Siapa bilang niat balas dendam akan berakhir sesuai rencana?
Buktinya nih si Nisa!
Hatinya udah di buat jungkir balik sama Aziz. Tetap aja hatinya gak bisa berpaling dari pria galak yang acap kali berkata nyelekit di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
...🥀🥀🥀🥀...
Nisa menoleh ke arah Aziz, menatap pria itu penuh tanya, “Ini gua lagi mimpi apa nyata sih?”
Aziz mengerut kan kening nya, ‘Ini anak kelamaan tidur di jalan kali ya? Rada koslet otak nya!’ pikir Aziz.
Kreeeek.
Bak kepiting yang mengunci pergerakan mangsa nya dengan capit. Aziz mencu bit pipi Nisa yang cabi.
“Sekarang udah bisa bedain belum, ini mimpi apa nyata?” tanya Aziz dengan seringai di bibir nya.
Nisa membola, ia menggigit bibir bawah nya mena han sakit nya cubi tan pada pipi nya.
‘Astaga! Jadi ini nyata! Dan Aziz berani cu bit pipi gua! Enjiiiir sakit gila!’ pikir Nisa dengan mata berembun, hidung nya kembang kempis mena han kesal.
Plak.
Nisa menggeprak punggung tangan Aziz dengan penuh emosi.
Aziz memekik, ia mengibas kan tangan nya, rasa panas menjalar pada punggung tangan nya.
“Awhhhhhh sakit!”
Nisa menegak kan punggung nya, “Itu gak seberapa! Lu cu bit pipi gua, apa lu pikir gak sakit hah!” sentak Nisa.
Wanita yang tengah marah itu menge lus pipi nya, yang sudah pasti merah di buat oleh Aziz.
Nisa memperlihat kan pipi nya yang di cu bit Aziz ke arah kaca spion, “Gila, pipi gua sakit bangat! Mana merah begitu, enjiiiiir bangat lu, Ziz!”
Sreeek.
Aziz mengulur kan lengan nya di depan Nisa, menarik jaket nya dari sisi jendela dekat Nisa. Jaket yang sebelum nya di gunakan nya, untuk melindungi kepala wanita itu dari benturan jendela mobil.
“Santai dikit dong!” seru Nisa dengan nada gak santai.
Aziz menyugar rambut nya ke belakang, “Gua ngadepin wanita keras kepala, gak tau diri macam lu! Gak bisa lagi di bawa santai! Udah di tolongin, gak tau diri lu!” maki Aziz dengan kilatan amarah di mata nya.
Pluk.
Aziz meletak kan kunci mobil di atas dashbord.
“Dasar wanita, gak tau terima kasih! Nyesel gua udah bangunin lu! Tau gitu, gua tinggal aja lu di mobil semalaman!” beo Aziz sebelum ke luar dari mobil.
Bugh.
Aziz menutup pintu mobil dengan kasar, membuat Nisa berjingkat kaget.
“Astagfirullah! Itu pria yang ayah anggap bisa di percaya menjaga ku? Mengelola perusahaan yang sudah ayah dan ibu bangun dari nol? Kalian pasti akan katakan keputusan kalian keliru, jika melihat sikap Aziz barusan pada ku!” gumam Nisa dengan tatapan sakit hati.
Nisa menyandar kan punggung nya pada sandaran mobil. Menghembus kan nafas nya dengan kasar.
‘Aku harap tadi itu cuma mimpi! Mau itu rumah sederhana, keputusan ayah dan ibu perkara Aziz. Hubungan ku dengan Aziz. Yang aku harap, hanya kalian tetap tinggal di rumah tempat aku di besar kan.’ jerit batin Nisa, dengan bulir bening lolos dari netra nya.
Sementara di lobby hotel.
“Saya gak terlambat kan, pak Arif!” beo Aziz dengan dingin.
Tatapan Aziz fokus pada Arif, pria yang berdiri dengan wajah tegas di hadapan nya. Gak peduli dengan seorang wanita yang berdiri di samping Arif.
Rahma memindai Aziz dari ujung kaki hingga ujung kepala, 'Lama gak ketemu, Aziz makin tampan aja! Dia bah kan gak menyapa ku! Meski kami saling kenal! Kejam sih emang! Iya itu lah Aziz'
Bukan nya menjawab pertanyaan Aziz, Arif justru mencecar Aziz dengan berbagai pertanyaan.
Arif mengerdik kan dagu nya, “Di mana Nisa? Apa dia gak ikut dengan mu? Ku dengar dari Tuan Muda Alex, kalian pergi bersama!”
