Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.
Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Kemelut di Pulau Hutan Bakau
Adipati Muncak Gede, Pati Maung Sakti dan Danang Wesi melihat kearah langit dengan rahang jatuh. Mata mereka terbelalak melihat Bagaga Alam melesat cepat melintas di udara.
"Pendekar Agung. Hanya tingkatan pendekar agung keatas yang bisa melayang di udara." Pati Maung Sakti mendesis. Namun ucapannya terdengar jelas oleh semua.
"A..., apa...?! Pe..., pendekar agung ??? Adipati Muncak Gede berkata terbata bata.
Seorang pendekar agung... Aku hanyalah debu didepan Bagags. Ouuoooh.... Sungguh sangat malu. Sangat memalukan apa yang telah aku dan adikku lakukan saat itu. Bahkan ayahanda ki Ageng yang berada ditingkat pendekar suci tengah hanya semut dihadapan Bagaga Alam.
Danang Wesi melihat kearah Ni Kirana. Gadis cantik itu tengah serius melihat kearah langit dengan mata berkilauan seperti bintang.
"Yang Mulia Adipati Muncak Gede, Pahlawan Besar Pandeka Pedang Suling Kumala sungguh seorang yang rendah hati. Dia telah berlaku sangat baik pada kita.
Tahukah Anda Yang Mulia, hanya dengan dia seorang diri. Jangankan hanya markas Gerombolan Rawa Belong. Bahkan kadipaten Daeyuh Sundasebawa kita bisa dia ratakan dengan tanah."
Adipati pangeran Muncak Gede terdiam. Dia teringat saat mereka menghancurkan markas sekte Iblis Darah dulunya. Tanpa sadar dia berkata dengan suara ngambang.
"Kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya benar benar diberkahi Mahadewa. Orang orang super sakti berkumpul di sana. Adik Pandeka Pedang Suling Kumala, Dewi Bulan seorang pendekar suci tinggi adalah istri Yuvaraja Mauli Balanaga, putra mahkota kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya. Istrinya Dewi Rimau Kumango juga seorang pendekar suci puncak dan begitu juga dengan pendekar Golok Ganda Talaud, seorang pendekar setengah langkah pendekar dewa saudara iparnya.
Kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya benar benar merupakan kekuatan yang tidak tergoyahkan. Sewajarnya ayahanda Shangyang Ageng tunduk pada kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya seperti kerajaan kerajaan lain."
Pati Maung Sakti dan Pati Muda Rajung Malapir melihat kearah Adipati pangeran Muncak Gede dengan sorot mata aneh. Tidak ada yang tahu apa yang ada dalam pikiran dua orang Pati kadipaten Daeyuh Sundasebawa itu.
Sementara itu. Bagaga Alam telah masuk kedalam salah satu pos pengawas. Enam penjaga yang ada di pos itu telah dibereskan tanpa suara oleh Bagaga Alam.
Persis saat remang pagi. Terdengar suara alunan suling yang lembut mendayu. Sayup sayup suara suling terdengar ketempat Adipati Muncak Gede dan semua Pasukan Macan Perak berada. Sebelas perahu mulai diturunkan ke permukaan rawa payau.
Di markas Gerombolan Rawa Belong. Orang orang tertegun ketika mendengar alunan lembut suara suling. Semua orang saling bertanya.
"Heh kenapa pagi ini ada terdengar suara suling yang mendayu-dayu ?"
"Ya aku juga mendengar."
""Ah kenapa suara suling ini bisa membuat perasaan ku teraduk ?"
Didalam sebuah ruangan khusus. Ranggau Manusuk terbangun dari semedinya. Mendengar suara suling yang lembut mendayu-dayu, perasaan Ketua Gerombolan Rawa Belong itu menjadi tidak enak.
Ranggau Manusuk teringat cerita kehancuran sekte Iblis Darah tataran Sunda juga diawali dengan suara suling yang lembut mendayu-dayu.
