Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara familiar
Suasana toko bunga siang itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kayu kecil yang biasanya digunakan pelanggan untuk menulis kartu ucapan. Namun, kali ini meja itu beralih fungsi menjadi meja interogasi.
Byan, bocah masih mengenakan seragam sekolah, duduk tegak dengan punggung kaku. Tangannya bersedekap di dada, sementara tatapannya tajam setidaknya setajam yang bisa dilakukan seorang anak kecil tertuju pada Sebria yang duduk di hadapannya.
"Jadi kenapa tante hari sabtu kemarin, tutup tanpa pemberitahuan?"
Sebria mengulum senyum tapi serius pada sesi tanya jawab itu. "Tante libur, Nak."
"Kenapa tante tidak memberitahu aku di hari jumat? Aku datang kesini tapi toko nya tutup. Aku sedih."
Sebria merubah ekspresi nampak bersalah. "Tante minta maaf ya. Tante tidak tahu kalau Byan mau kesini pagi sabtu nya." Pemilik toko itu mengatup tangan di dada.
Byan menghembus nafas panjang seolah menanggung beban hidup saja. "Jadi dalam seminggu tante pasti ambil waktu libur?"
"Tergantung, kalau ada pesanan tetap buka kalau sepi tante ambil libur. Dan kebetulan kemaren tante ada jadwal kunjungan ke panti asuhan sama keluarga tante."
Air muka Byan berubah setelah mendengarkan penjelasan Sebria. 'keluarga' kata itu sangat sensitif untuknya. Selama ini yang Byan tahu dia hanya punya papa dan beberapa pekerja di rumahnya. Kakek-neneknya semua meninggal di saat ia masih kecil.
"Tante punya keluarga?" Tanya nya lirih dengan pandangan redup.
"Iya, tante punya keluarga di rumah."
"Anak tante laki-laki atau perempuan? Berapa usia nya."
DEG...
Ah, perasaan itu seolah mengerucut hampa di rongga dada. Pembahasan tentang anak masih sensitif untuk Sebria tapi pertanyaan itu lahir dari lidah seorang anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Sebria menarik senyum tipis mencoba melebur perasaan yang sempat singgah tadi.
"Tante belum punya anak. Keluarga yang tante maksud ada orang tua dan adik laki-laki tante."
"Benarkah?" Manik mata Byan seketika berbinar. "Jadi aku satu-satu nya yang dekat sama tante?"
"Tidak, anak-anak panti juga dekat kok sama tante cuma jarang ketemu saja."
Byan mengangguk memahami. "Tante aku minta nomor ponsel nya biar aku bisa telpon tante."
"Memangnya kamu punya ponsel?" Sebria meragukan itu.
"Pakai ponsel Bi Merry. Aku tidak di perbolehkan punya ponsel sama papa karena belum terlalu di perlukan. Kalau misalkan mau telpon papa ada ponsel Bi Merry atau Pak Adi."
Sebria tersenyum. "Nanti tunggu Bi Merry kesini tante kasih ya. Sebagai permintaan maaf tante, tadi pesan bronis. Kamu boleh makan bronis."
"Boleh tante."
Sesi tanya jawab sudah berakhir. Byan kembali ceria dan Sebria menangkap ada obsesi dan posesif secara bersamaan pada anak itu untuk nya. Sebria jadi takut anak itu akan menempeli nya.
...----------------...
Keona berbaring di atas kasur Sebria sambil memperhatikan kakaknya itu mengganti air didalam vas bunga. Sudah tiga tahun mereka tinggal satu atap bersama kedua orang tua nya. Kini kehidupan kakak beradik ini nampak normal. Meski terlambat tapi Sebria bisa menerima nya.
"Bagaimana sahabat kecil kakak itu?"
"Hari ini dia bertingkah lucu, Keo. Anak itu menginterogasi kakak. Wajahnya lucu sekali."
Keona terkekeh. "Kakak tidak berniat ketemu sama kak Jehan?" Tanya pemuda itu tiba-tiba.
