NovelToon NovelToon
Doctor Mafia

Doctor Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duniahiburan / Mafia / Dark Romance / Enemy to Lovers / Obsesi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.

Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

“Terimakasih Ali. Maaf merepotkanmu.” Ucap El pada teman satu apartemennya.

“Jangan sungkan El. Lagipula kita searah.” Ucap Ali membuka bagasi mobilnya dan menarik turun sebuah koper.

“Kakakmu belum kembali?” Tanya Ali lagi.

“Ya… dia ada penugasan diluar. Mungkin tiga bulan lagi akan kembali.”

“Sayang sekali. Aku ingin mengajaknya bergabung tanding golf. Hadiahnya lumayan besar.”

“Kapan? Mungkin aku bisa menggantikannya.”

“Kau bisa bermain golf?”

“Aku tidak jago. Tapi kalau hanya memukul aku bisa.” Canda El diiringi tawa lepas mereka berdua.

“Nanti aku akan menghubungimu El.” Jawab Ali dan menaikkan koper El kedalam mobil wanita itu.

Namun sebuah tangan menarik koper itu lagi dengan kesal. Killian datang dengan aura dingin dan ingin membunuhnya.

“Kau terlambat.” Suara itu sangat beku terdengar.

“Ali kembalilah. Terimakasih atas bantuannya.” Pinta El dan diiringi pamit oleh Ali.

BRAAAKK

Killian menutup bagasi mobil itu dengan kencang. Ia menyeret El dengan kopernya.

“Apa yang kau lakukan Lian.” El mencoba melepas cengkraman pria itu.

“Kau telat bahkan tidak ada kata maaf mu.” Kesal Lian.

“Aku tidak telat. Aku hanya tidak naik bus itu. Tidak ada aturan harus naik bus itu bersama bukan?” Kesal El kembali.

“Heh?!” Lian takjub akan keberanian El membela dirinya, “Masuk.” Perintah Lian membuka pintu mobilnya untuk El.

“Aku bisa membawa mobil ku sendiri.” El masih terlihat kesal.

“Ma…suk kedalam mobil sekarang dokter Elaine Eloise.” Suara Lian terdengar tegas dengan menatap tajam wanita itu.

Ada rasa sedikit takut pada pria itu. Terlebih Lian mengatup rahangnya menahan amarahnya.

El terpaksa masuk kedalam mobil itu tepat di samping bangku supir, Lian membuka bagasi nya dan memasukkan koper wanita itu. Melihat Lian yang auranya terasa menahan amarah membuat El terdiam membisu di dalam mobil itu. El memilih mendengarkan musik dan memejamkan matanya. Setidaknya lumayan untuknya dapat tidur lama.

Lian meliriknya sebentar memastikan wanita itu cukup nyaman untuk tidur disebelahnya. Dari layar dashboard ia menekan sebuah tombol untuk menyandarkan bangku El sedikit lebih datar. Membuat wanita itu terlihat lebih nyaman. Sebuah selimut diurai diatas tubuh wanita itu.

...****************...

“Kapal pesiar itu akan mengarah ke Tempest sea.” Sahut Glenn pada Damian.

“Berapa banyak?”

“Dua kapal pesiar dengan satu kapal induk yang memimpin. Satu kapal pesiar setidaknya berisi 1000 penumpang termasuk dengan awal kapal.”

“Sudah kau bentuk tim nya?”

“Semua sudah mulai bekerja saat ini untuk memata-matai para anggota mafia itu.”

Damian menghela nafas. Tugasnya kali ini cukup berat. Kapal pesiar itu hanyalah sebuah kedok untuk mengantar barang selundupan. Ia membuka laci dimeja kerjanya, sebuah berkas yang pernah Elaine baca kini dibuka tiap lembarnya.

“Aktifkan para suspect itu. Kita perlu kerja sama dengan mereka.”

Glenn terdiam. Dia sendiri termasuk golongan suspect itu. Sebuah chip disuntikkan di dalam tubuhnya. Hanya dengan satu jentikan jari dari para petinggi di interpol, seperti Damian. Maka segala keputusannya harus ia patuhi atau chip itu akan meledak didalam tubuhnya.

“Bagaimana dengan Elaine saat ini?” Tanya Damian kemudian.

“Dia hanya mengirimkan pesan singkat, saat ini sedang melakukan perjalanan dinas tujuannya Asgard.”

“Asgard?” Damian tak percaya mendengarnya.

“Ya.” Mereka berdua mengetahui banyak trauma membekas bagi El dikota itu, “Apa aku perlu kesana?”

