NovelToon NovelToon
Penghianatan Tak Termaafkan

Penghianatan Tak Termaafkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."

​Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.

​Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.

​Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.

Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.

By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 15

Suasana di depan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pagi itu tampak seperti medan perang media yang sesungguhnya. Puluhan kamera televisi dari berbagai stasiun berita nasional dan fotografer sudah bersiaga di depan gerbang utama sejak subuh.

Mobil-mobil mewah milik para pengacara papan atas terparkir berjajar, menciptakan kesan bahwa sebuah skandal besar akan segera meledak. Hari ini adalah sidang perdana kasus 'Manipulasi Aset Mahendra' yang menyeret nama Kirana, CEO Nirmala Capital, sebagai terdakwa atas laporan kriminal yang diajukan oleh pihak Bram.

Kirana turun dari mobil jipnya dengan langkah yang sangat tenang namun penuh wibawa yang mengintimidasi. Ia tidak memilih warna merah kali ini; ia mengenakan setelan jas berwarna putih gading yang tajam. Sebuah pilihan simbolis bahwa ia datang untuk membersihkan namanya dari segala lumpur fitnah.

Tidak ada setitik pun ketakutan di wajahnya, meskipun ia menyadari bahwa di dalam ruang sidang yang pengap itu, Bram telah menyiapkan jebakan hukum yang sangat mematikan melalui barisan pengacara yang dibayar dengan harga selangit.

Di Ruang Sidang Utama - pukul 10:00 WIB

Hakim Ketua mengetukkan palunya sebanyak tiga kali, suaranya menggema di seluruh ruangan yang penuh sesak oleh pengunjung dan wartawan. Persidangan resmi dimulai. Di kursi pemohon, duduk tim hukum Bram yang dipimpin oleh Pengacara Hadi, seorang pria paruh baya dengan reputasi 'pencuci dosa' para koruptor. Di sisi lain, Kirana duduk tegak, didampingi oleh Reza dan tim hukum Nirmala Capital yang terlihat tegang.

"Saudara terdakwa Kirana," ujar Hakim Ketua dengan nada berat yang penuh otoritas. "Saudara dituduh melakukan manipulasi dokumen elektronik perbankan dan melakukan tekanan mental yang tidak semestinya terhadap saksi kunci, Arka Mahendra, untuk menyerahkan seluruh aset keluarga Mahendra secara ilegal di bawah ancaman. Bagaimana tanggapan Saudara atas dakwaan ini?"

Kirana berdiri perlahan, suaranya jernih dan berwibawa, bergema tanpa keraguan. "Semua tuduhan itu adalah fitnah yang dirancang secara sistematis untuk menutupi kejahatan korporasi yang jauh lebih besar, Yang Mulia. Saya memiliki bukti konkret bahwa penyerahan aset tersebut adalah bentuk pengakuan dosa dan kehendak bebas dari Arka Mahendra sendiri, sebagai bentuk pertanggungjawaban moral atas kerugian yang menimpa perusahaan saya."

Pengacara Hadi segera menyela dengan nada sinis yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh awak media. "Pengakuan dosa? Atau hasil dari rayuan maut Anda, Nona Kirana? Semua orang tahu Anda memiliki hubungan asmara yang gelap dengan Arka. Anda menggunakan cinta sebagai senjata pemusnah massal untuk merampas kekayaannya saat dia sedang lemah!"

Pengunjung sidang mulai berbisik-bisik riuh. Narasi 'Femme Fatale' atau wanita penggoda yang dibangun Bram di media massa selama beberapa hari terakhir mulai menunjukkan taringnya. Publik mulai meragukan integritas Kirana.

Di tengah kegaduhan itu, Bram masuk ke ruang sidang sebagai saksi utama pemohon. Ia berjalan dengan angkuh, mengenakan setelan jas hitam seharga ratusan juta rupiah. Saat ia melewati kursi Kirana, ia sempat melirik dengan senyum kemenangan yang tipis, seolah-olah ia sudah bisa merasakan kemenangan di tangannya.

"Tuan Bram," tanya Jaksa Penuntut Umum. "Apa hubungan profesional Anda dengan keluarga Mahendra?"

"Saya adalah rekan bisnis lama Surya Mahendra," jawab Bram dengan nada yang dibuat sedih, aktingnya hampir sempurna. "Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana Nona Kirana ini mendekati Arka saat Arka sedang hancur di Bali. Dia memberikan janji-janji palsu tentang masa depan, hanya untuk membuat Arka menandatangani surat-surat yang merugikan keluarganya sendiri. Arka adalah korban dari ambisi wanita ini."

