Chuzuru seorang wanita cantik di Negeri Sakura, dan selalu membawa pedang Katana Hitam pekat, kemanapun dia pergi. Selain cantik, dia pegang nama besar keluarganya, yang bernama Handoyo, sebagai Samurai Sejati di Tokyo, jelas sangat di hormati banyak orang, bahkan termasuk Kaisar Negeri tersebut, tidak luput dapat hormat darinya. Selain itu, dia sudah bertunangan orang hebat, bahkan kadang-kadang dijuluki pasangan serasi. Akan tetapi hidupnya langsung berubah, saat dirinya melabrak seorang pria pekerja kasar, memukul pantatnya, tanpa pikir panjang, siapa pria yang melecehkan dirinya, ia langsung menyerahkan pihak kepolisian, agar dia di penjara. Hal inilah membuat Kota Tokyo terancam bahaya, oleh pria pekerja kasar, membuat dirinya harus menikah orang tersebut, dan segera memutuskan tunangan yang dia cintai, karena betapa bahaya pria pekerja kasar itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uwakmu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Gelisah
"Tio sayang... Apakah itu kamu? Ibu sangat merindukanmu, dimana kamu sekarang Tio? Pergi nggak bilang-bilang sama Ibu, sudah tiga tahun nggak ada kabar darimu, apakah kamu sudah benci sama Ibumu?" Balasan Cahya Sinaga, karena saat ini, dia sedang duduk termenung di Vila Monster.
......................
Apakah kalian tahu? Tempat apa itu? Kenapa tempat itu? Di sebut Vila Monster.
Namanya saja, bisa bikin merinding, macam nggak ada nama lain saja.
Emangnya tidak ada nama lain kawan, karena Vila tersebut, dihuni banyak jenis Monster Sihir, yang di tangkap oleh Hunter Hamzah dan Istrinya, bahkan tempatnya pun, jauh dari Ibukota, dan merupakan hutan pegunungan tertinggi di Indonesia.
Semakin tingginya, kalau hutan tersebut gundul, yang ada banjir dan longsor, akan di terjang Ibukota, belum lagi volume air laut, di perbatasan Ibukota, semakin tinggi.
Maka dari itu, harus bangun tembok raksasa dan kokoh, di perbatasan Laut, kalau Ibukota tidak menginginkan adanya banjir laut melanda, dan setiap jalan, harus menanam satu pohon.
Agar bisa menjadi resapan air hujan alami, nggak selain itu, akan semakin kokoh, dan cocok di tinggalin, oleh masyarakat Republik Indonesia, dan akan bersama-sama untuk menjaga Kota mereka.
Untungnya kita punya pemimpin hebat di sana, dengan misi dan tujuan, sesuai harapan Masyarakat Indonesia, dan kita merasa bangga atas kinerjanya.
Kenapa aku bilang begitu? Di darat telah dikuasai oleh Hunter Hamzah, untuk melindungi Hutan tropis yang ada di Pulau Jawa, yang sekarang menjadi tempat tinggalnya.
Kalau ada penebangan liar, atau perusahaan yang merobos tanah, dan punya izin resmi pemerintah secara legal.
Hunter Hamzah, hanya duduk diam di rumah, tidak peduli aktivitas mereka, karena tidak perlu dia harus turun tangan, karena banyak Monster Sihir, akan ingat wilayahnya, dan tahu jalan untuk pulang, kalau ada makhluk hidup, yang asing baginya, Monster Sihir itu, tanpa segan, menghancurkan bangunan milik perusahaan, atau membunuh orang-orang menebang liar, tanpa ampun.
Kalau ada orang menuntut, Hunter Hamzah hanya berkata. "Kenapa kamu harus bangun bisnis di sana? Kenapa kamu harus cari kayu di situ? Aku kan sudah kubilang, kamu harus jauhi hutan berjarak seratus meter, kalau melewati batas itu, tanggung sendiri akibatnya."
Walaupun sudah di tanganin para Hunter bayaran, untuk membunuh Monster itu, hasilnya sia-sia, Monster itu, terus bermunculan, seolah-olah tidak pernah ada habisnya.
Karena hal ini, orang berpikir jahat dan licik, tidak bisa melakukan apa-apa, selain harus pindah. "Kampret! Hunter Hamzah itu, begitu sombong, sulit menyingkirkan dirinya." Begitulah perasaan mereka.
dan yang kedua, kita punya Pak menteri keuangan, dan Pak Gubernur Ibukota, yang sangat peduli tata bangunan Kota.
Setiap aksinya, selalu rekam jejak mereka, membuat masyarakat tahu, bagaimana kinerja mereka berdua, tanpa harus duduk diam saja, sehingga nggak tahu, apa yang di butuhkan masyarakat Indonesia.
Kalau Pak Gubernur Ibukota, berniat menanam satu pohon tiap jalan, dan membangun tembok raksasa di perbatasan laut, Pak menteri keuangan langsung setujui ide itu, karena dampaknya sangat memuaskan di masa depan.
