Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Lamaran Kilat
"Aku datang untuk mengurus pernikahan kita."
Ning menatap Kevin lama sekali.
Panas di tubuhnya membuat pinggir pandangan berpendar. Gang sempit di Tangerang, kabel listrik yang menggantung, suara ibu-ibu menawar sayur di depan warung, semuanya terasa menjauh. Yang tersisa hanya pria di hadapannya, jasnya masih rapi setelah perjalanan semalam, matanya merah, dan kalimat yang tidak masuk akal.
Pernikahan.
Kita.
Kalau bukan karena telapak kakinya masih menyentuh beton retak, Ning mungkin mengira ia kembali terseret ke mimpi lama.
"Pak Kevin," ucapnya pelan, "Bapak mungkin kurang tidur."
Jovi, yang berdiri di dekat mobil, menundukkan kepala terlalu cepat. Seperti sedang menahan sesuatu.
Kevin tidak tersenyum. "Aku sadar."
"Bapak baru pulang dari Surabaya?"
"Ya."
"Lalu langsung ke sini?"
"Ya."
Jawaban-jawaban pendek itu membuat dada Ning makin kacau. Ia ingin bertanya apakah Kevin sudah tahu sesuatu. Ia ingin menyentuh wajahnya, memastikan pria ini benar-benar berdiri di sini, bukan bayangan dari enam belas tahun yang tidak pernah selesai ia tangisi. Tapi ia hanya seorang tutor muda bagi dunia sekarang. Seorang perempuan bernama Ning Tju yang tinggal di kontrakan kumuh, bukan istri Kevin Nie yang pernah dimakamkan.
Ia memaksa diri menelan ludah.
"Saya mau beli obat dulu."
Kevin maju satu langkah. "Kamu demam."
"Cuma masuk angin."
"Ning."
Namanya keluar dari mulut Kevin tanpa embel-embel, rendah dan terlalu akrab. Lutut Ning melemas pada saat yang sangat tidak tepat. Ia menangkap dinding gang, tapi Kevin sudah lebih cepat menahan sikunya.
Telapak tangannya hangat.
Bukan hangat. Panas.
Kevin menempelkan punggung tangan ke kening Ning. Wajahnya langsung berubah.
"Jovi, rumah sakit."
"Baik, Pak."
"Tidak perlu." Ning buru-buru menarik diri. "Saya bisa beli obat sendiri. Lagipula KTP saya ada di kamar. Dompet ini cuma uang kecil."
"Kamarmu di lantai berapa?"
Ning terdiam.
Kevin menatap bangunan kontrakan di belakangnya. "Lantai berapa?"
"Enam," jawab Ning akhirnya, nyaris berbisik. "Tapi saya bisa naik sendiri."
Lima menit kemudian, Ning mengetahui bahwa Kevin Nie tetaplah Kevin Nie: kalau sudah memutuskan sesuatu, bantahan orang lain hanya dianggap suara latar.
Ia mengikuti Ning naik tangga sempit sampai lantai enam. Di setiap lantai, ada sandal basah, ember plastik, gantungan pakaian yang hampir menyentuh kepala. Seorang anak kecil mengintip dari balik pintu. Seorang pria berkaus singlet berhenti merokok ketika melihat jas Kevin yang mahal melintas di lorong sempit itu.
Ning makin malu setiap kali langkah mereka menggema.
"Pak Kevin, Bapak tunggu di bawah saja."
"Ambil KTP."
"Saya benar-benar bisa."
"Ning."
Satu panggilan itu membuat ia kehilangan tenaga untuk berdebat.
Di kamar kecilnya, udara pengap menyambut mereka. Kasur tipis di lantai, meja lipat penuh sketsa, satu kipas angin tua, dan gelas bekas obat herbal yang sudah dingin. Kevin berdiri di ambang pintu. Matanya bergerak cepat, tidak menghakimi, tapi setiap sudut kamar seperti memberi tahu dia betapa buruk Ning hidup selama ini.
Ning meraih map plastik berisi KTP, KK fotokopi, dan beberapa dokumen kerja. Saat membungkuk, kepalanya berdenyut keras.
Lantai seperti bergeser.
"Ning!"
Kevin menangkap tubuhnya sebelum ia jatuh.