Kirana mengepalkan tangannya di bawah meja, mencoba menahan amarah yang mendidih. Ia merogoh tasnya, menyentuh foto lama dari dompet hitam Arka yang ia temukan di gudang barang bukti semalam. Ia memberikan kode mata kepada pengacaranya untuk segera masuk ke tahap pembuktian balik yang paling krusial.

"Yang Mulia," ujar Pengacara Kirana dengan suara lantang, "Kami memiliki bukti baru yang krusial. Sebuah kode safe deposit box yang ditinggalkan secara sengaja oleh Arka Mahendra tepat sebelum ia diserang secara brutal di dalam penjara."

Wajah Bram sedikit berubah, ada kedutan di sudut matanya saat mendengar nama Arka disebut dalam konteks 'bukti'. Ia mengira Arka sudah benar-benar bungkam dan akan segera mati di rumah sakit.

Sementara persidangan berlangsung dalam ketegangan tinggi, di ruang ICU Rumah Sakit Bhayangkara, Arka masih berjuang melawan maut. Monitor jantungnya kembali berbunyi tidak stabil, garis-garis hijaunya melompat-lompat dengan liar. Dokter dan dua orang perawat berlarian masuk ke dalam ruangan.

"Pasien mengalami gagal napas akut! Pendarahan di abdomennya merembes lagi! Siapkan defibrilator!" teriak sang dokter bedah.

Di ambang kesadarannya yang gelap dan hampa, Arka seolah melihat bayangan Kirana.

Ia teringat kembali saat-saat mereka di pantai Bali, saat di mana Kirana tersenyum tulus kepadanya karena merasa bebannya terangkat. Rasa bersalah yang mendalam seolah menjadi satu-satunya perekat yang membuat jiwanya masih enggan meninggalkan raga yang sudah hampir hancur itu.

"Jangan... jangan biarkan pria itu... menang atasnya..." bisik batin Arka di tengah kegelapan.

Secara ajaib, grafik pada monitor yang tadinya hampir mendatar secara perlahan kembali menunjukkan denyut yang lemah namun stabil.

Arka melewati masa kritisnya untuk kedua kalinya dalam empat puluh delapan jam. Semangatnya untuk hidup demi menebus kesalahan mengalahkan logika medis.

Kembali ke Ruang Sidang

Pengacara Kirana menampilkan sebuah dokumen hasil pemindaian resolusi tinggi di layar besar ruang sidang. Dokumen itu berasal dari safe deposit box di sebuah firma hukum di Singapura yang baru saja diakses melalui kerja sama internasional darurat.

Dokumen itu berisi catatan aliran dana yang sangat detail dari yayasan amal 'Bunda Mahendra' langsung ke rekening pribadi Bram di Kepulauan Cayman.

"Yang Mulia," lanjut pengacara Kirana, "Yayasan ini secara publik digunakan untuk anak-anak panti asuhan dan pendidikan kaum dhuafa. Namun, Tuan Bram menggunakannya sebagai jalur utama pencucian uang dari bisnis gelapnya selama lebih dari sepuluh tahun. Arka Mahendra mengetahui hal ini melalui peninggalan ibunya, dan itulah sebabnya dia memutuskan untuk memberikan seluruh data ini kepada klien kami, bukan karena tekanan, tapi karena rasa jijik terhadap sistem yang diciptakan ayahnya dan Bram."

Ruang sidang geger seketika. Wartawan sibuk mengetik di laptop mereka. Bram berdiri dengan emosi yang meledak. "Itu palsu! Itu dokumen yang direkayasa oleh Arka karena dia dendam padaku setelah aku menolak membantunya keluar dari penjara!"

"Dendam?" Kirana kini berdiri, menatap langsung ke mata Bram dengan keberanian yang membuat pria itu mundur selangkah. "Arka tidak memiliki dendam pada Anda, Tuan Bram. Arka merasa muak. Anda menggunakan nama mendiang ibunya yang suci untuk menutupi darah dan kotoran dari bisnis haram Anda. Dan Anda pikir, Anda bisa melenyapkannya di penjara untuk menghilangkan jejak?"

"Apa maksud Anda dengan tuduhan keji itu?!" teriak Bram, wajahnya mulai memerah dan berkeringat dingin.

"Kami memiliki rekaman CCTV dari koridor penjara saat penyerangan terjadi," sahut Kirana sambil menunjuk layar besar. "Meskipun wajah pelakunya tertutup masker, tim investigasi kami menemukan bahwa pelaku tersebut adalah mantan narapidana yang baru saja dibebaskan atas jaminan dari firma hukum yang berafiliasi langsung dengan perusahaan cangkang Anda, Tuan Bram."

Bram terdiam seribu bahasa. Keringat dingin kini bercucuran deras di dahi pria yang tadi pagi masuk dengan penuh kesombongan.

