NovelToon NovelToon
Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Kutukan / Romansa / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.

Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.

Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.

Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

susuk Cokroadinoto

“…dan sehelai rambut dari kepala Eyang Putra Cokrodinoto saat ia tertidur.”

Napas Ayunda tercekat. Permintaan itu, diucapkan dengan nada serak dan datar oleh Mbah Jagaraga, terasa lebih jorok dan invasif daripada permintaan uang dalam jumlah berapa pun. Mengambil tanah dari bawah tiang paviliun tua sudah cukup sulit, tetapi mengambil rambut dari kepala sang patriark saat ia tidur? Itu adalah pelanggaran yang nyaris mustahil.

“Itu… itu tidak mungkin, Mbah,” bisik Ayunda, suaranya bergetar.

Mbah Jagaraga terkekeh pelan, suara gesekan daun kering.

“Tidak ada yang tidak mungkin jika keinginanmu cukup kuat, Nona. Energi laki-laki itu dilindungi oleh benteng leluhurnya. Untuk menembusnya, aku butuh kunci dari penjaga benteng itu sendiri. Rambutnya adalah antena spiritualnya. Bawa itu padaku, dan aku akan membukakan gerbang neraka untuk sainganmu.”

Ayunda menatap bungkusan kain mori berisi serbuk tulang di depannya. Benda itu seolah berdenyut dengan energi gelap, memanggil sisi tergelap dari dirinya yang selama ini ia kubur di bawah lapisan logika dan pendidikan barat. Rasa jijik berperang dengan kobaran api cemburu di dalam dadanya. Bayangan Radya yang menatapnya dengan tatapan kosong melintas di benaknya, dan perang itu pun berakhir. Cemburu selalu menang.

Ia mengangguk kaku, tangannya terulur mengambil bungkusan itu. Kainnya terasa dingin dan anehnya berat.

“Akan… akan saya usahakan.”

***

Dua hari berlalu dalam siksaan kecemasan. Ayunda memegang jimat kebencian itu, tetapi ia tidak memiliki kuncinya. Ia merasa seperti seorang prajurit yang diberi granat tetapi tidak tahu cara menarik pinnya. Setiap kali ia mencoba mendekati kompleks kediaman utama Cokrodinoto, jantungnya berdebar kencang. Ia tidak punya alasan untuk berada di dekat paviliun tua, apalagi kamar Eyang Putra. Rencananya buntu.

Ponselnya bergetar di atas meja kerjanya. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Isinya singkat dan dingin.

Kafe Aruna, lobi Menara Kencana. Satu jam lagi. Datang sendiri.

Tidak ada nama. Tidak ada penjelasan. Ayunda mengerutkan kening. Ini adalah gedung kantor yang berbeda dari Cokrodinoto Group, markas salah satu kompetitor mereka. Siapa yang ingin menemuinya di sana? Rasa curiga membuatnya ingin mengabaikan pesan itu, tetapi ada nada perintah yang tak terbantahkan di dalamnya. Didorong oleh firasat aneh, ia menyambar tasnya dan pergi.

Kafe itu lengang. Interiornya minimalis dan mahal, dipenuhi aroma kopi arabika dan suara denting sendok porselen yang pelan. Ayunda memesan segelas latte dan duduk di sudut yang terpencil, matanya waspada mengamati setiap orang yang masuk. Tepat lima menit kemudian, sosok yang paling tidak ia duga berjalan masuk dengan langkah tenang dan mantap.

Bayu. Ajudan kepercayaan Radya.

Ia mengenakan setelan abu-abu yang pas di badan, tanpa dasi, terlihat santai namun tetap memancarkan aura otoritas yang tersembunyi. Ia berjalan lurus ke mejanya seolah sudah tahu di mana Ayunda akan duduk.

“Selamat sore, Mbak Ayunda,” sapanya, suaranya datar seperti biasa. Ia duduk di seberangnya tanpa menunggu dipersilakan.

“Bayu? Ada apa ini? Kenapa kamu yang…”

“Saya harap perjalanannya tidak terlalu macet,” potong Bayu, mengabaikan pertanyaan Ayunda. Ia memberi isyarat pada pelayan.

“Espreso. Tanpa gula.”

Ayunda menatapnya dengan tajam. Sesuatu terasa sangat salah.

“Kamu yang kirim pesan itu? Dari mana kamu dapat nomorku?”

“Saya ajudan CEO Cokrodinoto Group. Mendapatkan nomor telepon rekan bisnisnya adalah bagian termudah dari pekerjaan saya,” jawab Bayu tenang. Matanya yang gelap menatap lurus ke mata Ayunda.

“Yang lebih sulit adalah memahami kenapa seorang wanita karier cerdas seperti Anda mau repot-repot pergi ke gubuk reyot di tengah pasar becek hanya untuk menemui dukun tua.”

Darah serasa surut dari wajah Ayunda.

“A-apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

Bayu tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya.

“Jangan buang-buang waktu kita dengan kepura-puraan, Ayunda. Saya tidak peduli Anda mau menyembah jin atau setan sekalipun. Saya hanya peduli pada hasilnya. Dan sejauh yang saya lihat, Anda menemui jalan buntu.”

“Kamu… kamu mengikutiku?” desis Ayunda, suaranya bergetar antara marah dan takut.

“Saya tidak perlu mengikuti,” balas Bayu, nadanya merendah menjadi bisikan konspirasi.

“Energi seperti itu meninggalkan jejak. Baunya amis. Tercium dari jarak bermil-mil bagi mereka yang tahu harus mencium apa.”