Kenapa mereka melakukan itu? Tidak perlu di tanyakan lagi, mereka berdua tidak punya terikat partai manapun, nggak selain itu, tidak perlu bayar, untuk memilih dia, karena masyarakat sudah tahu, betapa bagusnya kinerja Pak Gubernur Ibukota, karena sejak awal dirinya jadi Dewan Ibukota, sudah terbiasa menolong orang, saat dirinya maju, jadi Gubernur Ibukota, tanpa ragu, masyarakat Ibukota memilih dia, tanpa embel-embel dapat bansos.
Sedangkan Pak Menteri, dia itu di pilih langsung oleh Presiden, dengan kelulusan S3 sarjana terbaik, sehingga tahu, mengelola keuangan negara, dengan baik dan benar, sehingga uang pajak, dari masyarakat, tidak akan sia-sia.
Selain itu, dia sulit dibujuk, untuk terikat oleh partai, sehingga tidak ada orang yang bisa mengatur dirinya, selain Presiden.
Hal inilah, masyarakat banyak memuji Presiden, dalam memilih bawahan.
Bahkan Aparat pemerintah yang nakal pun, tidak bisa berbuat apa-apa, karena Pak Menteri satu ini, punya pendirian kuat, dan orangnya bertanggungjawab, dan punya misi-misi yang sama, demi kemajuan bangsa dan negara.
......................
"Maafkan aku Ibu, karena aku pergi, nggak bilang-bilang, bahkan diriku saja sangat takut, kasih kabar dari Ibu." Ucapan Tio, meskipun di sampingnya masih ada Pak Abe.
Walaupun demikian, Tio tidak peduli soal itu. "Emangnya aku ini, sering pukul kamu, tidak kan sayang, lagipula aku akan memukulmu, kalau kamu berbuat salah sayang." Ujar Cahya Sinaga, dengan perkataan lemah lembut, seolah-olah dirinya adalah malaikat.
"Tentu aku tahu itu, dan mengakui kesalahan ku, saat aku meninggalkan Negara Republik Indonesia, aku sungguh takut, Ibu marah besar saat itu." Ungkapan Tio merasa bersalah.
Mendengar kata 'meninggalkan negara' , Cahya Sinaga sedang duduk teras Vila, langsung terkejut, hingga berdiri dari duduknya. "Tio... Kamu berada dimana sekarang?" Tanya Cahya Sinaga.
"Aku berada di Ibukota Tokyo Jepang." Jawab Tio, yang begitu santai, dan dia tahu, Ibunya akan tanyakan hal ini
"Dasar kamu ini... Kenapa bisa sampai sana? Jangan buat Ibu cemas Tio." Ujar Cahya Sinaga khawatir.
"Sekali lagi, maafkan aku Ibu." Balasan Tio, karena dia tahu, sudah melakukan kesalahan besar.
"Berhentilah minta maaf, apa kamu pikir, Ibu maafkan mu? Apa kamu tahu? Betapa cemasnya aku, saat kamu menghilang tiga tahun, setelah sekian lama, tidak ada kabar darimu, Ibu tahu kamu dapat masalah, ya kan, jujur sama Ibu!" Marah Cahya Sinaga, kepada anaknya.
"Sayang... Jangan marah... Akulah izinkan dia pergi, dan pemerintah Republik Indonesia, mengatur semua itu, sehingga Tio bisa tiba di sana." Ucapan Hamzah yang duduk di sampingnya.
"Hamzah brengsek! Kamu merahasiakan ini padaku!" Marahnya Cahya Sinaga, karena dia tidak nyangka, suaminya yang rencana ini.
"Dengarkan penjelasan aku, apakah itu tidak bisa?" Balasan Hamzah, meskipun Istrinya mencengkram erat lehernya.
"Emangnya apa yang ingin kamu jelaskan? Kalau anak itu meledak di sana, Negara Jepang, akan rata dengan tanah, dan semua orang akan menyudutkan ku! Apakah kamu tidak tahu itu?!" Marahnya Cahya Sinaga.
Meskipun di marahin Istrinya begitu, Hamzah justru ketawa keras, dengan sambil berkata. "Cahya sayang... Sejak kapan kamu peduli terhadap manusia? Jangan lupa, kamu itu terlahir bangsa ras Iblis, dan di benci oleh umat manusia, mau sebaik apapun dirimu."
Mendengar perkataan suaminya begitu, cengkraman leher suaminya semakin longgar, membuat Hamzah punya peluang, menjatuhkan Cahya Sinaga, hingga dia tertidih oleh suaminya, sambil berkata. "Dengarkan aku, Istriku tercinta, Tio tidak akan melakukan itu, kecuali mereka melakukan di luar batas, dan wajar, mereka dapatkan hukuman dari amukan Tio."