Kerajaan Zorvath, sebuah negeri yang megah dan agung, dipimpin oleh Raja Reynold Arcturus Zorvath dan Ratu Aurelia Elyse Zorvath. Mereka telah mengikat janji suci selama 20 tahun, namun takdir masih belum memperkenankan mereka untuk memiliki penerus. Empat musim berganti, dari panasnya matahari hingga dinginnya salju, namun harapan akan kehadiran pewaris tahta masih belum terwujud.
Zorvath, sebuah kerajaan yang dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi, menjadi saksi bisu atas perjuangan pasangan kerajaan ini. Desakan dari berbagai pihak semakin kuat, menguji kesabaran dan cinta mereka. Namun, Raja Reynold dan Ratu Aurelia tetap teguh, memegang erat janji mereka untuk menjaga kerajaan dan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chas_chos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Siang hari di Kerajaan Wales.
Cahaya matahari jatuh miring, menembus celah dedaunan dan menyinari lantai kayu rumah Bibi Ema yang mulai menguning dimakan usia. Udara terasa hangat, tidak menyengat—tenang. Terlalu tenang, hingga membuat pikiran sulit berhenti.
Ratu Aurelia duduk di ruang tamu kecil itu, memandangi jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Di tangannya, sehelai kain bersih yang semula hendak ia lipat kini terdiam begitu saja. Hampir setengah jam ia berada dalam posisi yang sama.
Sunyi.
Rumah ini selalu sunyi ketika Bibi Ema pergi ke pasar.
Dan sunyi selalu punya caranya sendiri untuk membuka pintu kenangan.
Aurelia menutup mata perlahan.
Ia tidak ingin kembali ke masa itu.
Namun ingatan tidak pernah bertanya apakah ia siap atau tidak.
Tiga bulan.
Sudah tiga bulan orang tuanya pergi menangani wabah. Mereka masih sering menghubunginya, namun rindu tetap tinggal. Ia rindu dipeluk setiap kali hendak tidur. Rindu pada kehadiran yang biasanya sederhana, tapi selalu ada.
Hari itu hujan turun—tidak deras, hanya rintik-rintik. Aurelia membuka mata setengah, lalu menarik selimutnya lebih rapat. Bau tanah basah menyelinap masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka.
“Mama…” gumamnya, masih setengah mengantuk.
Biasanya, jika hujan turun, ibunya sudah lebih dulu menutup jendela kamarnya. Biasanya, ibunya akan masuk, memastikan ia tidak kedinginan, lalu membisikkan agar ia tidur kembali.
Aurelia bangun dan turun dari ranjang. Kaki kecilnya menyentuh lantai yang dingin. Ia berjalan keluar kamar, menyusuri lorong dengan langkah pelan.
Ia berhenti di ruang tengah.
Di sana, ia melihat pamannya—Raja Kerajaan Averdom—duduk bersandar, menatapnya sejak tadi. Biasanya, jika pamannya ada di istana, ayahnya pasti sudah berada di rumah.
“Mama! Papa!” seru Aurelia dengan gembira, berlari menyusuri ruangan, mencari keberadaan orang tuanya.
Namun ke mana pun ia berlari, para pelayan hanya menundukkan kepala. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan.
Apa karena Paman ada di sini? batinnya, merasakan sesuatu yang tidak beres.
Aurelia berjalan menghampiri pamannya.
“Paman, Papa di mana?” tanyanya bingung.
“Aurelia,” ucap pamannya akhirnya, suaranya berat, “Papa dan Mama… tidak bisa kembali.”
“Oh,” jawab Aurelia polos, matanya berbinar. “Masih banyak yang sakit ya, Paman? Tapi Aure rindu. Bisa tidak Mama pulang sebentar saja?”
Pamannya menelan napas.
“Aure…” suaranya bergetar. “Dengarkan Paman. Mereka tidak akan kembali. Helikopter yang membawa mereka… mengalami kecelakaan.”
Dunia Aurelia runtuh hari itu.
Ia menangis—berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Hingga pamannya tak lagi tega melihatnya tenggelam dalam duka yang terlalu besar untuk tubuh kecilnya.
Sejak saat itu, Aurelia diasuh oleh pamannya, bersama para sepupu yang berusaha mengisi kekosongan yang tak pernah benar-benar bisa digantikan.
Di Wales, Aurelia dewasa membuka matanya.
Dadanya naik turun perlahan. Tangannya mencengkeram lengan kursi, kuku-kukunya menekan kayu keras di bawahnya.
Di luar, hujan turun tipis.
Sudah bertahun-tahun berlalu.
Namun rasa itu… masih sama.
Bukan sakit yang menusuk.
Melainkan ruang kosong yang tidak pernah benar-benar bisa diisi oleh apa pun.
Ia mengusap wajahnya pelan.
“Aku bertahan,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Seperti yang Mama mau.”
------
Istana zorvath
Raja Reynold memandangi gelang milik Aurelia dengan sorot mata sendu.
Seandainya ia masih mengenakan gelang itu, mungkin ia tidak akan sefrustrasi ini.
Di dalamnya telah terpasang pelacak—satu-satunya cara baginya untuk memastikan Aurelia baik-baik saja.
Ia memutar gelang itu perlahan di jemarinya, lalu menatap foto Aurelia yang terpajang di meja kerja.
Mencoba memahami… apa yang sebenarnya diinginkan istrinya.
Dua puluh tahun.
Bukan satu atau dua tahun ia hidup bersamanya, melainkan dua puluh tahun penuh.
Selama itu pula, ia merasa tak pernah mengecewakannya.
“Penjaga,” panggil Raja Reynold.
Seorang penjaga segera masuk dan memberi hormat.
“Salam, Yang Mulia.”
“Panggil Liam ke sini,” perintah Raja Reynold singkat.
“Baik, Yang Mulia.”
Penjaga itu segera melangkah keluar ruangan untuk mencari Tuan Liam.
Tak lama kemudian, Liam tiba di hadapan Raja Reynold.
“Salam, Yang Mulia,” ucapnya.
Raja Reynold tidak segera menoleh. Ia berdiri menghadap jendela besar, memandangi taman yang dulu sering didatangi Ratu Aurelia.
“Hentikan para pengawal yang sedang mencari keberadaan Aurelia,” ujar Reynold pelan—nyaris seperti bisikan.
“Hah—” Liam terkejut.
Ia segera meralat, “Maaf, Yang Mulia.”
“Tapi…” Liam terdiam sejenak, suaranya tercekat. Ia nyaris tak percaya Raja Reynold akan mengambil keputusan seperti ini.
Raja Reynold menoleh, menatapnya sekilas. Tidak ada amarah di sana. Hanya keyakinan yang lelah.
“Aku percaya padanya,” katanya singkat.
Liam terdiam. Tidak ada lagi yang bisa ia sanggah.
-----------
Setelah Liam pergi, Raja Reynold kembali mengambil gelang itu.
Jemarinya memutarnya perlahan, lalu berhenti.
Untuk sesaat, ia terdiam.
Jika Aurelia hanya ingin menenangkan diri,
Mengapa ia tidak ingin dilacak?
❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥🥰🥰🥰
Happy reading
08 Januari 2026