Lelah menjadi budak korporat di kota besar tanpa hasil dan malah dikhianati oleh orang terdekatnya, Yao Wi memutuskan menyerah dan pulang ke kota kelahirannya yang miskin dan terbelakang. Namun, siapa sangka keputusannya untuk menyerah justru menjadi titik balik hidupnya saat sebuah sistem misterius tiba-tiba aktif di kepalanya.
Ding!
[Selamat datang, Tuan Rumah Yao Wi.]
[Sistem ini bertujuan untuk membantu Anda mengubah kota kelahiran Anda yang tertinggal menjadi kota paling makmur di bumi.]
[Aturan Utama Sistem: Tuan rumah akan menerima seratus ribu setiap hari dari setiap jiwa yang terdaftar resmi sebagai warga kota ini.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Vroom!
Suara mesin bertenaga besar dari Range Rover hitam membelah kesunyian jalanan Kota Linzhou.
Yao Wi mengemudikan mobil barunya dengan santai menikmati suspensi udara yang luar biasa empuk.
Banyak pasang mata warga kota yang menatap takjub ke arah mobil raksasa tersebut dari pinggir jalan.
Tentu saja pemandangan ini sangat langka karena biasanya hanya ada motor bebek butut atau angkutan tua yang lewat di sini.
Yao Wi mengarahkan kemudinya menuju distrik selatan kota yang dikenal sebagai kawasan kota tua.
Di kawasan inilah pusat perekonomian Linzhou berpusat puluhan tahun yang lalu sebelum akhirnya mati dan ditinggalkan penduduknya.
Ciiiit!
Yao Wi menginjak rem perlahan dan menepikan mobilnya di depan sebuah bangunan berlantai tiga yang sangat luas.
Bangunan ini dulunya adalah satu-satunya pusat perbelanjaan atau plaza di kota ini pada masa kejayaannya.
Namun sekarang kondisinya sangat memprihatinkan dengan cat terkelupas, tembok berlumut, dan kaca jendela yang banyak pecah.
"Ini tempat yang sempurna untuk dijadikan markas operasi awalku karena ukurannya yang masif," batin Yao Wi sambil menatap bangunan raksasa itu.
Ia turun dari mobil dan berjalan santai mendekati gerbang besi bangunan yang sudah berkarat.
Prang!
Tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca yang sangat keras dari arah pelataran samping bangunan tersebut.
Yao Wi mengerutkan keningnya dan segera berjalan perlahan ke arah sumber suara keributan itu.
Di pelataran samping gedung, ia melihat seorang pria paruh baya berkacamata sedang tersungkur di tanah berdebu dengan bibir berdarah.
Di depan pria malang itu, berdiri tiga orang pria berwajah garang dengan tato naga yang memenuhi lengan kotor mereka.
"Sudah kubilang, Paman Tua, jual saja gedung rongsokan ini kepada Bos Naga dengan harga dua ratus juta!" bentak preman berambut botak yang memegang tongkat bisbol.
"Dua ratus juta? Itu perampokan namanya, gedung dan tanah seluas ini harganya paling tidak dua miliar!" balas pria paruh baya itu sambil memegangi pipinya yang memar.
Pria paruh baya itu adalah Tuan Zhang, pemilik sah dari bangunan bekas plaza tersebut sejak puluhan tahun lalu.
Brak!
Preman botak itu menendang papan kayu di dekatnya hingga hancur berantakan menjadi serpihan.
"Kau pikir ada orang waras yang mau membeli tanah mati ini seharga dua miliar di Linzhou?" tawa preman botak itu dengan nada mengejek yang keras.
"Bos Naga berbaik hati memberimu dua ratus juta agar kau bisa pergi dari kota ini dan mengobati penyakit kritis istrimu."
"Tanda tangani surat pelepasan hak tanah ini sekarang, atau aku akan menghancurkan kedua lututmu!" ancam preman itu sambil mengangkat tongkat bisbolnya tinggi-tinggi.
Tuan Zhang gemetar ketakutan, air mata keputusasaan mengalir di wajahnya yang sudah keriput dimakan usia.
Ia memang sangat membutuhkan uang tunai hari ini juga untuk biaya operasi istrinya di rumah sakit luar kota.
Namun dua ratus juta sama sekali tidak cukup untuk menutupi biaya pengobatan yang sangat mahal itu, apalagi untuk bertahan hidup setelahnya.
"Tolong beri aku waktu beberapa hari lagi, aku akan mencari pembeli lain yang mau membayar lebih tinggi," mohon Tuan Zhang dengan suara bergetar dan putus asa.
"Tidak ada waktu lagi, tanda tangani atau mati cacat hari ini juga!" teriak preman botak itu bersiap mengayunkan tongkatnya ke arah kaki Tuan Zhang.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki yang sangat tenang terdengar mendekat, membuat ketiga preman itu menoleh secara bersamaan ke arah gerbang.
Yao Wi berjalan masuk dengan santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana mahalnya.
"Hei, siapa kau? Jangan ikut campur urusan Geng Naga Hitam kalau kau masih sayang nyawa!" gertak salah satu preman berambut gondrong sambil menodongkan pipa besi.
Yao Wi sama sekali tidak mempedulikan gertakan murahan itu dan terus berjalan hingga berdiri tepat di depan Tuan Zhang.
"Paman, apakah kau benar-benar pemilik sah dari bangunan dan tanah luas ini?" tanya Yao Wi dengan suara lembut namun berwibawa.
Tuan Zhang mendongak menatap pemuda berpakaian rapi di depannya dengan tatapan bingung dan sedikit ragu.
"B-benar, anak muda, sertifikat hak miliknya ada di dalam tasku ini," jawab Tuan Zhang terbata-bata sambil memeluk tas lusuhnya.
Yao Wi mengangguk pelan dan menyunggingkan senyum tipis di bibirnya yang terlihat sangat percaya diri.
"Bagus, aku kebetulan sedang mencari gedung yang luas hari ini untuk perusahaanku," ucap Yao Wi santai.
"Paman bilang tadi harganya dua miliar? Aku akan membelinya seharga lima miliar rupiah sekarang juga."
Hening.
Suasana di pelataran itu mendadak sunyi senyap bagai kuburan di tengah malam.
Ketiga preman itu saling berpandangan sejenak dengan dahi berkerut sebelum akhirnya tertawa meledak bersama-sama.
Hahaha!
"Lima miliar? Kau pasti pelawak gila yang baru saja kabur dari rumah sakit jiwa!" ejek preman botak itu sambil memegangi perutnya yang berguncang karena tertawa.
"Bocah, kau pikir lima miliar itu daun kering yang bisa kau sapu dari pinggir jalan raya?"
"Penampilanmu memang lumayan rapi, tapi kau sangat salah tempat jika ingin sok menjadi pahlawan kesiangan di depan kami."
Tuan Zhang juga menatap Yao Wi dengan tatapan tidak percaya sekaligus merasa sangat kasihan.
"Anak muda, tolong jangan bercanda di saat genting seperti ini, pergilah sebelum mereka menyakitimu," bisik Tuan Zhang memperingatkan dengan tulus.
Yao Wi hanya mendengus geli melihat reaksi orang-orang miskin imajinasi di depannya ini.
Ia dengan santai mengeluarkan ponsel pintarnya dan membuka aplikasi perbankan digital kelas VIP miliknya.
"Paman, sebutkan nomor rekeningmu, aku tidak punya waktu untuk meladeni ocehan cecunguk-cecunguk ini," kata Yao Wi sepenuhnya mengabaikan para preman itu.
Preman berambut gondrong merasa sangat terhina dan darahnya mendidih karena diabaikan begitu saja oleh anak kemarin sore.
"Sialan, kau berani meremehkan Geng Naga Hitam? Rasakan ini, mati kau!" teriak preman gondrong itu sambil mengayunkan pipa besi ke arah kepala Yao Wi.
Wush!
Pipa besi itu melesat membelah udara dengan kecepatan tinggi, mengincar pelipis Yao Wi secara brutal.
Namun Yao Wi sama sekali tidak panik atau memejamkan mata, ia hanya memiringkan kepalanya sedikit ke samping kiri.
Plak!
Dengan gerakan yang sangat cepat dan akurat, punggung tangan kiri Yao Wi menepis pergelangan tangan preman itu dengan sangat keras.
"Ahhh!" jerit preman gondrong itu saat saraf tangannya mati rasa dan pipa besinya terlepas jatuh ke tanah berdebu.
Meskipun Yao Wi tidak pernah berlatih bela diri khusus, tubuhnya yang dulu terbiasa bekerja kasar lima tahun berturut-turut memiliki refleks yang cukup tangguh.
Ditambah lagi, ketenangan mentalnya saat ini sangat tinggi karena ia tahu ia memiliki sistem dan kekayaan yang tidak terbatas di belakangnya.
"Berani melawan balik? Hajar bocah ini bersama-sama sampai cacat!" perintah preman botak dengan wajah merah padam karena amarah.
Ketiga preman itu mengangkat senjata mereka dan bersiap mengeroyok Yao Wi secara brutal dari tiga arah berbeda.
"Tunggu dulu," ucap Yao Wi tiba-tiba sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
Para preman itu menghentikan langkah mereka sejenak, mengira Yao Wi akhirnya merasa ketakutan dan ingin menyerah.
"Kenapa? Kau mau berlutut memohon ampun sekarang, Tuan Sok Kaya?" ejek preman botak sambil memukul-mukulkan tongkat bisbol ke telapak tangannya sendiri.
Yao Wi menggelengkan kepalanya perlahan sambil tersenyum sinis yang sangat merendahkan.
"Tidak, aku hanya merasa tanganku terlalu kotor jika harus menyentuh sampah menjijikkan seperti kalian secara langsung," jawab Yao Wi dingin.
Ia menoleh ke arah luar gerbang menuju jalan raya di depan plaza tua tersebut.
Di seberang jalan, ada sekitar sepuluh orang pekerja kuli panggul yang sedang duduk beristirahat di warung kopi kecil yang kumuh.
Mereka sejak tadi menonton keributan ini dari jauh namun tidak berani ikut campur sama sekali karena sangat takut pada reputasi Geng Naga Hitam.
Yao Wi merogoh saku dalam kemejanya dan mengeluarkan sebuah buku cek kecil khusus dari bank pusat.
Ia menuliskan nominal angka dengan sangat cepat menggunakan pena emasnya, lalu merobek kertas cek itu dengan suara sret yang nyaring.
"Hei, kalian semua para pekerja keras yang ada di warung seberang jalan!" teriak Yao Wi dengan suara lantang yang menggema memecah jalanan sepi.
Para kuli panggul itu tersentak kaget dan menoleh ke arah Yao Wi dengan wajah bingung bercampur waspada.
Yao Wi mengangkat kertas cek di tangannya tinggi-tinggi agar bisa dilihat dengan jelas oleh semua orang di sana.
"Aku punya selembar cek resmi bernilai seratus juta rupiah yang bisa dicairkan hari ini juga!" seru Yao Wi tanpa ragu.
"Siapa saja dari kalian yang bisa mengusir ketiga anjing gila ini dari hadapanku, uang seratus juta ini menjadi milik kalian untuk dibagi rata!"
Ucapan Yao Wi ibarat bom atom yang dijatuhkan tepat di tengah ketenangan pagi kota kecil itu.
Seratus juta rupiah hanya untuk mengusir tiga orang preman kampung?
Bagi para kuli panggul yang gajinya hanya lima puluh ribu sehari setelah bekerja memeras keringat, seratus juta adalah harta karun yang bisa mengubah hidup keluarga mereka.