Sebria duduk di kursi depan kaca rias nya. Ia menggeleng sambil mengaplikasikan skincare. "Tidak... bukan tentang masa lalu atau sakit hati yang belum sembuh. Semua nya selesai setelah kakak menikahi Deric. Kami punya kehidupan masing-masing. Tidak etis rasa nya bertemu lagi meski status kakak sudah tidak bersuami siapa tahu Jehan sudah menikah lagi dan punya kelurga baru."
"Kakak benar." Keona merubah posisi nya jadi duduk. "Bukan waktu nya lagi tinggal di masa lalu. Seandainya suatu saat bertemu lagi itu kebetulan bukan disengaja untuk menggangu kehidupan orang lain. Ah, aku jadi ingat nama Byan. Seperti nama anak nya kak Jehan."
Sebria tertawa pelan. "Iya, kakak juga kaget awal nya tapi nama banyak sama zaman sekarang. Nama awalnya memang sama tapi kakak lupa nama lengkap anak Jehan. Tentang Ayusa. Dia tetap sahabat terbaik dan kesalahan nya itu sudah kakak maafkan. Rasanya waktu ke makam kemarin. Kakak merasa lega tidak seperti sebelumnya."
"Itu tanda nya kakak sudah berdamai. Tidur lebih cepat jangan begadang apalagi mengenang mantan." Sambil mengejek Keona melangkah keluar.
Sebria menggerutu nama Jehan bukan lagi menjadi rasa sakit ketika di sebut. Bukan juga menghadirkan rasa rindu seperti saat itu. Semua nya terasa biasa saja bagi Sebria. Menjadi asing dan tidak berpengaruh apapun. Entah hati nya yang mati rasa karena dua kali patah atau memang Sebria mendoktrin hati dan pikirannya untuk tidak lagi perduli apa itu cinta.
Sebria mulai berbaring tapi ponsel di sisi bantal bergetar. Ia melihat sejenak nomor baru terpampang disana. Panggilan ini berupa vidio, Sebria merasa ragu untuk menjawabnya. Mengingat hanya segelintir orang yang memiliki nomor pribadi nya. Sebria jadi takut kalau nomornya di bobol orang seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini.
Tapi ponsel itu bergetar kembali setelah panggilan pertama tidak di jawab. Meski ragu Sebria menggeser tombol jawab.
"Halo tante." Suara cempreng dengan wajah memenuhi layar. Sungguh mengejutkan Sebria.
"Byan, kamu belum tidur?"
"Sebentar lagi tidur. Aku pinjam ponsel Papa. Di simpan ya tante nomornya."
"Iya." Meski ragu tapi Sebria tetap menyimpan nya nanti siapa tahu anak itu menelpon kembali. "Kamu sudah belajar?"
"Sudah tante."
"Gosok gigi, cuci kaki dan tangan ya." Ada yang meletup di dada Sebria andai dia punya anak pasti saat ini sudah sekolah. Tapi tiga tahun pernikahannya Sebria belum pernah hamil.
"Sudah semua tante."
Sebria tersentak mendengar suara Byan saat hanyut dalam lamunannya. Tiga tahun berpisah dari Deric nyata nya masih meninggal jejak luka meski pun sudah lama. Dan itu akan selalu jadi cerita pahit.
"Sudah malam tidur dulu ya sampai ketemu besok, selamat malam."
"Selamat malam tante." Byan melambaikan tangan di layar.
"Byan, sudah malam besok lagi nelpon nya."
Tubuh Sebria menegang mendengar suara yang familiar sebelum telpon di matikan.
Gara-gara Keona nih
Sebria meletak ponsel nya ke atas nakas lalu mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur. Suara tadi mungkin sugesti dari percakapan nya dan Keona tadi. Yang tiba-tiba membahas Jehan.
Tidak ingin memikirkan nya Sebria meraih kembali ponselnya lalu mencari panggilan masuk. Menyimpan nomor baru tadi dengan nama Byan. Sebenarnya Sebria tidak ingin menyimpan nomor itu. Harusnya Byan menelpon pakai nomor Bi Merry. Tapi Byan memakai nomor papa nya. Dan itu membuat situasi sedikit canggung.
Note : Jangan lupa baca cerita sebelum nya ya Luka Sebria