Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 035
Hujan turun deras menjelang malam.
Vila Biru yang biasanya tenang mendadak dipenuhi suara air menghantam kaca. Kilat sesekali menyala di balik tirai, membuat bayangan pohon di halaman bergerak seperti tangan panjang. Genki sejak sore sudah gelisah. Ia menolak tidur di kamar sendiri, membawa Dino, buntalan kecil lamanya, dan selimut dari Mama Harto ke ruang keluarga.
"Genki tidur di sofa saja," katanya tegas.
Rayhan melihat buntalan itu di pelukan anaknya. "Kenapa dibawa?"
Genki menunduk. "Biar kalau hujan bawa Mama datang."
Keira yang sedang menyiapkan susu hangat berhenti di pantry kecil. Kata itu belum ditujukan kepadanya, tetapi tetap membuat jantungnya bergetar.
Rayhan tidak mengoreksi. Ia hanya duduk di karpet, sejajar dengan Genki. "Genki takut hujan?"
"Tidak takut. Cuma... kalau suara besar, Genki ingat panti."
Keira membawa susu hangat mendekat. "Di panti juga hujan besar?"
Genki mengangguk. "Kalau hujan, lampu kadang mati. Genki pegang buntalan. Genki pikir kalau Mama lewat, Mama tahu itu punya Genki."
Ruang keluarga menjadi sunyi.
Keira duduk di sampingnya, tidak langsung memeluk. Ia belajar dari Rayhan bahwa Genki kadang perlu diberi jalan untuk memilih.
"Sekarang lampunya menyala," katanya pelan. "Papa ada. Kak Kei juga ada."
Genki menatapnya. Matanya sudah merah, tetapi ia keras kepala menahan tangis. "Kalau Kak Kei tidur, Kak Kei pergi?"
"Tidak. Kamar Kak Kei di sebelah koridor. Kalau Genki panggil, Kak Kei dengar."
"Janji?"
"Janji."
Rayhan mengambil selimut dan menyelimuti bahu kecil Genki. "Malam ini kita semua di sini sampai kamu tidur."
Kilat menyambar lagi. Suaranya menyusul keras, membuat Genki tersentak. Susu di tangannya hampir tumpah. Keira langsung menahan gelas itu, lalu memeluknya.
Genki menempelkan wajah ke dada Keira.
"Kak Kei..." suaranya pecah.
"Iya, Sayang. Kak Kei di sini."
Tubuh kecil itu gemetar. Keira mengusap punggungnya, gerakan yang datang begitu alami sampai ia sendiri tidak sempat berpikir. Di balik aroma susu dan rambut anak kecil, tiba-tiba ada rasa sakit yang tidak punya bentuk, seperti gema dari ruangan jauh: suara bayi menangis, tangan kosong, dada yang mencari sesuatu yang hilang.
Keira memejamkan mata sebentar. Napasnya tersendat.
Rayhan melihat perubahan itu. Ia mendekat, satu tangan menyentuh punggung Keira. "Kei?"
"Aku tidak apa-apa," bisiknya, meski wajahnya memucat.
Genki semakin erat memeluknya. "Jangan pergi."
"Tidak pergi."
"Jangan kasih Genki balik panti."
Kalimat itu membuat Keira membuka mata.
"Tidak akan," jawabnya, lebih tegas daripada yang ia kira bisa. "Tidak ada yang mengirim Genki kembali ke tempat yang membuat Genki takut."
"Kalau Genki nakal?"
"Tetap tidak."
"Kalau Genki jatuhin susu?"
"Tetap tidak."
"Kalau Genki panggil..."
Ia berhenti.
Rayhan menahan napas.
Keira merasakan tangan kecil Genki mencengkeram cardigan di punggungnya. Anak itu mengangkat wajah, air mata sudah membasahi pipi, tetapi matanya tidak lagi hanya takut. Ada sesuatu yang lebih besar di sana, sesuatu yang selama ini berjalan pelan dari "Kak Kei" menuju tempat yang lebih dalam.
"Kalau Genki panggil Mama," bisik Genki, "Kak Kei marah?"
Seluruh tubuh Keira membeku.
Di luar, hujan masih deras. Di dalam, suara jam dinding terdengar jelas sekali.
Rayhan tidak mengatakan apa pun. Ia tahu jawaban itu bukan miliknya. Ia hanya menatap Keira, siap menahan apa pun yang jatuh dari detik ini.