Tiba-tiba, pintu ruang sidang terbuka dengan suara dentuman. Seorang petugas medis kepolisian masuk dengan tergesa-gesa dan menyerahkan sebuah tablet kepada Jaksa Penuntut Umum. Jaksa tersebut membaca isinya, lalu mengangguk kepada Hakim.

"Yang Mulia," lapor Jaksa dengan nada serius. "Kami baru saja mendapatkan pernyataan resmi melalui panggilan video darurat dari tim medis Rumah Sakit Bhayangkara. Saksi kunci, Arka Mahendra, telah sadar secara penuh dan bersedia memberikan kesaksian singkat melalui telekonferensi."

Seluruh ruangan mendadak hening, seolah oksigen di sana ikut tersedot keluar. Layar besar di ruang sidang kini beralih menampilkan wajah Arka. Ia masih terpasang masker oksigen, wajahnya kurus dan pucat, namun matanya terbuka lebar dan terlihat sangat tajam.

"Arka Mahendra," tanya Hakim Ketua melalui mikrofon. "Apakah benar Anda menyerahkan seluruh aset Mahendra Group kepada Kirana secara sukarela dan tanpa tekanan fisik maupun mental?"

Arka mengangguk perlahan, suaranya sangat lemah, namun setiap kata yang keluar terdengar jernih melalui pengeras suara. "Iya... saya menyerahkannya secara sadar... sebagai bagian dari penebusan dosa saya terhadap Nona Kirana. Kirana... tidak bersalah dalam hal ini. Bram... dialah yang memanipulasi ayah saya selama puluhan tahun... dialah yang memerintahkan penusukan terhadap saya di dalam sel karena saya menolak untuk bungkam..."

Bram mencoba berdiri untuk melarikan diri dari ruang sidang, namun petugas keamanan pengadilan dengan sigap segera mencegatnya di depan pintu.

"Tuan Bram, Anda dilarang meninggalkan ruangan ini sampai putusan sela dibacakan," tegas petugas kepolisian.

Arka terus menatap layar, pandangannya seolah menembus jarak antara rumah sakit dan pengadilan, tertuju langsung pada Kirana.

"Kirana... maafkan aku untuk semuanya... aku sudah memberikan semua yang aku punya... bersihkan namamu... dan hiduplah dengan tenang..."

Kirana tidak bisa menahan air matanya lagi. Tangisnya pecah di depan publik. Ia melihat pria yang dulu ia maki sebagai penipu ulung, kini tampil sebagai satu-satunya orang yang berdiri di garis depan untuk membelanya di depan hukum, bahkan dengan sisa-sisa nyawa yang hampir habis.

Setelah melalui perdebatan sengit yang berlangsung hingga sore hari dan kehadiran bukti-bukti digital yang tak terbantahkan dari Singapura, Hakim Ketua akhirnya mengetukkan palunya dengan keras.

"Menimbang bukti-bukti baru, kesaksian langsung dari saksi kunci, dan dokumen aliran dana dari Singapura, maka pengadilan memutuskan untuk membatalkan seluruh tuntutan terhadap terdakwa Kirana. Sebaliknya, pengadilan memerintahkan pihak Kepolisian RI untuk segera menahan Saudara Bram atas dugaan pencucian uang lintas negara, penipuan publik, dan percobaan pembunuhan berencana terhadap saksi Arka Mahendra."

Gemuruh tepuk tangan dan kilatan lampu kamera memenuhi ruang sidang. Kirana terduduk lemas di kursinya, seolah seluruh tulang di tubuhnya melunak. Beban berat yang ia pikul sejak malam pengkhianatan di Jakarta dulu seolah terangkat terbang. Namun, pikirannya sama sekali tidak pada kemenangannya. Pikirannya ada pada pria yang sedang terbaring di rumah sakit itu.

Bram digiring keluar ruangan dengan tangan terborgol, berteriak-teriak bahwa ini belum berakhir, namun tak ada yang mempedulikannya lagi. Kirana segera berlari keluar, mengabaikan puluhan wartawan yang mencoba menghalangi jalannya untuk wawancara eksklusif.

Rumah Sakit Bhayangkara - Sore Hari

Kirana sampai di depan kamar ICU Arka. Kali ini, penjagaan polisi sudah sangat ketat, berlapis-lapis untuk melindungi sang saksi mahkota. Ia masuk ke dalam dengan langkah yang sangat pelan, seolah takut akan memecahkan ketenangan di sana.

Arka sedang beristirahat setelah memberikan kesaksian yang menguras tenaganya, namun ia perlahan membuka matanya saat mencium aroma parfum yang sangat ia kenal, aroma yang selalu memberinya ketenangan sekaligus penyesalan.