Ranggau Manusuk dulunya adalah salah seorang tetua sekte Iblis Darah. Waktu Pandeka Pedang Suling Kumala dan para pendekar serta gabungan pasukan kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya dan pasukan tempur kerajaan Sunda Galuh. Ranggau Manusuk sedang mengasingkan diri di sebuah goa rahasia di gunung Burangrang.
Ketika Ranggau Manusuk kembali setelah beberapa purnama setelah penyerangan markas sekte Iblis Darah. Markas sekte Iblis Darah tinggal puing reruntuhan bekas terbakar.
Ranggau Manusuk tertegun. Rasa sesal dan sedih berubah menjadi amarah yang sangat besar. Setelah memeriksa semua sisi, dia menemukan dua anggota sekte Iblis Darah yang berhasil selamat.
Dari dua orang itu. Ranggau Manusuk mendapatkan penjelasan tentang kehancuran sekte Iblis Darah.
Ranggau Manusuk sempat datang ke markas utama sekte Iblis Darah Swarna Dwipa di hutan Kresik Tuo. Namun ketika dia tiba disana. Yang ditemukan adalah puing puing yang lebih buruk dari kehancuran markas sekte Iblis Darah tataran Sunda.
Akhirnya dengan rasa tidak puas. Ranggau Manusuk kembali ke tataran Sunda. Dia berusaha mengumpulkan bekas bekas anggota sekte Iblis Darah yang telah berpencar. Dari situlah muncul Gerombolan Rawa Belong.
Kini, menjelang pagi. Ranggau Manusuk dibangunkan dari meditasi nya oleh alunan suara suling yang lembut mendayu-dayu.
Apakah orang yang sama muncul di sini...? Ranggau Manusuk berkata dalam hati dan segera bangkit.
Ranggau Manusuk semakin tidak nyaman karena alunan bergetar membawa kekuatan energi mendalam dan tenaga bathin.
Ranggau Manusuk bergegas keluar kamar. Begitu membuka pintu kamarnya, Ranggau Manusuk kaget karena tetua 2 Nyi Belong Ranti sudah berdiri disitu.
"Ketua...? Aahh syukurlah Ketua sudah keluar. Apakah Ketua juga dibangunkan oleh suara alunan suling yang lembut mendayu-dayu itu ?"
"Ayo kita lihat. Siapa yang berani datang ke markas kita." Ketua Gerombolan Rawa Belong, Ranggau Manusuk segera berlari keluar. Tetua 2 Nyi Belong Ranti segera menyusul.
Sesampai di luar, ternyata sudah ada tetua 1 Linsang Api telah ada di sana. Wajahnya merah karena marah. Ketua Ranggau Manusuk melihat banyak anggota Gerombolan Rawa Belong yang sudah terkapar.
Berhentiiiiiiiiii.......!!!!!
Ketua Ranggau Manusuk berteriak keras. Suaranya membelah dan mengacaukan suara suling. Sehingga pengaruhnya hilang.
Suara suling berhenti. Seorang pria muda tampan muncul dari pos pengawas yang paling tinggi. Pria muda tampan itu duduk pembatas pinggiran pos pengawas. Ditangan kanannya ada sebatang suling perak.
Ketua Ranggau Manusuk serta tetua 1 Linsang Api dan tetua 2 Nyi Belong Ranti melihat kearah pemuda yang tidak lain adalah Bagaga Alam alias Pandeka Pedang Suling Kumala. Namun mereka terheran-heran karena hanya merasakan tingkat pendekar setengah langkah pendekar suci.
"Siapa kau anak muda ? Berani kau membuat onar di markas Gerombolan Rawa Belong ? Hanya ada satu hukuman yaitu mati."
Tetua 1 Linsang Api berseru. Tangan kanannya memukul kearah Bagaga Alam. Segumpal api terbang melesat dengan sangat cepat.