Ayunda terdiam, lidahnya kelu. Pria di hadapannya bukan sekadar ajudan. Ia lebih dari itu. Sesuatu yang lebih tua dan lebih gelap.

“Apa maumu, Bayu?” tanyanya akhirnya, menanggalkan semua kepura-puraannya.

“Saya mau apa yang Anda mau,” kata Bayu.

“Radya kembali ke pelukan Anda. Dan perempuan penjual jamu itu lenyap dari kehidupan keluarga Cokrodinoto. Selamanya.”

“Kenapa? Kenapa kamu mau membantuku?” selidik Ayunda.

“Apa untungnya buat kamu? Kamu orang kepercayaan Radya.”

Bayu tertawa kecil, suara serak tanpa humor.

“Kepercayaan itu komoditas, Ayunda. Bisa dibeli, bisa dijual, bisa juga dipalsukan. Radya itu buta. Dia hanya melihat apa yang ingin dia lihat, seorang ajudan yang loyal. Dia tidak melihat darah yang mengalir di nadi saya.”

Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

“Kakek saya adalah tangan kanan kakeknya Radya. Mereka membangun Cokrodinoto dari nol. Tapi saat tiba waktunya membagi warisan, kakek saya disingkirkan dengan tuduhan palsu. Dibuang seperti sampah. Keluarga saya bersumpah akan mengambil kembali apa yang menjadi hak kami. Pusaka utama keluarga Cokrodinoto. Itu seharusnya milik kami.”

Mata Ayunda melebar. Ia akhirnya mengerti. Ini bukan soal loyalitas. Ini adalah dendam yang telah membusuk selama beberapa generasi.

“Jadi, apa rencanamu?” bisik Ayunda, kini melihat Bayu sebagai sekutu, bukan ancaman.

“Mbah Jagaraga pasti meminta mahar, kan? Sesuatu yang sulit didapat?” tanya Bayu. Ayunda mengangguk pelan.

“Tanah dari bawah paviliun dan sehelai rambut Eyang.”

Ayunda terkesiap. “Bagaimana kamu tahu?”

“Sudah kubilang, aku tahu banyak hal.” Bayu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah saputangan sutra kecil. Ia membukanya di atas meja. Di dalamnya, ada segenggam tanah kering berwarna gelap dan beberapa helai rambut putih yang tipis.

“Ini yang kamu butuhkan. Aku mengambilnya tadi malam saat Eyang tertidur setelah sesi meditasinya.”

Ayunda menatap benda-benda itu dengan napas tertahan. Solusi untuk masalahnya terhidang begitu saja di depannya. Tapi ia tahu, tidak ada yang gratis.

“Apa imbalannya?”

“Sederhana,” kata Bayu, matanya berkilat dingin.

“Aku akan membantumu menyingkirkan Raras dan menjadikanmu Nyonya Cokrodinoto yang baru. Radya akan memujamu seperti dewi. Setelah kamu mendapatkan posisimu, setelah kamu memegang kendali atas Radya dan akses ke seluruh rumah… kamu akan membantuku mengambil pusaka itu.”

Aliansi itu terbentuk dalam keheningan kafe yang mewah. Sebuah perjanjian iblis yang disepakati di atas meja marmer yang dingin, di antara aroma kopi dan dendam warisan.

“Aku setuju,” kata Ayunda tanpa ragu.

Bayu tersenyum puas. Ia melipat kembali saputangan itu dan mendorongnya ke seberang meja. Kemudian, ia mengeluarkan benda lain dari sakunya. Sebuah kunci kartu hotel berwarna hitam pekat, tanpa logo apa pun.

“Ini kunci akses servis ke apartemen Radya. Tidak akan terdeteksi sistem keamanan utamanya,” jelas Bayu.

“Dia akan pulang sekitar jam sembilan malam ini. Lelah setelah rapat dewan yang panjang. Dia akan sendirian.”

Ayunda mengambil kunci itu. Rasanya terasa dingin di telapak tangannya yang berkeringat. Ini dia. Kesempatannya.

“Bagaimana dengan Raras?” tanyanya.

“Setelah malam ini, dia tidak akan lebih dari sekadar noda yang ingin dihapus Radya dari ingatannya,” desis Bayu. Ia menatap Ayunda lekat-lekat, tatapannya menusuk dan penuh perintah.

“Kesempatanmu hanya malam ini, Ayunda. Jangan gagal.”

Ia bangkit dari kursinya, meninggalkan secarik uang di atas meja untuk membayar kopinya. Ia mencondongkan tubuhnya sekali lagi, suaranya kini tak lebih dari bisikan kering yang penuh racun.

“Sebarkan serbuk itu malam ini. Di bawah ranjangnya. Di setiap sudut kamarnya. Buat dia membenci perempuan itu sampai ke tulang. Jadikan dia milikmu seutuhnya. Dan saat kau sudah duduk di singgasana Cokrodinoto, kau akan membantuku mengambil kembali apa yang menjadi hakku. Kau akan memberiku

1
Vay
♥️♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
💜💜💜💜
Vay
💙💙💙💙
Vay
💜💜💜💜
juwita
iih ko bayu tau sih
juwita
pdhal g ush di tolong Raras biar bangkrut sekalian perusahaan. klo udh kere ap si ayunda mau sm dia
juwita
waah ternyata bayu org jahat. radya sm. eyangnya miara ular
juwita
semoga g berhasil ada yg lindungi raras
juwita
jahat si bayu mgkn musuh dlm selimut dia
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!