Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 — Pembelaan di Depan Warga
"Kamu tidak perlu sekasar itu pada Ayla, kan?," tegur Luka saat ia menghampiri Yana di tepi lapangan usai latihan memanah di pagi hari.
Yana berhenti merapikan tali busurnya, ia menoleh pelan. "Kasar dalam hal apa?"
"Soal usulan lahan baru kemarin dan ucapanmu di sumur tua," sahut Luka dengan nada tertahan. tangannya terkepal erat di samping badannya. "Dia cuma ingin membantu suku ini berkembang. Kenapa kamu selalu melihat niat baiknya sebagai ancaman?"
"Aku melihat alasannya secara rasional, bukan emosional," balas Yana singkat. "Ayla belum tahu seberapa ganasnya musim dingin di Hutan Hitam."
"Rasional?" Luka terkekeh sinis. "Atau kamu cuma cemas warga lebih mendengarkan dia daripada kamu?"
Yana tidak membalas sindiran itu. Ia menyimpan busurnya di rak kayu lalu berjalan meninggalkan area latihan tanpa memperdulikan perdebatan mereka.
Luka menatap punggung Yana dengan raut wajah semakin kesal.
Perubahan sikap Luka makin terlihat jelas seiring berjalannya hari.
Pemuda yang dulunya merupakan tunangan Yana itu, kini lebih sering berada di dekat Ayla.
Ia membantu Ayla mengumpulkan bahan racikan obat, membawakan kayu bakar, hingga mengawalnya saat Ayla mengajari para wanita suku cara mengolah serat pakaian baru.
Di sudut lapangan utama, Aron berdiri memperhatikan Luka yang sedang tertawa lebar menanggapi ucapan Ayla di dekat meja penyimpanan daging.
"Yana," panggil Aron saat putrinya melintas membawa wadah air.
"Ada apa, yah?" tanya Yana.
Aron mengarahkan pandangannya ke arah Luka dan Ayla, lalu menatap Yana dengan kening berkerut. "Luka makin sering mengekori anak asing itu. Apa ada masalah di antara kalian berdua?"
Yana mengikuti arah pandang ayahnya dengan tenang, ekspresinya datar tanpa gejolak emosi sedikitpun. "Tidak ada masalah, yah. Luka cuma tertarik dengan hal-hal baru yang dibawa Ayla."
"Tapi dia tunanganmu," tegas Aron dengan suara berat. "Sikapnya seperti ini di depan warga suku bisa memancing rumor yang tidak baik."
"Kalau Luka merasa Ayla lebih sejalan dengannya, itu hak dia," sahut Yana lurus. "Aku tidak akan memaksa seseorang untuk tinggal jika hatinya sudah condong ke tempat lain."
Aron menatap Yana lama, terkejut dengan ketenangan putrinya yang sangat dingin. "Kamu sungguh tidak keberatan?"
"Keselamatan suku lebih penting daripada masalah pribadi," jawab Yana tegas, lalu ia pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
.
Sore harinya, kerumunan warga berkumpul di depan balai suku.
Suasana yang tadinya tenang mendadak memanas setelah seorang pemburu tua bernama Paman Dirga meletakkan seekor anak serigala hutan yang terluka di atas meja batu.
"Anak serigala ini kena jebakan di perbatasan selatan," kata Paman Dirga. "Sebaiknya kita sembelih saja untuk mendapatkan daging tambahan malam ini."
"Tunggu!" teriak Ayla seraya menyeruak dari kerumunan warga. Wajahnya tampak cemas. "Jangan dibunuh! Dia masih anak-anak dan lukanya bisa disembuhkan!"
Paman Dirga mengerutkan dahi, merasa terganggu. "Ayla, ini binatang liar! Kalau dia tumbuh besar, dia akan menyerang warga kita. Lagipula, dagingnya lumayan untuk menambah persediaan!"
"Tapi dia tidak bersalah!" seru Ayla dengan mata berkaca-kaca, memasang raut wajah penuh belas kasihan. "Kita bisa merawatnya dan menjadikannya penjaga pemukiman! Mengapa kalian begitu kejam pada binatang yang tak berdaya?"
Beberapa wanita suku mulai berbisik-bisik, merasa kasihan melihat Ayla yang tampak begitu peduli. Namun, Paman Bimo melangkah maju dan menggeleng tegas.
"Hutan Hitam punya hukumnya sendiri, Ayla," potong Paman Bimo keras. "Serigala Hutan tidak bisa dijinakkan hanya dengan kasih sayang. Menyiapkan makanan untuk binatang liar di dalam pemukiman sama saja mengundang kawanannya untuk menyerang kita!"
"Paman Bimo benar," timpal Paman Dirga sambil mengangkat pisau kulitnya. "Kita butuh daging, bukan peliharaan yang membahayakan!"
"Tidak! Tolong jangan!" Ayla merentangkan kedua tangannya di depan meja batu, menghalangi Paman Dirga. "Aku mohon, dengarkan aku sekali ini saja!"
Yana yang baru tiba di tepi lapangan melangkah mendekat. "Ayla, jangan mencampuri keputusan pemburu yang berpengalaman."
Ayla menoleh pada Yana dengan tatapan tajam. "Kamu selalu begitu, Yana! Tidak punya rasa kasihan sedikit pun!"
"Ini bukan soal kasihan, ini soal keselamatan suku," balas Yana dingin.
"Cukup, Yana!"
Suara bentakan keras mendadak memotong ucapan Yana.
Luka maju berdiri pas di depan Ayla, mendorong bahu Yana sedikit ke belakang untuk melindungi gadis asing itu. Matanya menatap Yana dengan amarah yang mendidih di depan puluhan mata warga suku yang terperangah.
"Jangan sok mengatur di sini!" teriak Luka nyaring, suaranya menggema di seluruh lapangan. "Ayla cuma punya hati nurani, hal yang sama sekali tidak kamu miliki! Selama ini kamu selalu menekan dan memojokkan Ayla seolah-olah dia musuh! Aku tidak akan membiarkanmu atau siapa pun menyakiti Ayla lagi!"
Aron yang baru keluar dari balai suku berdiri terpaku menatap calon menantunya yang secara terang-terangan membela wanita asing dan membentak putrinya sendiri di depan umum. Calon menantunya itu bahkan masih menambahkan ancaman.
"Kalau sampai ada satu orang pun di suku ini yang berani menyentuh Ayla atau menyalahkannya lagi, kalian harus berhadapan dengan busurku terlebih dahulu!" pangkas Luka lantang.
"Bagus!" ucap Aron dengan wajah yang merah padam menahan emosi. "Apakah seperti ini caramu memperlakukan putriku, Luka?"