Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Tap.. Tap.. Tap..
Hentakan sepatu Brian terdengar menggema di lantai mansion yang sudah sepi.
Wajarlah sepi. Mengingat jika pria itu sampai ke mansion pukul satu dini hari.
Awalnya Brian ingin pulang dengan cepat.
Namun siapa yang menyangka. Ketika pria itu pulang. Brian malah di telpon oleh Anita. Dengan alasan jika bayi yang saat ini tengah ia kandung sedang merindukan ayahnya.
Sebagai seorang pria bertanggung jawab. Tentu saja Brian langsung meng- iyakan permintaan dari Anita itu. Dan bergegas pergi ke kediaman wanita itu. Untuk menemani Anita. Hingga wanita itu tertidur lelap. Barulah Brian pulang menuju mansion ke tempat keluarga besarnya tinggal.
Raut wajah lelah sangat ketara pria itu perlihatkan.
Wajar saja jika raut wajah pria itu lelah.
Mengingat jika pekerjaan di kantor sangat menumpuk. Karena proyek baru yang ia kerjakan.
Langkah tegap Brian terus menyusuri lorong luas itu. Hingga pria itu menaiki sebuah lift. Dimana lift itu akan membawanya ke lantai atas. Di mana kamar Brian dan Inara selama ini tempati.
Di dalam kamar. Brian melihat ke arah ranjang.
Kening pria itu berkerut dalam sejenak . Ketika melihat kondisi atas ranjang itu yang terlihat kosong tak berpenghuni.
Harusnya ada Inara disana.
Tapi kenapa sekarang tak ada?
Dimana wanita itu?
Kedua mata tajam Brian terlihat menyusuri seluruh ruangan kamar.
Namun tetap saja tak ada tanda - tanda kehadiran Inara ia ketemukan.
" Dimana dia? " rahang keras Brian bergemelatuk hebat.
Rasa kesal entah kenapa tiba - tiba merasuki hatinya saat ini.
Harusnya Inara saat ini ada di atas ranjang menunggunya seperti biasa yang ia lihat.
Tapi kenapa sekarang malah tak ada?
Ada apa sebenarnya?
Kenapa wanita itu berubah?
Hati Brian mendadak tak tenang.
Sedikit pikiran tentang hubungan dirinya dengan Anita telah di ketahui oleh Inara. Dan hal itu malah mendadak membuat Brian takut untuk memikirkannya.
Kenapa dia harus merasa cemas dan takut begini?
Bukankah selama ini ia tak pernah mencintai Inara?
Pikiran Brian berselimut dalam rasa kebingungannya sendiri.
Setahunya selama ini ia hanya mencintai Anita. Sementara Inara. Pria itu hanya menghormati wanita itu sebagai istri. Tapi tidak dengan memberikan hatinya kepada Inara.
Tapi kenapa sekarang ia malah memikirkan wanita itu terus menerus?
Setelah hubunganya dan Anita kembali terajut.
Ada apa sebenarnya ini?
Ada apa?
Batin Brian bertanya tanya.
Rasa bingung ini seolah - olah membuat kepala pria itu terasa ingin pecah ketika memikirkanya.
Sampai pintu kamar tiba - tiba terbuka dari luar.
Disanalah Brian langsung menoleh dan baru bisa menghembuskan nafas lega.
" Kau baru pulang? " tanya Inara pada Brian yang terlihat terus menatapnya.
Kalau dulu mungkin Inara akan salah tingkah di tatap seintens itu oleh Brian.
Tapi sekarang...
Ah.. Entahlah...
Inara merasa bodo amat dan terasa sudah hambar. Hingga jantungnya kini sudah tak bergetar hebat lagi karena kehadiran pria itu.
" Kau datang dari mana saja? " Alih - alih menjawab. Brian malah mengajukan pertanyaan balik pada Inara yang tampak santai menjawabnya.
" Oh.. Aku baru saja datang dari taman belakang untuk mencari udara segar."
" Malam - malam begini kau mencari udara segar? Apa kau sudah gila? Yang ada kau bukan mendapatkan udara segar. Tapi angin malam yang akan membuat tubuhmu jatuh sakit nanti."
Inara terkekeh kecil sejenak. Dan memperhatikan Brian yang kini sedang berusaha membuka simpul dasi dan kemeja luar yang pria itu kenakan.
Tubuh atletis yang terpahat sempurna milik pria itu terpampang jelas di kedua mata Inara sekarang.
Mungkin dulu ia akan bersorak kegirangan ketika melihat tubuh atletis berbentuk kotak itu.
Tapi sekarang....
Setelah mengetahui apa yang di lakukan Brian selama ini di belakangnya dengan Anita.
Kedua mata Inara langsung merasa jijik ketika ia melihat secara langsung tubuh atletis pria itu.
Bahkan saking jijiknya, Inara merasa langsung ingin muntah di hadapan Brian. Akibat efek bayangan yang tak sengaja terlintas di dalam pikiran Inara , tentang bagaimana tubuh pria itu yang sudah menjamah tubuh milik wanita lain di belakangnya.
" Cepatlah pergi ke kamar mandi. Bau tubuhmu benar - benar membuatku serasa ingin muntah."
" Apa kau bilang? " Brian secara otomatis terkejut setengah mati.
Selama dua puluh lima tahun ia hidup di bumi. Baru kali ini ia mendengar secara langsung ada orang yang mengatakan jika bau tubuhnya tercium bau.
Mengingat jika parfum yang Brian gunakan setiap hari merupakan parfum dengan harga ratusan juta.
Selain itu , Brian sehari - hari tak terlalu mengeluarkan banyak keringat. Mengingat pria itu yang selalu berada di dalam ruangan yang berisikan alat pendingin ruangan.
Jadi pernyataan tentang Brian mengalami bau badan seperti apa yang di katakan oleh Inara sangatlah tidak mungkin terjadi padanya.
Tapi ekspresi Inara yang terlihat ingin muntah pun cukup meyakinkan untuk Brian lihat.
Sehingga dalam kebingungan pria itu pun juga merasa ragu. Dan dengan spontan malah mencium bau tubuhnya sendiri di hadapan Inara yang saat ini terlihat menutup hidung di depannya.
" Aku bilang tubuhmu bau. Jadi cepat kau pergi mandi sana. Sebelum aku muntah di kamar ini." ketus Inara. Beranjak naik ke atas ranjang. Dan tidur memunggungi Brian yang terlihat masih berdiri berkacak pinggang sembari memelototkan mata tak percaya ke arah Inara.
Pria itu masih tak bisa percaya. Jika sosok wanita yang selama ini begitu perduli, lemah lembut , perhatian. Malah bisa terlihat berubah drastis sedingin ini terhadapnya.
" Dia sebenarnya kenapa? "
" Apa jangan - jangan dia sedang kedatangan tamu bulanan. Makanya terlihat ketus begitu? "
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra