li Fan sambil melangkah maju dua langkah, mengabaikan bau yang mulai menembus pertahanan parfumnya. “Aku merasa sangat sayang jika bakat fisikmu yang sudah kau tempa dengan darah dan keringat selama bertahun-tahun harus berakhir tragis. Apalagi hanya untuk membersihkan sisa pencernaan orang-orang yang bahkan lebih lemah darimu.”

Lei Bao tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat pahit dan menyayat hati, menggema di antara dinding-dinding jamban kayu.

“Bakat? Bakat luar biasa apa yang Anda bicarakan? Anda lihat sendiri kenyataannya. Bahkan seorang anak baru miskin dengan pedang berkarat bisa mempermalukan saya hanya dalam satu gerakan,” ucap Lei Bao sambil menunjuk ke arah asrama utama. “Saya adalah pecundang sejati, Tuan Muda. Takdir dari langit sudah memutuskan bahwa saya hanya akan menjadi manusia fana rendahan yang membersihkan jalan bagi para kultivator sejati seperti Anda, Nona Lin, dan si keparat Xiao Chen itu.”

Li Fan mendengus kasar, seolah baru saja mendengar lelucon paling tidak lucu sepanjang abad. Ia melangkah maju lagi, mengabaikan genangan air kotor di dekatnya. Ia berdiri tegak tepat di depan Lei Bao, membuat pria raksasa setinggi dua meter itu harus menunduk untuk menatap mata hitam pekat sang tuan muda.

“Takdir? Jangan membuat telingaku gatal, Lei Bao. Kata takdir hanyalah alasan murahan yang diciptakan oleh orang-orang lemah untuk membenarkan kemalasan dan kegagalan mereka sendiri,” ucap Li Fan dengan nada yang tiba-tiba menjadi sangat berat, dingin, dan penuh wibawa. “Keadilan langit itu buta dan tuli. Langit tidak pernah peduli siapa yang menang dan siapa yang kalah. Mereka yang berdiri di puncak bukanlah mereka yang dipilih oleh takdir, melainkan mereka yang berani menginjak-injak takdir itu sendiri.”

Lei Bao tertegun. Mulutnya sedikit terbuka. Kata-kata Li Fan seolah-olah memiliki daya magis yang langsung menghujam menembus jantung dan membangkitkan pusat kesadarannya yang telah mati.

“Apa... apa maksud Anda, Tuan Muda?” tanya Lei Bao dengan napas tertahan.

“Maksudku adalah kau bodoh. Sangat amat bodoh,” Li Fan menunjuk tepat ke tengah dada Lei Bao. “Kau merasa kalah dari Xiao Chen bukan karena dia jauh lebih kuat atau lebih jenius darimu. Kau kalah karena kau tidak tahu cara menggunakan senjata yang sudah kau miliki. Kau adalah seekor singa buas yang dipaksa bertarung menggunakan gaya melompat seekor kelinci. Kau terjebak dalam sistem sekte yang salah.”

Mata Lei Bao melebar. Ia memang selalu merasa ada yang salah dengan teknik kultivasinya, seolah tubuhnya menolak ajaran dasar dari Sekte Awan Azure, namun ia tidak pernah tahu alasannya.

“Kau memiliki tiga nadi spiritual yang terbuka lebar, tapi aliran Qi milikmu selalu tersumbat. Itu karena emosimu yang labil dan teknik pernapasan sampah yang diberikan oleh sekte pelit ini sama sekali tidak cocok dengan struktur tulang besarmu,” jelas Li Fan dengan gaya seorang guru besar yang sedang menceramahi murid terbodohnya. “Bakat tanpa otak dan panduan yang tepat hanyalah onggokan daging yang menunggu untuk dipotong di atas talenan.”

Li Fan menyeringai, sebuah seringai yang terlihat sangat licik namun entah mengapa menjanjikan secercah harapan di tengah kegelapan hati Lei Bao.

