Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
"Baik, Pak Adrian. Saya akan mengurus semuanya." ucap Bu Emi.
Adrian mengangguk pelan sebelum melangkah pergi.
Sementara itu, Dira diam-diam mengangkat kepalanya. Untuk pertama kalinya ia melihat sosok lelaki itu dengan jelas di bawah cahaya lampu yayasan. Wajahnya tegas, tetapi sorot matanya dipenuhi kepedulian yang tulus.
Malam itu, Dira merasa seolah telah menemukan tempat yang selama ini tidak pernah ia miliki, sebuah tempat yang memberinya rasa aman. Dan tanpa disadarinya, nama Adrian Maulana mulai terukir di dalam hatinya, menjadi sosok yang kelak akan memengaruhi setiap keputusan besar dalam hidupnya.
***
Bu Emi mengantar Dira menuju sebuah kamar sederhana di lantai dua yayasan. Ukurannya tidak besar, tetapi bersih, rapi, dan terasa hangat. Di dalamnya hanya ada sebuah ranjang, lemari kecil, meja belajar, serta jendela yang menghadap halaman. "Mulai malam ini, kamu tinggal di sini," ucap Bu Emi dengan senyum lembut. "Kalau ada apa-apa, panggil saja Ibu."
Dira mengangguk pelan. Setelah Bu Emi menutup pintu, ia berdiri mematung di tengah kamar.
Matanya menyapu setiap sudut ruangan. Kasur yang empuk. Seprai yang bersih. Bantal yang harum. Sebuah lemari untuk menyimpan pakaian. Semua itu terasa begitu asing baginya.
Perlahan, Dira duduk di tepi ranjang. Jemarinya menyentuh seprai putih itu dengan hati-hati, seolah takut semua ini akan lenyap jika disentuh terlalu keras. Pikirannya melayang pada tempat tinggal lamanya.
Selama bertahun-tahun, ia hidup di sebuah gubuk reyot yang dindingnya terbuat dari kardus bekas dan potongan seng berkarat. Saat hujan turun, air merembes dari atap yang bocor. Ketika angin malam bertiup, udara dingin dengan mudah masuk melalui celah-celah dinding.
Tak ada kasur empuk. Tak ada selimut hangat. Tak ada rasa aman. Malam-malamnya dipenuhi ketakutan akan amukan ayahnya yang mabuk.
Kini, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dira memiliki sebuah kamar yang benar-benar bisa ia sebut sebagai rumah. Air matanya kembali mengalir, tetapi kali ini bukan karena rasa takut. Melainkan karena rasa syukur. Di dalam hati, ia terus mengucapkan terima kasih kepada satu orang yang telah mengubah jalan hidupnya.
Adrian Maulana. Lelaki yang bahkan nyaris tidak mengenalnya, tetapi bersedia mengulurkan tangan saat seluruh dunia seolah membuangnya. "Terima kasih..." bisik Dira lirih sambil menatap langit-langit kamar. "Kalau bukan karena Mas Adrian... mungkin hidupku sudah berakhir malam ini."
Sejak saat itu, Dira berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan kepadanya. Ia akan belajar, bekerja keras, dan menjadi seseorang yang bisa dibanggakan. Meski saat itu ia belum menyadarinya, rasa syukur yang memenuhi hatinya perlahan sedang tumbuh menjadi perasaan yang jauh lebih dalam.
***
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Dira berdiri di depan cermin dengan tenang. Di tangannya tergenggam sebuah gunting. Perlahan, ia mulai memotong rambut gimbalnya yang kusut dan tak terawat. Helai demi helai jatuh ke lantai. Setelah itu, ia mandi hingga bersih, menggosok kulitnya yang selama ini dipenuhi debu dan kotoran jalanan.
Bu Emi kemudian memberinya pakaian yang bersih dan sederhana.
Saat Dira kembali berdiri di depan cermin, ia terdiam. Pantulan di hadapannya terasa seperti orang lain. Seorang gadis muda berusia enam belas tahun dengan wajah yang ayu, mata yang jernih, dan paras yang alami. Selama ini, kecantikannya seolah terkubur di balik rambut kusut, pakaian dekil, dan tubuh yang sengaja ia biarkan tampak kumuh.
