NovelToon NovelToon
Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Nebula Bermata Merah

Beberapa hari setelah kematian Denny dan penangkapan Brandon, Keira keluar dari rumah sakit swasta bersama Kevin.

Mereka baru saja melihat Safira. Tidak ada perubahan besar, hanya denyut stabil, kulit yang dirawat baik, dan sunyi yang sama. Namun bagi Keira, melihat Fira bernapas masih selalu terasa seperti menghitung utang yang belum lunas.

Kevin menutup map medis yang dibawanya. "Dokter bilang terapi stimulasi bisa tetap dilanjutkan. Respons kecil pada otot tangan kiri minggu lalu belum cukup disebut kemajuan, tapi bukan tanda buruk."

"Aku tahu."

"Kamu tidur?"

"Pertanyaanmu mulai terdengar seperti perawat."

"Perawat biasanya lebih galak."

Keira tidak tersenyum, tetapi langkahnya melambat. Kevin belajar tidak memaksa. Ia hanya berjalan di sampingnya sampai pintu lobby terbuka dan panas Jakarta menyentuh wajah mereka.

Di depan lobby, Range Rover hitam berhenti terlalu tepat waktu.

Rayhan turun dari kursi belakang.

Keira berhenti.

Kevin menoleh, lalu tersenyum tipis. "Kebetulan?"

Rayhan menatap Kevin. "Jakarta sempit."

"Untuk orang biasa, tidak sesempit itu."

Keira menyentuh kalung safir di lehernya tanpa sadar. Batu itu dingin. Terlalu dingin. Sejak diberikan di London, ia memakai kalung itu karena Rayhan selalu melihatnya dengan puas saat batu itu ada di lehernya. Baru kali ini, dinginnya terasa seperti benda yang sedang menjawab pertanyaan.

Rayhan melihat gerakan itu dan salah mengira sebagai gugup karena Kevin. "Masuk mobil."

"Aku masih ada urusan."

"Dengan dia?"

Kevin berkata tenang, "Urusan HEALER."

"Aku tidak bertanya padamu."

Keira menatap Rayhan. "Jangan kasar."

Rayhan tersenyum singkat. "Aku sudah sangat sopan."

Ia membuka pintu mobil untuk Keira, cara yang terlihat gentleman bagi orang luar dan terlalu memaksa bagi Keira. Seorang perawat di dekat pintu bahkan tersenyum iri, tidak tahu ada ketegangan tipis di antara mereka.

Setelah jeda panjang, Keira masuk. Bukan karena tunduk, melainkan karena ia ingin tahu sejauh mana "kebetulan" ini berjalan.

Rayhan membawanya ke restoran mewah di Senopati. Restoran itu punya ruang privat dengan kaca besar menghadap taman kecil. Pelayan menyajikan menu tanpa Rayhan perlu memesan panjang. Sup hangat, ikan panggang tanpa terlalu banyak bumbu, teh melati, dan dessert mangga yang pernah Keira makan sekali lalu tidak pernah ia sebut lagi.

Ia ingat.

Atau ia menyuruh orang mencatat.

Keira mengangkat sendok. "Kamu tahu aku suka ini dari mana?"

"Aku memperhatikan."

"Atau menyelidik."

"Kadang dua hal itu terlihat mirip."

"Bedanya penting."

Rayhan meletakkan garpu. Ia nyaris tidak makan. Matanya terus kembali ke leher Keira, ke kalung safir, lalu ke wajahnya.

"Kamu sering ke rumah sakit dengan Kevin?"

"Sering secukupnya."

"Jawabanmu selalu menghindar."

"Pertanyaanmu selalu menyelidik."

"Aku cemburu."

Keira menatapnya. "Aku tahu."

"Kamu tidak mau menjelaskan?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena tidak semua bagian hidupku tersedia untuk kamu periksa."

Rayhan terdiam. Setelah Bab 9, ia belajar tidak langsung menekan. Namun belajar tidak berarti mahir. Jarinya mengetuk meja sekali, lalu berhenti. Ia seperti pria yang biasa memecahkan pintu, sekarang dipaksa menunggu orang dari dalam memutar kunci.

"Aku tidak suka tidak tahu," katanya.

"Aku juga tidak suka diawasi."

Kalimat itu membuat tatapan Rayhan bergeser sedikit, terlalu cepat untuk orang yang tidak menyembunyikan apa pun.

Setelah makan, ia membawanya ke sebuah acara lelang perhiasan kecil di hotel butik. Ruangannya tidak besar, tetapi tamunya jelas dipilih. Kolektor, sosialita, beberapa istri pejabat, dan orang-orang yang membeli batu permata seperti membeli buah.

Keira tidak tertarik. Ia baru akan mundur ke dekat dinding saat seorang perempuan sosialita memuji lehernya.

"Kalung safirnya cantik, tapi leher Bu Keira sebenarnya cocok dengan berlian yang lebih ringan. Terlalu polos sayang sekali."

Rayhan mengangkat nomor peserta.

Keira menoleh. "Kamu tidak perlu."

Di panggung, kalung berlian tipis dengan potongan bintang kecil baru saja dibuka harga.

"Aku tahu."

"Lalu kenapa?"

"Karena aku bisa."

"Itu alasan paling buruk."

"Tapi jujur."

Lelang berlangsung cepat. Begitu ada peserta lain menaikkan harga, Rayhan menaikkan lebih tinggi tanpa mengubah ekspresi. Bukan panik, bukan pamer. Hanya keputusan dingin bahwa apa pun yang membuat orang lain membayangkan benda itu di tubuh Keira harus berhenti di tangannya.

Sepuluh menit kemudian, kotak beludru sudah berada di pangkuan Keira.

"Aku tidak akan memakai dua kalung sekaligus," katanya.

"Simpan."

"Kamu membeli untuk disimpan?"

"Aku membeli agar tidak dipakai orang lain sambil membayangkanmu."

Keira menutup kotak itu lebih keras dari perlu. "Rayhan."

"Aku tahu." Ia menarik napas pendek. "Kalimat itu buruk."

"Sangat."

"Aku sedang mencoba."

Keira menatapnya. Untuk seorang pria yang bisa menekan perusahaan dalam semalam, Rayhan terlihat lebih kesulitan mengendalikan satu kalimat daripada mengendalikan pasar. Anehnya, usaha yang canggung itu membuat marah Keira tidak sepenuhnya sampai.

Malamnya, Rayhan membawa Keira ke observatorium privat di pinggir Jakarta. Gedung itu sunyi, jauh dari lampu kota. Di dalam kubah utama, teleskop besar sudah diarahkan ke langit. Angin malam masuk dari celah pintu, membawa bau rumput basah.

"Lihat," kata Rayhan.

Keira menempelkan mata ke lensa.

Awalnya ia hanya melihat gelap dan bintang. Lalu perlahan, bentuk samar muncul: awan cahaya berwarna merah muda dan biru, melengkung seperti profil wajah perempuan. Di salah satu titik, ada bintang merah kecil yang tampak seperti tahi lalat di ujung mata.

Keira tidak bergerak.

"Itu nebula kecil di katalog privat observatorium," kata Rayhan di belakangnya. "Aku membeli hak penamaan dari lembaga yang mengelolanya."

Keira menjauh dari lensa. "Kamu membeli langit lagi?"

"Bukan langit. Namanya."

"Namanya apa?"

Rayhan menatapnya.

"Keira."

Untuk beberapa detik, semua strategi di kepala Keira berhenti berbunyi.

Ia kembali melihat lewat teleskop. Nebula itu jauh, tidak bisa disentuh, tidak bisa dimiliki sungguhan, tetapi namanya kini membawa namanya. Keira tahu gestur itu tidak masuk akal. Ia tahu uang Rayhan membuat banyak hal mustahil menjadi mungkin. Namun ada sesuatu yang menusuk lembut di dada.

"Kenapa?" tanyanya.

Rayhan berdiri di sampingnya. "Karena kalau suatu hari kamu tidak mau melihatku, setidaknya ada sesuatu di langit yang tetap memakai namamu."

Keira tertawa kecil.

Suara itu begitu jernih hingga Rayhan membeku.

Itu bukan senyum sopan, bukan senyum jebakan, bukan senyum tipis untuk menenangkan pria posesif. Itu senyum yang keluar sebelum Keira sempat menahannya.

Rayhan menatapnya seperti orang yang baru melihat matahari dari dekat.

"Kei."

Keira sadar, lalu senyumnya perlahan mereda. "Apa?"

"Tadi..."

"Jangan dibahas."

"Aku belum bilang apa-apa."

"Wajahmu sudah."

Rayhan menyentuh dadanya sendiri. Jantungnya berdetak terlalu keras. Anehnya, kali ini bukan karena gairah, bukan karena ingin memiliki. Hanya karena Keira tersenyum dengan tulus dan ia merasa seluruh tubuhnya terlambat memahami sesuatu.

Ia tidak hanya menginginkan Keira.

Ia mulai takut hidup tanpa senyum itu.

Di luar observatorium, Keira kembali menyentuh kalung safir di lehernya. Gerakan kecil itu tidak luput dari Rayhan, tetapi kali ini Keira juga memperhatikan wajahnya. Tatapan Rayhan terlalu cepat turun ke batu itu, terlalu cepat lega saat melihatnya masih ada.

Rayhan muncul di rumah sakit terlalu tepat. Lagi.

Restoran tahu makanan yang tidak pernah ia sebutkan.

Lelang sudah menempatkannya di kursi terbaik.

Dan kalung safir di lehernya selalu terasa dingin seperti mata yang tidak berkedip.

Kebetulan mulai kehilangan bentuknya.

1
kitty ❤
lanjut Thor 😍🔥
kitty ❤
Semangat Thor 😍🔥
kitty ❤
lanjut Thor 🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!