“Katakan padaku, raksasa. Apakah kau ingin membalas dendam pada anak bernama Xiao Chen itu? Apakah kau ingin menghancurkan pedang berkaratnya menjadi debu? Apakah kau ingin membuat dewi es yang arogan itu melihatmu sebagai pria yang layak dihormati dan ditakuti? Aku bisa memberimu kunci untuk mendapatkan semua itu,” goda Li Fan dengan suara pelan yang terdengar seperti bisikan iblis penggoda iman.

Lei Bao menjatuhkan ember kayunya dengan suara keras. Air kotor memercik ke kakinya dan celananya, tapi ia sama sekali tidak mempedulikannya. Seluruh perhatiannya kini tersita oleh bocah sepuluh tahun di depannya ini.

“Mengapa Anda ingin membantu saya? Apa untungnya bagi Anda? Apa yang Anda inginkan dari onggokan sampah tak berguna seperti saya?” tanya Lei Bao bertubi-tubi, kewaspadaan mulai muncul di matanya.

“Alasannya sangat sederhana. Aku menyukai keributan, Lei Bao. Aku adalah orang yang sangat mudah bosan,” Li Fan mengangkat bahunya dengan gaya tak acuh yang sangat menyebalkan. “Dan aku merasa drama membosankan di pos kedua ini akan jauh lebih menarik jika ada seorang pecundang lumpur yang tiba-tiba bangkit. Bayangkan wajah mereka saat kau menghancurkan ekspektasi semua orang. Itu adalah hiburan kelas atas bagiku.”

Sambil tersenyum tipis, Li Fan merogoh saku jubah bagian dalamnya. Ia mengeluarkan sebuah botol porselen kecil berwarna hitam legam yang memancarkan sedikit hawa panas. Begitu botol itu dikeluarkan, aroma kotoran di sekitar mereka tiba-tiba tersapu oleh keharuman herbal liar yang sangat kuat dan mendominasi.

“Di dalam botol ini ada Pil Pemurni Tulang tingkat menengah yang sudah aku modifikasi sendiri resepnya semalam. Meminumnya tidak akan menyenangkan. Ini akan sangat menyakitkan, bahkan seratus kali lipat lebih sakit dari pukulan Xiao Chen,” ucap Li Fan sambil menggoyang-goyangkan botol itu di depan wajah Lei Bao. “Tulang-tulang lamamu akan terasa seperti dihancurkan menjadi bubuk dan disambung kembali secara paksa dalam satu malam.”

Li Fan melemparkan botol porselen hitam itu ke udara. Dengan refleks yang masih tersisa, Lei Bao menangkapnya dengan kedua tangannya yang kasar dan gemetar hebat. Ia menatap botol itu seolah sedang memegang jantungnya sendiri.

“Selain pil gila itu, aku juga akan memberikanmu satu teknik pernapasan rahasia kuno yang disebut Napas Harimau Mengaum Surga. Teknik ini dirancang khusus untuk orang berbadan badak sepertimu,” Li Fan mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Lei Bao dengan pandangan yang menembus jiwa. “Jika kau berhasil menahan rasa sakitnya sampai fajar menyingsing, besok pagi kau tidak akan lagi menjadi penjaga jamban yang menyedihkan ini.”

Li Fan menjeda kalimatnya sejenak, membiarkan keheningan menambah bobot tawarannya.

“Kau akan menjadi monster sejati yang akan membuat Xiao Chen merayap memohon ampun di bawah kakimu. Jadi, Lei Bao... pilihan ada di tanganmu,” tantang Li Fan sambil melipat kedua tangannya di dada. “Apakah kau ingin tetap memegang sapu lidi berbau kotoran ini seumur hidupmu, atau kau ingin aku memberimu sepasang sayap besi untuk terbang dan mencabik-cabik langit yang telah menertawakanmu?”

Lei Bao menatap botol hitam kecil di telapak tangannya lekat-lekat. Ia kemudian menatap sapu lidi dan ember rusak di bawahnya, benda-benda yang melambangkan kehinaannya. Terakhir, ia menatap mata Li Fan yang berkilau misterius, penuh dengan misteri dan janji kekuatan absolut.

Rasa haus akan kekuatan yang menggebu-gebu dan rasa benci yang selama ini ia pendam dalam-dalam, seketika meledak menjadi sebuah tekad yang mengerikan. Darahnya yang sempat mendingin kini mendidih kembali.

Tanpa mempedulikan lantai semen yang penuh dengan kotoran basah, pria raksasa itu tiba-tiba menjatuhkan kedua lututnya. Ia berlutut bersujud dalam-dalam di depan Li Fan, menempelkan dahinya ke tanah sebagai tanda penyerahan diri yang paling mutlak.

“Jika Tuan Muda benar-benar bisa memberi saya kesempatan untuk membasuh rasa malu ini dengan darah, maka nyawa, jiwa, dan tulang Lei Bao adalah milik Anda sepenuhnya! Perintahkan saya untuk menyeberangi lautan api atau mendaki gunung pedang, dan saya akan melakukannya tanpa keraguan sedikit pun!” sumpah Lei Bao dengan suara menggelegar yang menggetarkan genangan air di sekitarnya.

Li Fan tersenyum lebar, kepuasannya sama sekali tidak bisa disembunyikan. Matanya menyipit membentuk bulan sabit yang licik.

“Sangat bagus. Pilihan yang cerdas. Berdirilah, singaku yang baru bangun,” ucap Li Fan dengan nada puas. “Dan ingat baik-baik satu aturan mutlak dariku, Lei Bao. Mulai detik ini, musuhmu bukan hanya si pahlawan kesiangan Xiao Chen. Musuhmu adalah langit, bumi, dan siapapun yang berani menatap rendah orang-orang yang berdiri di sekitarku.”

Li Fan berbalik dengan anggun, jubah putihnya berkibar ringan menolak debu yang berusaha menempel.

“Malam ini, bersiaplah menyambut neraka pribadimu. Nikmati setiap detik penderitaannya, karena itu adalah harga untuk mengubahmu menjadi iblis yang akan mengacaukan dunia ini,” ucap Li Fan tanpa menoleh lagi.

Li Fan melangkah pergi meninggalkan area jamban dengan hati yang sangat riang dan langkah seringan kapas. Ia baru saja berhasil menanam benih kekacauan pertamanya di sekte ini. Ia benar-benar tidak sabar ingin melihat bagaimana "Putra Langit" Xiao Chen yang dibanggakan itu akan bereaksi ketika ia harus menghadapi Lei Bao versi monster buas keesokan harinya.

“Sebuah panggung drama yang bagus selalu membutuhkan sosok antagonis yang berkualitas tinggi,” gumam Li Fan sambil bersiul pelan menirukan nada lagu perayaan. “Mari kita lihat seberapa tebal perisai keberuntungan protagonismu, Xiao Chen, saat kau harus berhadapan dengan harimau gila yang baru saja aku beri taring naga.”

1
dinozzo
tokoh yg menggemparkan dunia, dapat menghancurkan musuh yg menghalangi jalannya dan membalas kembalikan dengan kebaikan.
Jojo Shua
gasss
Jojo Shua
🔥👍
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
👍
Jojo Shua
🔥
RisOne Harahap
mantap,lanjut,thor
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
Hasss 🔥
Dian Pravita Sari
gak TST lagi smjong
Dian Pravita Sari
memang novelmtoon gal kompeten dikelilingi prketks yg makan gaji buta semua depstyrmrnnys lah
Bahari: gk ngerti ngomong apa ka🙏
total 1 replies
Jojo Shua
👍
RisOne Harahap: joss,lanjut jangan kasih kendor
total 1 replies
Jojo Shua
Menghibur....
Cerdas...
Lucu...
Bahari: Xie xie🤭
total 1 replies
gempi
j
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!