"Kau menang... Ratu..." bisik Arka sangat lirih, mencoba menarik sedikit senyum di balik masker oksigennya yang berembun.

Kirana duduk di sampingnya, memegang tangan Arka yang kurus dan penuh bekas lecet. "Kita menang, Arka. Kau sudah melakukan hal yang benar. Kau sudah membayar hutangmu."

"Apakah... setelah semua ini... masih ada tempat... bagiku untuk sekadar memandangmu dari jauh?" tanya Arka dengan tatapan yang sangat rapuh.

Kirana menatap Arka untuk waktu yang cukup lama. Luka di hatinya mungkin tidak akan pernah hilang sepenuhnya, bekas pengkhianatan itu akan selalu ada sebagai pengingat. Namun, rasa benci yang selama ini membakarnya telah berubah menjadi rasa hormat dan belas kasih yang dalam.

"Sembuhlah dulu," ucap Kirana lembut sambil mengusap kening Arka. "Dunia ingin melihat bagaimana seorang Mahendra bangkit dari abunya sendiri menjadi manusia yang baru. Aku akan menunggumu... di luar sini."

Kirana menyadari satu hal yang fundamental, balas dendam terbaik bukanlah dengan menghancurkan musuh hingga tak bersisa, melainkan dengan melihat musuh tersebut berubah menjadi orang yang lebih baik dan membantu memperbaiki apa yang telah ia rusak sebelumnya.

Malam itu, di bawah langit Jakarta yang mulai gelap namun dihiasi bintang, Kirana berdiri di balkon rumah sakit. Ia telah mendapatkan kembali hartanya, perusahaannya, dan nama baiknya yang sempat tercemar.

Tapi yang jauh lebih penting dari itu semua, ia telah berhasil menyelamatkan jiwa seorang pria yang sempat tersesat jauh dalam labirin keserakahan.

Permainan besar ini telah berakhir. Dan kali ini, tidak ada yang menjadi korban, melainkan awal dari sebuah kehidupan yang lebih jujur.

...----------------...

Next Episode.....

1
shabiru Al
mau tamatkah ?
Miss Ra: Belum kak..

masih panjang..
total 1 replies
Eva Karmita
benarkah Arka meninggal... sedihnya 😭😭😭😭
kalea rizuky
Kirana goblok pergi jauh lah gatel amat li kayak jalangg
Eva Karmita
😭😭 Arka kau laki" sejati...kau rela di pandang rendah dan hina demi penebusan dosa mu ...cintamu tulus Arka semoga ada keajaiban kamu bisa selamat dari ambang kematian yang menanti ...Kirana apa yang sekarang kmu rasakan melihat Arka lemah dan tidak berdaya 😭😭💔
Eva Karmita
perjuangan cinta yang rumit dan penuh pengorbanan berdarah 💔🥀🥺
Eva Karmita
nyesek banget dah 😩😩 ....cinta Arka yang begitu besar tapi Dimata Kirana hanya sebuah kepalsuan 💔😭
Eva Karmita
otor keren jalan ceritanya bagus aku suka melihat perjuangan cinta Arka tidak pernah menuntut untuk dibalas cintanya cuma mau selalu dekat dgn wanitanya ❤️🤍👍
Miss Ra: thank u atas apresiasinya kak..

semoga berkesan dengan semua ceritaku yaa..

/Kiss//Heart/
total 1 replies
Eva Karmita
terharu banget melihat perjuangan Arka dalam menembus semua dosa nya ...semoga kalian bisa bersatu dalam suka dan duka ❤️
shabiru Al
ta kasih vote ya thor biar makin semangat up nya 💪
Miss Ra: thank u kakak...

semoga berkesan dengan ceritaku..
/Kiss/
total 1 replies
shabiru Al
ta kirain kirana gak bakalan tau siasat arka,, akhirnya tau juga strategi arka agar bisa menangkap baskara,, meski harga yang harus dbayar arka sangat mahal
shabiru Al
rumit benar2 rumit,,, arka melindungi kirana dengan menghancurkan jiwanya...
shabiru Al
permainan semakin berbahaya
shabiru Al
makin rumit dengan jalan pikiran arka,, dah curiga juga pasti arka tetep terlibat... kasihan sekali kirana
shabiru Al
makin rumit makin jlimet dan bodohnya kirana gak bisa lepas dari arka
shabiru Al
benar2 pelim
Miss Ra: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
anju hernawati
bagus jalan ceritanya author lanjut y .....
Miss Ra: siaaappp
total 1 replies
zhelfa_alfira
makin seru
Renjana Senja
nah bener. harus waspada sama barang asing gitu
Renjana Senja
eh. kiriman apa itu kalau boleh tau kawan?
zhelfa_alfira
wah keren²
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!