NovelToon NovelToon
DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyudi0596

Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.

update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

Lima belas menit telah berlalu sejak gema kalimat penghakiman terakhir Sona Sitri memudar di udara. Jarum jam dinding di sudut ruangan berdetak dengan irama konstan, memecah keheningan yang masih menggantung pekat di ruang klub OSIS Akademi Kuoh.

Cahaya matahari sore yang mulai meredup menyelinap melalui tirai jendela, menyorot debu-debu halus yang melayang lambat di atas serpihan pintu kayu ek yang hancur. Ketegangan yang sebelumnya mencengkeram tenggorokan setiap orang di ruangan tersebut perlahan-lahan mulai mengendur, menyisakan kebisuan yang panjang.

Di atas lantai kayu yang dingin, cahaya hijau zamrud dari lingkaran sihir penyembuhan masih berpendar terang. Tsubaki Shinra tidak beranjak sedikit pun dari posisinya yang berlutut di samping tubuh Yudi.

Keringat tipis mulai bermunculan di pelipis sang Wakil Ketua. Tangannya terus dialiri energi magis, merajut kembali jaringan kulit dan meredakan memar kebiruan yang tercetak jelas di sisi wajah serta dada pemuda tersebut.

Tiba-tiba, kelopak mata Yudi bergetar pelan. Jari-jari tangannya yang tergeletak lemas di lantai mulai bergerak melengkung. Sebuah erangan tertahan keluar dari sela-sela bibirnya yang masih menyisakan bekas noda darah mengering. Dadanya terangkat, meraup oksigen dengan tarikan napas yang serak.

"Yudi-san!"

Panggilan itu meluncur dengan cepat, membelah kesunyian ruangan. Suara Tsubaki, yang biasanya selalu diatur dalam frekuensi datar tanpa emosi, kali ini terdengar lebih tinggi, diucapkan dengan tempo yang jauh lebih tergesa-gesa dari biasanya.

Tubuh Tsubaki mencondong ke depan, tangannya secara refleks bergerak menahan bahu Yudi dengan sangat hati-hati, sebuah tindakan impulsif yang langsung tertangkap oleh mata semua orang yang hadir.

Mendengar suara erangan tersebut, keempat gadis yang sedari tadi berdiri mematung di sekitar meja—Reya, Momo, Tomoe, dan Nimura—langsung memecah formasi mereka. Dalam hitungan detik, mereka telah bergegas mendekat dan mengerubungi posisi Yudi dan Tsubaki dari berbagai sisi.

Namun, saat mereka melangkah mendekat, rentetan observasi non-verbal terjadi di antara para gadis tersebut.

Reya Kusaka menghentikan langkahnya sejenak. Alis kanannya terangkat tinggi. Matanya melirik ke arah wajah Tsubaki yang menegang, lalu beralih menatap tangan sang Wakil Ketua yang mencengkeram bahu Yudi. Reya memiringkan kepalanya sedikit, bertukar pandang dengan Momo Hanakai yang berdiri di sebelahnya.

Keduanya berbagi tatapan yang sama: tatapan penuh tanda tanya atas reaksi berlebihan dari sosok yang selama ini dikenal sebagai pilar ketenangan absolut.

Momo mengerjapkan matanya berulang kali. Bibirnya sedikit terbuka saat ia melihat Tsubaki yang kini menghembuskan napas lega yang sangat kentara. Sebuah ekspresi kelegaan yang tidak pernah ditunjukkan Tsubaki dalam situasi apa pun saat berada di ruang OSIS, tergambar jelas dari postur bahu Tsubaki yang mengendur drastis.

Di sisi lain, Reya menggelengkan kepalanya pelan dengan seulas senyum simpul yang nyaris tak terlihat. Ia menyilangkan lengannya, menatap takjub pada sosok Yudi yang baru sadar. Seorang pemuda amatir yang baru bergabung belum genap dua puluh empat jam, entah bagaimana, telah berhasil membuat sang Ratu Ketenangan dari keluarga Sitri menunjukkan riak kekhawatiran yang begitu nyata di wajah pualamnya.

Sementara itu, Nimura Ruruko sama sekali tidak mempedulikan dinamika aneh antara para seniornya. Gadis bertubuh mungil itu langsung berlutut di sisi lain Yudi. Kedua tangannya meremas ujung roknya sendiri dengan sangat kuat. Mata hijaunya berkaca-kaca, menatap wajah kakak kelasnya dengan bibir yang bergetar menahan isak tangis.

Di tengah kerumunan tersebut, Yudi mengerang sekali lagi. Setelah berjuang melawan sisa-sisa pening yang berputar di kepalanya, ia akhirnya berhasil membuka kedua matanya sepenuhnya. Retinanya menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan.

Hal pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah wajah empat gadis cantik ditambah sang Fukukaichou yang sedang menatapnya dari jarak yang sangat dekat, membentuk lingkaran yang mengurungnya. Hanya Sona Sitri yang tidak terlihat dalam radius pandangannya.

"Aduh... sakit sekali..." keluh Yudi dengan suara serak. Ia meringis menahan nyeri, tangan kirinya bergerak memegangi sisi dada kanannya yang terasa seperti baru saja ditabrak oleh truk bermuatan penuh.

Dengan bertumpu pada siku kanannya, Yudi memaksakan otot-ototnya untuk bergerak, mencoba mengangkat tubuh bagian atasnya dari atas lantai. Namun, sebelum ia berhasil duduk sepenuhnya, sebuah tangan menekan bahunya kembali ke bawah.

"Kau masih belum pulih sepenuhnya. Jangan bergerak terlalu banyak," ucap Tsubaki. Suaranya telah kembali pada setelan dingin dan datar, ekspresi wajahnya kembali terkunci rapat, menyembunyikan riak kepanikan sedetik yang lalu dengan sangat sempurna.

Yudi menghentikan usahanya untuk bangun sepenuhnya. Ia menopang tubuhnya dalam posisi setengah berbaring. Matanya menyapu sekeliling ruangan, melewati kaki-kaki para senior wanitanya, hingga akhirnya tatapannya jatuh pada sosok pemuda berambut pirang yang masih berlutut tak berdaya di sudut ruangan yang sedikit gelap.

"Tapi... ada sesuatu yang harus kusampaikan lebih dulu sekarang," ucap Yudi pelan, tidak mempedulikan peringatan Tsubaki.

Yudi menarik napas perlahan untuk meredakan nyeri di dadanya. Ia mengarahkan pandangannya lurus ke arah Saji Genshirou. Dari posisinya yang setengah berbaring, Yudi menundukkan kepalanya dalam-dalam ke arah pemuda yang baru saja nyaris menghancurkan tulang rusuknya itu.

"Saji-senpai," panggil Yudi, suaranya terdengar jernih dan tegas di tengah keheningan ruangan. "Aku sungguh meminta maaf karena telah menciptakan kesalahpahaman yang begitu besar hari ini. Sejujurnya... aku sama sekali tidak tahu kalau kau ternyata menaruh perasaan suka terhadap Sona Kaichou."

Yudi mengangkat kepalanya kembali, menatap Saji yang tidak memberikan reaksi fisik apa pun. "Kalau aku tahu dari awal... aku pasti akan menolaknya dengan lebih keras. Karena itu, mulai dari detik ini dan seterusnya, aku berjanji akan selalu menjaga jarak amanku dengan Kaichou saat berada di dekatmu."

Begitu kalimat permohonan maaf itu meluncur dari bibir Yudi, atmosfer di dalam ruang OSIS seketika berubah haluan. Udara yang tadinya mulai menghangat kini membeku kembali.

Keempat gadis yang mengelilingi Yudi membeku di tempat mereka. Mulut mereka terkatup rapat.

Detik berikutnya, secara serempak, Reya, Momo, Tomoe, dan Nimura memutar kepala mereka menghadap ke arah Saji. Tatapan yang mereka berikan bukanlah tatapan pengertian, melainkan sorot mata yang seratus kali lebih tajam dan mematikan daripada sebelumnya.

Saji, yang masih meratapi nasibnya di lantai, kini kembali menjadi sasaran empuk dari hawa membunuh yang dipancarkan oleh keenam gadis di ruangan itu.

"Jangan pernah meminta maaf pada pria seperti dia dengan cara seperti itu, Yudi-kun," ucap Reya Kusaka memecah keheningan. Nadanya terdengar sangat ketus. Ia berjongkok, mengulurkan kedua tangannya untuk memegangi bahu Yudi dan membantunya duduk dengan posisi yang lebih nyaman. "Lagipula, dia hanyalah seorang pria bodoh yang tidak pernah menggunakan otaknya untuk berpikir sebelum ototnya bertindak."

"Reya benar," sambung Momo Hanakai dengan suara yang dinaikkan, memastikan Saji mendengar setiap kata yang ia ucapkan. Momo menyilangkan lengannya di depan dada, menatap Saji dari atas bahunya dengan sorot mata merendahkan. "Dia hanyalah seorang pria yang bahkan belum layak untuk disebut sebagai laki-laki dewasa. Dia bahkan tidak mau menahan diri untuk mendengar penjelasan dari pihakmu terlebih dahulu."

Tomoe Meguri menganggukkan kepalanya setuju. Senyuman mengejek terbentuk di bibirnya saat ia melirik ke arah Saji. "Orang gegabah seperti dia itu seharusnya kau balas pukul dengan keras tadi, Yudi. Orang yang selalu bertindak serampangan hanya karena emosi sesaat tanpa memikirkan dampak merusaknya sama sekali tidak pantas menerima permintaan maaf yang tulus darimu."

Di tengah rentetan serangan verbal yang diarahkan pada Saji, Nimura Ruruko bergerak mendekat hingga lututnya menyentuh lantai di samping Yudi. Gadis mungil itu tidak ikut melontarkan makian. Ia hanya menatap Yudi dari jarak dekat.

"Senpai... kau benar-benar baik-baik saja, kan? Kau beneran sudah pulih?" tanya Nimura. Suaranya terdengar sangat imut namun bergetar hebat. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya menetes membasahi pipinya saat melihat memar di wajah Yudi.

"Eh?" Yudi mengerjapkan matanya, sedikit terkejut melihat reaksi defensif dan protektif yang diberikan oleh para senior wanitanya, dan kini dihadapkan pada air mata adik kelasnya. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan pembelaan sekuat ini.

Secara refleks, Yudi mengangkat tangan kanannya. Ia mendaratkan telapak tangannya di atas pucuk kepala Nimura, mengelus rambut cokelat gadis itu dengan usapan yang sangat lembut dan ritmis.

"Iya, aku baik-baik saja kok. Tenang saja, jangan menangis," ucap Yudi dengan nada suara yang diturunkan, terdengar jauh lebih hangat dan menenangkan. Ia memaksakan otot wajahnya untuk membentuk cengiran lebar, memamerkan deretan giginya. "Kakak kelasmu ini fisiknya sangat kuat lho!"

Mendengar deklarasi percaya diri tersebut, sebuah suara datar memotong dari arah samping.

"Cih. Kalau tubuhmu memang sekuat itu, seharusnya kau tidak jatuh pingsan hingga setengah mati hanya dengan menerima satu pukulan lurus saja."

Sindiran itu meluncur mulus dari bibir Tsubaki Shinra. Ia berdiri dari posisi berlututnya, menepuk-nepuk debu imajiner dari rok seragamnya, menatap Yudi dengan tatapan yang sangat dingin dan meremehkan.

1
Bayuon So7
anjirlah, kata garis miring ini kayak sebuah klu atau apa dah kok tetiba gitu ya😄
Bayuon So7
jantungan si Sona cuk🤭
Bayuon So7
ini reaksinya kayaknya lebih natural dari yang sebelumnya, karena gua bacanya juga kagum cuy am kekuatan nih karakter Falbium🤭
Bayuon So7
anjay dipancing
Bayuon So7
mana bisa anjir🤣
Bayuon So7
nah kan, kena Lo. di cibir langsung sam Fuiukaicho sama🤭
Bayuon So7
geli gua dengarnya 🤣
Bayuon So7
Damn, bro beneran gosong parah si Saji di sini brok. Lu bikinnya make sense lagi Thor, gua tadi berpikir lu lagi mau injak karakter ini serampangan tapi lu mendesainnya dengan apik. jadinya gak jadi gua hujat anjirlah 🤣
Bayuon So7
wah keren lu Thor, alih-alih mempermalukan dengan aneh. lu bikin ada reason pada tindakan Sona sebelumnya dan kemarahan dia di sini beneran make sense
Bayuon So7
damn, lu juga pernah dipegang tangannya kan. ah ealah
Bayuon So7
iya, abis chef Tsubaki. sekarang chef Sona. wah beneran dibuat gosong ini sajinya.
Bayuon So7
Thor, lu kayaknya punya dendam pribadi Ama saji deh. kok serem amat penghakimannya cok.
Bayuon So7
Absolute cinema, cukup chef ini sudah gosong jangan dilanjutkan.🤭
Bayuon So7
Weh ada chef yang mau masak, pastikan bikin masakan yang lezat dan bergizi. chef Tsubaki Shinra.
Bayuon So7
ngimpi lu anying gak logis banget dah pikirannya si saji ini ya.
Bayuon So7
gua juga ngedown kalau cewek paling polos tetiba natap dengan tajam gini. artinya lu bikin masalah super serius.
Bayuon So7
oh Ice king ini loh, kalau marah meski gak meluap-luap rasanya bikin berdebar-debar
Bayuon So7
waduh Sona udah mulai kepancing emosi nih
Bayuon So7
Alasannya masuk akal tapi entah kenapa rasanya jadi klise denger omongan lu saji🤭
Bayuon So7
Efek dibuat senyum tadi siang kah, kok tetiba jadi perhatian gini 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!