Dira mengusap pelan pipinya. "Jadi... beginikah wajahku?" gumamnya lirih. Ia memang sengaja membuat dirinya terlihat sekumuh mungkin. Bukan karena ia tidak peduli pada penampilannya, melainkan karena itulah satu-satunya cara yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Di perkampungan kumuh tempat ia dibesarkan, terlalu banyak lelaki yang memandang anak-anak perempuan dengan niat yang buruk. Beberapa di antaranya bahkan tak peduli pada usia. Mereka mencari korban yang lemah, yang tak memiliki keluarga atau siapa pun untuk melindungi mereka.
Dira adalah salah satunya. Tanpa ibu yang mendampinginya dan dengan ayah yang justru menjadi ancaman, ia tahu bahwa menjadi gadis yang menarik hanya akan membuat dirinya semakin rentan.
Karena itulah ia membiarkan rambutnya kusut dan menggimbal. Ia jarang membersihkan diri, mengenakan pakaian lusuh, dan berusaha tampak sekumuh mungkin agar orang-orang yang berniat jahat enggan mendekatinya.
Penampilan yang selama ini dianggap menjijikkan oleh banyak orang ternyata adalah tameng terakhir yang melindunginya.
Kini, tameng itu tak lagi ia perlukan..Untuk pertama kalinya, Dira menatap dirinya sendiri tanpa rasa takut. Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Mulai hari ini... aku akan menjalani hidup yang baru.".Dan tanpa ia sadari, perubahan itu bukan hanya mengubah penampilannya, tetapi juga menjadi langkah pertama menuju masa depan yang sama sekali berbeda dari kehidupan yang pernah ia kenal.
Bu Emi tersenyum lembut sambil meletakkan secangkir susu hangat di hadapan Dira. "Dira," panggilnya pelan.
"Ya, Bu?"
"Mulai hari ini, kamu punya kesempatan untuk mengubah hidupmu. Tapi ingat, kesempatan hanya akan berarti jika kamu mau memperjuangkannya."
Dira mengangguk penuh perhatian.
Bu Emi melanjutkan, "Yayasan akan menanggung semua kebutuhanmu sampai kamu lulus SMA. Tempat tinggal, makan, sekolah, dan biaya pendidikan akan kami usahakan. Namun setelah itu, kamu harus berdiri di atas kakimu sendiri."
Dira menundukkan kepala.
"Kamu harus belajar mencari nafkah dengan kedua tanganmu sendiri. Dunia di luar sana tidak akan selalu baik. Kamu tahu itu, kan? Dan kamu sudah menjalaninya selama ini. Karena itu, bekal terbaik yang bisa kamu miliki adalah ilmu, keterampilan, dan kemauan untuk bekerja keras agar kamu tidak perlu kembali ke tempat masa lalumu lagi."
Dira mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan.
"Selama ini kamu kehilangan banyak kesempatan. Kamu terlambat sekolah, tidak mendapatkan kehidupan yang layak, dan harus melalui masa kecil yang berat. Tapi itu bukan berarti kamu tidak bisa mengejar ketertinggalanmu." Bu Emi menatapnya dengan penuh keyakinan.
"Mulai sekarang, jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk belajar. Kejarlah semua pelajaran yang selama ini tertinggal. Bekerjalah lebih keras daripada anak-anak lain. Mungkin jalanmu lebih sulit, tetapi bukan berarti kamu tidak bisa sampai di tujuan."
Mata Dira mulai berkaca-kaca.
"Percayalah, Nak. Masa lalumu tidak menentukan masa depanmu. Yang menentukan adalah apa yang kamu lakukan mulai hari ini."
Dira mengusap air matanya lalu mengangguk mantap. "Saya mengerti, Bu."
"Tidak perlu membuktikan apa pun kepada orang yang pernah menyakitimu," ujar Bu Emi sambil tersenyum. "Buktikan kepada dirimu sendiri bahwa kamu mampu mengubah takdirmu."
Saat itu, sebuah tekad kembali tumbuh di dalam hati Dira. Ia akan belajar sekuat tenaga. Ia akan mengejar semua ketertinggalannya. Dan suatu hari nanti, ia ingin menjadi seseorang yang tidak lagi dikasihani, melainkan dihormati karena hasil kerja kerasnya sendiri. Ia akan berusaha tak akan kembali ke perkampungan kumuh itu, apapun yang terjadi.