Aziz menghembus kan nafas nya kasar, “Maaf, pak! Bisa kita bicara kan hal itu nanti! Bahas pembagian tugas rasa nya lebih penting, pak!”
Rahma mengerut kan kening nya, tanpa berpaling dari wajah Aziz, 'Kenapa Aziz gak mau bahas Nisa di depan ku? Siapa Nisa itu? Apa mungkin kekasih nya? Aku kalah mendapat kan hati Aziz? Gak mungkin!'
Pluk pluk.
Arif menepuk bahu Aziz.
“Gak salah aku melibat kan mu untuk acara penting Nyonya dan Tuan Alex!” beo Arif.
“Terima kasih atas pujian nya, pak!”
"Ehem!" Rahma berdehem. Seakan mengingat kan kedua nya, dengan keberadaaan nya di sana.
Arif melirik Rahma dan Aziz bergantian, “Kalian sudah saling mengenal kan! Aku rasa tidak akan ada kesulitan, untuk kalian bekerja sama di bagian catring! Kalian atur tugas, aku gak ingin ada kesalahan sekecil apa pun di acara Tuan kelak!”
“Saya akan berusaha, pak!” seru Aziz dengan tegas.
“Begitu pun dengan saya, pak!” timpal Rahma, dengan ekor mata melirik Aziz.
‘Ini yang membuat aku suka pada nya! Dan yah, Aziz gak pernah berubah. Masih sama seperti yang dulu! Tegas, sedikit angkuh, dingin, tapi aku suka!’ pikir Rahma, tersenyum hangat pada Aziz.
“Untuk malam ini kalian bisa istirahat! Kita atur kembali besok, pukul 7 pagi aku sudah harus dengar pembagian tugas kalian!” ujar Arif, sebelum berlalu dari kedua nya. Ia melangkah ke arah lift berada.
“Bagai mana kabar mu, Ziz!” tanya Rahma, menatap lekat Aziz.
Aziz memasuk kan tangan nya ke dalam saku celana yang ia kenakan. Lalu berbalik badan, menatap ke arah mobil nya terparkir.
“Seperti yang kau lihat!” seru Aziz dengan datar.
“Mau makan malam bersama!” tawar Rahma.
‘Kenapa Nisa belum juga menyusul ku? Jangan bilang anak itu melanjut kan tidur nya lagi! Sia laan!’ gerutu Aziz dalam hati.
“Ziz! Bisa ikut aku sebentar!” seru Arif membuat Aziz menoleh ke arah nya.
Aziz melangkah dengan yakin, menghampiri Arif dengan meninggal kan Rahma yang menatap nya kecewa.
“Bisa, pak!” timpal Aziz.
Arif mengerut kan kening nya, menatap Aziz penuh selidik, “Kamu gak meninggal kan Nisa di rumah orang tua nya kan? Nisa itu orang nya Nyonya, Ziz! Kamu tau …”
Aziz menyela, berkata dengan santai, “Ada di mobil, pak! Dia aman bersama dengan saya! Saya bah kan gak berani menyen tuh nya, hanya mencu bit nya!”
Arif menggaruk kepala nya frustasi, “Kenapa kamu tinggal kan dia di mobil, Aziz! Kenapa gak di ajak masuk? Apa kamu berpikir dia gak akan terlibat di acara Tuan dan Nyonya?”
“Saya gak berniat meninggal kan nya di mobil, pak! Salah dia sendiri, menghabisi stok kesabaran saya!” seru Aziz, gak bisa lagi menutupi wajah kesal nya
“Stok kesabaran mu habis? Memang apa yang di lakukan Nisa pada mu? Apa dia menggoda mu? Merayu mu?” desak Arif penuh selidik.
“Lebih dari itu, pak!” celetuk Aziz.
Arif menggeleng gak percaya, “Kamu sudah tidur dengan nya? Jangan bilang kamu melakukan nya saat kalian berada di rumah orang tua nya! Astaaaaga Aziz! Mau kasih penjelan seperti apa aku ini ke Tuan Alex!”
Aziz berdecak kesal, “Kejauhan pak mikir nya!”
“Ya lantas seperti apa! Apa yang kalian lakukan …” Arif gak bisa lagi berkata, netra nya mengikuti langkah Aziz.
‘Kenapa Nisa bisa bersama nya!’ batin Aziz, melangkah menghampiri Nisa yang baru menginjak kan kaki nya di lobby hotel bersama dengan seorang pria.
Bersambung …
lain kamar aja lah nis bukan muhrim loh ,tadi kata mu ini itu macam tau itu salah kalau masih satu kamar ya pada Bae itu mah 🤣🤣🤣