Damian menghela nafas, pikirannya semakin berat di tengah beban pekerjaannya. “Masih banyak target unsuspect kita. Abaikan El. Aku yakin dia akan baik-baik saja.” Ucap Damian dengan menatap photo adiknya diponselnya.

...****************...

“Kau sudah bangun?”

El membuka matanya perlahan, mereka tiba di sebuah restoran.

“Untuk apa kita kesini?” El melihat jam di dashboard, saat itu pukul 10.00 pagi.

“Turun. Kita akan makan dulu.” Ujar Lian membuka pintu mobil dan beranjak turun.

Wanita itu mengikutinya dari belakang. Ia tak mengenakan jaket maupun syal. Saat itu salju mulai turun sedikit demi sedikit. Ia semakin takjub saat meja makannya sudah terdapat beberapa makanan dan minuman hangat.

“Kau akan bertemu seseorang?” Tanya El yang masih berdiri.

“Tidak.” Lian menarik kursi untuk El duduk.

“Lalu ini semua?” El semakin bingung, sejak kapan pria itu memesannya.

“Makanlah.” Pinta Lian menyodorkan sebuah sendok yang sudah di lap bersih olehnya.

“Bukankah kau belum sarapan?” Ujar Lian kembali saat wanita itu hanya terdiam menatap makanannya dengan bingung.

“Iya… tapi sejak kapan kau memesannya?”

“Setengah jam lalu.”

“Setengah jam? dan kau tidak membangunkan ku?”

“Kau tidur pulas.” Lian mulai memakan rotinya.

Untuk soal makanan wanita itu jelas tak kan menolak. Tanpa sungkan ia mulai menyendok makanannya. Terlihat Lian tersenyum puas. Ia senang wanita itu mulai nyaman jika disisinya.

BIP BIP BIP

BIP

BIP

BIP

BIP

Sedari tadi ponsel Elaine berdering saat ia mengaktifkan handphone nya itu. Raut wajah Lian seketika langsung suram menyeramkan.

“Matikan handphone mu.” Perintahnya.

“Sebentar.” Jawab El dengan membalas pesan tersebut.

“Aku tidak suka saat makan ada yang mengganggu. Menghilangkan selera makan ku.” Ucap Lian dingin mengambil ponsel wanita itu dan melemparnya ke tengah meja.

El tak ambil pusing, ia kembali menyantap makanannya.

“Kenapa melihat ku begitu, aku sudah tidak main handphone, kenapa kau tidak makan?” Tanya El kemudian setelah pria itu hanya diam menatapnya.

“Aku sudah tidak berselera.”

“Lalu kau memesan sebanyak ini siapa yang menghabiskan?” Kesal El.

“Kau saja jika mampu.” Pria itu beranjak berdiri ingin keluar mencari udara segar.

Banyak hal yang ia ingin tanyakan pada wanita itu. Tapi ia tak tahu memulainya.

SRAAAK

El menarik lengan Lian untuk kembali duduk dan kini wanita itu duduk tepat di sebelahnya.

Ia menuang beberapa makanan kedalam piring Killian.

“Apa perlu aku menyuap mu?” Kesal El menatap Lian yang masih terdiam.

“Heh?!” Lian tak percaya mendengar ucapan wanita itu. Belum ada yang pernah berani melakukan hal itu terlebih Araya.

“Maaf aku merusak selera makan mu.” Ucap El lembut dan menyuapi sedikit makanan pada Lian.

Wanita itu merasa bersalah. Makanan itu tersaji sejak tadi, pria itu juga belum makan. Namun Elaine merusak suasana makannya.

Lian mengalah. Ia memakan suapan dari wanita itu. Terasa lebih lezat. Kembali El menyuapi pria itu, tak ada suara yang diucapkan oleh keduanya. Suasana kembali mencair.

“Apa kita masih jauh?” Tanya El sesaat setelah masuk lagi kedalam mobil.

“Satu jam lagi.”

“Mau aku gantikan menyetir? Aku tidak enak jika boss ku yang membawa mobil hingga…”

“El.” Panggil Lian datar.

“Ya…”

“Kembalilah tidur.” Ucap Lian memakaikan seatbelt pada Elaine.

Entah sejak kapan. Namun saat bersama Killian semuanya terasa hangat. Degup jantung wanita itu berdetak cepat, ia tak ingin perjalanan itu berakhir. Semua yang dirasakan Elaine juga dirasakan oleh Killian. Usahanya untuk tetap bersama wanita itu dapat berjalan sesuai rencana meski ada masalah sedikit didalamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!