Ning membuka mata dan menemukan dirinya sudah berada di punggung Kevin.
"Pak Kevin, turunkan saya." Suaranya serak, panik sekaligus malu. "Orang-orang lihat."
"Biarkan."
"Saya berat."
"Kamu terlalu ringan."
Kalimat itu membuat tenggorokan Ning tersumbat.
Kevin menuruni tangga satu per satu dengan langkah mantap. Punggungnya lebar. Bahunya kaku, tapi napasnya terdengar dekat di telinga Ning. Ia bisa mendengar detak jantung pria itu, cepat, tidak setenang wajahnya.
Dulu, saat hamil besar, Ning pernah bercanda bahwa Kevin tidak akan kuat menggendongnya kalau ia pingsan. Kevin hanya menjawab datar, "Coba saja." Ia tidak pernah mencobanya.
Sekarang, di tubuh yang jauh lebih ringan, ia justru berada di punggung pria itu di lorong kontrakan sempit, disaksikan penghuni yang berbisik-bisik.
"Pak Kevin," Ning berbisik, "kenapa Bapak melakukan ini?"
Kevin tidak menoleh.
"Aku cuma ingin melihatmu."
Jantung Ning seperti dipukul pelan.
"Sampai terbang pulang semalaman?"
"Aku memang khusus pulang untuk itu."
"Untuk melihat saya?"
"Untuk menikahimu."
Ning menutup mata. Panas demam kalah oleh panas yang naik ke wajahnya.
Di dalam Alphard, Jovi sudah menyiapkan air mineral, masker medis, dan selimut tipis. Kevin mendudukkan Ning di kursi belakang, lalu duduk di sampingnya. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi kehadirannya memenuhi seluruh ruang.
"Dengarkan aku," kata Kevin.
Ning menggenggam botol air. "Saya sedang mendengarkan."
"Kian menolak hampir semua orang yang mencoba masuk ke hidupnya. Dia menolak tutor, psikolog, bahkan beberapa kerabat yang niatnya kelihatan baik." Kevin berhenti sebentar. "Tapi dia membiarkan kamu kembali."
Ning menahan napas.
"Kamu satu-satunya orang yang bisa berada di dekatnya tanpa membuat dia merasa diserang."
"Karena itu Bapak mau menikahi saya?"
"Ya."
Jawaban itu terlalu cepat. Terlalu rapi. Terlalu jelas disiapkan.
Ning menatapnya, mencari celah di wajah dingin itu. "Kalau hanya butuh saya dekat Kian, Bapak bisa mempekerjakan saya sebagai tutor tetap."
"Status tutor tidak cukup kuat."
"Bisa kontrak eksklusif."
"Tidak cukup."
"Bisa kasih saya kartu akses rumah."
"Tidak cukup."
Ning hampir tertawa karena pusing. "Jadi menurut Bapak, solusi paling praktis adalah menikah?"
"Menurutku, solusi paling aman adalah menikah."
Aman.
Kata itu membuat Ning diam.
Kevin membuka map hitam yang diberikan Jovi dari kursi depan. Di dalamnya ada daftar dokumen, jadwal pemeriksaan kesehatan, kontak gereja, dan catatan Catatan Sipil. Semuanya tersusun seperti proposal akuisisi, bukan lamaran pernikahan.
"Kita sama-sama Kristen Protestan. Tidak ada hambatan agama untuk pencatatan pernikahan. Pemberkatan gereja bisa diatur. Catatan Sipil bisa diproses cepat secara legal. Jovi akan membantu semua dokumen."
Jovi menoleh sedikit. "Saya sudah menghubungi tim legal, Bu Ning. Tidak ada proses yang dilanggar."
Bu Ning.
Panggilan itu membuat telinga Ning panas.
Kevin melanjutkan, "Kamu akan tinggal di Menteng. Kamu bebas tetap bekerja atau berhenti. Aku tidak akan memaksamu menjadi apa pun selain berada di sisi Kian."
"Dan di sisi Bapak?"
Pertanyaan itu keluar sebelum Ning sempat menahannya.
Kevin menatapnya.
Di balik mata merah itu, ada sesuatu yang bergerak. Cepat. Dalam. Lalu ia menutupnya lagi dengan suara tenang.