Blaaaaarrr.....!!
Ledakan keras terdengar dan puncak pos pengawas itu terbakar hangus. Pria yang memegang suling perak itu menghilang.
"Apakah dia sudah hangus terbakar ??" Nyi Belong Ranti bertanya dengan ragu.
Ranggau Manusuk dan Linsang Api menatap tajam kearah puncak pos pengawas yang hancur. Namun mereka bertiga kaget ketika mendengar sebuah suara datar tanpa intonasi.
"Aku disini."
Ketua Ranggau Manusuk dan Linsang Api serta Nyi Belong Ranti melihat seorang pemuda tampan dengan usia sekitar dua puluh lima tahun berdiri dengan tenang lima tombak didepan mereka.
Nyi Belong Ranti langsung tersenyum manis dan menggoda melihat pemuda tampan itu.
"Siapa engkau tampan ?" Nyi Belong Ranti bertanya dengan menggerakkan tubuhnya sehingga dua bukit besar di dadanya bergoyang sedikit. Namun itu membawa pengaruh kuat kepada pria yang melihatnya. Itu adalah salah satu jurus menggoda untuk menaklukkan pria.
"Nyi Belong Ranti... Kau sudah terlalu tua untuk menggoda ku dengan cara itu." Wajah Nyi Belong Ranti memerah karena malu dan jengkel dengan ucapan Bagaga Alam.
"Aku... Ni Kirana memanggilku dengan Pendekar Suling Perak. Tidak tahu apakah nama itu pantas. Hm... Mungkin karena aku suka meniup suling ini." Ucap Bagaga sambil mengangkat suling perak ditangan kanannya.
"Pendekar Suling Perak... Aku tidak pernah mendengar nama itu. Mau apa kau datang dan membuat kekacauan di markas kami ?"
Suara Ranggau Manusuk terdengar keren. Bagaga Alam melihat kearah Ranggau Manusuk dan tersenyum ringan.
"Aku mengenal aura yang kau pancarkan. Kau pastilah Ranggau Manusuk. Pelarian dari sekte Iblis Darah." Bagaga Alam hanya bicara asal saja. Dia hanya berniat menguji kebenaran ucapan Danang Wesi.
"Kenapa kau tahu dengan sekte Iblis Darah yang telah musnah ?"
"He heee.... Karena akulah yang menghancurkan sekte Iblis Darah bersama saudara ku."
Ranggau Manusuk tertegun. Niat membunuh mulai merembes dari tubuhnya. Raut wajahnya menjadi sangat sangar dan menakutkan.
"Bagus... Kalau begitu engkau adalah Pandeka Pedang Suling Kumala.
Cabut pedang mu. Bertarung sampai mati dengan ku." Ranggau Manusuk mengeluarkan sebuah kujang hampir sebesar golok dan bewarna merah. Bau amis mengiang dari kujang besar itu.
"Aku tidak punya pedang suling kumala. Tapi aku punya pedang ini, pedang penakluk iblis." Bagaga Alam melempar suling perak ke ruang hampa.
Tangannya lalu meraih sebuah pedang bewarna hitam dari kehampaan. Aura kematian langsung memenuhi udara. Itulah pusaka Pedang Langitan atau di kenal dengan nama Pedang penakluk iblis.
"Itu itu Pusaka Pedang Langitan. Bagaimana kau bisa mendapatkan pedang itu...?" Wajah ketua Ranggau Manusuk langsung berubah. Dia lalu berucap.
"Pendekar Suling Perak, serahkan pusaka Pedang Langitan dan aku akan memberi kematian mudah bagi mu."
"Oh kau tahu ini Pusaka Pedang Langitan ? Kalau begitu kau boleh bangga mati oleh pedang ini." Ucap Bagaga Alam tanpa tekanan.
Diam diam Ranggau Manusuk merasa hatinya bergetar.
\=\=\=\=\=***\=©