Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 15
Rowena tersentak ketika Darcel mencekik tengkuknya dan menyeretnya menjauh dari dinding ke arah pintu keluar. Cipratan darah segar mengenai tubuhnya, memicu pusing hebat hingga langkahnya sempoyongan.
“Wow,” gumamnya.
Rasanya seperti mabuk.
Ia menjilat bibir dan akhirnya berhenti berbohong pada diri sendiri. Keinginan itu sudah menghantamnya sejak ia masuk ke tempat ini. Tubuhnya justru condong ke arah mayat berdarah itu, membayangkan dirinya menjilat cairan merah dari wajahnya.
“Kendalikan diri kamu!” ejek Darcel.
Cengkeraman di belakang leher Rowena makin kencang ketika Darcel membuka pintu dan menyeretnya ke luar. Cara pria itu memegang lehernya membuat putingnya mengeras. Jika ia selamat dari semua ini, pasti akan ada bekas memar dari jari-jari Darcel.
Dan ia akan mengingatnya.
Mengaguminya.
Darcel jauh lebih hebat dari yang ia bayangkan.
Karena pria itu sama seperti dirinya. Sama-sama rusak. Sama-sama kacau.
Rowena punya masalah dan Darcel juga.
Masalah yang indah.
Masalah dengan darah.
Masalah yang membuatnya jatuh cinta.
“Darcel, ayo kita bicarakan ini,” katanya.
Darcel mendengus, lalu melemparnya ke sofa kulit. Pria itu melangkah mendekat. Rowena menoleh dan melihat setelannya berlumuran darah, sarung tangan kulit mewah masih melekat di tangannya.
Berkelas.
Mahal.
Dan gila.
Mata ungunya seksi. Otot-otot yang selama ini tersembunyi di balik lengan bajunya kini tampak jauh lebih mematikan.
“Kamu nakal, Rowena,” katanya sambil menyeringai.
Senyum itu membuat Rowena terpaku. Ia hanya bisa menggeleng ketika Darcel menyisir rambut pendeknya ke belakang, darah masih menempel di sana.
Inilah dia.
Inilah awal mereka.
“Hukum aku, Darcel!” pintanya.
Kakinya terbuka tanpa sadar, memberi isyarat jelas. Tatapan Darcel langsung meluncur ke sela pahanya, matanya menyala.
“Apa?”
Darcel menggigit bibir, lalu mengembuskan napas panjang. Dua jarinya yang masih bersarung tangan menekan di antara alisnya, matanya terpejam. Ia tampak kesal.
“Aku enggak bakal bilang siapa-siapa,” celetuk Rowena.
Darcel melepaskan cengkeramannya dan menatapnya kosong. Wajahnya datar dan keras, seperti batu. Dan saat itu, Rowena tahu pria itu harus menjadi miliknya.
“Aku bakal nyimpen rahasia ini, Sayang.”
“Jangan panggil aku begitu!”
Ekspresi jijik di wajah Darcel membuat dada Rowena nyeri.
Bodohkah marah pada pembunuh yang berdiri tepat di hadapannya?
Iya.
Namun itu tak akan menghentikannya. Ia memang tak pandai menahan frustrasi. Jika perlu, ia akan mengomel sampai akhir zaman.
Ia akan memanggilnya sayang.
Selamanya.
Dan melakukan apa pun yang ia mau.
Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu Darcel juga menyukainya.
“Oke, sebagai gantinya, gimana kalau aku boleh manggil kamu Sayang dan kamu harus terima itu? Atau aku bakal bongkar semua ini. Gimana?” ancamnya dengan senyum kecil.
Darcel menggeram, lalu menerjangnya.
Tangannya langsung mencekik leher Rowena saat tubuhnya menghantam tubuhnya. Rowena menjerit, karena takut, tapi juga karena ingin seluruh dunia tahu Darcel sedang berada di atasnya.
Tubuhnya seperti tersetrum. Darahnya mendidih. Mulutnya berair, gusinya gatal, dan pikirannya kacau. Aroma kulit dan darah menyerbu, merobek sisa kewarasannya.
Darcel menariknya lebih dekat, lalu menempelkan pergelangan tangannya ke mulutnya yang terbuka. Cahaya memantul di bibirnya saat ia membuka mulut lebar.
Di sana tampak taring panjang dan tajam, sekitar lima sentimeter. Sesuatu yang belum pernah Rowena lihat. Mulutnya langsung menganga.
Darcel menghantamkan pergelangan tangannya ke taring itu, mendengus pelan ketika tubuhnya menindih tubuh Rowena.
Pria itu lebih besar.
Lebih kuat.
Lebih berat.
Apa yang terjadi?
Apa yang sedang dia lakukan?