"Kalau kamu bersedia."
Ning menggigit bibir.
Semua ini terlalu penuh lubang. Kevin tidak mungkin menikahi perempuan asing hanya karena Kian menerima tutor. Uang tidak mungkin menjadi alasan, karena ia bahkan menawarkan lebih dulu perlindungan, bukan pembelian. Cara ia memandang Ning sejak pagi juga bukan cara seseorang melihat pegawai.
Tapi bagian paling tidak masuk akal dari semua itu adalah hatinya sendiri.
Ia bahagia.
Sangat bahagia sampai ingin menangis.
Ini Kevin. Suaminya. Pria yang ia kira akan ia cintai hanya dari balik makam dan berita lama. Jika dunia memberinya jalan pulang lewat alasan paling aneh sekalipun, Ning tidak punya kekuatan untuk menolak.
"Kalau saya setuju," katanya pelan, "apa yang Bapak berikan kepada saya?"
Kevin menjawab tanpa ragu. "Biaya hidup Rp 1 miliar per bulan. Semua biaya kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan keamanan ditanggung. Aset pribadi tidak akan disentuh. Kamu bisa meminta klausul apa pun."
Ning menatapnya kosong. "Pak Kevin, itu bukan biaya hidup. Itu anggaran perusahaan kecil."
Untuk pertama kalinya sejak pagi, sudut bibir Kevin naik sedikit.
Sangat tipis.
Tapi Ning melihatnya.
Dan dadanya hampir meledak karena senyum itu.
"Kurang?" tanya Kevin.
"Terlalu banyak."
"Aku tidak suka angka kecil."
Ning menunduk, menyembunyikan senyum yang tidak bisa ia tahan. "Saya setuju."
Jovi yang biasanya tanpa ekspresi tampak berkedip dua kali.
Kevin diam selama satu tarikan napas.
Lalu senyumnya muncul lagi, masih tipis, tapi kali ini nyata. Seolah wajah yang enam belas tahun membeku akhirnya retak sedikit oleh cahaya pagi.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit dulu," katanya.
"Kenapa?"
"Kamu demam. Sekalian medical check-up pranikah."
"Bapak benar-benar efisien."
"Aku CEO."
Ning tidak berhasil menahan tawa kecil. Kepalanya masih berat, tubuhnya masih panas, tapi untuk pertama kalinya sejak terbangun di rumah sakit sebagai orang lain, ia merasa hidup tidak hanya tentang bertahan.
Di rumah sakit swasta kawasan Jakarta Barat, Jovi mengurus pendaftaran dengan kecepatan yang membuat petugas front desk berulang kali memeriksa layar. Ning duduk di ruang tunggu VIP, selimut menutupi lutut, termometer digital baru saja menunjukkan angka 38,6.
Kevin duduk di sebelahnya, diam.
Di meja kecil, map hasil pendaftaran pranikah sudah diberi stiker prioritas. Ada nama mereka berdua di satu lembar formulir yang sama, berdampingan, terlalu resmi untuk sesuatu yang baru diucapkan kurang dari satu jam lalu.
Perawat datang membawa formulir pemeriksaan darah. Ketika Kevin mengambil pena untuk menandatangani persetujuan administrasi, lengan kemejanya tersingkap sedikit.
Ning melihatnya.
Cincin polos di jari manis kiri Kevin.
Dunia mengecil pada lingkaran perak sederhana itu.
Ia mengenal cincin itu. Tentu saja ia mengenalnya. Ia yang memilihnya dulu, di toko kecil yang pegawainya bingung karena calon pengantin pria sekaya Kevin justru diam ketika calon pengantin perempuan menunjuk cincin paling sederhana.
Ning mengulurkan jari tanpa sadar, lalu berhenti sebelum menyentuhnya.
Kevin mengikuti arah pandangannya.
Ruang tunggu terasa mendadak sunyi.
"Cincin ini..." suara Ning hampir tidak keluar. "Bapak sudah memakainya berapa lama?"
Kevin menatap cincin itu.
Ada jeda kecil. Cukup panjang untuk membuat mata Ning panas.
Lalu ia menjawab sangat pelan.
"Enam belas tahun."
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya