NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / CEO / Romantis / Cinta setelah menikah / Pengasuh
Popularitas:28.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.

Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.

Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 PAGI YANG CANGGUNG.

Pagi itu datang dengan langkah pelan, seolah ikut berhati-hati menyentuh rumah megah yang masih menyimpan sisa-sisa ketegangan malam sebelumnya. Cahaya matahari menyelinap melalui jendela besar, memantul di lantai marmer, namun tak sepenuhnya mampu mengusir dingin yang tertinggal di sudut-sudut hati penghuninya.

Sari sudah bangun sejak subuh. Ia berdiri di depan wastafel kamar kecilnya, menatap bayangan diri sendiri di cermin. Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Lingkar hitam samar menghiasi matanya yang kurang tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan semalam kembali muncul tatapan gelap Tuan Ammar, genggaman kuat di pergelangan tangannya, pintu kamar yang tertutup.

Jantungnya kembali berdebar. “Tenang, Sari… itu sudah berlalu,” bisiknya pada diri sendiri.

Namun tubuhnya seakan belum sepenuhnya percaya.

Dengan gerakan lebih pelan dari biasanya, Sari mengenakan seragamnya. Ia merapikan rambut, menarik napas panjang, lalu keluar kamar. Langkahnya hati-hati, seperti takut bertemu bayangan yang tak diinginkan.

Di dapur, Pak Rudi sudah sibuk menyiapkan sarapan. Aroma roti panggang dan sup ringan memenuhi udara.

“Pagi, Sari,” sapa Pak Rudi ramah.

“Pagi, Pak,” jawab Sari pelan sambil menunduk.

Pak Rudi menatapnya sekilas, sedikit heran melihat wajah Sari yang tampak lebih murung. “Kamu tidak apa-apa?”

Sari tersenyum kecil, senyum yang dipaksakan. “Tidak apa-apa, Pak.”

Ia segera membantu, menata piring, menuang susu, dan menyiapkan buah untuk Queen. Tangannya bergerak cekatan, namun pikirannya melayang entah ke mana. Setiap suara langkah di luar dapur membuat bahunya menegang.

Tak lama kemudian, Queen terbangun. Anak kecil itu berlari kecil menuju ruang makan, rambut ikalnya sedikit berantakan.

“Kak Sari!” panggilnya ceria.

Sari tersenyum tulus kali ini. Ada rasa hangat yang tak bisa ia pungkiri setiap kali Queen memanggil namanya. “Iya, Nona,” jawabnya lembut sambil membantu Queen duduk di kursinya.

Beberapa menit kemudian, Ammar Abraham masuk ke ruang makan. Pagi ini ia tampak rapi seperti biasa kemeja bersih, wajah tegas, aura dingin yang kembali terpasang sempurna. Seolah kejadian semalam tak pernah terjadi.

Namun tidak bagi Sari. Begitu melihat Ammar, refleks Sari menunduk dan melangkah menjauh. Ia berdiri di sisi ruangan, menjaga jarak aman.

Ammar duduk di hadapan Queen. Ia mengambil roti, menyesap kopi, gerakannya tenang. Namun sudut matanya beberapa kali melirik ke arah Sari. Ia melihat sesuatu yang berbeda.

Biasanya gadis itu bergerak ringan, tenang, meski canggung. Pagi ini, Sari terlihat menghindar. Bahunya sedikit membungkuk, matanya jarang terangkat. Setiap kali Ammar bergerak, Sari seolah ingin menghilang.

Ada rasa yang menekan dada Ammar. Bersalah.

Namun gengsinya dan tembok yang ia bangun bertahun-tahun terlalu tinggi untuk runtuh begitu saja.

Ia memilih diam.

“Queen,” ujar Ammar sambil memotong roti kecil. “Hari ini Papah akan sedikit sibuk di kantor. Kamu harus menjadi anak baik, ya.”

Queen mengangguk sambil mengunyah. “Eum… iya, Pah.”

Ammar tersenyum tipis. Senyum yang jarang muncul.

Queen meneguk susunya, lalu menoleh ke arah Sari yang berdiri agak jauh. Matanya berbinar.

“Pah,” panggil Queen polos.

“Hmm?”

“Semenjak ada Kak Sari, aku jadi nggak pernah kesepian lagi.”

Kalimat itu sederhana. Namun efeknya menghantam tepat ke dada Ammar.

Tangannya terhenti di udara. Ammar menatap putrinya, lalu tanpa sadar melirik ke arah Sari. Gadis itu terlihat terkejut, matanya membesar sejenak sebelum kembali menunduk. Wajahnya memerah, entah karena malu atau terharu.

“Queen…” Sari berbisik lirih.

Ammar menelan ludah. Ia kembali teringat tawa Queen di halaman belakang. Video yang dikirim kepala pelayan. Senyum renyah yang selama ini jarang ia lihat. Dan kini, pengakuan polos dari mulut anaknya sendiri.

“Begitu ya?” ucap Ammar pelan.

Queen mengangguk antusias. “Iya! Kak Sari temenin Queen main, cerita, nggak pernah marah.”

Hening menyelimuti meja makan.

Sari meremas ujung seragamnya. Dadanya terasa hangat sekaligus perih. Ia senang Queen merasa tidak kesepian. Namun di saat yang sama, ia takut. Takut kehadirannya melampaui batas yang seharusnya.

