NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Angel Abilla

Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
​Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
​Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Luka dan Rahasia

Pintu besi itu berdentum keras saat Rian menggesernya menutup, seketika mengunci dunia luar yang berbahaya. Di dalam bengkel, suasana mendadak senyap, hanya menyisakan aroma oli dan karat yang menyengat.

Belum juga langkah ketiga, lutut Aruna menekuk sendiri. Dia tidak sempat memegang apa pun sebelum tubuhnya ambruk ke lantai bengkel. Rasa pusing dari sisa obat bius yang tadi sempat tertutup rasa panik, kini kembali mengambil alih dua kali lipat lebih hebat. Lantai semen di bawah kakinya seolah berubah menjadi gelombang air yang tidak stabil.

​"Aruna?!"

Pandangan Aruna mendadak buyar. Wajah Rian yang panik adalah hal terakhir yang dia lihat sebelum semuanya gelap. Namun, dia tidak sampai jatuh ke lantai. Rian keburu menangkapnya, menahan punggung Aruna agar bersandar pada tubuhnya supaya tidak merosot.

Aruna refleks memegang lengan Rian untuk mencari tumpuan. Mata mereka bertemu sekejap sebelum semuanya menjadi gelap. Rian menatapnya cemas, embusan napasnya yang berat terasa di wajah Aruna. Lampu neon bengkel yang berkedip-kedip memperjelas wajah Aruna yang sangat pucat. Gadis itu terlihat begitu tidak berdaya, benar-benar kontras dengan suasana bengkel yang dingin.

Jantung Rian berdegup hebat, ritmenya kacau karena panik. Sial, kenapa harus sedekat ini lagi? batin Rian. Melihat Aruna yang tak berdaya, mendadak muncul dorongan kuat dalam dirinya untuk tidak membiarkan apa pun menyakiti gadis ini lagi. Dia tidak ingin melepas pelukannya begitu saja.

Aruna membuka matanya perlahan, berjuang mengumpulkan kesadarannya yang masih terasa berantakan. Ia berusaha menjernihkan pandangannya yang sempat gelap total. "Maaf, biusnya... kakiku benar-benar tidak bisa diperintah."

"Bisa berdiri?" tanya Rian. Suaranya serak, ia bahkan tidak berani menatap wajah Aruna terlalu lama.

Rian tidak membiarkan Aruna memaksakan diri. Tanpa banyak bicara, ia menyelipkan satu tangannya ke bawah lutut dan tangan lainnya di punggung gadis itu, lalu mengangkatnya dalam satu gerakan mantap. Mendekapnya erat agar tidak terjatuh.

​​"Diamlah. Kamu bisa pingsan kalau keras kepala sekarang," gumam Rian.

Aruna yang biasanya sangat mandiri dan keras hati, kini hanya bisa pasrah. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Rian, merasakan detak jantung pria itu yang sama cepatnya dengan jantungnya sendiri. Ada rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan saat ia berada di bawah perlindungan Pak Baskara sekalipun.

Rian membawa Aruna menuju sebuah sofa kulit tua di sudut ruangan kecil yang berfungsi sebagai kantor sekaligus ruang istirahat. Setelah merebahkan Aruna dengan sangat hati-hati, Rian segera mengambil kotak P3K. Ia berlutut di depan sofa, mengambil pergelangan tangan Aruna yang terlihat biru dan lecet akibat ikatan tali Siska tadi.

​"Tahan sedikit," ucap Rian sambil mulai mengoleskan alkohol.

Aruna menarik napas tajam karena perih yang tiba-tiba. Tangannya menegang kaku dalam genggaman Rian, sementara tangannya yang bebas spontan memegang bahu pria itu. Rian sempat terdiam sejenak merasakan genggamannya itu, namun ia tetap melanjutkan pekerjaannya dengan telaten.

​​"Pria di dermaga tadi... dia mengenali ibumu, kan?" tanya Rian tanpa mengalihkan perhatian dari luka di tangan Aruna.

