Ranum Haura. Gadis muda berusia 20 tahun, pergi ke kota untuk menghadiri interview di sebuah perusahaan farmasi. Namun interviewnya gagal, karena ia harus meluangkan waktunya menolong pria yang terlihat sesak nafas.
Ranum yang punya keahlian pijat refleksi, segera menolongnya, ia menekan titik syaraf pria paruh baya yang bernama Pak Barra itu.
Atas bentuk terima kasihnya, Pak Barra menjodohkan Ranum dengan cucunya, CEO kaya raya, tampan, bernama Brams Satria Ravendra.
Tapi. Brams menyodorkan pernikahan Kontrak pada Ranum tanpa sepengetahuan kakeknya.
Dan ketika Ranum diketahui hamil, Ranum pun diam-diam pergi meninggalkan Brams, sebelum kontraknya selesai.
Apakah Brams akan melepaskan Ranum?
Simak kisah selengkapnya. Jangan lupa. Ulasan, like, komentarnya ya. Untuk dukung novel ini. 😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Menghadapi Amarah Istri Favoritku
Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka.
Ranum melangkah keluar perlahan. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai kamar itu berubah menjadi pasir hisap.
Pinggangnya pegal. Bukan nyeri tajam, melainkan rasa lelah yang menancap sampai ke tulang.
"Apa dia sekuat itu…" Gumam Ranum. Pikirannya berhenti di sana. Ia segera menggeleng keras, menolak ingatan yang di tanamkan oleh Brams di kamar mandi tadi.
Ranum berjalan terpincang menuju tas kecilnya di atas meja sudut. Tas kain itu yang sejak awal ia bawa dari desa, baginya adalah satu-satunya benda yang masih terasa miliknya.
Tangannya gemetar saat mengeluarkan bungkusan daun kering, akar tipis, dan bunga-bunga kecil yang telah disusunnya rapi semalam. Ia memilah cepat. Daun untuk pegal. Akar untuk menenangkan.
Napasnya masih belum sepenuhnya stabil.
Di belakangnya, Siulan santai terdengar.
Brams keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya, seolah pagi itu sama sekali tidak memiliki bekas apa pun.
Wajahnya segar. Bahunya tegap. Gerakannya ringan. Ia berhenti beberapa langkah dari Ranum. Mengamatinya. Lama. sambil memakai Setelan kemeja kerjanya.
“Apa kau akan membuatkan ramuan lagi untukku?” tanya Brams ringan.
Ranum tidak menjawab. Ia tetap membungkuk, jari-jarinya sibuk, terlalu sibuk.
“Hei sayang,” Brams mendekat setengah langkah. “Aku bicara padamu.” sambil menyodorkan dasinya ke depan dada Ranum.
Jelas. Perintah tanpa suara.
Ranum menatap dasi itu beberapa detik.
Lalu. ia melemparkannya ke kasur.
Brams terkekeh. “Galak sekali.” Ia mengambil dasi lain dari meja, menyodorkannya lagi.
“Ikat,” katanya pelan. “Atau aku akan mengikatkan dasi ini di kedua tanganmu, lalu kita akan melakukannya lagi sekarang. Di sini.” Ancam halus Brams.
Ranum menoleh cepat. Tatapan mereka bertubrukan. Ia tahu, barusan bisa jadi bukan ancaman kosong. Ranum kini tahu sosok Pria bernama Brams itu seperti apa orangnya. Dialah Pria licik.
Dengan gerakan kasar, Ranum meraih dasi itu. Tangannya bergerak cepat, cekatan, hasilnya rapi, terlalu rapi untuk seseorang yang sedang marah dan hancur.
Brams menunduk sedikit, membiarkan Ranum bekerja. Tatapan itu… meledek. Namun di baliknya, ada kepuasan yang tidak ia sembunyikan.
“Menarik,” gumam Brams. “Dalam keadaan seperti ini pun kau masih bisa jadi istri yang patuh, sekaligus istri yang sempurna.”
Tangannya terangkat, berniat merapikan anak rambut Ranum yang jatuh menutupi pipi berisi Ranum.
Detik itu, Brams terdiam. ia terpesona pada wajah cantik Ranum tanpa hijab.
Pucat. Tegas. Rapuh.
Plak. Ranum menepis tangan Brams. Brams mengangkat alis.
“Ah,” ucap Brams ringan. “Ini bukti jelas, bahwa kau masih marah padaku.”
Ranum menarik napas panjang. Menahan. Menekan emosinya. Ia tidak boleh bicara, Ia tidak ingin kakek Barra mendengar pertengkaran dirinya dengan Brams.
“Aku tidak bisa membiarkanmu marah seperti ini terus,” lanjut Brams santai. “Kalau kau seperti ini, aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di rumah.”
Ranum mengerutkan dahi. Namun tetap diam. Brams membungkuk sedikit agar sejajar dengan wajahnya. Suaranya lebih rendah. “Bersiaplah.”
Brams berdiri kembali sambil mengenakan jasnya. “Kau ikut denganku ke luar kota,” katanya seolah membicarakan cuaca. “Tiga hari. untuk menemaniku dalam perjalanan bisnis.” Brams melangkah menuju pintu.
Dan di situlah, akhirnya ranum bicara. “Tidak mau.” ucap Ranum tegas.
Langkah Brams terhenti. Ia berbalik perlahan.
Tatapannya kini tidak lagi santai. Bukan marah. Bukan terkejut. Hanya… dingin.
“Ulangi,” katanya. Ranum menatapnya lurus.
Dadanya naik turun. “Aku tidak mau ikut denganmu.”
Bersambung…
masa iya ga lihat cara devan ke istri nya macam mana 🤦
tuh kucing bukan dapat tuan tapi dapat Ba Bu