Ammar menghela napas panjang. “Bagus,” ucapnya akhirnya. “Papah senang Queen bahagia.”

Queen tersenyum lebar.

Ammar kembali melanjutkan sarapannya, namun kali ini rasanya berbeda. Setiap suapan terasa berat. Pikirannya dipenuhi konflik yang tak kunjung reda.

Ia ingin meminta maaf.

Namun kata itu seolah tersangkut di tenggorokannya.

Setelah sarapan selesai, Ammar berdiri dan merapikan jasnya. Ia menoleh ke arah Sari.

“Sari.”

Sari tersentak. Ia menoleh pelan. “Iya, Tuan?”

Tatapan mereka bertemu sejenak. Ammar melihat ketakutan yang berusaha disembunyikan. Dan Sari melihat sesuatu yang tak pernah ia duga keraguan.

“Jaga Queen dengan baik,” ucap Ammar datar, kembali memasang nada formal.

“Iya, Tuan,” jawab Sari cepat.

Ammar mengangguk singkat, lalu melangkah pergi.

Langkahnya terdengar menjauh, meninggalkan ruang makan yang kembali sunyi.

Sari menatap lantai beberapa saat. Ada rasa lega karena pagi itu berlalu tanpa kejadian apa pun. Namun juga ada luka kecil yang tak terlihat.

Queen turun dari kursinya dan mendekat, memeluk kaki Sari.

“Kak Sari jangan sedih,” ucap Queen tiba-tiba.

Sari terkejut. Ia berlutut, menyamakan tinggi tubuhnya dengan Queen. “Kakak nggak sedih kok.”

Queen menggeleng. “Sedih. Mata Kak Sari kayak mau nangis.”

Hati Sari bergetar. Ia memeluk Queen lembut. “Kakak baik-baik saja. Ada Queen di sini.”

Queen tersenyum puas dan memeluk balik.

Di luar rumah, mobil Ammar melaju meninggalkan halaman. Namun pikirannya tertinggal. Ia menyadari satu hal yang tak bisa lagi ia abaikan.

Bahwa perbuatannya semalam telah meninggalkan jejak. Bahwa Sari bukan hanya pelayan.

Dan bahwa perasaan bersalah itu… tak semudah disingkirkan dengan kesibukan kantor.

Sementara di rumah mewah itu, pagi yang terlihat biasa justru menjadi awal dari jarak yang semakin rumit antara rasa, tanggung jawab, dan hati yang mulai tak patuh.

1
💗 AR Althafunisa 💗
Kaya-kaya koq bisa dimanfaatkan begitu, kagak ada ketenangan, kagak ada kehangatan. Sepi seakan tak punya istri kalau begitu, kenapa ga cerai aja sih 😬
Lintang Edgar: Dilingkup kehidupan orang-orang kaya yang diutamain adalah karier serta kejayaan. Makanya mereka menikah cuma formalitas saja. Sing penting setara duit, urusan hangat, matang, panas dan dingin itu belakangan. 🤣
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
saranku sih pangggil mama aja, soalnya kalau anak sari lahir, trus panggil ammar papa dan sari bunda jatohnya kek.. anaknya sari juga anak tiri/anak angkat karna mengikuti panggilan queen.
Yatiek Widhodho
lanjut thorr
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
selamat ya Sari..
Felycia R. Fernandez
jadi ingat nge liwet dengan teman2 kerja🤍
Felycia R. Fernandez
aku laper jadinya 🤤😆😆😆
Felycia R. Fernandez
mas Ammar donk,masa panggil nama aja
Felycia R. Fernandez
Tetiba membuat nya berdua,eeeh yang salah cuma Ammar sendiri 🤣🤣🤣🤣
gak adil ya Mar...
semangat Mar...
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤦‍♀️😭😭😭😭
Reni Anjarwani
makin seru thor
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Queen kamu akan punya bunda🥰🥰
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
yeaaayyy queen punya bunda🥰🥰
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Felycia R. Fernandez
biang kerok,gak bisa nahan nafsu🤬
Felycia R. Fernandez
ikutan 😭😭😭😭😭😭😭
Felycia R. Fernandez
ini datang karena Queen rindu atau sekaligus melamar Sari
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
😥😥😥😥😥😥
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
semoga keluarga Ammar benar² menerima Sari..
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
yang kuat ya Sari...
Sweetie blue
Sejauh ini yang aku baca ada pesan yang di taman dalam cerita ini.

jika sudah memiliki suami sebisa mungkin diam di rumah. ngurus suami, anak dan juga rumah. jangan banyak gaya ingin kerja di luar dan mengabaikan kewajiban seorang istri.

kalo semuanya harmonis maka semuanya akan berakhir bahagia terutama restu orang tua. 😍😍

Mudah-mudahan happy ending ya cerita nya thour.. semangat berkaya💪💪💪😍😍😍
Felycia R. Fernandez: Sebenarnya gak gtu juga kk,
istri bole bekerja,aku juga bekerja.cuma kita juga harus ingat kewajiban kita sebagai istri dan ibu.
Sabrina diijinkan Ammar kerja tapi dia kebablasan,malah mentingin kerjaaan dari suami dan anak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!