Seri ke-satu
Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan
Setelah puluhan menit menangis sendirian, Clara akhirnya melangkah ke kamar mandi. Ia menyalakan keran, membasuh wajahnya berulang kali, mencoba meredam sisa sesak yang masih menempel di dadanya. Saat ia menatap pantulan dirinya di cermin, wajah itu tampak sembab, mata memerah, dan rautnya begitu kacau seperti hati yang belum sepenuhnya pulih.
Clara mengeringkan wajahnya dengan handuk, lalu kembali ke kamar dengan langkah pelan. Pandangannya berhenti pada sebuah pigura foto kecil di atas meja. Foto dirinya dan Noel. Jemarinya terulur, mengusap wajah Noel di foto itu dengan sentuhan lembut, nyaris rapuh.
“Terima kasih… karena pernah menjadi rumah untukku,” ucapnya lirih.
“Sahabatku dan orang yang pernah paling aku sayang.”
Ia menggigit bibir bawahnya, menahan air mata agar tak kembali jatuh.
“Maaf kalau perasaanku selama ini membebanimu,” lanjutnya pelan. “Meskipun aku tak lagi bisa menatap mata cokelatmu, tak lagi bisa membuatkan pie apel kesukaanmu… aku selalu mendoakan kebahagiaan dan keselamatanmu, di mana pun kamu berada.”
Hening menyelimuti kamar itu.
“Aku bukan ingin melupakanmu,” bisiknya. “Aku hanya ingin menyimpanmu… di dalam kotak yang terkunci rapat.”
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Clara melepaskan foto itu dari pigura. Ia merobek bagian yang memperlihatkan wajah Noel, lalu melipatnya perlahan dan menyimpannya di dalam sebuah buku kecil miliknya. Bukan sebagai bentuk pengingkaran, melainkan sebagai cara bertahan.
Setelah itu, Clara berbaring dan memejamkan mata. Ia membiarkan dirinya berharap bahwa esok hari akan benar-benar menjadi hari yang baru.
Keesokan paginya, Clara sengaja melewatkan sarapan. Sejak tadi ia sudah bersiap dengan rapi. Ia mengenakan blouse berwarna krem dan rok kain hitam yang jatuh sederhana di lututnya. Jam tangan pemberian Thalia melingkar di pergelangan tangannya, detail kecil yang terasa begitu berarti.
Rambutnya kini disanggul rendah, membuat wajah oval-nya terlihat lebih jelas, tak lagi bersembunyi di balik helaian rambut yang selalu tergerai. Ia mengoleskan sunscreen, lalu lip balm tipis. Wajahnya tampak lebih segar, jauh dari kesan muram yang selama ini melekat padanya.
Seperti biasa, Clara berjalan kaki menuju halte terdekat.
“Pagi, Clara,” sapa Bu Jamilah, tetangga sebelah rumahnya.
“Pagi, Bu,” jawab Clara.
Senyumnya kali ini sedikit lebih lebar dari biasanya.
Bu Jamilah terdiam sejenak, memperhatikan punggung Clara yang menjauh.
“Masya Allah… ternyata anak Pak Imam dan Bu Nita secantik itu,” gumamnya pelan.
“Siapa, Bu, yang cantik? Janda apa perawan?”
Suara Anton yang tiba-tiba muncul di sampingnya membuat Bu Jamilah terkejut setengah mati.
“Astagfirullah, Ton! Bikin kaget aja,” omelnya.
Anton terkekeh. “Dari tadi saya manggil-manggil, Bu. Ngapain ditengah jalan dan ngomong sendiri. Lagi ngeliatin siapa sih?”
“Itu tuh, si Clara, biasanya kan muram terus. Rambutnya nutupin wajah, disapa juga paling nunduk sambil senyum dikit. Tadi pas disapa, eh nyaut. Mana cantik banget ternyata anaknya. Maklum, rambutnya biasanya digerai terus, jadi wajahnya jarang kelihatan jelas.” jawab bu Jamilah panjang lebar.
“Ya bagus dong, Bu,” sahut Anton sambil menaik turunkan alisnya. “Berarti Anton bisa ikutan antre.”
“Dasar!” Bu Jamilah berdecak, melirik Anton sinis. Ia lalu buru-buru masuk ke rumah saat anaknya yang masih SMP memanggil dari dalam rumah.
Anton tertawa puas melihat reaksi bu jamilah.
Sementara itu, di depan gang, gerobak nasi kuning Bu Sumiati sudah dipenuhi warga yang sarapan. Suasananya ramai, Bu Sumiati tampak sibuk melayani pesanan.
“Bu, nasi kuningnya dua. Masukin ke sini ya,” ucap Clara sambil menyerahkan dua kotak makan.
Saat menoleh, Bu Sumiati sempat tertegun beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum dan menerima kotak itu.
“Tunggu sebentar ya, Neng,” katanya ramah.
“Iya, Bu,” sahut Clara sambil membalas senyum, lalu duduk di kursi kosong yang tersedia.
"Kamu penghuni baru di kost bu Putri neng?" tanya salah satu ibu-ibu yang ikut menunggu pesanannya.
"Saya Clara bu, anak almarhum pak Imam"
"Oalah, saya kira siapa abisnya cantik banget sih."
Clara hanya tersenyum saat mendengar pujian itu.
"Terus, sekarang kuliah semester berapa?” tanyanya lagi
“Semester enam, Bu,” jawab Clara pelan.
“Anak saya juga pengin masuk Universitas Jakarta, Neng,”
“Tapi biayanya mahal ya?” sambungnya
Clara hanya tersenyum kecil dan mengangguk.
“Clara mah pinter, Rin,” timpal Bu Sumi. “Masuk universitas bagus lewat beasiswa.”
“Wah, bisa dong nanti ngajarin private anak saya,” kata Bu Arini antusias.
Bu Sumiati menyerahkan dua kotak nasi kuning kepada Clara, sementara satu bungkusan plastik diberikan pada Bu Arini.
Clara berdiri. “Insya Allah ya, Bu. Saya duluan,” ucapnya sambil menyerahkan uang pas.
Ia melangkah pergi, membawa sarapan untuk dirinya dan Thalia.
Di sebuah apartemen yang sunyi, Natan berdiri di depan cermin, merapikan kemeja hitam yang melekat rapi di tubuhnya. Baru saja ia memasukkan ponsel ke saku celana ketika layar kembali menyala, sebuah pesan dari Anton.
Sekejap saja, raut wajahnya berubah muram.
Rahang Natan mengeras. Tangannya refleks membenarkan posisi dasi, lalu ia mengembuskan napas kasar, seolah udara di dadanya mendadak terasa berat.
Beberapa hari lalu, setelah pertemuannya dengan Clara, Natan tak tinggal diam. Ia mulai mencari tahu tentang Noel, tentang ke mana pria itu menghilang setelah pergi dari Indonesia. Informasi yang ia dapatkan hanya sepotong, tertinggal di masa lalu. Beberapa tahun silam, Noel diketahui berada di Swiss. Setelah itu tak ada apa pun.
Kini kepala Natan dipenuhi tanda tanya yang saling bertabrakan. Ia duduk di sofa, menatap layar ponselnya lama, jarinya sempat menyentuh nama Clara di daftar kontak namun ia ragu, lalu menarik kembali.
Setelah beberapa menit bergulat dengan pikirannya sendiri, Natan akhirnya berdiri. Ia meraih jasnya dan melangkah keluar apartemen.
Hari ini, ia memilih pergi ke kantor.