Aruna kehilangan kata-kata. Selama beberapa detik ia hanya menatap Rian, mencoba mencerna bagaimana pria itu bisa menebak hal yang selama ini ia tutup-tutupi. "Apa yang sebenarnya kamu dengar? Bagaimana kamu bisa yakin?"

Rian menghentikan kegiatannya mengobati tangan Aruna. Ia perlahan mengangkat wajah, menatap mata Aruna dalam-dalam. "Pria di mobil SUV tadi... orang yang mengejar kita gila-gilaan itu... aku mengenalnya."

Aruna hampir melupakan rasa perih di tangannya. Ia menatap Rian lurus-lurus, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan di sana. "Kamu kenal dia?"

​​"Namanya Baron. Dia bukan sekadar pembeli kaya biasa," Rian menarik napas panjang. Sorot matanya mendadak berubah tajam. "Sepuluh tahun lalu, pria itulah yang mengirim orang untuk membakar bengkel ayahku karena ayahku menolak bekerja sama dengan kelompoknya. Dia adalah 'Pembersih' dari Dewan Adiwangsa."

Rian menunjukkan bekas luka bakar di pergelangan tangannya. "Dia mengejarmu bukan cuma karena menginginkan kristal itu, Aruna. Dia ingin menghapus sisa-sisa garis keturunan Adiwangsa yang tidak bisa dia kendalikan. Dan sekarang, dia tahu aku bersamamu."

***

Aruna kehilangan kata-kata. Fokusnya tertuju pada bekas luka di tangan Rian, menyadari bahwa pria di hadapannya ini bukan sekadar montir yang terjebak dalam masalahnya, melainkan sesama korban yang sedang menanti waktu untuk membalas dendam.

​"Jadi..." Aruna berbisik dengan suara bergetar. "Pertemuan kita di dermaga... itu bukan kebetulan?"

Rian menggeleng pelan sambil merapikan perban di tangan Aruna. "Awalnya aku memang hanya sedang mengantar paket ke dermaga. Tapi saat aku melihat mobil SUV itu dan pria bertongkat perak turun, aku merasa ditarik kembali ke malam saat bengkel ayahku terbakar. Napasku sesak karena marah, dan aku tahu aku nggak bisa tinggal diam. Aku nggak menyangka kalau orang yang dia incar malam ini adalah pewaris Adiwangsa."

Aruna menyandarkan punggungnya ke sofa tua itu, matanya menatap langit-langit bengkel yang penuh noda oli. "Aku pikir musuhku cuma Siska dan Hendrawan," bisik Aruna pelan. "Tapi melihat pria tadi... aku sadar mereka cuma gangguan kecil. Baron-lah yang sebenarnya memegang kendali atas hidupku selama ini."

Aruna menoleh kembali ke arah Rian, menatap pria itu dengan pandangan yang kini penuh rasa persaudaraan karena nasib yang sama. "Ternyata bukan hanya kebetulan, Rian. Ini takdir. Kita sedang melawan monster yang sama, meski dengan alasan yang berbeda."

***

Aruna menatap Rian lurus-lurus, tidak memberikan ruang untuk ragu. Ia terbiasa bergerak sendirian, menyelesaikan misi di balik bayang-bayang sebagai kurir rahasia. Namun, tatapan Aruna saat ini memiliki kekuatan magnetis yang sulit ia tolak.

Rian tertawa pendek. "Monster yang sama, ya? Baron punya segalanya. Uang, teknologi, dan pasukan. Kita cuma punya bengkel tua ini dan sebuah kalung kristal yang bahkan belum sepenuhnya kamu kuasai."

​Aruna menegakkan duduknya. Ia menarik napas dalam, memaksakan kesadarannya kembali meski kepalanya masih terasa berat. "Itu sebabnya kita nggak bisa melawan dia secara terang-terangan. Baron punya segalanya di atas sana. Kita harus menyeretnya turun ke areaku. Ke tempat di mana pasukan dan teknologinya nggak akan bisa membantu."