Bibir Keira bergetar. Ia menatap anak kecil di pelukannya, anak yang dulu datang dengan buntalan, anak yang seolah mengenal pelukannya sebelum nama mereka saling tahu.
"Kenapa Kak Kei harus marah?" tanyanya, suaranya nyaris patah.
Genki mengusap pipinya sendiri dengan punggung tangan. "Karena Mama itu punya Genki. Tapi Kak Kei belum bilang mau jadi punya Genki."
Air mata Keira jatuh.
Ia tertawa kecil di antara tangis. Tangannya merapikan rambut Genki yang basah oleh keringat. "Kalau Genki mau panggil begitu... Kak Kei tidak marah."
"Boleh?"
Keira mengangguk.
Genki menatapnya lama, seolah memastikan pintu itu benar-benar terbuka. Lalu ia meletakkan telapak kecilnya di pipi Keira dan memanggil dengan suara paling pelan, paling takut, sekaligus paling percaya.
"Mama."
Keira menutup mulut dengan satu tangan.
Rayhan menunduk, matanya memerah. Ia sudah membayangkan banyak kemungkinan untuk momen ini. Tidak satu pun cukup dekat dengan kenyataan melihat Keira hampir hancur oleh satu kata yang selama ini dicari Genki dan dicuri dari masa lalunya.
"Mama jangan nangis," kata Genki panik.
Keira menarik napas gemetar, lalu memeluknya lagi. "Mama nangis karena senang."
Kata itu keluar dari mulut Keira sendiri.
Mama.
Ia mengatakannya bukan sebagai fakta biologis yang belum ia ketahui, melainkan sebagai jawaban hati yang lebih dulu mengenali. Dan justru karena itu, Rayhan merasa dadanya seperti ditarik ke dua arah: bahagia melihat mereka menemukan satu sama lain, sakit karena kebenaran penuh masih menunggu di luar ruangan seperti hujan gelap.
Genki memeluk leher Keira. "Mama di sini?"
"Di sini."
"Besok juga?"
"Besok juga."
"Lusa?"
Keira tertawa sambil menangis. "Lusa juga."
Rayhan mengusap wajahnya sekali, lalu mendekat. "Genki, Papa boleh ikut peluk?"
Genki menoleh, masih menempel pada Keira. "Boleh. Tapi pelan. Mama lagi bocor."
Keira tertawa lebih keras, air matanya semakin jatuh.
Rayhan memeluk mereka berdua. Tidak terlalu erat, tetapi cukup untuk membuat lingkaran hangat di tengah badai. Genki berada di antara mereka, kecil, aman, dengan buntalan lama di pangkuannya. Buntalan yang dulu menjadi tanda ia ingin pergi, malam ini berubah menjadi saksi bahwa ia akhirnya berani tinggal.
Lama mereka duduk begitu.
Hujan perlahan melemah. Lampu ruang keluarga tetap menyala. Di meja, susu hangat sudah dingin, tetapi tidak ada yang peduli.
Setelah Genki tertidur di pangkuan Keira, Rayhan membantu memindahkannya ke kamar. Anak itu masih memegang ujung cardigan Keira, sehingga mereka harus berjalan berdampingan pelan-pelan. Ketika tubuh kecilnya diletakkan di ranjang, Genki menggumam tanpa membuka mata.
"Mama..."
Keira membungkuk dan mencium dahinya.
"Iya, Mama di sini."
Di depan kamar, setelah pintu ditutup setengah, Keira akhirnya bersandar ke dinding. Tangannya menutup dada, seolah takut kata itu terbang keluar kalau tidak ditahan.
Rayhan berdiri di depannya. "Kamu baik-baik saja?"
"Aku tidak tahu." Keira tertawa kecil, basah. "Rasanya seperti... ada bagian kosong yang tiba-tiba dikenali seseorang."
Rayhan mengangkat tangan dan menyeka air mata di pipinya. "Kalau terlalu besar, kita pelan-pelan."
"Tidak." Keira menggeleng. "Aku takut, tapi aku tidak mau mundur."
Rayhan menatapnya, lalu mencium keningnya lembut. "Kalau begitu, kita maju pelan-pelan."
Keira mengangguk.
Di kamar, Genki tidur dengan wajah damai.
Di koridor, Rayhan menggenggam tangan Keira.
Dan di dalam hati Keira, satu kata baru tinggal, hangat dan berat, seperti rumah yang akhirnya berani menyebut namanya.