Aruna menatap lurus ke mata Rian. Suaranya merendah, namun setiap katanya terasa mantap. "Ikutlah bersamaku, Rian. Aku akan membawamu ke satu-satunya tempat di mana Baron nggak akan pernah bisa menang. Ke Hutan Sanubari."

​​"Hutan?" tanya Rian akhirnya. "Bukankah itu hanya legenda yang orang-orang Dewan cari selama puluhan tahun?"

​​"Bagi mereka itu legenda, bagiku itu adalah rumah. Dan bagi Baron, itu akan menjadi kuburannya," tegas Aruna. "Di sana, teknologi mereka tidak akan berguna. Alam akan berpihak pada kita. Aku butuh keahlianmu untuk menjebak mereka, sementara aku akan menggunakan kekuatan hutan untuk memastikan nggak ada satu pun dari mereka yang bisa keluar."

​Rian tidak langsung menjawab. Ia menatap bekas luka bakar di pergelangan tangannya cukup lama sebelum menarik napas dalam. Saat ia kembali menatap Aruna, keraguan di wajahnya sudah hilang sepenuhnya. Rian tahu ini rencana bunuh diri, namun setelah sepuluh tahun bersembunyi di balik mesin dan oli, mungkin memang sudah saatnya dia berhenti melarikan diri. Melawan Baron memang butuh kegilaan.

​"Baiklah," jawab Rian mantap. "Kalau memang hutan itu nyata, aku akan bantu kamu menyiapkan 'sambutan' yang nggak akan pernah dilupakan Baron seumur hidupnya."

​Di tengah keheningan bengkel, kesepakatan itu terasa jauh lebih berat daripada janji apa pun. Mereka bukan lagi dua orang asing yang kebetulan bertemu; mereka adalah dua orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dikorbankan, kecuali nyawa mereka demi membalas dendam pada orang yang sama.

​"Beristirahatlah beberapa jam lagi," ucap Rian sambil berdiri. "Sebelum pagi, kita akan berangkat. Aku akan menyiapkan motor dan beberapa peralatan yang mungkin berguna di hutan nanti."

Aruna mengangguk, lalu perlahan memejamkan matanya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak lagi merasa dikejar-kejar. Ia berhenti memikirkan cara untuk sembunyi, dan mulai menyusun rencana untuk menyeret Baron masuk ke tempat di mana pria itu tidak akan bisa keluar lagi.

1
Ida Kurniasari
seruu bgt thorr😍
Angel: Wah, makasih banyak ya Kak Ida! 🥰 Senang banget kalau ceritanya menghibur. Bagian mana nih yang paling bikin nagih?
total 1 replies
Angel
keren
Nadira ST
💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕🥰🥰🥰🥰☕
Angel: Wuih, deretan semangatnya sampai sini nih! Terima kasih ya, Nadira ST. Menurut kamu, apa bagian paling menarik dari bab ini? Ditunggu komentarnya lagi ya! 💪🔥
total 1 replies
Murni Dewita
💪💪💪💪
Angel: Aruna emang makin tangguh nih, Kak! 💪 Tapi kira-kira dia sanggup nggak ya ngadepin Paman Hendrawan yang jauh lebih licik? Pantau terus kelanjutannya ya, Kak Murni!
total 1 replies
Lala Kusumah
good job Aruna 👍👍👍👍
Angel: Terima kasih Kak Lala! Aruna emang pantes dapet apresiasi setelah semua pengkhianatan itu. Tapi ujian sebenarnya baru aja dimulai nih. Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Murni Dewita
👣👣
Angel: Wah, jejak Kak Murni sudah sampai sini nih! Menurut Kakak, apa yang bakal terjadi sama Aruna setelah ini? Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Lala Kusumah
astaghfirullah 😭
Angel: Jangan nangis dulu, Kak! Habis ini Aruna bakal kasih kejutan yang jauh lebih besar buat Tristan. Kira-kira apa yang bakal Aruna lakukan selanjutnya ya? Pantau terus besok jam 7 malam ya! 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!